Bagaimana Kalau Saya Tidak Tahu Dalilnya?

Tulisan ini adalah episode lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dalam tulisan sebelumnya saya sudah tegaskan bahwa dalam Islam tidak ada yang namanya dogma. Dalam arti keyakinan yang tidak bersandar pada bukti. Harap diingat, bahwa ketika kita bicara tentang bukti, yang kita maksud bukan hanya bukti-bukti material-empiris, tapi juga mencakup bukti-bukti rasional, yang bersandar pada metode keilmuan tertentu. Sekarang mungkin ada yang bertanya, bagaimana kalau ada orang Muslim mengimani keyakinan tertentu, dia nggak tahu dalilnya, tapi dia meyakini kebenarannya? Apakah keyakinan yang dia peluk ketika itu bisa tergolong kedalam dogma?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu membedakan antara ketidaktahuan dengan ketiadaan. Lebih jelasnya, bedakan antara ketidaktahuan akan bukti dengan ketiadaan bukti itu sendiri. Itu dua hal yang berbeda. Ketidaktahuan kita tentang sesuatu bukanlah bukti akan ketiadaan sesuatu itu. Artinya, kalau kita tidak mengetahui sesuatu, ketidaktahuan kita itu tidak bisa dijadikan alasan untuk mengatakan bahwa sesuatu itu pasti tidak ada. Saya, misalnya, tidak tahu, apakah di balik tas isteri saya itu ada uang atau tidak. Pertanyaannya, apakah ketidaktahuan saya tentang adanya uang itu lantas bisa dijadikan alasan untuk menafikan keberadaan uang itu sendiri? 

Jelas, semua orang yang bernalar sehat akan berkata tidak. Ketidaktahuan kita itu satu hal. Ada atau tidaknya sesuatu yang tidak kita ketahui itu hal yang lain lagi. Tak begitu sulit untuk mengamini ketentuan yang satu ini. Nah, kalau Anda sudah sepakat dengan poin yang saya sebutkan ini, dugaan keras saya, Anda sudah bisa menjawab pertanyaan di atas. Ketidaktahuan sebagian umat Muslim akan dalil-dalil di balik keyakinan yang mereka peluk tidak serta merta menjadikan keyakinan mereka sebagai dogma. Karena, seperti yang kita katakan tadi, ketidaktahuan tentang sesuatu itu bukanlah alasan untuk menafikan sesuatu itu sendiri.   

Sekarang kita ambil satu contoh saja. Semua umat Muslim percaya, bahwa al-Quran itu bukan buatan manusia. Al-Quran itu merupakan firman Allah Swt. Dan para ulama sudah memaparkan bukti-bukti terkait hal itu. Tapi, kalau ditanya apa buktinya, berapa banyak di antara mereka yang tidak bisa menjawab? Apa bukti kalau al-Quran itu benar-benar berasal dari Tuhan? Merekapun kadang kesulitan untuk menjawab. Lantas, kalau mereka tidak bisa menjawab, apakah itu artinya keyakinan tersebut berubah menjadi dogma, hanya karena mereka tidak mengetahui dalil-dalilnya? Jelas tidak. 

Suatu keyakinan itu bisa dikatakan sebagai dogma kalau memang dia tidak bersandar pada bukti. Soal apakah bukti itu diketahui oleh pemeluknya atau tidak, itu hal yang lain lagi. Untuk membuktikan apakah klaim bahwa al-Quran merupakan firman Tuhan itu dogma atau bukan, yang menjadi tolak ukur kita bukan pengetahuan umat Muslim, tapi ketersediaan dalil itu sendiri. Ada tidak dalil yang membuktikan keilahian al-Quran itu? Ada. Dan banyak. Salah satu buku terbaik yang memaparkan tentang persoalan itu, seperti yang diakui oleh banyak sarjana, ialah buku yang ditulis oleh Syekh Abdullah Draz, salah seorang ulama besar al-Azhar yang dikenal ahli dalam ilmu-ilmu al-Quran. 

Dia menulis buku yang berjudul al-Naba al-‘Azhim. Ini buku yang sangat terkenal. Bagi Anda yang masih ragu tentang keilahian al-Quran—dalam arti bahwa al-Quran itu benar-benar berasal dari Tuhan—atau mudah terpedaya oleh pemikiran para Orientalis, yang hendak menyangsingkan keilahian itu, buku tersebut, dalam hemat saya, adalah obat paling mujarab yang dapat memuaskan hasrat intelektual Anda. Syekh Abdullah Draz menyuguhkan setumpuk argumen rasional untuk mendukung kesahihan klaim umat Muslim itu. 

Tapi apakah semua umat Muslim mengetahui dalil-dalil itu? Sudah pasti tidak. Dan, lagi-lagi kita bertanya, kalau kita tidak tahu akan bukti-bukti keilahian al-Quran, apakah lantas dengan begitu klaim keilahian al-Quran itu menjadi dogma, seperti halnya klaim umat agama lain terhadap kesahihan kitab sucinya? Sekali lagi, kalau Anda sepakat dengan uraian saya di atas, maka jawabannya jelas tidak. Kendati demikian, sudah sepatutnya bagi setiap Muslim untuk mendalami dasar-dasar ajaran yang mereka imani itu. Karena itu menyangkut sisi terpenting dari agama mereka. 

Tidak harus mengetahui dalil secara terperinci. Tapi minimal tahu inti-intinya saja. Kalaulah kita nggak mampu membantah pikiran-pikiran yang ingin meragukan dasar-dasar keyakinan kita, minimal kita mempertahankannya dengan pengetahuan yang memadai. Sekali lagi saya katakan, tidak ada dogma dalam Islam. Yang adanya hanyalah ketidaktahuan sebagian umat Muslim akan bukti-bukti tertentu di balik keyakinan yang dipeluknya. Dan ketidaktahuan mereka bukanlah alasan untuk menafikan adanya dalil itu. Karena ketidaktahuan bukanlah alasan untuk membuktikan ketiadaan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda