Tentang Jodoh

Kalau ditanya, siapa orang pertama yang paling berjasa dalam mempertemukan saya dengan isteri, jawabannya adalah adek ipar saya, yang duduk di sebelah kiri. Ibu saya pernah bilang, dengan logat sunda yang khas, “jodoh itu udah ada yang nentuin. Sing arek gulang guling di kasur oge, lamun ngeus waktuna dateng mah da pasti dateng.” Maksudnya, sekalipun kita jungkir balik di atas kasur, kalau sudah waktunya datang, jodoh itu pasti akan datang. 

Percaya nggak sih? Dulu saya nggak begitu mengiyakan pertanyaan itu. “Ya kan kita tetep harus berusaha ma.” Begitu kalau saya memberi alasan. Padahal, omongan ibu saya sendiri tidak bermaksud untuk menafikan keniscayaan usaha. Usaha memang perlu. Tapi, pada hakekatnya, jodoh kita memang sudah ditentukan oleh Tuhan. Palu takdir sudah terketuk. Betapapun Anda berlari ke arah selatan, kalau kata Tuhan jodoh Anda ada di sebelah Timur, maka jodoh Anda akan muncul dari arah itu. 

Awalnya saya suka agak “protes” dengan omongan ibu saya itu. Secara teologis, pikir saya, pandangan semacam itu cenderung fatalistik, sehingga orang tidak lagi terketuk untuk berusaha. Eh tapi ternyata bener. Orang yang ingin memperkenalkan saya dengan isteri saya itu persis menghubungi saya ketika guling-gulingan di atas kasur! Waktu itu saya suka membatin. “Ya Allah kok nyari jodoh itu susah amat ya.” Nah kebetulan malam itu turun hujan deras. 

Saya ingat perkataan salah seorang ulama, bahwa turunnya hujan deras itu adalah saat-saat terkabulkannya doa. Percaya atau tidak, saya doa dengan setulus hati waktu itu, agar Tuhan memberikan saya jodoh. Padahal saya sendiri nggak siap-siap amat kalau disuruh nikah. Tapi itulah rintihan seorang jomblo. Selalu ada desakan untuk merdeka dari kesepian. Dan, lucunya, pas lagi guling-guling di atas kasur, datanglah info yang tak terduga itu. Besoknya saya pulang ke Tangerang, dan memang ketika itu saya sudah berencana pulang, setelah dua minggu di Sukabumi. Siang-siangnya langsung maen ke rumah istri (tentu saja waktu itu masih calon).

Apa yang saya bawa? Cuma uang sekitar lima belas rebuanlah kira-kira. Buat beliin bensin motor temen, yang mengantar saya ke lokasi. Nggak bawa makanan, nggak bawa buah-buahan. Paling waktu itu saya bawa buku aja sebagai hadiah. Udah, cuma gitu doang. Baju yang saya pake itu dapet ngasih adek kelas, yang saya pake waktu pulang dari Kairo. Celana yang saya pake adalah satu-satunya celana yang pernah saya beli selama 7 tahun di Kairo. Beneran. Seumur-umur hidup di Kairo saya cuma beli celana satu biji! Sisanya warisan semua. Dan itu yang saya pake kemana-mana. Sama waktu itu pake jaket. Jaketnya juga dapet ngasih! 

Niatan saya ya maen aja. Nggak ada beban untuk tampil lebih perfeksionis. Dan, lucunya lagi, sampe dateng ke rumah, saya belum tahu nama orang yang ingin dikenalkan sama saya itu siapa! Kaya orang nggak niat gitu loh gimana si. Saya pikir udah lumayanlah bisa kenal ama kiai juga. Nggak ada ruginya. Nah, ketika bicara dengan kedua orang tuanya, saya bicara selepas lepasnya. Nggak ada beban dan tuntutan kalau saya harus bicara dengan hati-hati. Ditanya begini, saya jawab begini. Ditanya begitu, saya jawab begitu. Semua saya jawab dengan jujur, lepas dan terbuka, tanpa ada celah yang saya tutup-tutupi. 

Semua saya jawab berdasarkan pandangan hidup saya, prinsip hidup saya, dan apa yang pernah saya pelajari selama 7 tahun sekolah di al-Azhar. Saya pikir, orang terhormat pasti akan memandang kejujuran itu sebagai sesuatu yang mahal. Dan, Anda tahu, teman-teman, yang menarik dari kepribadian mertua saya itu apa? Dia nggak nanya kerjaan, nggak nanya penghasilan. Dia tahu bahwa saya cuma seorang mahasiswa, yang kerjaannya cuma nulis sama baca buku. Sesekali ngajarlah biar dapet uang jajan. Dia tahu itu. Tapi itu nggak dijadikan obrolan penting. Pembicaraan kita justru lebih substansial ketimbang hal-hal sampingan semacam itu. Dan di situlah kesan positif mulai saya rasakan. 

Ini bapak-bapak, kata saya, pandangan ideologinya sama, diajak ngobrolnya enak, nggak nyinggung yang neko-neko, cara berpikirnya simpel, bisa menghormati lawan bicara, juga nggak banyak meretelin hal-hal yang bersifat dunaiawi, yang sering dibicarakan orang kalau mau nikahin anak. Ibunya juga gitu. Senyum aja. Nggak banyak nanya. Wah kata saya jangan-jangan saya beneran berjodoh ini ama anaknya. Eh abis itu anaknya keluar. Dan barulah di situ saya mulai tau namanya. Namanya Faizah Amaliah. Nama yang bagus. Tapi, yah, namanya juga baru ketemu, perasaan saya ya biasa-biasa aja. Ceweknya juga, setelah saya tanya kemudian, juga ngerasa begitu. 

Besoknya saya dapet kabar, yang agak membuat saya kaget setengah tidak percaya, kalau pihak mertua sudah sepakat untuk menikahkan kami berdua. Udah cocoklah intinya mah. “Secepet itu?” Kata saya. Iya, secepat itu. Dan bener kata ibu saya. Mau guling-guling di atas kasur sekalipun, kalau udah waktunya dateng, tenang aja, entar juga dateng sendiri. Tahu nggak sih, ibu saya itu kalau diajak ngomongin jodoh, bilangnya pasti saya disuruh nyelesein sekolah dulu. Akhirnya waktu itu saya minta isteri saya untuk dateng ke rumah. Datenglah akhirnya. Cuma ngobrol ada kali sekitar dua jam-an mah. Nggak lama. 

Nah, setelah dia pulang, saya nanya tuh sama ibu saya, “ma, kumaha eta teh?” Eh nggak tau kenapa ibu saya bilang, “insya Allah ini mah bagus.” Ya Allaaaah saya juga agak kaget. Kok bisa-bisanya jadi ngomong begitu. Nggak biasanya. “Terus kuliah gimana ma?” “Yaudahlah bismillah aja.” Kata ibu saya. Terus terang, restu ibu saya itulah yang paling membuat saya yakin. Akhirnya, cuma berselang tiga bulan lebih beberapa hari, saya pun resmi menikah. Sesingkat itu. Tanpa banyak persiapan sebenarnya. Tapi itulah jodoh. Kalau udah waktunya dateng, pasti dateng juga. Dan Tuhan akan memberikan jalan kemudahan untuk itu. 

Karena itu, saran saya untuk para jomblo, Anda nggak perlu deh capek-capek nyari pasangan. Buang-buang waktu doang. Cukup Anda perbaiki diri Anda, siapkan diri Anda dengan matang, bekali diri Anda dengan kemampuan, nah, nanti, kalau sudah waktunya, jodoh itu akan datang sendiri. Kalaupun diupayakan, mengupayakannya nggak bakal terlalu susah. Yang sekarang Anda pacari, bahkan yang bertunangan dengan Anda sekalipun, itu belum tentu jadi jodoh Anda. Bahkan bisa jadi dialah yang akan menggilas dan mencincang-cinang perasaan Anda. Bukankah itu banyak terjadi? Tapi terserah sih. Itu berpulang pada pilihan masing-masing. Semua jelas ada resikonya. 

Terakhir, pesan saya, kalau Anda tidak mau menyesal setelah menikah, jangan terlalu mengikuti dorongan nafsu Anda. Pertimbangkan suara hati orang tua. Bagi saya, justru itulah yang terpenting. Restu dan keridaan orang tua itu sangat penting. Karena ketika menikah kita nggak hanya menyatukan dua pasangan, tapi kita juga ingin menyatukan dua keluarga. Di samping saya juga merasa bahwa restu orang tua itu dapat membuka banyak pintu keberkahan dalam kehidupan rumah tangga. Ya paling nggak saya sudah merasakan itu. 

Kalau orang tua nggak setuju, mendingan jangan. Kalau bisa nego, ya negolah sewajarnya. Tapi jangan sampe maksa. Ingat, orang tua itu (meskipun nggak semuanya) nggak cuma bicara dengan bahasa lisan. Tapi mereka juga bicara dengan batin mereka sendiri, yang kadang mampu melihat apa yang tidak bisa kita lihat. Berkat restu orang tua, saya tidak menyesal setelah menikah. Alih-alih mengalihkan saya dari ilmu, menikah itu justru semakin membuka jalan kemudahan bagi saya dalam mencari dan membagikan ilmu. Bahwa tesis saya nggak kelar-kelar, ya itu karena nggak dikerjain aja. Udah keasyikan nulis. Mudah-mudahan tahun ini bisa selesai. Dan saya bisa pulang untuk kembali menyebarluskan apa-apa yang telah saya dapatkan selama di sini. Amin.

Bagikan di akun sosial media anda