Kritik yang Primitif?

Satu kehormatan tersendiri bagi saya ketika ahli qur’an sekelas Prof. Mun’im Sirry sudi melampirkan komentar di postingan tulisan saya yang sebelumnya. Akun saya sudah di-unfriend. Padahal dulunya terhubung sebagai teman. Mungkin dia merasa terusik dengan apa yang saya tulis. Atau punya alasan yang lain. Dan karena itu, ketika menyebut namanya, saya tidak menandai akun miliknya. Apa sih isi komentar dia itu? Mengingat dia dikenal sebagai sarjana yang bertitel tinggi, yang sudah pasti tahu tentang bagaimana caranya menjawab tulisan orang dengan baik, pikir saya isinya adalah jawaban dari pertanyaan inti yang ajukan dalam tulisan pertama itu. 

Tapi ternyata tidak. Dia cuma bilang kalau metode berpikir saya itu primitif. Atau kampunganlah bahasa kasarnya. Kata Mun’im, “cara paling mudah menyerang orang lain memang mempertanyakan keislaman orang yang pikirannya berbeda dengan paham yang dianutnya. Bagi saya, itu metode berpikir primitif.” Setahu saya, sarjana yang baik itu, kalau melihat buah pikirannya direspon dan dikritik, dia menjawab dengan tulisan yang tertata dan akademis. Tulisannya dibaca dulu dengan utuh, baru dikomentari dengan baik. Di mana sih sebetulnya sisi primitif yang Mun’im maksud itu? Pertanyaan yang saya ajukan di sana cukup logis dan jelas. Bagaimana posisi akademik Anda dalam melihat sumber dan asal muasal kitab suci al-Quran, yang isinya Anda pandang bermasalah itu? 

Itu tidak bermaksud untuk mempertanyakan keimanan. Apalagi untuk menghukumi apakah yang bersangkutan sudah kafir atau masih beriman. Tapi itu pertanyaan logis yang terlahir dari ambiguitas sikap Mun’im sendiri, yang mengaku sebagai Muslim, tapi berbagai tulisannya malah mempermasalahkan ayat al-Quran itu sendiri, dan bukan penafsirannya. Lalu di mana sisi primitif dari pertanyaan itu? Saya nggak paham. Kalau ada sebuah buku istimewa di hadapan Anda, isinya berbobot, kaya akan informasi, apalagi kalau banyak menarik perhatian masyarakat dunia, adalah sah bagi Anda untuk bertanya, siapa yang menulis buku itu? Dari mana informasi buku itu berasal? 

Apa yang salah dengan pertanyaan itu? Itu pertanyaan yang sangat logis. Karya manusia saja dapat kita pertanyakan asal muasal dan sumbernya—karena nggak mungkin ada kitab yang bisa menyusun dirinya sendiri—lalu apa masalahnya kalau kita mempertanyakan dari mana sesungguhnya asal muasal kitab suci kita, dan mengajukan pertanyaan itu kepada orang yang telah mempersalahkan isinya? Tampaknya Mun’im tak akan sudi menjawab pertanyaan itu. Karena, kalau terbukti bahwa qur’an itu bukan buatan manusia, bukan karangan nabi Muhammad, atau manusia-manusia lainnya, maka runtuhlah sudah klaim-klaim serius yang dia ajukan di banyak halaman bukunya itu. 

Dia tidak akan punya celah lagi untuk menyebut quran sebagai kitab suci yang bermasalah, berpolemik dengan audiensnya, tidak otentik, berdialog dengan kitab-kitab suci sebelumnya, bisa direvisi, dan lain-lain, karena klaim-klaim semacam itu hanya mungkin terlahir kalau yang bersangkutan memposisikan quran sebagai karya manusia biasa. Dan karena alasan itulah saya—dalam konteks mengkritik pandangan Mun’im yang pertama itu—mengajak Mun’im untuk memposisikan dirinya secara tegas, dalam menjawab pertanyaan yang amat mendasar itu. Karena itu menentukan tepat atau tidaknya klaim-klaim yang dia ajukan. Dari mana al-Quran itu berasal?  

Sekali lagi saya meminta siapapun manusia bernalar sehat yang membaca tulisan ini untuk menilai, apa yang salah dengan pertanyaan itu? Kalau itu dinilai sebagai pertanyaan primitif, di mana sisi primitifnya? Adakah pakem-pakem rasional yang saya langgar dari pertanyaan itu? Adakah manusia yang otaknya merasa ditonjok kalau saya mengajukan pertanyaan yang sangat logis dan masuk akal itu? 

Mungkin, Mun’im melihat cara berpikir saya sebagai cara berpikir primitif, ketika dia membaca tulisan kedua, yang mendaftar sejumlah kesemrawutan berpikirnya itu. Dia merasa bahwa keislamannya sudah dipertanyakan oleh tulisan itu. Mungkin. Padahal, kalau Anda membaca isi tulisan kedua saya itu dengan cermat, sejak awal saya sudah jelaskan kemana sesungguhnya tulisan itu terarah. Tulisan itu, seperti yang saya jelaskan di bagian pembuka, saya utarakan sebagai repson bagi orang-orang yang memandang pikiran-pikiran Mun’im itu sebagai gagasan yang biasa, enteng, remeh, dan tak bermasalah. Dan memang kelompok itu ada. 

Tulisan saya ingin berkata kepada orang-orang itu, bahwa persoalannya tidak seenteng yang Anda kira, karena itu bersentuhan dengan sendi-sendi utama ajaran agama kita. Lagi-lagi saya bertanya, apa yang primitif dengan cara berpikir semacam itu? Saya mengklaim bahwa pikiran Mun’im itu berbahaya, dan berpotensi merusak akidah umat Muslim. Lalu saya paparkanlah bukti-bukti untuk menjawab pertanyaan, di mana sesungguhnya sisi problematis dari pemikirannya itu? Jelas, itu dikemukakan dalam konteks membuktikan klaim, bukan mempertanyakan keimanan. Lalu apa yang salah? Bagi orang yang bernalar sehat, justru itulah cara berpikir yang logis. Sebab, kalau saya nggak memaparkan bukti, maka klaim saya hanya akan menjadi omong kosong belaka. 

Apa yang primitif dengan cara berpikir seperti itu? Bahkan, kalaupun kita mempertanyakan keislamannya—dan saya tidak memaksudkan itu sebagai tujuan utama dalam tulisan saya—itupun sebenarnya sah-sah saja. Karena Mun’im telah memunculkan paradoks yang tak terampuni secara epistemik. Dia mengaku sebagai Muslim—dan tampaknya dia tidak suka kalau keislamannya itu dipertanyakan—tapi buku-bukunya sendiri mengkritik elemen-elemen mendasar dalam ajaran Islam! Padahal iman seseorang itu harusnya paralel dengan sikap keilmuannya sendiri. Wajarlah kalau orang mempertanyakan keislamannya. 

Saya harap Anda menggarisbawahi kata “mendasar” itu dengan baik. Kalau faktanya menunjukkan bahwa Mun’im mengkritik hal-hal yang mendasar dalam Islam, dan itu terlampir di berbagai halaman buku dan link ceramahnya, lalu kita mempertanyakan keislaman orang itu, apa yang salah dengan pertanyaan itu? Di mana sisi primitifnya? Yang Mun’im diskusikan dalam buku-buku dan ceramahnya itu bukan persoalan partikular, yang bisa membuka ruang ijtihad. Tapi itu menyangkut sendi-sendi utama ajaran Islam, seperti yang saya paparkan dalam tulisan kedua. 

Yang primitif itu kalau Mun’im mendiskusikan persoalan partikular dalam agama, seperti diskusi-diskusi yang banyak berlangsung di kalangan para ulama, tak menyinggung persoalan-persoalan mendasar, tidak mengkritik qur’an, menerima kebenaran sabda nabi Muhammad Saw—selama sabda itu terbukti sahih tentunya—lalu, karena kelumpuhan dalam menyajikan argumen, akhirnya saya bilang sama dia, “im, ente masih muslim nggak sih”? Padahal persoalan yang dibahas itu sendiri hanya “persoalan kulit” yang bisa melahirkan perbedaan pendapat. 

Nah, kalau saya melakukan itu, bolehlah saya, atau siapapun yang bersikap demikian, dinilai telah bersikap primitif. Sementara pandangan Mun’im, yang sudah berani merevisi qur’an, meragukan keotentikannya, meragukan validitas hadits-hadits nabi, menafikan keabsahan syahadat, menyebut mukjizat sebagai mitos, dan setumpuk keanehan lainya, menurut Anda, itu berada dalam ruang ijtihad, atau itu sudah menyangkut hal-hal yang bersifat fundamental? Pengkaji Islam yang baik pastinya tidak akan kebingungan untuk menjawab pertanyaan ini.

Dan kalau kita mempertanyakan keislamannya, sekali lagi saya bertanya, apa yang salah dengan pertanyaan itu? Pertanyaan ini saya ajukan dengan kesadaran penuh, bahwa menghukumi kafir atau tidaknya seseorang itu bukan tugas yang mendasar bagi seorang pengkaji. Makanya saya sendiri nggak mengkafirkan dia. Dan merasa tidak perlu untuk melakukan itu. Bahkan, secara terus terang dalam tulisan kedua itu saya bilang, bahwa kalau ada yang bertanya apakah Mun’im—dengan segala keanehannya itu—sudah kafir atau belum? Saya katakan di sana, bahwa selama dia mengaku sebagai Muslim, maka kita sebut dia sebagai Muslim. Saya bilang begitu. Tulisannya jelas. Nggak tahu Mun’im baca apa nggak. 

Lantas dari mana Mun’im merasa keislamannya dipertanyakan, lalu menilai cara berpikir orang lain sebagai cara berpikir yang primitif? Sarjana yang baik tidak akan lari dari sebuah pertanyaan yang sah secara akademis, apalagi kalau pertanyaan itu dapat menguji sahih tidaknya pemikiran yang bersangkutan. Apa pertanyaan itu? Saya ulang lagi di sini. Pertanyaan itu seputar sumber dan asal muasal al-Quran. Dari mana al-Quran itu berasal? Kalau misalnya Anda, wahai manusia yang berpikir modern, memposisikan quran sebagai firman Tuhan, lalu bagaimana Anda mempararelkan klaim tersebut dengan klaim-klaim Anda yang mempermasalhkan isinya? Kok bisa firman Tuhan disebut bermasalah? Saya ingin tahu penjelasan logisnya.

Tapi, kalau hasil penalaran, penelurusan, perenungan, pengamatan dan sikap akademik Anda tidak memposisikan quran sebagai firman Tuhan, dan dia diklaim sebagai karangan seorang manusia, entah itu nabi Muhammad, atau siapapun saja, maka ketika itu Anda sudah menunjukkan sikap yang tegas dan terbuka. Dan Anda harus berani untuk menyajikan argumen pendukungnya. Kalau Anda melakukan itu, maka seketika itu juga kita akan bicara dengan argumen, untuk menguji klaim kita masing-masing, lalu membuang jauh sikap primitif seperti yang Anda tuduhkan kepada saya itu. Keterusterangan sikap itu penting, bung. Karena dari situlah perdebatan ilmiah yang hakiki itu bisa dimulai. Tapi beranikah Mun’im melakukan itu? Kita tunggu saja. Kalau nggak, mungkin dialah yang sesungguhnya primitif itu. Wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda