Pertanyaan-pertanyaan Menohok untuk Mun’im Sirry

Sekedar untuk menyegarkan kembali ingatan pembaca, bahwa rangkaian kritik yang saya ajukan terhadap Mun’im itu bermula dari salah satu artikelnya yang menyoal tentang kekerasan dalam kitab suci, yang dalam hal ini adalah al-Quran. Mun’im, pada intinya, memandang teks al-Quran sebagai teks yang bermasalah. Kendatipun dia tahu (atau mungkin dia memang tidak tahu?), bahwa para ulama Muslim telah memaparkan berjibun dalil untuk menepis adanya tuduhan itu. Sudah saya tegaskan juga dalam tulisan yang lalu bahwa klaim tersebut adalah klaim serius yang kontradiktif dengan keislaman Mun’im. Beberapa pertanyaan dasar juga sudah diajukan terkait masalah itu. Dan Mun’im, sampai detik ini, belum tergerak untuk menjawabnya. 

Kalau Mun’im bersikukuh mengklaim bahwa problem itu ada dalam teks kitab suci (baca: al-Quran), tentu saja Mun’im harus jelaskan lebih lanjut klaim tersebut dengan argumen yang memadai. Karena kita tahu bahwa setiap klaim pastilah membutuhkan argumen. Lalu apa argumen Mun’im yang ngotot mempermasalahkan teks suci itu? Persoalannya bukan hanya ada atau tidak adanya argumen. Yang tidak kalah penting dari itu ialah, sejauh mana argumen itu bisa konsisten dengan klaim yang dibuat? Apa pembenar-pembenar logis di balik sahihnya klaim itu, kalau memang klaim itu benar-benar sahih? Mengingat bahwa alasan pembenar logis itu tidak ada, maka dari situlah saya—seperti yang sudah saya paparkan dalam tulisan pertama—tertarik untuk mengetahui posisi keilmuan Mun’im dalam melihat sumber al-Quran yang isinya dia permasalahkan itu. 

Itu jelas logis dong. Karena memang klaim-klaim kita tentang suatu kitab itu hanya bisa diuji dan diperjelas kalau kita sudah menentukan asal muasal dari kitab itu sendiri. Adakah manusia bernalar sehat yang tidak setuju dengan pandangan itu? Sekali lagi, jangan Anda mengira bahwa klaim al-Quran berasal dari Tuhan itu adalah klaim yang terlepas dari kajian ilmiah, lalu menggambarkannya sebagai dogma, seperti halnya umat agama lain dalam memandang kitab sucinya. Sebelum sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran adalah firman Tuhan, para ulama Muslim sudah mengkaji dalam buku berjilid-jilid. Dan mereka berakhir pada kesimpulan bahwa kitab suci itu adalah mukjizat yang tak tertandingi. Dan karena itu dia diklaim berasal dari Tuhan. 

Tentu saja, kalau diminta mana buktinya, atau mana dalilnya, dengan penuh hati saya siap memaparkan itu. Dan kita tidak kekurangan referensi dalam menguraikan hal tersebut. Tapi, masalahnya, pemaparan bukti akan keilahian al-Quran itu akan dirasa percuma kalau Mun’im sendiri belum menunjukkan pendirian sikapnya yang tegas. Kalau dia memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, misalnya, maka tentu saja kita telah bersepakat. Dan ketika itu saya tak perlu memaparkan dalil akan keilahiannya. Yang paling bisa saya persoalkan ialah konsistensi antara klaim tersebut dengan hasil-hasil kajiannya. Tapi kalau Mun’im mengklaim al-Quran itu sebagai karangan manusia, dan dia menyampaikan itu dengan tegas, maka ketika itulah keran argumen akan mulai terbuka. Dan kita bisa menguji rasionalitas argumen kita masing-masing.  

Dalam tulisan ini, saya ingin kembali mengajukan sejumlah pertanyaan-pertanyaan lain kepada Mun’im, yang sudah berani mengajukan klaim-klaim serius tentang kitab suci umat Muslim itu. Satu di antara pertanyaan ini sebetulnya sudah saya paparkan dalam tulisan sebelumnya. Dan kali ini saya ingin memperjelas kembali saja. Pertanyaan itu bersinggungan dengan klaim dia yang menyebut al-Quran telah berpolemik dengan audiensnya. Menyatakan bahwa al-Quran berpolemik itu tentu saja akan melahirkan satu pertanyaan yang sangat logis. Pertanyaan itu ialah seputar “siapa sesungguhnya subjek atau sosok yang berpolemik melalui al-Quran itu?” 

Kenapa saya katakan bahwa pertanyaan ini logis, karena al-Quran bukanlah makhluk hidup yang bisa berpolemik seperti halnya manusia atau makhluk-makhluk bernyawa pada umumnya. Masa ada kitab bisa ngomong sendiri? Saya tidak dapat membayangkan sisi logis dari pernyataan bahwa “al-Quran berpolemik dengan umat Kristen”, misalnya, tapi yang bersangkutan sendiri tidak menentukan subjek dari yang berpolemik itu. Kalau tidak ada subjeknya, lantas bagaimana polemik itu bisa berlangsung? Apa jangan-jangan Mun’im mengira bahwa al-Quran itu bisa berteriak, bersuara, dan berbicara melalui huruf-hurufnya, lalu setelah itu dia berdebat atau berpolemik dengan lawan bicaranya seperti halnya sosok yang bernyawa? 

Anak kecil saja tahu, bahwa di dunia ini tidak ada kitab yang bisa bicara dengan dirinya sendiri. Bukankah secara diam-diam Anda juga menyetujui itu? Karena itu, sangat wajar kalau kita bertanya kepada Mun’im, siapa sesungguhnya yang benar-benar berpolemik melalui al-Quran itu? Saya tekankan sekali lagi bahwa pertanyaan itu sangat-sangat logis. Dan, lagi-lagi, itu bersinggungan dengan posisi keilmuan seseorang dalam melihat sumber dan asal muasal al-Quran itu sendiri. Kalau yang bersangkutan memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, maka mau tidak mau, sebagai konsekuensi logisnya, dia akan mengatakan bahwa Tuhan telah berpolemik dengan hamba-hamba-Nya. 

Dan, penalaran yang logis lagi-lagi akan kesulitan untuk menerima kesimpulan itu. Kecuali kalau yang bersangkutan memandang Tuhan seperti halnya manusia, yang punya kekurangan dan suka berdebat dengan sesamanya. Astaghfirullah. Mengatribusikan kata “polemik” kepada Tuhan sama saja dengan mengatribusikan kekurangan dan kekurangajaran kepada Dzat yang Maha mulia itu. Dan Allah, sebagai Dzat yang Maha sempurna dan terbebas dari aneka macam kekurangan, pastilah tersucikan dari sifat yang hina dan tak terpuji itu. Klaim itu, seperti yang sudah saya katakan, adalah klaim kurangajar dan tak beradab. Karena berpotensi menisbatkan kekurangan pada Dzat yang tidak pantas menyandang kekurangan. 

Pada akhirnya, klaim bahwa kritik al-Quran bersifat polemis itu hanya dimungkinkan terlahir kalau yang bersangkutan mendudukan al-Quran sebagai karya seorang manusia, yang dalam hal ini adalah Nabi Muhammad Saw. Tapi, masalahnya, kalau Mun’im memosisikan al-Quran sebagai kitab karangan Nabi Muhammad, Mun’im akan dihadapkan pada persoalan yang lebih serius lagi. Bagaimana Anda membuktikan bahwa Nabi Muhammad itu bisa berpolemik—dalam arti mendistorsi pandangan lawan bicara, hanya karena ingin memenangkan perdebatan dengannya—sementara fakta sejarah sendiri menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah pembawa hidayah yang dikenal bermoralitas tinggi. Sementara sifat polemis adalah sifat yang pasti kurang terpuji. 

Kalaupun Mun’im berani memposisikan Nabi Muhammad sebagai sosok yang berpolemik, maka dia perlu menyuguhkan fakta-fakta sejarahnya. Bahwa Nabi Muhammad Saw pernah berlaku kurang terpuji seperti itu. Kita saja kalau berpolemik, dengan pemaknaan seperti tadi, akan dipandang berakhlak negatif, lantas atas dasar apa Anda bisa memberlakukan itu kepada Nabi yang mulia, yang dalam sejarah hidupnya tidak pernah melakukan perbuatan yang hina? Coba bayangkan, ketika dihadapkan dengan pertanyaan di atas, Mun’im akan tampak dilema sekali. Mau bilang al-Quran bersumber dari Tuhan, tidak bisa. Karena itu bisa meruntuhkan klaim-klaim seriusnya. Tapi kalau menyatakan al-Quran buatan manusia, maka itu akan terlihat paradoks dengan keimanannya. Kecuali kalau dia memposisikan dirinya sebagai non-Muslim. 

Inilah saya bilang, kenapa tesis-tesis Mun’im itu menyentuh banyak sisi penting dari keyakinan umat Muslim. Meskipun menampilkan dirinya dengan pengkajian ilmiah. Salah satunya adalah klaim kritik al-Quran yang dinilai polemis ini. Silakan saja Mun’im berkesimpulan semacam itu. Tapi bagaimana dia memparalelkan kesimpulan tersebut dengan keimanannya sebagai seorang Muslim, sedangkan keimanan itu sendiri dihasilkan dari kajian yang sama-sama ilmiah? Beranikah dia melayangkan sifat yang kurang terpuji itu kepada Tuhan dan firman-Nya yang mulia? Atau beranikah dia mengatribusikan sifat itu kepada Nabi Muhammad Saw?  

Sekarang Anda pasti semakin paham, kenapa saya mengajukan pertanyaan mendasar itu kepada Mun’im dalam tulisan saya yang paling pertama itu. Karena memang klaim-klaim Mun’im tentang al-Quran itu harus diuji melalui pertanyaan mendasar itu tadi. Baiklah. Kita tidak tahu jawaban Mun’im yang sesungguhnya dalam menjawab pertanyaan tersebut. Kita berikan dia kesempatan untuk mempertanggungjawabkan klaim seriusnya itu, melalui pembuktian argumen yang logis dan bisa diterima nalar sehat. Kalau Mun’im benar, kita akui. Tapi kalau pemaparannya tidak ilmiah, maka sudah sepatutnya kita tolak, sebagai keniscayaan ilmiah itu sendiri. 

Saya beri contoh satu lagi untuk lebih memperjelas persoalan di atas. Yaitu soal klaim dia yang lain yang menyebut bahwa al-Quran itu berdialog dengan kitab-kitab sebelumnya. Apa benar al-Quran itu berdialog dengan kitab-kitab sebelumnya, seperti klaim yang diajukan Mun’im? Pertanyaan ini, lagi-lagi, hanya bisa dijawab setelah kita mendudukkkan terlebih dulu, siapa sesungguhnya sosok yang berdialog melalui al-Quran itu? Lagi-lagi kita harus bicara tentang sumber. Dari mana informasi al-Quran itu berasal? Kalau berasal dari Nabi Muhammad, itu mustahil sekali. Karena fakta sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad tidak pernah belajar kepada siapapun dari kalangan Yahudi dan Nasrani. Apalagi beliau dikenal sebagai nabi yang tidak melakukan baca tulis (ummi). Lalu bagaimana mungkin Anda memungkinkan terjadinya dialog itu, sementara beliau sendiri tidak pernah belajar kitab suci kepada siapapun? Apa alasan pembenarnya? 

Kenapa pertanyaan seputar “subjek” ini harus dijawab? Alasannya seperti yang kita sebutkan tadi. Karena al-Quran bukan makhluk hidup yang bisa berdialog dengan dirinya sendiri. Al-Quran yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah teks. Lalu bagaimana ceritanya sebuah teks bisa berdialog sendiri? Dan, kalau diminta untuk menentukan subjek, maka Mun’im hanya akan dihadapkan pada dua pilihan saja. Yaitu Tuhan dan manusia. Kalau penelitian kesarjanaan Mun’im sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran itu adalah firman Tuhan, tidak logis bagi dia untuk menarik kesimpulan itu. Karena bagaimana mungkin Tuhan berdialog dengan firman-Nya sendiri? Dialog itu meniscayakan adanya dua subjek. Lalu di mana sisi logisnya kalau Tuhan dikatakan berdialog dengan diri-Nya? Apalagi dikatakan berdialog dengan para pendeta Kristen, misalnya, untuk mencantumkan kisah-kisah tertentu di dalam al-Quran? Betapa rapuhnya logika semacam itu. 

Tapi, kalau Mun’im memposisikan al-Quran sebagai karya seorang manusia—dan itu jelas akan terlihat kontradiktif dengan klaim keimanannya—maka dia harus menjawab pertanyaan, siapa manusia yang dia maksud itu? Tidak ada pilihan lain kecuali Nabi Muhammad Saw. Namun, jawaban ini akan melahirkan pertanyaan lain yang tidak kalah serius, seperti yang sudah saya ajukan tadi, yaitu “bagaimana bisa Anda memposisikan Nabi Muhammad sebagai sosok yang berdialog dengan kitab suci umat agama lain, sementara sejarah sendiri telah menginformasikan bahwa beliau tidak pernah belajar kepada siapapun?” 

Kalau Mun’im punya data sejarah yang valid, yang membuktikan bahwa nabi Muhammad itu pernah belajar, kepada tokoh Yahudi dan Nasrani, misalnya, maka dia harus memaparkan bukti-bukti itu. Dan bukti-bukti itu tidak boleh dia sadur dari sumber-sumber Muslim. Mengapa? Karena sejak awal sikap akademisnya sendiri sudah skeptis dengan keabsahan sumber-sumber Muslim itu. Dan di sinilah paradoks-paradoks Mun’im itu mulai kembali terlihat. Meragukan keabsahan sebuah sumber, tapi dia sendiri kerap menyadur sumber itu untuk meneguhkan sejumlah klaimnya, seperti soal perbedaan bacaan al-Quran misalnya, dalam konteks meragukan otentisitasnya (persoalan ini akan diulas secara tersendiri). 

Dua contoh ini saya paparkan sebagai bukti, bahwa Mun’im, dengan segudang klaim seriusnya tentang al-Quran itu, tidak pernah mendudukan terlebih dulu pertanyaan yang jauh lebih substansial ketimbang klaim-klaimnya itu sendiri. Yaitu pertanyaan seputar asal muasal kitab suci itu. Dia itu firman Tuhan atau bukan? Dan dia tidak pernah memaparkan secara tegas dalam buku-bukunya. Indikasi yang kita peroleh justru Mun’im itu ingin memperlakukan al-Quran sebagai teks sejarah biasa. Kalau benar dia memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, lantas bagaimana dia mempertanggungjawabkan secara logis—sekali lagi secara logis—antara klaim tersebut dengan klaim-klaimnya yang lain yang tampak secara jelas ingin memposisikan al-Quran sebagai karya seorang manusia, dengan mengatribusikan kata “dialog” dan “polemik” itu misalnya. Bagaimana dia bisa mengharmonisasikan itu? 

Itu akan sangat sulit sekali untuk dia jawab. Dia akan dihadapkan pada dilema yang cukup serius ketika harus menjawab pertanyaan itu. Menjawab al-Quran sebagai firman Tuhan maka secara otomatis akan menggilas klaim-klaim seriusnya itu. Tapi kalau menyebut al-Quran sebagai buatan manusia itu jelas akan mengorbankan agamanya sendiri, dan mengeluarkan dia dari lingkaran orang-orang Muslim. Dan dia, kalau saja melakukan itu, memang harus secara konsisten mengaku dirinya sebagai non-muslim. Karena pengakuan seseorang sebagai Muslim sudah barang tentu melahirkan banyak konsekuensinya, yang salah satunya ialah mengimani kesahihan seluruh kandungan al-Quran itu.  

Mun’im tidak bisa berkilah bahwa itu hanya sebatas kajian ilmiah, lalu soal keimanan dia pisahkan dari kajian itu. Karena faktanya menyebut al-Quran “berdialog” atau “berpolemik” tanpa menentukan subjeknya itu sendiri bukanlah pernyataan yang ilmiah. Di mana sisi ilmiahnya ketika orang mengatribusikan hal-hal tertentu kepada sebuah kitab, sementara pengatribusian itu sendiri meniscayakan adanya subjek yang jelas, lalu dia tidak mau, atau belum, menentukan subjek yang dimaksud itu? Saya tak bisa menutupi keheranan saya di hadapan klaim-klaim Mun’im yang benar-benar tidak logis itu. 

Tidak henti-hentinya saya ingin mengingatkan, bahwa sikap kesarjanaan yang baik meniscayakan adanya konsistensi antara hasil kajian dengan keimanan yang dipeluknya. Karena iman yang sahih dan kokoh itu terpantul dari pengkajian ilmiah yang mendalam, bukan cuma sebatas ikut-ikutan. Kecuali kalau Anda beriman dengan gaya anak kecil yang hanya membebek pada orang tua, tapi tidak tahu alasan logis di balik keimanan yang dipeluknya. Secara logis memang tidak mungkin juga Anda membenarkan dua proposisi yang kontradiktif di dalam diri Anda sendiri, dengan mengatakan “al-Quran adalah firman Tuhan”, dan “al-Quran bukan firman Tuhan,” misalnya. Atau mengatakan “al-Quran buatan manusia” tapi juga mengatakan “al-Quran bukan buatan manusia.” 

Kecuali kalau Anda sudah berlepas diri dari nalar sehat Anda. Selama mengaku sebagai manusia yang bernalar sehat, Mun’im perlu melepaskan dirinya dari kontradiksi yang akut itu. Lantas apa jawaban dia ketika dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilematis dan cukup menohok itu? Sejujurnya ini bukan pertanyaan satu-satunya yang bisa menggulingkan Mun’im pada irasionalitas dan kekaburan identitas. Di luar sana masih ada pertanyaan-pertanyaan lain. Tapi, sebelum beralih menuju pertanyaan-pertanyaan yang lain itu, bisakah Mun’im menjawab pertanyaan itu terlebih dulu, dengan berpijak pada metode yang dia pegang teguh sendiri? Bisakah dia konsisten dengan metodenya itu? Kita lihat dan kita saksikan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda