Menyayangkan Cara “Ngeles” Mun’im dan Bantahan untuk Tanggapan Intinya

Sambil menunggu Mun’im menjawab pertanyaan mendasar yang sudah saya ajukan di akhir tulisan sebelumnya, dan dalam tanggapannya pun dia belum menjawab pertanyaan mendasar itu, padahal itu adalah salah satu pertanyaan inti yang menjadi titik tolak dari kritik yang saya ajukan, kali ini saya akan menanggapi secara khusus kesalahpahaman yang Mun’im alamatkan kepada saya. Bagi Anda yang mengikuti “pertempuran” sejak awal tentu pasti tahu, bahwa saya pernah melampirkan salah satu kutipan dari buku Mun’im yang menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai sosok yang wawasannya kurang memadai tentang Yahudi dan Kristen. Dan Mun’im, dengan pembelaannya itu, ingin mengatakan bahwa saya telah mengutip perkataan dia di luar konteksnya. 

Mungkin Mun’im ingin mengatakan di hadapan para audiensnya, bahwa “saya ini Muslim tau. Masa iya saya berani bilang nabi saya dengan ucapan kaya begitu?”. Bayangan saya Mun’im ingin berkata begitu. Dan bilang bahwa saya sudah salah paham. Tapi, sayangnya, seperti yang akan kita lihat nanti, pembelaan itu tak didukung oleh fakta-fakta lain dari bukunya sendiri, yang entah dengan sengaja atau tidak, dia tutup-tutupi itu. Saya membayangkan Mun’im ini sebagai sosok gagah pemberani yang ingin menggugat habis elemen-elemen mendasar dalam ajaran Islam, dengan memposisikan dirinya sebagai seorang revisionis, tapi kegagahan itu tidak berbanding lurus dengan kejantanannya dalam mengakui pernyataan-pertanyaannya sendiri. 

Malah saya khawatir, kalau kelak saya mengajukan kritik-kritik atas sejumlah pandangan-pandangannya, dan pandangan-pandangan itu bermasalah secara serius, Mun’im akan ngeles dengan cara yang lebih parah lagi. “Loh itu bukan pendapat saya. Tapi saya menyampaikan itu dalam konteks memaparkan kesarjanaan Barat!” Sulit dimengerti, bagi saya yang bernalar sehat, kalau ada orang menulis buku berjilid-jilid, lalu mengadakan seminar berkali-kali, baik online maupun offline, dan ia memaparkan pandangan yang sama persis dengan apa-apa yang dia tuliskan di dalam buku-bukunya, lalu menjawab berbagai pertanyaan dari para audiensnya, dengan pandangan yang sudah dia tulis dan sebarluaskan itu, lalu dia sendiri belum punya sikap dalam menentukan benar salahnya pandangan tersebut. Atau katakanlah dia ragu dengan kesahihan pandangan itu. 

Jelas, itu akan menjadi pagelaran komedi akademik yang sangat lucu sekali. Ada sarjana yang begitu pedenya menggelindingkan banyak pandangan serius, tapi dia sendiri nggak punya sikap apa-apa terhadap pandangan itu. Ketika Anda sudah terhimpit dengan gempuran kritik, lalu Anda seenaknya bilang, “itu bukan pendapat saya kok. Saya sendiri nggak punya pilihan sikap apa-apa tentang pandangan itu malah”. Sebagai seorang sarjana yang baik, Mun’im sudah barang tentu harus mengambil sikap dalam menentukan benar salahnya pandangan yang selama ini dia sebarluaskan itu. Tidak elok jika Mun’im menggelindingkan “bola panas” ke muka publik begitu saja. Lalu ketika dikritik malah ngeles dengan cara melempar bola kembali ke sarjana Barat. Tapi mudah-mudahan Mun’im tidak ngeles dengan cara seperti itu.

Sekarang saya ingin menjawab pertanyaan di atas yang akan menjadi fokus tulisan ini. Apa benar saya sudah salah paham? Dan apa benar saya telah mengutip pernyataan Mun’im di luar konteksnya, sehingga saya telah berlaku tidak adil dalam memposisikan dirinya sendiri, yang telah merendahkan Nabi Muhammad Saw? Pertama-tama, saya ingin mengajak para pembaca untuk menilik ulang kutipan itu dengan baik. Kutipan yang saya sertakan itu terlampir di bab “Memahami Teks Polemik al-Quran”, dengan sub-bab “Ambiguitas Kritik al-Quran”. Sebelum melampirkan paragraf utama yang kemudian dia tolak penisbatannya itu, saya ingin mengajak Anda untuk menganalisis paragraf apa saja yang dia sertakan sebelum itu. Kalau meminjam istilah ulumul qur’an, kita harus memerhatikan siyaq, sibaq dan lihaq-nya sekaligus. Mun’im hanya menyertakan lihaq-nya saja, demi membela dirinya. Dan sekarang mari kita lihat kutipan itu dalam framing yang utuh. Perhatikan kutipan Mun’im ini dengan baik. 

Setelah mencantumkan sub-bab “Ambiguitas Kritik al-Quran”, di bab yang tadi saya sebut, Mun’im menulis begini:

“Sejauh yang dapat KITA lacak dalam al-Quran, konsolidasi pembentukan identitas agama Islam sangat terkait erat dengan respon komunitas agama lain yang telah mapan, yaitu Yahudi dan Kristen. Berbagai perdebatan dengan Ahli Kitab merupakan cerminan suasana di Madinah dan konflik dengan orang Yahudi Madinah juga tampak jelas dari topik perdebatan dengan mereka. Namun, hal ini tidak berarti bahwa al-Quran secara keselurhan bersifat polemis terhadap komunitas agama lain. Bahkan di tengah-tengah perdebatan sengit dengan orang Yahudi dan Kristen, Nabi Muhammadmasih menganut pandangan ekumenikal bahwa para penganut monoteis yang beramal sesuai dengan perintah agamanya dianggap seperti orang Islam. Mereka tidak akan merasa takut pada Hari Pembalasan.” (Polemik Kitab Suci, hlm. 34) 

Setelah itu Mun’im mengutip sebuah ayat Q 2:62. Tidak perlu saya kutipkan di sini ayatnya. Setelah mengutip ayat, saya harap Anda perhatikan kembali pernyataan Mun’im yang setelahnya. Kata Mun’im, setelah melampirkan paragraf-paragraf di atas itu, “Kenyataan bahwa ayat ini muncul pada awal dan akhir karir kenabian Muhammad di Madinah berarti bahwa “lafaz dan makna kedua ayat identik ini tidak dinasakh (dihapus).” (hlm. 34).

Setelah menyertakan semua ini, barulah Mun’im menyebutkan paragraf yang kemudian saya lampirkan di media sosial itu. Apa isinya? Mun’im menulis:

“Pertanyaan kemudian adalah: Siapa/apa yang menjadi sasaran kritik dari teks-teks polemik al-Quran ini? Pertanyaan ini terasa lebih penting lagi apabila KITA amati bahwa al-Quran ternyata mengarahkan kritiknya bukan pada ajaran “arus utama” Yahudi dan Kristen. Pembacaan singkat atas al-Quran dapat mengantarkan KITA pada kesimpulan bahwa Muhammad tidak memiliki informasi yang memadai tentang ajaran Yahudi dan Kristen. Sesungguhnya beberapa kritik al-Quran terhadap orang Yahudi dan Kristen memunculkan sejumlah kesulitan bagi para sarjana. contohnya adalah kritik al-Quran terhadap keyakinan orang Kristen yang tampak keliru.” (Polemik Kitab Suci, hlm. 35).

Saya harap Anda memfokuskan perhatian pada kata KITA yang sebanyak kurang lebih tiga kali dia sebutkan itu. Ingat, kalau Mun’im melakukan pembelaan dengan cara mengaitkan paragraf ini dengan paragraf setelahnya—yang dalam bayangannya saya tidak mampu membacanya dengan baik, padahal saya sendiri sudah membaca itu—saya harap sekali lagi Anda bisa mengaitkan pernyataan Mun’im di atas dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya, yang kata kunci utamanya adalah “kita” dan dia sana juga dia menyertakan kata “Muhammad” Saw. Lalu—dan ini yang tidak kalah penting untuk diingat—kaitkan kutipan itu dengan dengan ide utama dari buku itu sendiri, yaitu seputar “Polemik Kitab Suci”, dan bab yang melampirkan kutipan itu, yaitu bab “Memahami Teks Polemik al-Quran, dan sub-bab “Ambiguitas Kritik al-Quran”. 

Tidak mungkin orang bisa menyertakan frase-frase semacam ini, kecuali dia ingin memposisikan al-Quran itu sebagai sebuah karya manusia. Atau teks sejarah biasa. Karena Tuhan tidak mungkin berpolemik dan tidak mungkin ambigu. Atau jangan-jangan Mun’im memang memungkinkan adanya penisbatan kata “polemik” itu kepada Allah Swt, sementara kata “polemik” itu sendiri bertentangan dengan kemahasempurnaan-Nya? Mun’im saja bisa marah kalau saya ajak berpolemik, lalu kok dia berani-beraninya menisbatkan kata itu kepada kitab suci, yang dalam keyakinannya berasal dari Tuhan? Dia pikir mungkin al-Quran itu sama dengan kitab suci umat agama lain. Kalau dia mengklaim begitu, perdebatan harus kita geser menuju pertanyaan, benarkah al-Quran itu benar-benar firman Tuhan? Dan itulah yang sejujurnya saya tanyakan di awal, dan tidak kunjung dijawab oleh Mun’im itu. Karena jawaban yang logis dan ilmiah dari pertanyaan itu bisa meruntuhkan ide utama bukunya sendiri. 

Penting untuk saya tegaskan juga, bahwa penyertaan bagian buku Mun’im itu saya tampilkan di hadapan publik ketika saya tak kunjung mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Mun’im, terkait pertanyaan mendasar yang saya ajukan di bagian tulisan pertama itu. Pertanyaan itu—sekali lagi terpaksa saya ulangi—ialah, “dari mana al-Quran itu berasal?” “Dia itu benar-benar firman Tuhan atau bukan?” Para ulama Muslim, melalui penelusuran keilmuan yang mereka tempuh, dan berbagai jilid karya yang telah mereka telurkan, sudah sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran itu bukan karangan manusia biasa, melainkan firman Allah Swt. Dan itu ada paparan argumennya. Lalu bagaimana dengan sikap Mun’im? Menutup mata dari limpahan argumen itu, lalu dengan seenaknya menyebut kalam Allah berpolemik? Atau dia menerimanya, dan ketika itu dia harus meruntuhkan klaim utamanya sendiri? 

Saya merasa perlu untuk melihat sikap tegas Mun’im dalam hal itu, karena memang sejumlah pernyataan dia tentang al-Quran, termasuk istilah “berpolemik” ini, tidak akan terlihat kokoh secara logis, seperti yang akan saya buktikan nanti, kecuali setelah dia menentukan asal muasal kitab suci itu sendiri. Nah, setelah saya buka-buka kembali, saya jumpailah pernyataan itu. Di sana Mun’im dengan jelas menyebut kata “kita”. Pertanyaan saya, dan barangkali ini juga menjadi pertanyaan kita semua, siapa “kita” yang Anda maksud itu, Mun’im? Kalau benar Anda sedang mengutip pandangan para sarjana—seperti yang terlampir dalam pembelaan Anda—tak mungkin Anda menyertakan kata itu dalam paragraf tersebut dan paragraf-paragraf sebelumnya. Sebut saja “sarjana Barat” kalau mau. Tapi bukan kita. Karena dengan menyebut kata “kita” secara otomatis itu menenggelamkan Anda ke dalamnya.  

Kalau mau saya perjelas, Mun’im itu, dalam paragraf tersebut sebenarnya ingin mengatakan kepada para pembacanya bahwa kalau KITA membaca al-Quran secara singkat, maka tampaknya kita—sekali lagi kita—akan sampai pada kesimpulan bahwa Muhammad itu, kata Mun’im, tidak punya wawasan yang memadai atau salah paham tentang Yahudi dan Kristen. Padahal al-Quran itu sendiri bukan buatan Nabi Muhammad, lalu kok bisa-bisanya dia menyebut nama Nabi Muhammad dalam paragraf itu? Saya tidak habis pikir dengan cara berpikir orang itu. Penggunaan kata “kita” jelas dengan serta merta memasukkan dirinya, sebagai salah satu jajaran dari barisan kaum Revisionis itu. Tapi lihatlah cara Mun’im berkilah dan melakukan pembelaan diri. Dia pintar mengelabui pembacanya dengan mengutip bagian-bagian halaman setelahnya yang memang, saya akui sendiri, sedang memaparkan pandangan para sarjana Barat! Padahal saya juga baca itu.

Dan tahukah Anda, bahwa paragraf-paragraf selanjutnya yang Mun’im kutip sebagai bentuk pembelaannya itu tidak ada sangkut pautnya dengan kutipan di atas, yang menyebutkan bahwa wawasan Nabi Muhammad Saw tentang Yahudi maupun Kristen itu kurang memadai, kalau kita membaca al-Quran dengan pembacaan yang singkat. Coba saja Anda cek bukunya kalau tidak percaya. Saya heran, kenapa sarjana seberani dia rela ngeles dengan cara seperti itu. Padahal, kalau saya jadi Mun’im, dan itu jelas-jelas perkataan saya, termuat dalam disertasi saya, apalagi menyertakan kata “kita”, lalu saya tidak menerimanya, saya katakan saja bahwa pandangan itu sudah saya revisi, misalnya. Bukan malah nyari-nyari pembenaran sambil memframing orang lain mengkritik dengan nada emosian. Semakin dia ngeles, semakin tampaklah wajah kesarjanaan dia yang sesungguhnya di hadapan publik. 

Masih adakah celah bagi Mun’im untuk mengelak dari ucapan yang kurang beradab kepada Nabi Muhammad Saw itu? Kalaulah dia bersikukuh menolak ucapan yang kurang beradab itu, dengan melakukan berbagai pembelaan, Mun’im jangan lupa dengan poin amat mendasar yang satu ini, yang sedikit di antaranya sudah saya singgung tadi. Yaitu klaim dia yang menyebut bahwa kritik al-Quran itu bersifat polemis. Dan, saya ingin katakan bahwa klaim al-Quran berpolemik itu tidak akan pernah kukuh secara logis kecuali jika dia menempatkan al-Quran sebagai karya seorang manusia. Dia harus menentukan terlebih dulu, melalui argumen-argumen yang ilmiah, tentang siapa yang menjadi sumber dari kitab suci al-Quran itu? Sebab, sekali lagi, kalau posisi akademik dia menempatkan al-Quran itu sebagai firman Tuhan—dan sebagai seorang pengkaji Muslim dia terikat oleh tuntutan itu—tidak mungkin dia berani menyebut Tuhan berpolemik. Itu klaim kurang kurang ajar dalam memandang firman Tuhan. 

Anda bisa bayangkan, sekali lagi. Saya mengutip perkataan Mun’im yang sudah jelas-jelas tulisan dia saja, tapi menurutnya dikutip di luar konteksnya, dia tidak terima dengan itu. Sekarang bagaimana mungkin Anda memposisikan al-Quran—yang menurut penulusuran sarjana Muslim merupakan firman Tuhan—sebagai kitab suci yang berpolemik? Sementara makna “polemik” yang Anda maksud itu sendiri, seperti yang sering dikatakan Mun’im dalam buku dan seminar-seminarnya, ialah mengkritik dengan cara mendistorsi pendapat lawan, dengan tujuan agar keluar sebagai pemenang dalam perdebatan. Apa jangan-jangan Mun’im juga ingin ngeles dari pandangan utama dia itu, dengan alasan bahwa itu pandangan sarjana Barat, sementara itu jelas-jelas disertasinya sendiri? Itulah alasan mengapa sejak awal saya meminta Mun’im itu memperjelas posisi keilmuannya dalam memandang sumber al-Quran. Karena faktanya menunjukkan bahwa tesis-tesis dia tentang al-Quran itu hanya bisa terlihat kukuh secara logis kalau dia menentukan asal muasal kitab suci itu sendiri. 

Katakanlah bahwa saya keliru ketika memahami pernyataan Mun’im yang menyebutkan bahwa kritikan al-Quran itu keliru. Tapi, Mun’im juga jangan lupa dengan gagasan utamanya. Bahwa kritik al-Quran itu sifatnya berpolemis, dengan pemaknaan yang saya sebutkan tadi. Ketika mengkritik kaum Kristen, misalnya, al-Quran itu—dalam pandangan Mun’im yang mengusung teori polemik kitab sucinya—tahu bahwa orang Kristen itu menganut paham A. Lalu, al-Quran datang dengan menggambarkan orang Kristen itu dengan pandangan B. 

Apa tujuannya? Bukan untuk meluruskan dan memberi hidayah, kalau kita merujuk pada jawaban Mun’im. Tapi justru ingin memenangkan perdebatan dengan mereka! Pantaskah Anda melahirkan kesimpulan itu, sementara kitab suci itu sendiri terbukti, sekali lagi melalui argumen-arguman ilmiah, bahwa dia merupakan firman Allah Swt? Sekali lagi kita bertanya, dan saya harap Mun’im menjawab pertanyaan itu dengan tegas, apakah Anda berani menarik kesimpulan itu terkait firman Allah Swt, dan menisbatkan kekurangan itu kepada-Nya? Jangan bilang kalau klaim al-Quran berasal dari Tuhan itu cuma dogma yang tidak ilmiah. Karena faktanya para sarjana Muslim sudah berhasil memaparkan argumen yang benar-benar kokoh dan rasional tentang keilahian kitab suci itu. Kalau Mun’im tertarik untuk memperdebatkan itu, mari kita diskusikan saja. Tapi tentukan posisi keilmuan dia dalam melihat sumber al-Quran itu dulu.   

Buatan Nabi Muhammad?

Lagi-lagi kalau Anda perhatikan dengan seksama, dan Anda pahami ide utama Mun’im dalam buku itu, tak begitu sulit bagi Anda untuk sampai pada kesimpulan, bahwa Mun’im, dalam kajian-kajiannya itu, memang ingin menempatkan al-Quran itu sebagai teks biasa, lalu dilepaskan begitu saja dari nilai-nilai keilahiannya, persis seperti yang dilakukan oleh para sarjana Barat. Dan saya sudah katakan sebelumnya bahwa secara epistemik, metode itu jelas keliru. Karena bagaimana mungkin Anda berjibaku membahas suatu kitab, tapi Anda sendiri belum menentukan sumber dan asal muasal kitab itu sendiri. Padahal, kalau saja Mun’im itu merupakan tipe sarjana yang baik, harusnya dia simak dulu argumen-argumen rasional dari barisan para ulama Muslim itu. Benar nggak al-Quran itu firman Tuhan? Jangan Anda samakan keyakinan umat Muslim atas keilahian kitab sucinya dengan keyakinan umat agama lain terhadap kitab suci mereka. Itu jelas berbeda. Kecuali kalau Anda berhasil mematahkan argumen kokoh dan berlimpah dari para sarjana Muslim itu. Barulah ketika itu Anda bisa mendudukan al-Quran sebagai teks sejarah biasa, layaknya kitab-kitab lain pada umumnya. 

Sampai detik ini, Mun’im tidak menjelaskan bagaimana sesungguhnya sikap utamanya dalam melihat sumber al-Quran, dan sejauh mana dia mampu mempertahankan klaim-klaim seriusnya itu, kalau dia memandang al-Quran sebagai firman Tuhan? Narasi yang tertuang dalam paragraf di atas justru berkata sebaliknya. Kalau Anda cermati dengan baik, di sana Mun’im menyebut satu subjek bernama Muhammad Saw. Lalu, kira-kira dia ingin berkata begini, “kalau saja kita—sekali lagi kita, menurut diksi yang dipakai Mun’im—membaca al-Quran itu secara singkat, maka kita akan sampai pada kesimpulan—begitulah kira-kira Mun’im ingin berkata—bahwa Nabi Muhammad Saw itu adalah orang yang informasinya kurang memadai tentang Yahudi dan Kristen. Saya berlindung kepada Allah dari keimanan semacam ini. 

Apa yang bisa ditunjukkan oleh teks di atas, kecuali kalau bukan Mun’im ingin mendudukan al-Quran sebauh buah pikiran Nabi Muhammad? Harap diingat pula untuk kesekian kalinya, paragraf yang saya sertakan itu disampaikan dalam sub-bab “Ambiguitas Kritik al-Quran.” Mana mungkin orang yang sudah memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, lalu tiba-tiba mengatribusikan kata “ambigu” kepada kitab suci yang dia pandang sakral itu sendiri. Mungkin dia akan berkilah lagi, bahwa dia sedang memaparkan pandangan kesarjanaan Barat! Tapi cara ngeles itu hanya akan membuat dia tertunduk, ketika dia, lagi-lagi, beberapa kali menyebut kata KITA dalam paragraf-paragrafnya itu. 

Anda bisa membayangkan kalau suatu ketika saya bilang, misalnya, “kalau KITA baca buku polemik kitab suci itu secara singkat, maka kita akan sampai pada kesimpulan bahwa Mun’im (dan ketika itu Anda akan tahu bahwa saya sedang menisbatkan kitab itu kepada pengarangnya) telah meragukan kesahihan kitab suci itu sendiri.” Lalu, dengan cara ngeles saya bilang, “loh saya itu sedang memaparkan pandangan orang lain tentang Anda. Itu bukan pandangan saya!” Itu cara ngeles yang benar-benar memalukan. Padahal jelas-jelas di situ terlampir kata KITA

Betapapun, sebagaimana Mun’im menyarankan pendukungnya untuk membaca bukunya langsung, saya juga menyarankan Anda untuk membaca bukunya secara langsung, kalau memang Anda merasa yakin bahwa keimanan Anda tidak akan terganggu. Lalu jawab pertanyaan dasar yang saya ajukan tadi, “mungkinkah kitab suci yang diposisikan sebagai firman Tuhan itu dikatakan sebagai kitab suci yang berpolemik, padahal kata “polemik” itu sendiri tidak pantas untuk diatribusikan kepada yang Maha kuasa, yang firman-Nya sudah pasti benar dan ingin memberikan hidayah kepada para hamba-Nya? Mun’im berpikir bahwa saya ini adalah pembaca amatiran yang kurang cerdas dalam mengutip pendapat dia, lalu dengan begitu dia bisa mengelabui pembacanya dengan menyertakan paragraf-paragraf setelahnya, tanpa mengaitkan dengan ide utama dalam buku itu, juga paragraf-paragraf yang dia lampirkan sebelumnya. Dengan adanya penjelasan itu? Bisakah Mun’im kembali melakukan pembelaan, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar yang telah saya ajukan?  

Bagikan di akun sosial media anda