Paradoks Nalar Mun’im

Kalau suatu waktu Anda menggelindingkan satu pemikiran, dan pemikiran itu memuat klaim-klaim serius tentang doktrin-doktrin mendasar dalam sebuah agama, lalu datang orang untuk mengkritik pemikiran Anda, dan mengajak Anda untuk berteduh di bawah payung argumen yang logis, tapi Anda tidak bisa menjawabnya, barangkali metode ala profesor Mun’im Sirry ini bisa Anda tiru. 

Bagaimana caranya? Pertama-tama, jangan baca tulisan orang yang mengkritik Anda secara utuh. Langsung aja bilang, cara berpikir Anda itu primitif dan kampungan. Saya nggak sudi. Itu tahapan pertama. Selanjutnya, kalau tiba-tiba yang bersangkutan merespon tuduhan Anda, dan respon itu tidak bisa Anda jawab, Anda bisa memainkan kartu yang satu lagi. Apa itu? Kartu keimanan. Bilang sama dia, “Eh Anda ini kok belum apa-apa udah berani meragukan keimanan dan keislaman saya?” 

Cara yang gentle mengharuskan Anda untuk bersikap semacam itu. Kalau dia merespon lagi, dan jawaban itu menohok Anda, Anda bisa mainkan kartu ketiga. Apa itu? Kartu marah-marah. Tuduh dia sebagai orang yang sedang marah, dan karena itu Anda akan punya alasan untuk tidak melayani dia. Lalu bagaimana dengan kritikannya yang ingin menggugat klaim-klaim Anda itu? Biarkan aja. Pokoknya bilang primitif aja. Dan posisikan dia sebagai orang yang merespon dengan cara-cara marah. Dan ingatlah dengan baik-baik, bahwa kebenaran itu nomer dua, sementara gelar pasti ada di atas segala-segalanya. 

Sejujurnya masih banyak tulisan-tulisan kritis atas butir-butir pemikiran Mun’im Sirry yang masih saya simpan di laptop. Kalau sudah waktunya insya Allah saya keluarkan. Tapi, sebagai orang yang dididik untuk berdebat secara akademis, saya dididik untuk memfokuskan perdebatan pada satu persoalan dulu, sebelum menyinggung persoalan-persoalan yang lain. Perdebatan yang baik itu bukan perdebatan yang melebar dan mengular. Perdebatan yang baik adalah perdebatan yang terarah dan berteduh di bawah naungan kaidah. 

Dan kali saya ingin mengajak Mun’im Sirry untuk mendiskukan persoalan mendasar yang sampai detik ini belum dia jawab itu. Kenapa harus mendiskusikan persoalan tentang asal muasal kitab suci itu? Karena dia tidak pernah menjelaskan itu dalam buku-bukunya maupun ceramah-ceramahnya. Sementara posisi keilmuan dia dalam persoalan itu dapat menentukan tepat atau tidaknya klaim-klaim serius yang dia buat tentang al-Quran. Mungkin kita perlu buktikan dalam tulisan-tulisan mendatang, bahwa klaim-klaim Mun’im Sirry tentang al-Quran itu tidak akan terlihat kokoh secara logis kecuali setelah dia menentukan sikap keilmuannya terlebih dulu dalam melihat sumber al-Quran itu sendiri. 

Dan saya tak habis pikir, kalau sarjana berkelas seperti Mun’im memandang pertanyaan itu sebagai pertanyaan primitif yang tidak akademis. Padahal, kalau dari kritikan dan pertanyaan saya itu ada yang salah, tunjukkan aja salahnya di mana. Dia bisa membalas itu dengan argumen. “Eh, isi kritikan kamu itu salahnya di sini, di sini dan di sini.” Lalu saya balas. Dia balas lagi, saya balas lagi. Dan ketika itu lahirlah perdebatan akdemik yang bermutu. Ya itu kalau dia mau menampilkan perdebatan akademik, dan mempertanggungjawbakan pemikirannya yang merusak sendi-sendi keimanan umat Muslim itu. Sayang, yang saya terima malah komentar-komentar tak berkelas, seperti yang terlampir akun facebook saya itu. 

Mun’im itu kayanya takut banget keislamannya dipertanyakan. Padahal, saya sudah menulis klarifikasi atas dugaan lebay dia itu. Dalam satu tulisan utuh. Juga sudah mengajukan pertanyaan yang penting untuk dijadikan awal perdebatan, demi menguji klaim-klaim dia yang selanjutnya. Nggak tahu dia baca atau nggak. Kayanya sih nggak. Kalau udah baca, nggak mungkin dia ngotot kalau saya telah mempertanyakan keislaman dia itu. 

Tenang, profesor Muslim. Anda itu seorang Muslim. Seorang Muslim yang benar-benar kaffah, dan karena saking kafahnya sampai berani merevisi firman Tuhannya sendiri, lalu meragukan wawasan seorang nabi. Anda Muslim. Meskipun sudah meragukan kelayakan sumber-sumber agama Anda. Dan anggaplah bahwa kita tidak meragukan itu. Sejak awal saya tidak menggugat pikiran Anda dengan iman saya. Saya menggugat dan mengajak Anda untuk mendiskusikan pikiran Anda dengan argumen-argumen logis dan percakapan yang bernuansa akademis.

Mari kita rimbuni klaim-klaim kita dengan argumen. Soal apakah hasil dari argumen itu jadi keimanan saya atau bukan, itu tidak perlu Anda persoalkan. Karena yang akan kita bicarakan itu argumennya. Bukan keimanannya. Saya tidak mempertanyakan keimanan Anda. Yang saya tanyakan ialah (dan saya merasa terpaksa untuk kembali mengakukan pertanyaan ini), bagaimana hasil kajian Anda dalam melihat sumber kitab suci al-Quran itu? Dia firman Tuhan atau bukan? 

Anda hanya akan dihadapkan pada dua pilihan saja. Kenapa saya mengajukan pertanyaan ini? Karena Anda, seperti yang Anda katakan sendiri dalam artikel pertama yang saya komentari itu, sudah berani mempermasalah isinya. Anda mengatakan bahwa masalah itu bukan hanya ada pada penafsiran, tapi ada pada teks al-Quran itu sendiri. Dan kesahihan klaim Anda itu, dan juga klaim-klaim Anda yang lain, dapat diuji setelah Anda menenetukan sikap ilmiah Anda terhadap sumber kitab suci itu sendiri. Itu tuntutan yang sangat logis. Sikap yang primitif itu justru kalau kita berusaha untuk menghindar dari pertanyaan logis semacam itu. 

Bagaimana sikap ilmiah Anda—sekali lagi sikap ilmiah Anda, bukan isi hati Anda—dalam memandang sumber kitab suci al-Quran itu? Dia itu firman Tuhan atau bukan? Itu pertanyaan utama yang harus Anda jawab, dan tidak pernah Anda kemukakan dalam buku-buku Anda. Klaim Anda itu serius. Bilang kalau teks kitab suci itu bermasalah. Al-Quran dikatakan berpolemik, berdialog dengan kitab-kitab suci sebelumnya, bisa direvisi, dan lain-lain. Semua itu adalah klaim serius yang perlu diuji kesahihannya secara akademik. Sekarang ada orang ingin mengkritik buah pikiran Anda, tapi butuh kejelasan dari sikap Anda sendiri, terkait problem mendasar menyangkut kitab suci itu. 

Jawaban Anda apa? Melihat sikapnya yang diam dan menghindar, lama kelamaan saya mulai mengira bahwa jangan-jangan Mun’im ini sebenarnya manusia “bermuka dua.” Imannya bilang kalau al-Quran itu firman Allah. Tapi kajiannya bilang kalau dia itu buatan Nabi Muhammad. Mun’im ini sepertinya tipe manusia yang memungkinkan adanya pertentangan antar hasil kajian dan keimanannya sendiri. Sungguh, bagi seorang sarjana yang baik, itu adalah paradoks epistemik yang tak terampuni. Dan sekarang mari kita uji sikap semacam itu dengan nalar sehat kita masing-masing. Bisakah sikap semacam itu dibenarkan dalam kajian keilmuan? Mari kita jawab. 

Anggaplah Mun’im mengaku beriman bahwa al-Quran itu adalah firman Allah. Tapi, hasil kajiannya memposisikan al-Quran itu sebagai karya seorang manusia. Artinya dia bukan firman Allah. Dan memang sejumlah klaimnya tentang al-Quran hanya mungkin diterima kalau kitab itu merupakan karangan seorang manusia. Jelas, bagi manusia yang bernalar sehat, itu adalah dua proposisi yang kontradiktif. Lalu mana yang benar? Dua proposisi yang kontradiktif itu, kata para logikawan, tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat. Artinya, kalau proposisi yang satu benar, maka yang lain sudah pasti salah. Logika yang sehat berkata begitu. Secara logis tidak mungkin Anda membenarkan dua proposisi itu dalam diri Anda sendiri. Tapi, bagi seorang sarjana handal seperti Mun’im, tampaknya itu bisa saja terjadi. 

Kalau mau bicara sumber al-Quran, memang pilihannya hanya ada dua. Imma quran itu firman Tuhan, atau bukan firman Tuhan. Tidak ada pilihan ketiga. Kalau Anda memandang hasil kajian Anda itu benar, maka harusnya Anda memandang keimanan Anda sebagai sesuatu yang salah, menurut Anda. Tapi agak lucu, kalau Anda merasa apa yang Anda imani itu salah—dan itu adalah konsekuensi logis dari hasil kajian Anda—lantas apa gunanya Anda mempertahankan keimanan itu, sambil takut kalau keislaman Anda dipertanyakan? Tapi, kalau Anda merasa bahwa keimanan Anda—yang memandang quran sebagai firman Tuhan—itu benar, berarti hasil kajian Anda—yang kontradiktif dengan keimanan itu—harus Anda akui salah. 

Tapi, masalahnya, kalau hasil kajian Anda itu salah, terus apa gunanya Anda sebarluaskan kepada khalayak melalui buku berjilid-jilid dan seminar-seminar? Di sinilah sesungguhnya paradoks nalar Mun’im itu menampilkan dirinya secara terang benderang. Di tempat lain dia mengaku beriman pada kenabian Nabi Muhammad, seperti yang dia akui sendiri dalam komentarnya. Tapi dia sendiri menisbatakan kekurangan kepada nabi yang mulia itu, dengan memandangnya sebagai sosok yang kurang wawasan. Dia pikir iman itu cuma sebatas percaya. Dan setelah kita bisa berbuat dan berkata sesuka kita. Seolah-olah tidak ada konsekuensi apapun dari keimanan itu.  

Jadi sarjana itu harusnya yang tegas saja. Mau jadi Muslim, jadi Muslim sekalian. Dan terima semua konsekuensi dari keimanan itu. Mau keluar, keluar sekalian. Dan Anda bebas. Anda hidup di Amerika dan bisa mengkritik Islam sesuka Anda. Mau bilang quran firman Tuhan, katakan. Dan iman orang yang waras itu harusnya pararel dengan sikap keilmuannya sendiri. Tidak mungkin berbeda. Mau bilang quran bukan firman Tuhan, silakan. Kita menghormati pilihan itu. Dan ketika itu Anda sudah menjadi sarjana yang gentle dalam menentukan sikap keilmuannya sendiri, sehingga orang lain bisa mengkritik Anda dengan kejelasan, bukan dengan keburaman identitas yang kerap membingungkan. 

Saya merasa perlu untuk mendiskusikan hal fundamental yang saya singgung di atas, karena klaim-klaim Mun’im tentang al-Quran itu akan hancur tak berkeping kalau kita selesaikan terlebih dulu diskusi seputar soal yang satu ini. Pertanyaan itulah yang selama ini tidak pernah dia paparkan dalam buku-bukunya. Padahal pertanyaan itu sendiri bisa dijawab secara akademis, bukan dengan penalaran yang bersifat dogmatis. Dia tidak pernah menjawab pertanyaan itu, karena jawaban yang terlahir dapat menggilas hasil penelitiannya sendiri, yang ingin menggugat hal-hal mendasar dalam kitab suci itu. Kalau dia sudah menentukan jawaban yang tegas, seketika itu juga kita bisa merimbuni paparan kita dengan argumen demi argumen. Dari situlah perdebatan yang hakiki bisa dimulai, dan publik pun bisa menilai, sejauh mana pikiran-pikiran sarjana qur’an asal Ametika itu masih bisa dia pertahankan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda