Mendaftar Kesemrawutan Mun’im

Untuk saat ini, Mun’im Sirry barangkali termasuk salah satu sarjana Muslim lulusan Barat yang masih cukup aktif menyebarluaskan paham-paham yang menyimpang. Sebenarnya tidak mengherankan. Dalam sejarahnya, lulusan Barat asal negeri Indonesia memang punya kekhasan semacam itu. Datang dengan segunung syubuhat, dan mereka mengira bahwa itu adalah bagian dari pencerahan. Dengan gelar akademik yang ditampuknya, tak sedikit orang yang terpukau oleh gagasan Mun’im. Mirisnya lagi, oleh sebagian akademisi tanah air, gagasan-gagasan Mun’im itu malah diapreasiasi, disanjung dan diberi tepuk tangan. 

Seolah mereka tidak sadar, bahwa gagasan-gagasan tersebut menyentuh sisi terdalam dari keimanan mereka sendiri sebagai seorang Muslim. Hampir sebagian besar video Youtube yang menampilkan diskusi dengan Mun’im sudah saya tonton. Keempat bukunya yang dia tulis juga sudah saya baca sampe bolak-balik. Saya baca dengan serius. Dalam banyak buku dan tayangan video itu, Mun’im menyuguhkan klaim-klaim yang sangat serius dalam mengkritik Islam. Anehnya, sebagai bentuk pembelaan, dalam salah satu postingan facebooknya yang lama dia pernah menolak untuk disebut telah mengkritik quran.

Padahal, proyek pemikiran yang dia usung bukan hanya mengkritik qur’an, tapi justru mengkritik banyak hal mendasar dari ajaran Islam itu sendiri. Apa sih yang bermasalah dari pemikiran Mun’im itu? Saya tertarik untuk menjawab pertanyaan ini, karena ternyata masih ada orang-orang yang melihat pandangan-pandangan Mun’im itu sebagai sesuatu yang remeh, enteng, biasa, dengan alasan bahwa itu adalah kajian ilmiah kritis. Fine, itu kajian ilmiah. Tapi, kita juga perlu adil dalam melihat, apa konsekuensi serius dari kajian itu? Suatu kajian kan juga perlu ditimbang hasil dan manfaatnya. Kalau ternyata hasilnya merusak sendi-sendi keimanan, ya tentu nggak bisa dibiarkan. 

Oke, biar terasa nggak ribet, kali ini saya mau mengabsen satu persatu keanehan, kemsemrawutan dan penyimpangan-penyimpangan dari pemikirin Mun’im Sirry itu, dengan gaya penulisan yang ringan dan santai. Tulisan yang agak serius mungkin bisa menyusul di episode-episode mendatang. Ingat ya, apa yang saya rangkum ini bukan fitnah. Tapi ini semua adalah butir-butir pemikiran yang pernah Mun’im tulis dan dia sampaikan dalam sejumlah ceramahnya, yang bisa Anda akses melalui berbagai kanal YouTube. Lalu apa saja yang bermasalah dari pemikiran Mun’im itu? Mari kita absen satu persatu. 

Sebagai Muslim, Anda pasti percaya bahwa al-Quran itu kitab yang terjaga, seperti yang ditegaskan oleh Allah Swt sendiri dalam kitab suci-Nya. Tidak mengimani itu sama aja dengan menolak kebenaran ayat al-Quran itu sendiri. Tapi, menurut Mun’im, al-Quran yang ada sekarang itu masih menyimpan kesalahan, dan karena itu dia merasa perlu untuk merevisinya. Al-Quran yang ada sekarang itu hasil cetakan Kairo tau, kalau kata Mun’im mah. Dan dia lupa bahwa sebelum dicetak, al-Quran itu diriwayatkan dari mulut ke mulut secara mutawatir. Dan berbagai periwayatan itu ada sanadnya yang jelas sampai kepada penerimanya yang pertama. Yaitu Rasulullah Saw. 

Coba cek di belahan bumi manapun di dunia ini, ada nggak kitab suci yang isinya diriwayatkan oleh manusia dengan jumlah yang sangat banyak, dari generasi ke generasi, sampai bersambung ke penerima aslinya. Kita bicara satu keistimewaan itu saja. Coba ada nggak kitab suci yang bersanad seperti halnya al-Quran itu? Kalau ada tolong tunjukkin aja. Dengan adanya fakta itu, Mun’im masih bersikukuh untuk memposiskan al-Quran seperti halnya kitab suci umat agama lain. Kalau kitab suci umat agama lain bisa salah, ya qur’an juga bisa dong. Yang ono bisa direvisi, ya yang ini juga bisa ajalah. 

Salah satu contoh revisi yang pernah dia lakukan, dan cukup sering dia sampaikan dalam diskusi-diskusinya, ialah revisi surat al-kafirun. Baca sendiri aja dah kalau itu. Panjang kalau diuraikan di sini. Intinya, salah satu potongan surat al-kafirun itu, yaitu ayat (la ‘abudu ma ta’budun), yang artinya “aku tidak menyembah apa yang kalian sembah”, menurut Mun’im, itu tidak mencerminkan toleransi sejati. Terus toleransi yang sejati itu kaya gimana? Kata Mun’im, harusnya lam alif di situ dirubah menjadi lam taukid, lalu jadilah dia berbunyi, (la’abudu ma ta’budun). Artinya, “sungguh aku menyembah apa yang kalian sembah.” 

Itulah toleransi yang sejati versi Mun’im Sirry. Sementara al-Quran yang kita baca itu nggak mencerminkan toleransi sejati. Mun’im yang bilang begitu. Coba bayangkan bos, kita ini baru bisa dibilang toleran, kalau kita bilang sama orang-orang kafir, bahwa kita ini benar-benar menyembah apa-apa yang mereka sembah. Kalau mereka nyembah patung, batu, sapi, kambing, bahkan sendok sekalipun, dan kita mau dibilang toleran, ya kita harus bilang bahwa kita juga nyembah apa yang mereka sembah itu. Konsekuensi logisnya memang begitu. Aneh ya? Suka atau tidak suka, ya itulah “ijtihad” seorang ahli quran bernama Mun’im Sirry. Intinya qur’an itu masih bisa diotak-atik gitulah. Dan bagi dia itu biasa aja. Karena dulu kan nggak ada harakatnya juga. Ahli qiraat aja kalah kayanya ama Mun’im mah. Kalau ahli qiraat menghafal ragam bacaan al-Quran, maka Mun’im merevisi bacaan itu. Meskipun tidak jelas asal usul riwayatnya. 

Keanehan lainnya, umat Muslim mengimani al-Quran itu sebagai kitab hidayah, yang menuntun umat manusia menuju jalan yang benar. Artinya, kalau dalam al-Quran ditemukan sebuah kritik, kritik itu sudah pasti tepat. Kritik itu sudah pasti benar. Karena dia bertujuan untuk meluruskan.  Iya nggak sih? Ya iya dong. Namanya juga kitab hidayah. Asalnya dari Tuhan. Masa iya kritikannya meleset?  Tapi tahu nggak, kalau Mun’im nggak percaya itu. Bagi dia, kritik al-Quran bersifat polemis. Tujuannya bukan untuk memberi hidayah dan meluruskan, tapi justru demi memenangkan perdebatan, dengan cara mendistorsi pandangan lawan. 

Bayangin, kalam gusti Allah dibilang kaya gitu coba. Kalam gusti Allah aja dia sebut berpolemik. Menyebut al-Quran berpolemik sama aja dengan menyebut gusti Allah ngajak ribut dengan hamba-hamba-Nya, supaya memenangkan perdebatan dengan mereka. Sebagai Muslim, Anda bisa menerima pandangan itu? Masih nggak nyadar kalau gagasan-gagasan Mun’im itu menyimpan benih-benih kekufuran? Baiklah. Kita beralih ke gagasan yang lain. Anda percaya hadits nabi kan? Percaya bahwa hadits yang sahih, apalagi mutawatir, itu benar, dan sesuai dengan fakta? Ya jelas dong. Kalau nggak percaya ya itu artinya kita mendustakan nabi kita sendiri. Dan ketika itu kita nggak jadi Muslim lagi. 

Tapi tahu nggak, kata Mun’im, hadits nabi itu bukan sumber sejarah tau. Hadits itu sumber teologi, atau keyakinan, tapi bukan sumber sejarah. Nggak bisa hadits itu dijadikan sumber sejarah. Dia cuma bisa diyakini aja. Seolah-olah dia memungkinkan adanya pertentangan antara keyakinan yang sahih dengan fakta itu sendiri. Padahal itu tidak mungkin terjadi. Jadi, menurut Mun’im, kalau suatu hadits itu mengabarkan informasi tertentu, kita belum bisa memastikan validitas info hadits itu, sekalipun hadits itu dinilai sahih dan mutawatir. Kenapa? Ini jurus andalan dia. Karena ia ditulis belakangan, dan sarat dengan kepentingan ideologis. 

Lah terus yang dikabarkan sama nabi itu apa namanya kalau bukan sejarah? Maksudnya dongeng doang gitu? Anda berani bilang sabda nabi itu tidak sesuai dengan sejarah? Berani bilang kalau kanjeng nabi ngedongeng, dan menyebarluaskan cerita-cerita khayalan? Tapi mau nggak mau, konsekuensi dari pandangan Mun’im memang begitu. Ulama dulu capek-capek bikin kaidah, hanya untuk memverifikasi mana yang sesungguhnya sabda nabi dan mana yang bukan. Ratusan jilid buku ditulis untuk memaparkan kaidah itu. Supaya agama ini disampaikan dengan benar. Dan kita bisa membedakan mana yang berasal dari nabi dan mana yang bukan. Mana ucapan yang asli dan mana yang palsu. Mana yang sesuai fakta dan mana yang tidak. Dan ilmu itu nggak ada dalam tradisi agama manapun. 

Eh lalu datanglah seorang pembaharu bernama Mun’im yang menafikan reliabilitas kaidah-kaidah itu. Hadits-haditsnya diragukan, kaidah penyeleksiannya pun dicampakkan begitu saja. Itulah sikap terpuji dari seorang sarjana sejati yang menjunjungtinggi objektivitas. Mau info tambahan lagi? Bayangkan nih, para ulama dulu itu telah mewariskan khazanah intelektual yang benar-benar kaya, dalam berbagai disiplin ilmu. Termasuk mewariskan buku-buku yang merekam sejarah perjalanan hidup nabi kita. 

Dan, kalau saja Mun’im itu termasuk sarjana yang objektif, dia sudah pasti berani mengakui, bahwa di alam semesta ini tidak ada tokoh agama yang kisah-kisah hidupnya disampaikan secara detail dan berlimpah, dengan sanad-sanad yang sampai kepada saksi mata, kecuali Nabi Muhammad Saw. Tapi, masalahnya, kata Mun’im, sumber-sumber Muslim yang sedemikian kaya itu, tidak bisa dijadikan sumber sejarah. Dia tidak bisa memotret Islam sebagaimana adanya. Kenapa? Lagi-lagi dia akan mengeluarkan jurus andalannya. Karena riwayat-riwayat itu ditulis agak belakangan. Jauh setelah nabi wafat. Mana bisa dipercaya!  

Dalam pandangan Mun’im, tidak ada sumber yang sezaman dengan kejadian di masa nabi itu. Makanya layak diragukan. Kalau begitu, agama kalian itu, wahai umat Muslim yang dirahmati Allah, tidak bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya dari sudut historis. Kalau kalian bilang beriman tentang ini, tentang itu dan tentang ini, ya itu silakan aja. Tapi kita nggak bisa memastikan kesesuaian apa yang kita imani itu dengan fakta yang ada. Karena sumbernya sendiri nggak bisa dipercaya. Bisa aja yang kalian imani itu cuma dongeng doang. Sebagai Muslim, apa bisa Anda bisa menerima pandangan kaya gitu? Anda sudi agama kita disamakan dengan agama lain, sementara fakta yang ada justru berkata sebaliknya? 

Kalau mau ndalil pake hadits, dan Anda mengikuti logika Mun’im, itu ya nggak ada gunanya. Wong sumbernya sendiri nggak terpercaya kok. Mau ndalil pake quran, quran itu masih mungkin salah kalau kata Mun’im mah. Jadi sia-sia juga. Orang nggak terjaga dari kesalahan kok. Nggak ada jaminan kalau dia itu seutuhnya benar dari Allah. Itu pandangan Mun’im. Dan tentunya agak menjadi lucu kalau orang yang mengimani kebenaran pandangan itu masih mengaku dirinya sebagai Muslim. Kira-kira, menurut Anda, inikah yang disebut dengan pencerahan dalam pemikiran Islam itu? 

Eh, satu lagi nih. Mumpung saya ingat. Kalau Anda suka menyimak narasi tentang mukjizat nabi, seperti yang diriwayatkan dalam buku-buku sirah dan hadits, ingat, menurut Mun’im, kisah-kisah mukjizat itu cuma mitos aja ya. Sekali lagi itu cuma mitos. Kisah-kisah tentang mukjizat itu adalah produk kontestasi umat Muslim dengan umat agama lain. Karena melihat umat agama lain kerap mengglorifikasi tokoh panutannya, ya umat Muslim juga bisa dong bikin kaya gitu. Lalu diproduksilah kitab-kitab itu. Seolah-olah mereka pengen bilang, “Eh ini loh nabi gue, nggak kalah keren ketimbang tokoh kalian juga”. 

Jadi kisah-kisah mukjizat itu cuma karangan ulama Muslim doang gitu? Ya kira-kira begitulah kalau ngikutin logika Mun’im mah. Jadi itu kisah beneran atau bukan? Kata Mun’im, bukan, itu cuma mitos. Itu bukan sejarah. Selama ini ulama Muslim itu cuma ngedongeng aja. Bayangin kalau suatu waktu Anda mengikuti acara maulid, lalu dikisahkan tentang keajaiban-keajabian yang dialami oleh nabi, dan juga mukjizat-mukjizat yang dimiliknya, dan dengan narasi itu keimanan dan kecintaan Anda bertambah, lalu tiba-tiba ada orang yang bilang kalau itu adalah mitos. Iya, itu mitos. Nggak ada bukti sejarahnya! Ya itu kalau Anda mengikuti logika Mun’im. Kalau ngikuti pendapat ulama, ceritanya ya udah pasti beda. Dan jangan Anda kira bahwa pandangan Mun’im itu nggak ada jawabannya. 

Terus apa lagi? Lanjut dong. Oke deh. Satu lagi aja ya. Biar nggak kepanjangan. Ini aja udah panjang banget sebenernya. Lafazh Syahadat. Anda tahu lafazh syahadat kan? Itu adalah jantung utama dari ajaran Islam. Sekali lafazh itu diingkari, maka seseorang sudah tidak bisa disebut sebagai Muslim lagi. Selama ini kalau ada orang mau masuk Islam, maka yang bersangkutan diharuskan untuk melafalkan dua kalimat syahadat. Karena itulah kredo ajaran Islam. Tapi dari mana lafazh syahadat itu berasal? Umat Muslim akan menjawab, ya itu dari nabi lah, emang dari mana lagi? Wong sanadnya jelas kok. Tapi, kalau nanya ke Mun’im, dia akan jawab: Nggak, syahadat itu bukan dari nabi. Fiksasi lafazh syahadat itu baru muncul belakangan. Waktu zaman nabi mah belum ada. 

Jadi, kalau ada orang mengucapkan dua kalimat syahadat, lafaz itu bukan dari nabi katanya bos. Tapi dari sumber lain. Anda sudi sendi-sendi ajaran agama Anda diperlakukan kaya begitu? Eh ngomong-ngomong kalau urusan salat gimana tuh? Mun’im akan bilang, sama aja. Salat yang kita praktekkan sekarang itu, kata Mun’im, belum fiks ketika di zaman nabi. Waduh pokoknya masih banyaklah keanehan orang itu. Intinya Mun’im ingin merevisi ajaran-ajaran yang sudah mapan dalam agama kita. Dia ingin sekali menyamakan Islam dengan agama lain, meskipun kenyataan justru menunjukkan fakta sebaliknya. “Islam itu bukan pengecualian”, kata Mun’im. Ajaran agama lain berkembang secara bertahap, Islam juga begitu. Agama lain mengandung kesalahan, Islam juga begitu. Kitab suci umat agama lain bermasalah, kitab suci umat Islam juga begitu. 

Sebenarnya itu aja inti gagasan Mun’im. Dan sekarang saya mau tanya, kalau sumber-sumber Muslim tidak dipercaya, sirah nabi kita diragukan, buku-buku sejarah Islam dianggap tidak memenuhi standar, al-Quran dibilang salah, mukjizat nabi dibilang mitos, hadits bukan sumber sejarah—dan karena itu belum tentu sesuai dengan fakta—syahadat bukan dari nabi, salat bukan dari nabi, terus apa yang tersisa dari agama kita? Yang tersisa dari agama kita apalagi? Kamu mau beragama pake apa lagi, kalau semua itu diingkari? Jangan bilang ini cuma kajian ilmiah yang harus dipisahkan dengan keimanan. Karena keimanan itu sendiri baru terbilang sahih kalau dia sesuai dengan fakta, dan bersandar pada argumen yang sahih. Dan sebuah kajian dilakukan justru untuk menguji sahih tidaknya keimanan itu.  

Mungkin ada yang nanya, dengan segala keanehan ini, lalu bagaimana pandangan Anda tentang Mun’im? Apakah dia sudah kafir? Apakah dia sudah keluar dari Islam? Harap bedakan ya antara menghukumi pemikiran dengan orang yang menganut pemikiran itu. Bedakan antara takfir “al-ayan” dengan “takfir al-afkar”, kalau harus menggunakan istilah Arab. Kalau bicara pemikiran, ya itu jelas kekufuran. Atau, kalaulah harus diperlembut, katakanlah bahwa itu berkonsekuensi pada kekufuran (yuaddi ila al-kufr). Lah orangnya gimana? Selama dia mengaku sebagai Muslim, kita katakan dia adalah Muslim. Karena kufur dan iman itu urusan hati. Yang kita salahkan adalah pemikirannya, yang sudah menyimpang jauh. Soal apakah dia benar-benar mengimani hasil pemikiran itu, itu cuma dia yang tahu. 

Sengaja saya sampaikan ini dengan bahasa yang lebih mudah dan ringan, meskipun agak panjang, supaya para pembaca tahu tentang seberapa bahaya pemikiran Mun’im itu. Kemasannya sih kajian ilmiah, tapi isinya benar-benar merusak akidah. Di sinilah pentingnya belajar agama dengan guru itu. Kira-kira inilah resiko terburuk kalau kita mereguk ajaran agama dari para Orientalis, tanpa proses penyaringan yang ketat. Nggak apa-apa sih sebenarnya belajar mah dari siapa aja bisa. Ulama-ulama Timur Tengah juga banyak yang belajar di Barat. Tapi dasar-dasarnya harus kuat dulu. Mau belajar sama orientalis tuh alat filternya harus kuat. Ilmu-ilmu keislamannya harus benar-benar matang. Dan di situlah pentingnya mempelajari ilmu-ilmu keislaman secara berjenjang itu. 

Terlepas dari itu, percayakah Anda, wahai hadirin sekalian, bahwa pandangan-pandangan Mun’im yang terlihat megah, cerah, mentereng dan menggelegar itu sudah tersedia jawabannya dalam khazanah Islam? Setelah mengunyah buku-buku Mun’im, saya cari jawaban untuk meng-counter pemikiran dia itu. Selebihnya saya mengamati dan merenung. Dan hasilnya cukup memuaskan. Memang semua sudah ada jawabannya. Lagi-lagi, uraian para ulama Muslim jauh lebih memuaskan ketimbang pikiran para orientalis dan anak didiknya itu. Emang jawabannya gimana sih? Sebenarnya  sekarang saya sedang menyusun buku tentang itu. Yang saya sebar ini hanya “pemanas” aja. Paling tidak supaya orang sadar dulu, bahwa pemikiran Mun’im tidak seenteng yang mereka kira. Itu berbahaya. Dan kita perlu membantahnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda