Mun’im, Hasan dan Kitab Suci yang Dipersoalkan

Di dunia maya, Hasanuddin Abdurrakhman dikenal sebagai aktivis media sosial yang kerap melancarkan kritik terhadap agama. Kritiknya bahkan sering dengan nada mengolok-ngolok. Dalam berbagai tulisannya dia sering bilang bahwa dia tidak percaya Tuhan, sebagai pencipta alam. Dia juga tidak percaya dengan adanya hari akhirat. Agama itu berisikan kisah-kisah fiktif, kitab suci itu bermasalah, dan lain-lain. Tapi, meski mengaku tidak percaya Tuhan, lucunya dia sendiri tidak mau kalau disebut sebagai Ateis. Padahal tulisan-tulisannya jelas mempromosikan paham anti tuhan itu. 

Kalau percaya Tuhan saja tidak, apalagi percaya dengan kebenaran kitab suci dan agama Islam. Yang tidak percaya dengan keberadaan Tuhan sudah barang tentu mengingkari keabsahan kitab suci itu sendiri. Karena kitab suci tidaklah dinamai kitab suci kecuali karena dia diyakini berasal dari Tuhan. Sementara Mun’im Sirry, sepanjang yang saya tahu, tak pernah secara terus terang mengingkari keberadaan Tuhan itu. Dia mengakui dirinya sebagai Muslim. Tapi, sejumlah pandangannya tentang doktrin-doktrin mendasar dalam ajaran Islam, hemat saya, banyak yang bermasalah dan sulit diterima kalau itu keluar dari seseorang yang mengimani kebenaran Islam.

 Baru-baru ini Hasan membagi salah satu tulisan lama Mun’im di laman media sosial miliknya. Dalam mengomentari tulisan itu, Hasan menulis:

“Saya dulu nulis seperti ini, khusus untuk kalangan terbatas. Sekarang, karena saya menulis untuk publik, saya hindari. Isinya, persis seperti yang saya pikirkan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah, akui teksnya bermasalah. Kedua, harus berani meninggalkan teks-teks itu. Ambil yang masih bisa dipakai saja.” 

Mengingat bahwa pernyataan ini ditulis oleh orang yang tidak percaya Tuhan, tentu saja kita tidak merasa heran. Bagi Hasan, kalau ayat kitab suci itu ada yang dirasa bermasalah, tinggalkan aja. Lalu ambil teks-teks lain yang masih bisa dipakai. Walhasil, Hasan setuju dengan pandangan Mun’im, yang mengatakan bahwa al-Quran itu memuat teks-teks yang bermasalah. Selama ini kalau ada aksi-aksi teror yang mengatasnamakan agama, dan para pelakunya mencari-cari justifikasi dari ayat-ayat al-Quran, para ulama Muslim selalu memberi penjelasan, bahwa yang bermasalah itu bukan teksnya, tapi penafsirannya. Dan memang seperti itulah kenyataannya.

Tapi, pandangan itu tidak berlaku bagi dua orang itu. Baik Hasan maupun Mun’im keduanya sepakat, bahwa yang bermasalah justru teks kitab suci itu sendiri, bukan hanya soal kesalahan dalam menginterpretasi. Kata Mun’im, dalam tulisan lama yang kembali di-posting oleh Hasan itu: “Pembacaan yang bertanggung jawab harus dimulai dengan pengakuan bahwa ada problem dalam teks-teks keagamaan itu sendiri. Inilah “gajah dalam ruangan” yang acapkali dihindari oleh sarjana-sarjana modern. Kita seringkali menghindar bicara soal kekerasan dalam Kitab Suci dan menganggapnya sebagai persoalan interpretasi semata. Padahal, kekerasan berada di jantung Kitab Suci, bukan sekadar problem interpretasi.”

Dari kutipan di atas menjadi jelas, bahwa kedua orang itu memandang al-Quran sebagai kitab suci yang bermasalah. Pertanyaan yang ingin kita diskusikan dalam tulisan ini ialah, apa benar masalah itu benar-benar ada? Apa benar teks al-Quran itu bermasalah? Atau jangan-jangan yang bermasalah justru nalar mereka sendiri? Sebelum menjawab pertanyaan ini, pengamatan yang objektif harusnya menggiring kita pada persoalan lain yang jauh lebih substansial. Saya katakan substansial karena pembahasan tentang hal ini dapat menentukan tepat atau tidaknya klaim yang diajukan oleh kedua orang itu. 

Klaim Mun’im dan Hasan akan runtuh seketika kalau kita mendiskusikan persoalan yang satu ini. Persoalan yang dimaksud ialah seputar pertanyaan, dari mana al-Quran itu berasal? Dia itu buatan manusia, yang dalam hal ini ialah Nabi Muhammad, atau jangan-jangan memang yang diklaim umat Muslim itu benar, bahwa dia berasal dari Allah Swt, sang pencipta alam semesta? Jika Mun’im termasuk sarjana yang objektif, harusnya dia berani untuk mengakui, bahwa al-Quran adalah kitab suci yang berbeda dengan kitab suci umat agama lain. Saya pernah mengulas sejumlah perbedaan mendasar ini dalam tulisan lain. Untuk menghindari pembengkakan tulisan, saya tidak akan mengulangnya di tempat ini. 

Sebagai sebuah kitab suci yang memuat beragam informasi—apalagi berisikan keistimewaan yang tak tertandingi oleh manusia manapun di dunia ini—sebelum membahas apakah kitab suci itu bermasalah atau tidak, harusnya kita menentukan sikap kita terlebih dulu tentang sumber dan asal muasal kitab suci itu. Kitab suci itu asalnya dari mana? Dia itu buatan manusia atau bukan? Inilah pertanyaan mendasar yang, menurut saya, sering luput dari perhatian Mun’im, dan para orientalis yang kerap meragukan otentisitas dan keilahian kitab suci itu. Padahal ini pertanyaan yang sangat logis dan bisa dijawab secara akademis. Sayang, Mun’im tak pernah menentukan sikap akademiknya yang tegas dalam menjawab pertanyaan itu.

Dia, misalnya, dalam berbagai bukunya sering berteori bahwa al-Quran itu kitab suci yang berpolemik, menyimpan sejumlah masalah, memuat kekurangan, ada kesalahan-kesalahan, berdialog dengan kitab-kitab suci sebelumnya, dan lain-lain, tanpa menjawab terlebih dulu pertanyaan yang substansial itu tadi. Al-Quran itu benar-benar firman Tuhan atau bukan? Faktanya para sarjana Muslim sudah berhasil membuktikan, bahwa al-Quran bukan buatan manusia biasa. Syekh Abdullah Draz, misalnya, mengulas argumen-argumen rasional tentang keilahian al-Quran itu dalam bukunya yang cukup terkenal, yang berjudul an-Naba al-‘Azhim. Tampaknya, kalau buku ini didedahkan secara utuh,  orientalis manapun tak akan bisa berkutik di hadapan buku ini. 

Ulasan yang kurang lebih sama juga dipaparkan oleh Munqizh as-Saqar, salah seorang sarjana kontemporer asal Suriah yang menulis buku berjudul, Tanzih al-Quran ‘an Da’awa al-Mubthilin. Kalau Anda bertanya, apa bukti bahwa al-Quran itu benar-benar Mukjizat, seorang teolog besar beraliran Sunni, Abu Bakar al-Baqillani, sudah menulsi buku khusus tentang hal itu, yang ia beri judul, ‘Ijaz al-Quran. Dulu, salah seorang teolog besar beraliran Muktazilah, al-Qadhi Abdul Jabbar, juga pernah menulis buku yang menepis adanya tuduhan-tuduhan miring tentang al-Quran itu. Buku terkenalnya itu berjudul, Tanzih al-Quran ‘an al-Mathain. Kalau harus disebutkan satu persatu, lembaran halaman ini tentu tidak akan cukup. Jadi apapun penjelasan yang Anda butuhkan tentang al-Quran, para ulama Muslim sudah menjawabnya dalam ratusan jilid. Baik itu soal bukti-bukti keilahiannya, penjelasan kandungan bahasanya, penafsiran makna-maknanya, bahkan kaidah-kaidah penafsiran itu sendiri. 

Sebagai seorang sarjana yang baik, harusnya Mun’im sudi menyimak argumen-argumen mereka itu dengan baik. Dan kalau pemaparan mereka itu benar, lalu didukung oleh argumen-argumen yang kokoh secara keilmuan, sebagai keniscayaan akademik kita harus berani mengakui kebenaran itu. Dan berhenti untuk tidak mempersamakan al-Quran dengan kitab suci umat agama lain, dalam kesahihan nisbatnya kepada Allah Swt. Dan dalam statusnya sebagai mukjizat, yang tidak layak untuk diperlakukan sebagai kitab suci biasa. Berbagai penjelasan para pakar itu membuktikan bahwa al-Quran adalah mukjizat yang tak tertandingi. Tunjukkan satu saja manusia yang bisa membuat kitab suci yang setara dengan kitab suci umat Muslim itu. Kita nggak bicara dogma. Tapi itu adalah fakta yang perlu kita akui bersama. 

Semua argumen para ulama Muslim itu dapat didiskusikan secara ilmiah. Kalau argumen-argumen rasional menggiring kita pada kesimpulan bahwa al-Quran itu bukan karangan nabi Muhammad, dan dia berasal dari Tuhan yang Mahakuasa, maka klaim tersebut saja sudah dengan sendirinya meruntuhkan pandangan kedua orang itu. Kalau benar ia terbukti sebagai firman Tuhan, tidak mungkin dia bermasalah. Mengatakan firman Tuhan sebagai sesuatu yang bermasalah tentu sama saja dengan menisbatkan kekurangan kepada Tuhan itu sendiri. Dan nalar sehat kita cukup sulit untuk membayangkan, bahwa di sana ada sesuatu yang berperan sebagai pencipta alam semesta, tapi dia sendiri punya kekurangan seperti yang dimiliki oleh makhluk-makhluk-Nya. Kalau memiliki kekurangan ya namanya bukan Tuhan lagi! 

Karena itu, dalam konteks ini alasan para ulama Muslim justru jauh lebih masuk akal ketimbang pemaparan dua orang itu. Sebagai firman Tuhan—dan sekali lagi kita tekankan bahwa klaim itu sendiri dapat dibuktikan dengan argumen-argumen yang rasional—tak mungkin al-Quran mengandung masalah. Yang mungkin bermasalah justru pemahaman manusia, dengan keterbatasan nalar, wawasan dan cara berpikirnya. Coba Anda timbang dengan nalar sehat Anda sendiri, kalau ada dua teks yang berasal dari sumber berbeda, yang satu buatan manusia, yang satu lagi merupakan wahyu yang berasal dari Tuhan pencipta alam raya, kira-kira mana yang lebih mungkin bermasalah dan mengalami kekurangan? Teks yang berasal dari manusia atau yang berasal dari sang penguasa yang memiliki kesempurnaan itu? 

Sebenarnya ini persoalan yang jelas. Tapi tampaknya tidak bagi dua orang itu. Kalau terbukti bahwa kitab suci itu berasal dari Tuhan, tapi ternyata pemahaman terhadapnya telah menimbulkan masalah, maka yang bermasalah sudah pasti pemahamannya, bukan teksnya. Itu kesimpulan yang sangat logis. Apa sih yang problematis dengan kesimpulan semacam ini? Mun’im tampaknya akan menjawab, bahwa masalahnya “tafsir-tafsir tersebut dihasilkan pada “imperial moment” yang mengedepankan watak eksklusivitas Islam sebagai agama penguasa.”, seperti yang dia tulis sendiri.  Dan karena itu tafsir-tafsir itu tidak bisa dipercaya. 

Lalu apa solusinya? Mungkin solusinya kita harus mengikuti tafsiran Mun’im, yang dengan logika antah berantah memandang al-Quran sebagai kitab suci yang bermasalah. Meskipun para ulama Muslim sendiri sudah memaparkan penjelasan tentang ayat-ayat yang dia anggap bermasalah itu. Sebagai seorang sarjana yang konon ahli dalam bidang al-Quran, Mun’im harusnya mengakui secara jujur, bahwa dalam menafsirkan kitab suci itu, para ulama Muslim tidak bersikap sembarangan. Mereka telah mendedahkan kaidah-kaidah penafsiran yang bergitu teliti dan berlimpah. Untuk kepentingan apa mereka menelurkan ratusan kitab yang berisi kaidah penafsiran itu, kalau bukan untuk menjaga al-Quran dari penafsiran-penafsiran yang menyimpang, seperti yang sering dipromosikan oleh dirinya itu? 

Tampaknya, betapapun berlimpahnya buku-buku yang mengulas tentang kaidah penafsiran itu, betapapun kayanya penjelasan para ulama Muslim dalam menepis pemahaman yang keliru itu, Mun’im dan Hasan tampaknya memang ingin membenarkan klaimnya sendiri, bahwa al-Quran itu sama dengan kitab suci manapun di dunia ini. Pokoknya dia itu harus bermasalah, sama halnya seperti kitab suci umat agama lain. Kalau mereka berdua enggan bersikukuh dengan klaim itu, dan mau bersikap secara objektif dalam menerima argumen, maka mari kitab jawab pertanyaan ini secara bersama-sama, dari mana al-Quran itu berasal? Apakah al-Quran itu buatan manusia, dan karena itu bisa saja bermasalah, atau dia berasal dari Tuhan yang Maha kuasa, dan ketika itu semua isinya sudah pasti sempurna? Pembacaan yang bertanggungjawab hanya dihadapkan pada dua pilihan itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda