Sebelum Menanggapi Tanggapan Mun’im Sirry

Mun’im sudah memberikan tanggapan atas beberapa poin yang telah saya tulis. Dan justru itulah yang sejak awal kita tunggu-tunggu. Intinya, dalam tanggapan tersebut, dia memposisikan saya sebagai orang yang salah paham, atau kurang teliti dalam membaca pernyataan-pernyataannya itu. Mun’im, ketika mengatakan Nabi Muhammad tidak memiliki infromasi yang memadai tentang Yahudi dan Kristen, mengaku sedang memaparkan pandangan kesarjanaan Barat, lalu dia menuduh saya telah menisbatkan pandangan itu kepada dirinya sendiri. Jelas tidak adil dong. Lalu dia sodorkanlah beberapa bukti tertulis dari bukunya untuk membuktikan klaimnya itu. Pertanyaannya, apakah yang Mun’im alamatkan kepada saya itu benar? Dan apakah betul saya telah salah paham? Kita akan jawab pertanyaan itu dalam tulisan lain secara terpisah. 

Seperti para pendukungnya, Mun’im juga, dalam tanggapannya itu, berupaya untuk memframing saya sebagai orang yang emosional, telah menyerang pribadinya, dan ingin mempertanyakan keislamannya. Padahal poin-poin itu sudah saya klarifikasi dalam satu tulisan utuh, dan juga tulisan-tulisan saya yang lain yang saya posting di halaman facebook. Kalau framing itu dikemukakan oleh para pendukungnya, saya bisa memaklumi itu. Namanya juga netijen. Tapi, ketika itu terlahir dari penilaian Mun’im, tentu saja saya jadi terheran-heran, seorang sarjana seperti dia, kok bisa-bisanya menampilkan kesimpulan yang tidak perlu semacam itu? Saya kadang merasa heran sama orang-orang yang menghukumi emosionalitas seseorang hanya dengan tulisan semata. 

Dan mereka tampak begitu yakin dengan penilaian itu. Kecuali kalau mereka sudah benar-benar melihat muka saya. Atau saya menampilkan video dengan ekspresi kemarahan angkara murka yang mereka halusinasikan itu. Intinya saya itu pemarah dan kurang beradablah di mata mereka. Karena itu, kalau mengkritik, kritikannya sudah pasti tidak objektif. Padahal bahasa tulisan memang sering menimbulkan multitafsir. Anda bisa saja membayangkan seseorang sedang bersikap garang, melalui penilaian atas tulisan yang dia buat, tapi yang lain, yang membaca dengan sudut pandang tertentu, akan memandangnya sebagai hal yang biasa-biasa saja. Dan saya sudah paparkan dalam tulisan panjang lebar sebelumnya, yang saya beri judul “Ragam Cara dalam Menyampaikan Kritik”, tentang sejumlah alasan kenapa saya mengajukan diksi-diksi semacam itu. Sebenarnya itu biasa saja. Tapi, sisi-sisi itulah yang kerap dijadikan celah oleh para pendukung Mun’im untuk memframing moralitas saya, padahal itu di luar substansi pembicaraan utama. 

Oke, tidak masalah. Berbagai framing itu tidak lantas melunturkan itikad saya untuk tetap mengajukan kritik-kritik yang logis dan objektif. Dan itu masih banyak. Kendati berkali-kali para pendukung Mun’im menyerang pribadi saya, dengan memposisikan saya sebagai sosok yang kekanak-kanakan, ngeyel, sok pintar, tidak bergelar, tidak selevel, sok merasa paling benar, sombong, dan semacamnya, saya tidak pernah memposisikan mereka sebagai orang yang “menyerang” pribadi saya. Dan sayapun tidak pernah memblokir orang-orang yang membenci sikap saya itu, seperti halnya Mun’im yang memblokir akun-akun tertentu yang tidak suka dengan dirinya. Saya terima-terima saja. Padahal itu jelas penyerangan pribadi, kalaulah harus menggunakan frase itu. Saya harap, kalau diskusi ingin berjalan dengan baik, dan Mun’im bersedia untuk melanjutkan, istilah penyerangan pribadi, emosional, atau mempertanyakan keislaman itu dikubur dalam-dalam.

Karena itu sering dijadikan celah oleh orang-orang tertentu agar bisa lari dari adu argumentasi yang seharusnya dikedepankan dalam diskusi. Sejak awal saya sudah berniat untuk memaparkan kritik yang berbasis pada argumen terhadap sejumlah butir-butir pemikiran Mun’im. Dan, Mun’im jangan lupa, bahwa ketika saya mengajukan kritikan yang pertama, belum apa-apa dia sudah menilai pengkritiknya sebagai orang berpikir dengan metode primitif. Saya harap Mun’im tidak melupakan diksi itu, kalau dia mau mempermasalahkan diksi-diksi yang saya gunakan. Mun’im juga jangan lupa bahwa sejak awal, sebelum memberikan tanggapan, dia sudah memframing saya sebagai orang yang marah-marah melalui komentar yang dia tulis di akun saya. Padahal, sudah jelas-jelas ketika itu, sebelum diksi-diksi menjeletot itu saya gunakan, saya ingin mengkritik isi pemikiran dia. 

Seorang sarjana yang baik sejujurnya tak perlu memposisikan orang lain dengan cara seperti itu. Langsung saja berikan tanggapan. Kalau belum ada waktu, katakan saja, misalnya, “oke mas. Terim kasih atas kritiknya. Sekarang saya sedang sibuk. Nanti saya tanggapi ya.” Itu lebih mencerminkan mental kesarjanaan yang sejati ketimbang memframing lawan sebagai orang yang kurang bermoral dan bersifat emosional. Diksi-diksi tajam yang saya gunakan memang salah satunya bertujuan untuk mendorong Anda keluar. Dan ternyata itu berhasil (hahaha). Kalau sejak awal Anda memberikan tanggapan yang baik, tidak menuduh orang marah-marah, tidak menilai orang lain primitif, penghormatan yang sama sudah pasti akan Anda terima. Dan sebagai seorang sarjana yang baik harusnya Anda melakukan itu. Sayang, Mun’im dan para pendukungnya pintar sekali memisahkan respon saya itu dengan sikap Mun’im sendiri, sehingga tampaklah wajah saya dengan framing yang mereka inginkan.

Poin selanjutnya, Mun’im juga perlu untuk mengingat dari mana sesungguhnya kritikan-kritkan saya itu bermula. Dan pada titik ini saya menjadi ragu, apakah Mun’im itu benar-benar membaca keseluruhan tulisan saya itu dengan utuh atau tidak. Kritikan saya itu bermula dari tulisan yang berjudul “Kekerasan dalam al-Quran Bukan Problem Interpretasi.” Paragraf yang saya kutip dalam tulisan itu terpampang dengan jelas, bahwa dia mempersoalkan teks kitab suci itu sendiri, yang dalam hal ini adalah al-Quran. Mun’im memandang, bahwa problem kekerasan yang selama ini dikait-katikan dengan tafsir itu keliru. Yang bermasalah itu, kata Mun’im, ya teksnya itu sendiri! Bukan penafsirannya. Dan dari situlah kritikan saya bermula. Mun’im jangan melepaskan rangkaian kritik saya dari tulisan yang pertama itu. 

Apa jangan-jangan dia juga mau berkilah bahwa itu bukan pendapatnya, sambil berpura-pura mengelabui publik bahwa saya mengemukakan itu dalam konteks memaparkan kesarjanaan Barat? Saya bisa pastikan, kalau Mun’im mengatakan pandangan itu sebagai bukan pendapat pribadinya, maka dia sudah ngeles. Karena dalam sebuah forum seminar dia pernah menyatakan bahwa memang, kata Mun’im “kita perlu jujur pertama. Kita mengakui ada problem dalam al-Quran”. Mun’im harus ingat pernyataan itu. Dan kritikan saya bermula dari tulisan Mun’im yang secara jelas mempersoalkan teks kitab suci umat Muslim itu. Jangan larikan perdebatan kita ke arah selatan, sementara persoalan di arah Timur sendiri belum sepenuhnya kelar. Kalau mau beri tanggapan, harusnya Mun’im menanggapi kritikan itu terlebih dulu.  

Saran saya, kepada Mun’im, berhentilah menilai saya sebagai orang yang ingin mempertanyakan keislaman Anda dengan framing seolah-olah saya belum membaca semua karya-karya Anda, tapi sudah berani menghakimi keimanan Anda, persis seperti kelakuan orang-orang yang selama ini mengandalkan pentungan ketika ingin menyelesaikan perbedaan. Saya sudah membaca buku-buku Anda semuanya. Dan ceramah-ceramah Anda pun sebagian besar saya simak. Kalaulah saya harus diposisikan sebagai orang yang mempertanyakan keislaman Anda, pertanyaan terlahir bukan dari pembacaan satu-dua artikel. Tapi itu terlahir dari pembacaan saya atas buku-buku dan ceramah Anda sendiri. Dan tentu saja saya tahu, bahwa buku itu tidak semuanya berisikan pendapat-pendapat penulisnya. Lagipula mana ada karya yang seutuhnya berisikan pendapat penulisnya? 

Sekarang Anda boleh berkilah bahwa kutipan yang disebutkan dalam buku Polemik Kitab Suci itu bukan pandangan Anda. Dan itu akan kita jawab nanti. Tapi, Anda jangan lupa bahwa di luar sana masih banyak gagasan-gagasan Anda yang lain—dan kita akan mendiskusikan gagasan-gagasan itu dalam tulisan-tulisan mendatang—yang tidak kalah serius dengan kutipan yang Anda tolak penisbatannya itu. Dan memang kesan yang saya peroleh, sebagai pembaca buku-buku Anda, saya agak kesulitan ketika harus menyimak gagasan-gagasan itu terlahir dari seseorang yang mengaku sebagai Muslim. Dengan cara Anda mempermsalahkan teks suci saja, seperti yang Anda paparkan dalam tulisan pertama yang saya kritik, itu sudah bisa dijadikan alasan yang logis untuk mempertanyakan sisi keislaman itu.

Bagaimana mungkin seseorang mengaku sebagai Muslim, dan pengakuannya itu sendiri melahirkan konsekuensi akan kesahihan semua isi al-Quran, yang merupakan firman Tuhannya, lalu dia mempermasalahkan teks suci itu sendiri! Coba Anda timbang pertanyaan ini dengan logis. Jelas itu pertanyaan yang logis. Sama halnya kira-kira kalau ada orang mengaku jatuh cinta kepada orang lain. Tapi Anda sendiri tidak mau menghormati orang yang Anda cintai itu, lalu mempermasalahkan surat cinta yang dia kasih. Setelah itu datanglah orang yang bertanya, cinta Anda itu cinta macam apa? Itu pertanyaan yang beralasan karena sikap yang bersangkutan, ketika itu, tidak mencerminkan rasa cintanya sendiri. Begitu juga halnya dengan Mun’im yang mempermasalahkan teks al-Quran. Dan sikap itu tidak mencerminkan keimanan sejatinya pada keilahian kitab itu. 

Dan nanti akan kita buktikan satu persatu, bahwa kalau saya harus dikatakan mempertanyakan keislaman Mun’im, itu bukan kesimpulan yang tanpa alasan. Bukti-buktinya memang menggiring saya pada kesimpulan itu. Harap diingat bahwa mempertanyakan tidak identik dengan mengkafirkan. Kalau keislaman saya dipertanyakan oleh orang lain, dan saya tidak merasa itu, kalau saya sih tinggal menjawab saja. Atau membiarkan. Tanpa perlu memandang orang lain primitif, apalagi kalau orang lain itu punya bukti-buktinya. Tugas Mun’im cukup membantah saja. Tapi ingat, kalau kelak butir-butir pemikiran yang saya kritik itu adalah pandangan Anda, saya harap Anda tidak berkilah bahwa itu bukan pendapat saya, lalu mencari-cari alasan bahwa saya sedang memaparkan pandangan kesarjanaan Barat. Kalau Anda melakukan itu, maka Anda sudah ngeles dengan cara yang cukup memprihatikan.

Mana ada orang yang belum tahu benar atau tidaknya dengan sejumlah pendapat, tapi dia sendiri begitu semangat menyebarkan pendapat itu dalam buku berjilid-jilid dan seminar-seminar. Hatta kalaupun Anda berkilah dengan cara seperti itu, sebagai seorang sarjana yang baik Anda harus menentukan sikap Anda sendiri. Bagaimana posisi akademik Anda terhadap pandangan-pandangan yang Anda kemukakan dalam buku-buku itu? Membenarkan atau tidak? Dan pilihannya hanya dua itu saja. Ingat, buku polemik kitab suci itu adalah karya puncak dari perjalanan akademik Anda di Amerika. Tidak mungkin Anda beralasan bahwa buku itu hanya sebatas menyuguhkan pandangan kesarjanaan Barat tentang al-Quran. Lalu dengan mudahnya Anda berkata, bahwa itu bukan pendapat saya. Buku itu berisikan pandangan-pandangan yang problematis, termasuk klaim “al-Quran berpolemik” itu sendiri, seperti yang akan kita buktikan nanti. 

Soal apakah saya keliru dalam memahami kutipan tertentu dalam buku itu, seperti yang sudah Anda singgung, itu akan saya jawab dalam tulisan selanjutnya. Harapan saya kepada Mun’im, sebelum Anda memberikan tanggapan atas kutipan buku Anda yang saya lampirkan—yang dengan tanggapan itu Anda ingin memposisikan saya sebagai orang yang salah paham—harapan saya respon terlebih dulu kritikan saya yang pertama, yang saya tulis sebagai respon atas salah satu tulisan Anda. Jangan lepaskan kritikan saya dari tulisan yang pertama itu. Kalau Anda tidak terima keislaman Anda dipertanyakan, tidak perlu menuduh orang lain primitif. Karena kesimpulan itu sendiri, kalaulah harus dilekatkan kepada saya, terlahir dari pembacaan atas semua karya-karya Anda. Tugas Anda menjelaskan, bagaimana Anda bisa mengharmonisasikan klaim keimanan Anda dengan pernyataan Anda yang mempermasalahkan teks kitab suci itu? Kritik saya bermula dari situ. Saya tunggu jawaban Anda. Adapun soal kekeliruan dalam memahami teks yang Anda alamatkan kepada saya, itu akan saya jawab, insya Allah, dalam tulisan selanjutnya. Demikian. Wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda