Ragam Cara dalam Menyampaikan Kritik

Mulai banyak orang yang memframing saya dengan tuduhan yang macam-macam. Tapi, sayangnya, sampai detik ini, tak ada satupun dari barisan Mun’im dan kawan-kawannya yang membantah, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan logis yang saya ajukan di dalam tulisan saya dalam bentuk tulisan serupa. Padahal, bagi seorang sarjana seperti Mun’im, itu sangat mudah untuk dia lakukan. Dan kalau dia melakukan itu, maka dia akan dipandang sebagai seorang sarjana yang bertanggungjawab atas tulisan-tulisannya sendiri. 

Mulanya, terus terang, saya hanya ingin mempertanyakan tesis-tesis Mun’im yang selama ini dia sebarluaskan dengan bantahan-bantahan yang logis melalui tulisan demi tulisan. Itu niatan utama saya.  Bayangan saya, mengingat Mun’im adalah seorang sarjana, dia pun akan membalas tulisan itu dengan tulisan yang lain lagi. Lalu, saya bantah lagi. Dia bantah lagi, dan begitu seterusnya. Dan dengan begitulah tampillah percakapan akademik yang bisa dinikmati oleh publik. Itu niatan saya sejak awal. Dan tentu saja, pengujian saya bukan pengujian tanpa modal. Sejumlah argumen ilmiah sudah saya persipkan dengan baik, untuk meng-counter pikiran-pikiran Mun’im itu.  

Kenapa itu perlu dilakukan? Selama ini Mun’im mengajukan tesis-tesis yang serius tentang sendi-sendi utama ajaran Islam. Dan itu berpotensi merusak keyakinan umat Muslim. Kalau ada di antara umat Muslim yang punya pandangan demikian, dan ingin menguji pandangan-pandangan kesarjanaannya secara ilmiah, harusnya dia terima saja. Jangan malah menilai cara berpikir orang lain primitif. Karena kata itu sendiri bukan kata yang beradab! Mun’im selama ini sudah menyebarluaskan pandangan-pandangannya kepada khalayak luas tanpa batas. Dia tidak pernah menyatakan kepada para pembaca bukunya bahwa buku ini hanya untuk kalangan akademisi tertentu, misalnya, sehingga pikiran-pikiran dia yang merusak itu hanya menusuk kalangan tertentu saja. 

Mun’im menyebarluaskan buku-bukunya itu untuk kalangan luas. Dan, tentu saja, di luar sana pasti ada kalangan-kalangan tertentu dari umat Muslim yang imannya lemah, dan kemudian terbuai oleh paparan Mun’im itu, lalu terjatuh dalam kekufuran. Naudzubillah. Harap diingat ya, menilai pemikiran Mun’im sebagai kekufuran tidak berarti saya mengkafirkan Mun’im. Itu sudah saya jelaskan dalam tulisan sebelumnya. Nah, demi menyadarkan mereka, saya ingin menampilkan dialog tertulis di hadapan publik bersama Mun’im (tentu saja kalau dia mau melakukan itu), untuk membuktikan bahwa tesis-tesis yang selama dia dipertontonkan itu sejujurnya sangat problematis dan tidak ilmiah. 

Apa yang salah dengan itu? Kalau Anda tidak setuju dengan kesimpulan tersebut, bantah saja. Apa susahnya?  Dan saya adalah salah satu pembaca bukunya. Dan penyimak sebagian besar ceramah-ceramahnya. Wajar dong kalau saya mengkritik, dan ingin menguji kesahihan klaim-klaimnya yang serius itu? Mun’im sendiri, ketika meluncurkan sebuah buku, beberapa kali mengatakan bahwa dia menunggu kritik dari para pembacanya. Kritik macam apa yang dia tunggu itu? Kritik yang ada isi puji-pujiannya gitu? Sorry. Saya tak tertarik untuk melakukan itu bagi orang yang sudah berani merendahkan nabi saya sendiri. Dan meragukan sejumlah doktrin-doktrin mendasar yang saya imani. 

Terlepas dari itu, saya ini pembaca buku-buku Anda, Mun’im. Dan ingin mengkritik klaim-klaim serius Anda itu dengan argumen-argumen yang ilmiah. Kenapa Anda merasa takut keislaman Anda dipertanyakan, sambil menuduh orang lain-lain marah-marah? Kalau benar Anda suka kritik, harusnya Anda respon, bukan malah menilai cara berpikir orang lain primitif! Yang cukup disayangkan lagi, pendukung-pendukung Mun’im sekarang memposisikan saya sebabai orang yang emosian, dan, katanya, kurang berakhlak. Karena mungkin, bagi mereka, menilai orang emosi atau tidak itu cukup hanya dengan tulisan saja. Padahal, emosi itu berurusan dengan kondisi batin. Dan tulisan itu hanyalah indikasi kecil dari sisi batin yang saya miliki itu. 

Tidak masalah bagi saya mereka memposisikan saya sebagai sosok yang demikian itu. Tapi, itu jangan Anda jadikan sebagai tameng untuk menghindar dari pertanyaan-pertanyaan logis yang sudah saya ajukan! Bantah saja tulisan itu. Lalu lepaskan tatapan Anda dari diksi-diksi pedas yang saya tulis.

Dan, kepada orang-orang yang memframing saya dengan atribut semacam itu, saya ingin berkata, bagaimana kira-kira penilaian Anda bagi orang yang sudah dengan berani merendahkan nabinya sendiri, dengan menyebutnya sebagai sosok yang kurang informasi? Ketika Mun’im mengomentari tulisan saya dengan kata primitif, apa kata itu sendiri, menurut Anda, merupakan bagian dari akhlak seorang akademisi?

Sebenarnya semuanya bermula dari situ. Jangan dilupakan, bahwa diksi-diksi pedas yang saya gelindingkan itu tak lebih sekedar respon saya atas ketidakberadaban dirinya sendiri. Kalau sejak awal Mun’im sudi berkomentar dengan sopan, seperti komentar yang sering dia sampaikan kepada para pemujinya, tentu saja dia akan mendapatkan perlakuan serupa. Yang menampilkan sikap terhormat akan diperlakukan secara terhormat. Yang menunjukkan sikap hina, apalagi sampai merendahkan nabi, akan mendapatkan kehinaan serupa. Dan itu wajar saja. 

Tapi memang begitulah ciri-ciri orang yang tersudutkan. Ketika argumen tak mampu dibalas, mereka akan mencari celah agar orang yang mengkritiknya itu jatuh. Padahal, dengan cara seperti itu, mereka sedang menjatuhkan diri mereka sendiri, karena ketika itu tak secuilpun mereka datang dengan rangkaian argumentasi. Bisanya hanya menuduh orang lain emosi dan emosi. Sekarang saya ingin mengajak Anda untuk menjawab pertanyaan yang satu ini? Salahkah mengkritik dengan gaya semacam itu? Apakah kritik semacam itu ada contohnya dari para ulama? Mungkin itu yang jadi pertanyaan sebagian kalangan. Dan sekarang mari kita jawab.

Kalau Anda rajin membaca buku para ulama, teman-teman sekalian, baik itu buku-buku klasik maupun kontemporer, ataupun ceramah-ceramah mereka, diksi-diksi semacam itu sebetulnya biasa-biasa saja. Tak perlu Anda persoalkan dengan serius. Tentu saja saya pun masih punya batasan dalam menggelindingkan diksi-diksi yang pedas itu. Dan kita harus ingat, bahwa setiap orang punya cara, alasan dan tujuan tertentu dalam mengkritik, yang kadang tidak sepenuhnya dapat kita pahami sendiri. Biarkan saja. Kalau tidak setuju, cukup arahkan tatapan Anda pada substansi argumen dan alasannya. Soal cara dan gaya penyampaian, setiap orang punya kecenderungannya masing-masing. 

Kecuali kalau Anda mau ikut barisan primitif, yang ketika tidak mampu meruntuhkan argumen lawan bicara, mereka pun memusatkan pandangan pada hal-hal yang kurang mendasar. “Loh tapi Anda kan mahasiwa al-Azhar”? Masa kaya gitu” Tolong jangan pura-pura tidak tahu ya. Bahwa kalau kita berkaca kepada para ulama al-Azhar sendiri, mereka punya keragaman cara dan gaya dalam menyampaikan kritik itu. Tidak semua ulama itu bersikap lembut. Mereka juga ada yang suka mengkritik dengan gaya yang pedas. Dan biasanya pedas-tidaknya kritik itu bergantung pada dampak serius yang mereka lihat dari pandangan yang mereka kritik. 

Jangan pura-pura tidak tahu dengan fakta itu. Dan Anda tidak bisa menilai bahwa cara mengkritik ulama yang satu ini adalah rujukan bagi semua orang. Karena lagi-lagi itu soal gaya yang didorong oleh pertimbangan yang berbeda-beda. Grand Syekh al-Azhar, Ahmad at-Thayyib, misalnya, punya cara mengkritik yang lembut. Saya sendiri pernah merasakan kelembutan itu di salah satu buku yang beliau tulis, yang berjudul at-Turats wa at-Tajdid, yang mengkritik pemikiran Hasan Hanafi.  Tapi lagi-lagi harap diingat, Anda nggak bisa memaksa orang untuk mengkritik dengan gaya seperti itu. 

Karena kalau kita merujuk pada sikap para ulama, di luar sana ada juga ulama-ulama yang gaya mengkritiknya itu benar-benar pedas dan menohok. Sebutlah, misalnya, Syekh Muhammad al-Ghazali, salah seorang penulis prolifik Mesir, dai terkemuka dan ulama yang sangat dihormati di lingkungan para pembesar al-Azhar. Ulama yang satu ini, kata dosen saya almarhum Prof. Hamdi Zaqzuq, kalau melihat dasar-dasar ajaran Islam itu dinodai, maka dia itu “yatahawwal ila asad ghadhub” (berubah menjadi singa yang sangat garang). Dan itu memang gaya beliau. 

Tapi, meski begitu, kritikan beliau tetap berbasis pada ilmu. Bukan kritikan kampungan yang isinya hanya cacian dan maki-makian. Gaya-gaya pedas semacam itu sebenarnya tak lebih dari sekedar “bumbu” saja. Dan tidak perlu Anda persoalkan, karena setiap orang punya takaran bumbunya masing-masing, yang menurut dia cocok. Ketika konteksnya sudah berbeda, seperti dalam ceramah agama biasa, misalnya, atau mengkritik, tapi yang dikritiknya adalah persoalan yang biasa, maka beliaupun bisa menampilkan sikap yang biasa. 

Gaya tegas dan pedas semacam itu ternyata tak hanya terlihat dari ceramah-ceramahnya, tapi juga buku dan tulisan-tulisannya, ketika mengkritik para pemikir sekuler-liberal, para orientalis dan orang-orang yang ingin merusak ajaran Islam secara umum. Diksi-diksinya itu tajam sekali. Silakan Anda cek buku-bukunya. Dan sedikit banyak memang saya suka dengan gaya penulisan semacam itu. Dan beliau itu ulama besar. Bukan orang udik yang bisanya hanya melancarkan maki-makian.

Gaya yang kurang lebih sama beberapa kali saya jumpai dalam tulisan-tulisan Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi. Tokoh yang satu itu benar-benar salah satu idola saya. Kalau lagi bicara tentang Tasawuf, beliau menjelma sebagai alim rabbani yang halus. Tapi coba Anda baca buku-bukunya yang meng-counter pikiran-pikiran yang menyimpang. Lihat kritikan pedasnya terhadap mazhab materialisme dialetik (al-madiyyah al-jadaliyyah), ataupun mazhab eksistensialisme (al-wujudiyyah), yang ia tuangkan dalam buku “al-mazhahib at-tawhidiyyah wa al-falsafat al-mu’ashirah”. Atau baca juga buku beliau yang berjudul “musykilatuhum”, dan buku-bukunya yang lain. 

Sesekali lihat juga ceramah-ceramah beliau ketika merespon persoalan-persoalan yang serius.  Salah satu kekhasan Syekh al-Buthi yang saya suka, ketika mengajukan kritik dia suka mengajak para audiensnya untuk sama-sama memegang teguh rasionalitas dalam berpikir, sehingga Islam yang dia paparkan tampil dengan sangat kekar dan memuaskan nalar. Dan cara beliau dalam mengkritik, sejauh itu menyangkut hal yang fundamental, itu juga tidak kalah pedas. Jadi kita perlu sadar, bahwa para ulama sendiri punya gaya berbeda dalam mengkritik itu. Ada yang lembut tapi juga ada yang pedas. Dan masing-masing orang punya pertimbangannya sendiri-sendiri. 

Mau saya sebut siapa lagi? Syekh Umar Hasyim, Anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar, yang kalau melihat ada orang ingin merusak ajaran Islam itu bisa ceramah sampai berapi-api. Bahkan pernah saya lihat beliau meneteskan air mata, waktu di Mesir pernah ada kontroversi soal orang-orang yang meragukan kesahihan kitab Shahih al-Bukhari. Mungkin karena beliau sangat miris dengan fenomena itu. Siapa lagi? Syekh Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir? Anda sudah pasti tahu bagaimana pedasnya beliau dalam mengkritik kaum ekstremis. Intinya saya sering melihat kepedasan sikap dari para ulama itu ketika mereka dihadapkan dengan persoalan yang benar-benar serius. Bukan masalah enteng, sepele dan remeh temeh.

Anda berani menyebut para ulama yang suka mengkritik pedas itu sebagai ulama yang tidak berakhlak, dan tidak tahu etika dalam mengkritik? Yang mulia, al-‘Alim ar-Rabbani, Syekh Yusri Jabr al-Hasani, guru kami. Bagi yang sering mengikuti pengajiannya, tentu saja Anda tahu bagaimana diksi-diksi yang beliau pilih dalam mengkritik ajaran wahabi itu. Kalau saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia itu nggak kebayang jadinya kaya gimana. Hampir setiap hari beliau pasti mengkritik wahabi, dengan gaya beliau yang pedas itu. Ketika ditanya, kenapa harus mengkritik dengan cara keras seperti itu? Jawaban singkat beliau, “littahdzir” (untuk mewaspadai umat), karena wahabi itu, di mata beliau, merupakan salah satu fitnah terbesar di zaman ini.

Wahabi itu persoalan serius yang juga perlu mendapatkan perhatian serius. Dan beliau pasti punya alasan sendiri yang tidak sepenuhnya kita pahami dalam mengajukan kritik-kritik itu. Audiens beliau banyak yang berasal dari kalangan awam. Dan beliau, mungkin, merasa perlu untuk mewaspadai mereka dengan cara seperti itu, sehingga doktrin wahabi itu benar-benar tergilas habis di hadapan pendapat-pendapat keagamaannya. Hasilnya? Banyak setahu saya orang-orang salafi yang kemudian bertaubat. Dan, yang perlu Anda tahu—seperti yang pernah beliau sampaikan sendiri ketika diwawancarai salah satu televisi swasta di Mesir—beliau paling marah dan paling tidak suka ketika ada orang yang tidak menghormati Nabi Saw sebagaimana mestinya. Persis seperti yang dilakukan oleh Mun’im itu. Apalagi dia sudah berani meragukan sisi-sisi mendasar dari ajaran Islam. 

Di luar sana masih banyak ulama-ulama lain yang punya keragaman gaya dalam mengkritik. Apalagi kalau kita membaca kitab-kitab turats. Diksi-diksi pedas itu bisa kita jumpai lebih banyak lagi. Dan itu biasa saja. Makanya jangan lebay dalam memframing orang. Lagipula, sekelas sahabat nabi yang imannya “mengawang di atas langit” saja tidak semuanya lembut dalam bersikap. Apalagi kita-kita yang level keimanannya jauuuh di atas mereka. Apalagi saya yang cuma mahasiswa, bukan ulama. Dan saya hanya berupaya untuk menyampaikan ulang apa-apa yang telah saya pelajari dari ceramah-ceramah dan buku-buku mereka itu. 

Yang tidak kalah menarik untuk kita tahu, ulama-ulama besar al-Azhar itu banyak juga yang pernah belajar di Barat. Dosen saya yang tadi saya sebut, Prof. Hamdi Zaqzuq, itu pernah enam tahun sekolah di Jerman. Apakah ketika kembali pulang beliau datang dengan pandangan yang meragukan dasar-dasar keislaman, meragukan otentisitas al-Quran, atau merendahkan nabi atas nama kajian ilmiah, seperti yang dilakukan oleh sarjana asal Amerika itu? Tak sekalipun saya menjumpai itu. Begitupun dengan ulama-ulama al-Azhar yang lain. Karena sebelum menerawang dunia Barat mereka sudah matang dalam menguasai khazanah keislaman itu sendiri. Konsekeunsinya, alih-alih meragukan ajaran Islam, mereka malah berperan dalam mengkritik pedas pemikiran orang-orang Barat.

Dan secara pribadi saya banyak menimba ilmu dari mereka-mereka itu. Dalam pemaparan mereka, Islam itu benar-benar terlihat kokoh dan “menakutkan”. Kekayaan argumen keilmuan yang mereka tampilkan hampir mustahil diluluhlantahkan oleh pikiran sampah para Orientalis Barat. Dan tentu saja saya tertarik dengan gaya berpikir para ulama itu. Poin inti saya, kita tidak perlu sibuk mempersoalkan cara orang dalam mengkritik. Kecuali kalau sekujur tubuh kritik itu penuh dengan cacian, hinaan dan maki-makian. Selama dia menyampaikan argumen, arahkan pandangan Anda pada argumen itu. Lalu kritilah dengan cara-cara yang ilmiah. 

Tapi memang begitulah gaya orang-orang yang sudah kehabisan cara dalam membalas. Sebenarnya nggak apa-apa sih. Penilaian semacam itu tidak banyak memberikan pengaruh juga. Mau dibilang sok pinter, tak masalah. Mau dibilang nggak berakhlak, silakan. Mau dibilang nyari panggung, tak ada yang melarang. Yang penting saya nggak pernah nyari penghasilan hidup dengan cara mengkritik agama saya sendiri. Dan berbagai framing itu tidak akan memberhentikan saya dalam mengkritik si Mun’im, yang pikiran-pikirannya merusak tapi banyak diapresiasi itu.

Pesan saya kepada mereka, tak terkecuali sarjana qur’an asal Amerika itu, kalau Anda berani, dan nalar Anda masih sehat, lalu Anda yakin seyakin-yakinnya dengan kesahihan pandangan Anda, tunjukkan saja keberanian Anda itu. Balas tulisan yang mengkritik Anda dengan tulisan lagi. Kalau Anda benar, saya akan mengakui kebenaran Anda. Itulah sikap seorang akademisi yang sesungguhnya. Pejantan sejati tak pernah sungkan untuk mengakui kebenaran, sekalipun itu datang dari pihak lawan. Tapi pecundang yang hakiki pasti hanya ingin merasa benar sendiri. Di posisi yang manakah Mun’im berpijak? Kita semua menjadi saksi. 

Bagikan di akun sosial media anda