Kuliah Sambil Berumahtangga, Ribet Nggak Sih?

Ceritanya beberapa hari yang lalu saya ikut ngaji bareng isteri. Pas mau pulang, kita putuskan untuk naek didi aja deh. Nyari angkutan umum soalnya udah nggak ada. Karena udah malem. Dan, seperti biasa, kalau naek didi, saya selalu menggunakan kesempatan untuk ngobrol-ngobrol sama sopirnya. Yaudah, dari awal perjalanan sampai tiba di rumah, kita asyik aja ngobrol berdua. Isteri saya duduk di belakang, sama isteri adek ipar saya. 

Selama perjalanan, sopirnya nggak tau kalau itu isteri saya. Dia taunya saya mahasiswa aja. Pas mau turun dari mobil, baru saya bilang, “itu istri saya. Dan di sampingnya isteri adek ipar saya.” Abis itu dia nanya, dengan nada agak sedikit kaget, “loh emang kamu udah nikah?” “kok bisa?” “gimana ceritanya pelajar kok pada nikah?” Nikah kan harus bla bla bla.” Anda pasti pahamlah keheranan itu munculnya dari mana. 

Ya, selama ini ada orang-orang yang kadang bertanya-tanya, termasuk saya ketika masih jombol, sebenarnya bisa nggak sih kuliah sambil berumahtangga itu? Cara bagi waktunya gimana? Nikah kan perlu kerja. Belajar perlu konsentrasi. Gimana cara menyeimbangkan kedua hal itu? Susah nggak sih? Ragam jawaban pernah saya terima, waktu saya lagi sering-seringnya memikirkan pertanyaan itu. Sebagian ada yang bilang nggak. Sebagian lagi ada yang berterus terang dengan berkata iya. 

Jawaban itu beragam, seiring dengan beragamnya pengalaman orang itu sendiri. Saya tidak bisa memastikan dengan jawaban iya atau nggak. Karena itu berkaitan dengan perbedaan kondisi dan pengalaman. Dan setiap orang sudah barang tentu memiliki kondisi dan pengalaman yang berbeda-beda. Lalu bagaimana dengan perasaan saya sekarang, setelah menikah dan tahu dengan pahit manisnya kehidupan berumahtangga? 

Pertama-tama begini ya. Kita perlu membedakan, antara orang yang berumahtangga sambil kuliah, dengan orang yang kuliah sambil berumahtangga. Menurut saya itu dua hal yang berbeda. Perbedaannya akan terlihat dalam cara setiap orang ketika memprioritaskan kegiatannya, selama kuliah dan berumahtangga itu. Kalau Anda terlalu sibuk ngurusin perkara rumah tangga, sampai menomerduakan urusan belajar, berarti Anda masuk kategori pertama. Kalau nggak, berarti masuk kategori kedua. 

Dan setiap orang tentu lebih tahu dengan posisi dirinya sendiri. Terus saya masuk kategori yang mana? Selama hampir dua tahun saya menikah, alhamdulillah, keseharian saya hampir tak lepas dari aktivitas keilmuan. Membaca, menulis, mengajar. Sampai sekarangpun kegiatan itu tak kunjung putus. Bahkan menulis dari pagi sampe malem itu masih bisa saya alami. Alhamdulillah. Saya sangat mensyukuri itu. 

Lah terus gimana ngasih nafkah isteri? Kan harus kerja? Dalam posisi ini saya diuntungkan. Selama hidup di Indonesia saya hidup di Pesantren. Tugas saya hanya mengajar dan membimbing para santri. Makan udah nggak mikir, tempat tinggal nggak perlu nyari. Karena saya hidup di pondok, dan pondok sudah menanggung semua itu. Terus kebutuhan istri kamu gimana? Royalti buku cukup membantu. Dan, lagi-lagi, dalam hal ini saya diuntungkan kembali. Karena pekerjaan yang saya tekuni adalah aktivitas keilmuan itu sendiri. Bahkan itu adalah hobi saya. 

Jadi, dengan adanya pekerjaan menulis itu, saya nggak perlu nyari pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan isteri saya. Apalagi saya suka hidup dengan gaya “pasrah.” Dalam arti nggak mau pusing-pusing mikirin impian. Mau apa sih kita hidup di dunia ini? Yang penting kan kebutuhan pokok tercukupi, bisa makan, minum, punya tempat tinggal, bisa ibadah. Yang laen-laen udahlah terserah gusti Allah aja. Dikasih ya diterima. Nggak ya ngapain pusing-pusing mikirin. 

Entar juga kita mati. Mending mikirin sorga yang udah jelas-jelas abadi. Dengan cara berpikir kaya gitu, saya tetap bekerja. Saya tetap berusaha. Karena itu adalah perintah agama. Pasrah yang saya maksud bukan pasrah dalam arti menafikan upaya dan usaha. Tapi ini soal cara berpikir aja. Dan itu cukup membuat hidup saya tenang. Hidup saya jadi terasa nggak ribet. Punya uang, pake. Nggak punya, nyari sebisanya. Nggak dapet, yaudah. Hidup dengan apa yang ada. 

Kalau mati kelaparan gimana? Yaudah tinggal mati aja. Abis itu kan masuk sorga. Enaklah. Loh kamu kok udah yakin masuk sorga aja? Ya soalnya kan katanya kita diminta untuk berbaik sangka kepada Tuhan. Yaudah saya berbaik sangka aja. Dan keyakinan itu adalah wujud dari rasa baik sangka saya kepada Allah Swt. Lagipula nalar saya agak sulit untuk membayangkan, kalau ada orang berumahtangga, hidupnya taat dengan ajaran agama, berusaha untuk mencari nafkah sebisa mungkin, tapi mati kelaparan. 

Atau kesusahan nyari makan. Agak sulit bagi saya untuk menerima kenyataan itu. Meskipun itu bisa saja terjadi. Soalnya, setingkat bos aja nggak bakal tega liat karyawannya yang taat kemudian hidup terlantar. Bos itu kalau liat ada karyawannya yang taat, bisa bekerja dengan baik, konsisten, punya komitmen yang tinggi, mungkinkah nggak sih dicepat dan ditelantarkan begitu aja? Yang ada malah dinaekin pangkat. Lah itu sekelas bos. Bagaimana dengan Tuhan yang maha kaya, maha pengasih dan maha segala-galanya itu? 

Tapi itu banyak tuh orang-orang beragama yang hidupnya terlantar? Ya, memang. Dan kita tidak pernah tahu sebab yang sesungguhnya. Boleh jadi mereka adalah korban kezaliman, dan itu menjadi ujian hidup bagi mereka, yang kelak akan mendapatkan balasan dari Tuhan. Bisa jadi karena mereka memang tidak mau berusaha. Bisa jadi ada yang salah dengan hubungan mereka dengan Tuhannya. Bisa jadi Tuhan menguji mereka demi menggugurkan dosa-dosanya. Dan banyak kemungkinanlah intinya.  

Tapi yang jelas, dalam keyakinan saya, selama kita berupaya untuk menjalankan tugas yang telah Allah berikan, selama itu pula hidup kita akan berada dalam jaminan. Saya sangat percaya itu. Cobalah Anda belajar untuk menunaikan tugas yang sudah Allah berikan. Dan Anda tidak perlu sibuk memikirkan masa depan Anda. Serahkan semuanya kepada Allah. Dan sadarilah bahwa tugas kita hanyalah berusaha dan berdoa. Kita tidak punya kekuasaan mutlak untuk merubah kehidupan kita. 

Memang, harus saya akui, bahwa sesekali saya sendiri kadang merasa pusing dengan urusan berumahtangga itu. Tapi itu hal yang wajar. Dan, alhamdulillah, itu semua tidak memalingkan saya dari aktivitas keilmuan itu. Saya masih bisa menulis, membaca dan mengajar. Kenapa? Di samping karena memang saya ditakdirkan hidup dengan kegiatan itu, di sisi lain saya sudah mencinta dunia keilmuan itu. Rahasia yang sesungguhnya sebenarnya ada dalam perasaan cinta itu. 

Karena itulah saya sering bilang, bahwa mencintai ilmu itu tidak kalah penting ketimbang mencari ilmu itu sendiri. Dalam keadaan apapun, kalau rasa cinta itu sudah tertanam, tidak akan mudah bagi kita untuk melepas dunia itu. Dan sesuatu yang dilakukan dengan perasaan cinta tidak akan banyak menimbulkan beban. Jadinya enak. Karena itu, kalau Anda mau bisa menjalani keduanya, maka belajarlah untuk mencintai dunia ilmu itu. Lalu tanamkan kesadaran, bahwa baik mengurusi rumah tangga maupun belajar, kedua-duanya adalah ibadah, yang tidak akan menyia-nyiakan kehidupan kita. 

Ketika bekerja, Anda sedang beribadah. Dan ketika belajar, pahala ibadah Anda justru akan semakin bertambah. Karena semakin besar kesusahan, semakin besar pula pahala yang akan kita dapatkan. Berumahtangga pada dasarnya adalah medium pembelajaran hidup, supaya kita tumbuh menjadi orang dewasa, yang tahu artinya kesabaran, kesungguhan, tanggungjawab, kerjasama, kebersamaan, kepedulian, kasih sayang dan lain-lain. Bedanya kita nggak duduk di kelas, seperti halnya kuliah. Padahal kedua-duanya sama wadah untuk belajar. Kalau kita bisa menghayati itu, niscaya tidak akan ada yang dirasa mengganggu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda