Iman Kepada Nabi dan Paradoks Lain Mun’im Sirry

Dalam buku Polemik Kitab Suci, seperti yang sudah saya lampirkan, Mun’im Sirry secara jelas menyebut Rasulullah Saw sebagai sosok yang tidak punya informasi memadai tentang Yahudi dan Kristen. Artinya, menurut Mun’im, pengetahuan nabi itu kurang lengkap. Karena mungkin dia merasa lebih tahu dari nabinya sendiri. Dan karena itu juga dia berani menyebut kritik al-Quran sebagai kritikan yang keliru. Itu jelas tulisan dia sendiri. Dan dia belum bilang kalau dia sudah meralat tulisan itu. Yang mungkin bisa dia bilang, pernyataan itu telah dikutip di luar konteksnya. Dan tentu saja kita ingin tahu, konteks macam apa yang dia maksud itu? Kita lihat cara ngeles dia kaya apa nanti. Sampai detik ini dia belum memberikan jawaban. 

Padahal, kalau benar itu tulisannya—dan memang faktanya demikian—harusnya dia jawab saja dengan tegas. Kalau mau meralat, tinggal meralat. Kalau tidak, katakan tidak. Sikap sarjana yang gentle harusnya memang seperti itu. Tegas tanpa banyak ngeles. Kalau sebatas mengklaim Nabi Muhammad kurang informasi, seperti yang ditulis oleh sarjana qur’an asal Amerika itu, Abu Jahal dan orang-orang kafir di masa jahiliah sebenarnya juga bisa. Siapapun bisa mengajukan klaim semacam itu. Tapi, ketika diminta untuk memaparkan bukti, mulut mereka sudah pasti akan terkunci. Sejak dulu sampai sekarang, Nabi Muhammad Saw telah dituduh dengan berbagai macam tuduhan yang merendahkan. Dituduh sebagai penyihir, gila, pembohong, dan lain-lain. 

Tapi apakah semua tuduhan itu berlandaskan pada bukti yang sahih? Apakah tuduhan itu mampu bertahan di tengah gempuran bukti yang menolaknya? Itu yang menjadi persoalan. Berbagai tuduhan keji dan sampah terhadap nabi yang mulia itu hanyalah klaim-klaim kosong yang tak bersandar pada bukti apapun. Tak terkecuali klaim yang disampaikan oleh sarjana didikan Amerika itu. Secara logis, mengaku beriman kepada Nabi Muhammad Saw sudah pasti melahirkan banyak konsekuensi dalam beragama. Tidak cukup Anda hanya mengaku beriman, lalu setelah itu Anda bebas berbuat dan berkata apa saja. Kecuali kalau Anda beriman dengan nalar kaum primitif. Mulutnya bilang beriman, tapi ucapan dan perbuatan malah merendahkan sosok yang dia imani. Bagi manusia primitif yang nalarnya satu setengah senti tentu saja itu bisa saja terjadi. 

Ketika Anda memutuskan untuk beriman kepada sesuatu, batasan-batasan tentang sesuatu itu sudah pasti ada, sebagai konsekuensi dari keimanan yang Anda pilih. Dan itu sangat logis. Kalau iman tak melahirkan batasan, lantas apa gunanya lagi dia disebut sebagai iman? Jangan bilang bahwa “saya mengatakan itu dalam konteks mengkaji secara ilmiah”, lalu dalam kajian itu Anda boleh berkata apa saja tentang sosok yang menjadikan Anda sebagai Muslim. Ingat, ketika Anda memutuskan beriman kepada Nabi Muhammad, putusan Anda itu sendiri harus bersandar pada kajian ilmiah. Sebelum memutuskan beriman dengan yakin, Anda harus bertanya dulu, apa bukti kalau beliau itu Nabi? Dan para ulama sudah menjawab itu dalam buku berjilid-jilid. 

Apa dengan karya berjilid-jilid itu Anda mengira, bahwa para ulama itu termasuk orang-orang bloon, yang tidak menahu tentang kajian ilmiah? Pembuktikan akan kenabian nabi Muhammad itu sendiri merupakan kajian ilmiah, yang kesimpulan-kesimpulannya bisa diuji secara akademis. Kalau dalam kajian keilmuan Anda masih punya celah untuk merendahkan nabi, jangan-jangan selama ini Anda beriman cuma ikut-ikutan doang, sampai-sampai Anda tidak tahu bahwa iman itu sendiri bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah? Makanya, sebelum mengunyah pikiran orang Barat, kunyah dulu khazanah keilmuan ulama Anda sendiri. 

Tapi memang sih. Kalau kita membaca buku-buku Mun’im, kita akan merasa, bahwa para raksasa intelektual Islam itu akan ditampilkan sebagai orang-orang yang bloon. Mereka akan dicitrakan sebagai orang-orang yang kurang pandai dalam menulis sejarah. Rujukan-rujukan yang selama kita pegang itu, kata Mun’im, tidak lolos dari kritik historis. Seolah-olah para ulama kita itu tidak paham ilmu kritik sejarah. Padahal, kalau buku-buku sejarah Islam itu semuanya dikumpulkan dalam satu rumah, saya yakin itu nggak bakal cukup. Buaaaanyak sekali. Apalagi buku-buku yang menarasikan sirah Nabi Muhammad Saw. Itu yang sudah dicetak. Apalagi kalau dikumpulkan dengan semua manuskrip. 

Dan Anda boleh cek di belahan bumi manapun di dunia ini. Ada tidak manusia agung yang namanya dikenang sepanjang sejarah, namanya disebut selama berabad-abad, yang perjalanan hidupnya dinarasikan dengan buku-buku yang sangat berlimpah, selain nabi Muhammad Saw? Tanpa sejengkal keraguan pun, penelurusan yang objektif pasti akan berkata tidak ada. Bagi yang ingin menolak, dan berkata ada, silakan ajukan nama tokoh agung itu kalau ada. Dan dengan adanya karya berlimpah itu Anda mengira bahwa para penulis sirah itu termasuk orang-orang bloon yang nggak paham penulisan sejarah, lalu para sejarawan Barat Anda tampilkan sebagai sosok-sosok yang pintar dan lebih kritis? “Wah, bung, kalau begini ceritanya Anda main perasaan nih. Anda mengkritik pake perasaan, bukan mengkaji secara ilmiah.” 

Saya sudah menduga akan keluar komentar semacam itu, dari mulut orang-orang yang sok ilmiah, tapi cara berpikirnya sendiri kacau balau dan antah berantah. Saya mengemukakan ini bukan dalam konteks mengulas secara ilmiah. Itu ada tempatnya sendiri, yang mungkin nanti bisa kita bahas dalam tulisan lain secara terpisah. Para ahli sejarah Muslim lebih berkapasitas untuk membahas itu. Melalui penggambaran di atas, saya hanya ingin mengajak para pembaca untuk menimbang-nimbang semata, sebelum mengkaji lebih dalam, mungkin nggak sih narasi sejarah Islam dan nabinya yang sedemikian kaya dan berlimpah itu ditulis oleh orang-orang bloon, dan mereka tidak tahu kode etik penulisan sejarah yang baik? 

Kemungkinan besar Mun’im akan mengeluarkan jurus andalannya. Loh itu faktanya ditulis belakangan! Itu sarat dengan kepentingan idelogis! Dan bla bla bla. Dan nanti akan kita tahu, bahwa sebelum Mun’im bicara dengan jurus andalannya itu, para ulama Muslim sudah memikirkan jawabannya terlebih dulu. Karena mereka bukan orang-orang bloon yang nggak paham penulisan sejarah. Dan, sebagai orang yang sedikit banyak menekuni logika, saya bisa jamin, bahwa paparan mereka itu jauh lebih logis ketimbang pemaparan si Mun’im. Tapi itu kita bahas nanti, insya Allah.

Sekarang kita kembali pada soal pengakuan akan keimanan. Mun’im mengaku bahwa dia beriman akan kenabian Nabi Muhammad Saw, seperti yang dia tulis di kolom komentar akun saya. Pertanyaannya, apakah beriman itu hanya cukup dengan pengakuan “iya” saja, lalu setelah itu Anda boleh berkata dan bertindak semaunya, sekalipun itu kontras dengan keimanan Anda? Bagi manusia yang bernalar sehat, iman itu sudah pasti melahirkan konsekuensi. Dan konsekuensi itu sangat masuk akal. 

Dalam kehidupan sehari-hari saja, kalau Anda merasa jatuh cinta kepada seseorang, rasa cinta itu sudah pasti melahirkan banyak konsekuensi. Kalau Anda bilang jatuh cinta, tapi selingkuh, misalnya, sudah pasti Anda akan dipandang berbohong. Bilang cinta, tapi suka main kekerasan sama pasangan, orang akan bertanya, itu cinta macam apa? Rasa cinta Anda pasti akan diragukan. Kalau rasa cinta kepada manusia saja sudah pasti melahirkan banyak konsekuensi, apalagi iman dan cinta kita kepada nabi. 

Dan, saya mau bilang sekali lagi, kalau kita mengakui Rasulullah Saw sebagai nabi, pengakuan itu harus bersandar pada pengkajian yang bersifat ilmiah. Ilmiah dalam arti berbasis pada metode keilmuan tertentu, yang dipandang sahih menurut para ahli. Dalam hal ini logika bisa menimbang dan menguji kesahihan klaim besar itu. Logika ya, bukan iman! Sebelum memutuskan beriman, Anda harus tahu dulu, bukti kenabian nabi Muhammad itu apa? Boleh aja beriman dulu, seperti saya yang terlahir dari keluarga Muslim. Tapi habis itu Anda harus benar-benar tahu. 

Kalau belum, berarti Anda beriman dengan cara ikut-ikutan. Persis kaya anak kecil. Dan berapa banyak orang Muslim yang beriman dengan cara seperti itu, sehingga ketika menyimak paparan Orientalis, yang ingin meragukan sendi-sendi utama ajarannya, mereka pun kelimpungan untuk mencari-cari jawaban. Konsekuensi terparahnya, kalau isi otak sudah sesak dengan pikiran mereka, menisbatkan kekurangan kepada nabi pun akan dia pandang sebagai bagian dari kajian ilmiah. Padahal iman itu sendiri berbasis pada kajian ilmiah. Anda bisa lihat, betapa parahnya kerapuhan nalar orang itu, kalau menisbatakan kekurangan kepada nabi itu dia jadikan sebagai kesimpulan ilmiah. 

Kalau iman hanya sebatas percaya, ya anak kecil juga bisa. Tanpa harus belajar panjang-panjang. Para ulama dulu telah mengucurkan waktu dan tenaga mereka dengan limpahan karya, agar kita ini tahu, bahwa kalau kita menjadi Muslim, dan mengimani banyak hal dalam agama kita, itu semua ada landasan-landasan ilmiahnya. Itu semua ada dalil-dalilnya. Itu semua bukan hanya dogma yang dipaksakan oleh Islam untuk kita percayai, tapi tidak ada buktinya. Makanya kita disuruh belajar. Belajar sama siapa? Sama ulama. Bukan Orientalis. Dan, kalau Anda, setelah melalui pengkajian ilmiah itu sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad Saw itu adalah nabi, al-Quran adalah kitab suci, sebagai manusia yang bernalar lurus Anda harus sadar, bahwa keimanan itu melahirkan sekian banyak konsekuensi. 

Sebagai konsekuensi logis dari keimanan itu, Anda harus menghormatinya, karena beliau utusan Tuhan. Anda harus membenarkan semua informasi yang disampaikannya, karena beliau tidak pernah berbohong. Dan fakta sejarah membuktikan demikian. Kalau diberi kemampuan, Anda harus membela ajarannya, karena itu kebenaran. Dan masih buaaanyak lagi konsekuensi-konsekuensi lainnya. Kalau ngaku beriman tapi berani menisbatkan kekurangan, kemungkinan besar ada baut yang copot dari nalar orang itu. Dan kita harus belajar memaklumi. Karena kalau tidak begitu, maka dia tidak lagi menjadi Mun’im Sirry. Demikian. Wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda