Zuhairi Misrawi dan Penyoalan Identitasnya sebagai Seorang Azhari

Di samping memposisikan saya sebagai anak muda yang tidak sopan, merasa sok pintar, ngeyel dan kekanak-kanakan, Zuhairi Misrawi juga berterus terang bahwa dia merasa malu dengan apa yang telah saya lakukan itu. Itu dia sampaikan dalam komentarnya atas tulisan saya. Apa yang membuat Anda malu itu, pak Zuhairi? Menurutnya, buku itu harus dibalas dengan buku. Tidak bisa dibalas dengan satu-dua tulisan saja. Dan yang saya perlihatkan itu, dalam kacamatanya, adalah tindakan yang membuat dia malu, sebagai alumni al-Azhar. 

Perasaan saya melihat banyak sekali mahasiswa al-Azhar yang justru setuju dengan sikap saya. Dan mendukung apa yang saya lakukan itu. Dan mereka tentu saja bukan orang bodoh-bodoh. Lalu kenapa tiba-tiba muncul seorang Zuhairi Misrawi, yang mengaku sebagai seorang Azhari, tapi merasa malu dengan sikap kritis itu? Teman-teman mahasiswa di sini mendukung, karena mengkritik tradisi pemikiran yang menyimpang, dengan kritikan yang logis dan ilmiah, itu adalah cara berpikir yang diajarkan oleh para ulama al-Azhar sendiri. 

Pemikiran yang menyimpang, apalagi kalau sudah menyangkut elemen-elemen mendasar dari ajaran Islam, itu nggak boleh dibiarkan. Kalau tidak, kelak akan dibenarkan dan diwariskan secara berkelanjutan. Kritik itu harus ditempuh dengan berbagai cara, asal kritik itu berbasi pada metode keilmuan juga, bukan kritik yang berisikan caci maki dan kosakata sampah. Dan buku itu hanya salah satu medium saja dalam mengkritik, tapi bukan satu-satunya. Siapa yang mengajarkan? Ulama al-Azhar sendiri. Ketika ada satu pemikiran menyimpang meruak, mereka tampil dengan keahlian dan tempatnya masing-masing.  

Ada yang membantah lewat televisi, koran, radio, artikel ilmiah, majalah, dan juga termasuk buku. Tidak ada yang salah dengan semua perantara itu. Asal kritikannya benar-benar ilmiah dan berbasis pada argumen. Lalu kenapa Zuhairi mempersoalkan saya, hanya karena saya belum menulis buku, padahal pikiran yang sedang saya kritik itu sendiri hanyalah salah satu artikel yang pernah disebar Mun’im melalui internet? Andai kata saya mengkritik isi buku Mun’im dengan artikel, selama yang saya kritik itu hanya satu bagian tertentu dari buku, dan bukan keseluruhannya, apa yang salah kalau saya menuliskan artikel itu melalui medium internet? 

Apa yang memalukan dari sikap semacam itu? Mun’im Sirry, yang beliau akui sebagai gurunya itu, telah mengucurkan keran pemikirannya melalui sejumlah karya tulis, artikel-artikel di internet, dan juga diskusi-diskusi yang ditayangkan melalui kanal YouTube. Dia mengotori akidah umat Muslim dengan pikiran-pikiran para Orientalis itu. Lah saya melakukan itu untuk mengkritik pemikirannya. Kok bisa dibilang memalukan? Yang sudah saya masukkan ke dalam buku sudah ada. Dan Anda bisa akses itu di buku Logical Fallacy. Dan sekarang, melalui artikel-artikel yang saya sebarluaskan ini, saya juga sedang proses menulis buku. Setiap orang punya cara dalam menulis buku itu. Dan itulah cara saya. 

Saya merasa perlu menuliskan kritikan-kritikan itu lewat internet agar mendapatkan tanggapan langsung dari penulisnya itu sendiri. Barangkali ada pemahaman saya yang salah, dan dia bisa meluruskan. Barangkali ada klaim saya yang dia tanggapi, kemudian dia benar, dan saya perlu mengakui kebenaran itu. Atau barangkali dia ngeles, lalu saya bisa menghadirkan tulisan-tulisan aslinya sendiri, supaya dia mau mengakui. Dan, yang tidak kalah penting untuk pak Zuhairi sadari sekali lagi, Mun’im sendiri menjadikan internet itu sebagai medium penyebaran pikirannya.

Kalau saya mengkritik Mun’im melalui media yang sama, sebelum nanti semuanya terlahir menjadi sebuah buku, lantas apa yang salah? Apa sih yang memalukan dengan cara seperti itu? Saya nggak paham. Zuhairi boleh merasa malu dengan tingkah laku juniornya, kalau juniornya itu bisanya cuma mencaci-maki, menghina atau berkata-kata kasar kepada gurunya, Mun’im Sirry. Ulama al-Azhar tidak ada yang mengajarkan seperti itu. Dan Zuhairi pun pasti tahu. Dan sejauh ini saya juga tidak menempuh cara-cara kotor itu. 

Apa yang saya tulis berbasis pada pertanyaan dan pernyataan-pernyataan yang logis. Semuanya bisa diuji, melalui penalaran logis itu sendiri. Melalui apa yang saya tulis, saya ingin mengkritik buah pikiran Mun’im. Tulisan memang harus dibalas dengan tulisan. Tapi sejak kapan ada aturan kalau mau mengkritik sebuah buku—padahal yang baru kita kritik itu adalah ide tertentu dari isi buku itu—maka kita harus membuat buku juga? Saya mengkritik tulisan Mun’im yang dia sebar lewat internet. Kalau saya menggunakan medium yang sama, apa yang salah, dan apa yang memalukan?

Menarik untuk dilihat, bahwa Zuhairi, seperti yang dia tegaskan sendiri dalam komentarnya, memandang argumen-argumen Mun’im yang dia tuangkan dalam bukunya itu sebagai argumen yang kuat. Itu hasil penilaian dia sendiri. Dan dia mengaku bahwa dirinya sudah membaca semua buku Mun’im Sirry itu. Lalu dia sampai pada kesimpulan tadi. Bahwa argumen Mun’im itu kuat. Tentu saja kita berhak untuk bertanya-tanya, lantas bagaimana sikap Anda terhadap tesis-tesis Mun’im yang sudah saya rangkum itu, kalau benar argumennya kuat? 

Kalau dia, sebagai alumni al-Azhar, merasa malu ketika melihat saya mengkritik orang yang pikirannya jelas-jelas merusak ajaran Islam, bersikap kurang ajar kepada Nabi Muhammad Saw, merevisi kalam Tuhan, apa jangan-jangan secara diam-diam Zuhairi juga menyetuji tesis-tesis Mun’im itu? Saya tidak tahu. Biarkan Zuhairi yang menjawab itu. Yang jelas, dengan menyebut argumen-argumen Mun’im sebagai argumen yang kuat, itu saja sudah menjadi klaim yang harus dibuktikan. Zuhari harus membuktikan di mana letak kekuatan itu. Kalau tidak, maka itu hanya akan menjadi omong kosong belaka. 

Dalam diskusi ilmiah, sebenarnya tidak ada gunanya membawa-bawa nama almamater. Tapi, dalam komentar yang ditulis, Zuhairi mencantumkan nama almamater kami. Al-Azhar. Dia merasa malu, sebagai statusnya sebagai alumni al-Azhar, katanya, ketika melihat saya mengkritik pemikiran Mun’im Sirry dengan cara seperti itu. Justru, kalau benar Zuhairi itu seorang Azhari sejati, dia harusnya malu, ketika ada orang yang mengkritik pemikiran yang merendahkan nabinya, meragukan kalam Tuhannya, menggugat hal-hal mendasar dalam agamanya, lalu dia menilai orang itu sebagai sosok yang memalukan, kekanak-kanakan, ngeyel, kurang sopan, dan atribut-atribut lain yang bernada merendahkan itu. 

Saya malah malu, ketika ada seorang Dubes (semoga dengan menyebut ini saya tidak dibilang kurang sopan) berkomentar dengan cara seperti itu. Saya sudah berupaya mengkritik dengan cara yang logis, Zuhairi malah berkomentar di kolom facebook semata. Kalau benar dia memandang pikiran-pikiran Mun’im itu berbasis pada argumen yang kuat, dan dia merasa ada yang bermasalah dari kritik-kritik yang saya ajukan, meskipun yang baru saya sebar itu baru satu-dua tulisan saja, Zuhairi harusnya membantah tulisan dengan tulisan juga. Esai dengan esai. Kolom dengan kolom. Bukankah itu yang dia mau? Dan ketika itu akan terlihat, siapa sesungguhnya yang berupaya menyuguhkan pikiran ulama-ulama al-Azhar, dan siapa yang sudah menyimpang dari metode keilmuan mereka. 

Barangkali dari situ juga bisa terlihat, seperti apa sesungguhnya pemikiran Zuhairi dalam melihat tesis-tesis yang dikemukakan oleh gurunya itu. Dan sejuah mana dia bisa mempertahankan pemikiran-pemikirannya itu dengan identitasnya sebagai seorang Azhari? Jangan bilang kalau saya cuma menggunakan argumen iman, seperti yang telah Zuhairi tuduhkan. Zuhairi harus ingat, bahwa yang mengajarkan argumen-argumen rasional dalam mengukuhkan dasar-dasar keimanan itu adalah ulama-ulama al-Azhar sendiri. Dan saya berupaya utnuk mempromosikan metode berpikir semacam itu. Saya tidak menggugat Mun’im dengan keimanan yang saya peluk. Saya ingin menggugat pemikiran dia dengan tahapan-tahapan berpikir yang logis, dan menguji klaim dia itu satu persatu. Dan sampai detik ini dia tidak sudi menjawab. Yang bisa Mun’im lakukan hanyalah menuduh saya marah, dan ngotot memposisikan saya sebagai orang yang mempertanyakan keislamannya. Padahal saya sudah jelas-jelas menafikan itu. 

Lalu mana sesungguhnya sikap yang benar-benar membuat malu itu? Gurunya Zuhairi, dirinya, atau saya? Publik bisa melihat dengan kacamata yang adil. Seorang sarjana yang baik tidak akan lari dari pertanyaan yang dapat menguji butir-butir pemikirannya. Tanpa mengurangi rasa hormat, pesan saya untuk pak Zuhairi, kalau Anda tidak setuju dengan apa yang saya tulis, katakan dan buktikan, di mana yang bermasalah dengan tulisan saya itu? Dan saya siap untuk memberikan tanggapan, kalaulah memang tanggapan itu benar-benar diperlukan. Bukan dengan komentar satu baris dua baris. Tapi buatlah tulisan secara utuh, sebagai konsekuensi dari permintaan Anda sendiri. Bukankah Anda sendiri yang meminta itu, bahwa buku harus dibalas dengan buku, dan argumen harus dibalas dengan argumen? Kalau tidak bisa, dan Anda menelan omongan sendiri, apa Anda tidak merasa malu, dengan identitas Azhari yang ada di pundak Anda itu? 

Bagikan di akun sosial media anda