Bukan Fallacy

Menyebut seseorang dengan sebutan bodoh, bloon, cacat nalar, atau kata-kata sejenisnya, ketika mengkritik pendapat yang diajukan oleh seseorang itu tidak otomatis menjadi bagian dari fallacy, seperti yang diduga oleh sebagian kalangan. Saya sendiri beberapa kali menerima ungkapan-ungkapan yang merendahkan dari para simpatisan Mun’im. Tapi saya tidak memandang itu sebagai fallacy, selama mereka tidak menjadikan ungkapan-ungkapan tersebut sebagai landasan mereka dalam berargumen, ataupun menyalahkan pendapat saya. Justru, kalau melalui pemaparan argumen itu terbukti bahwa saya bodoh, dan argumen mereka itu sahih, maka apa yang mereka tuduhkan kepada saya itu otomatis menjadi benar. 

Dalam percakapan berbahasa Arab, kata jahl itu sendiri—yang kalau diterjemahkan bermakna bodoh—itu sebenarnya banyak kita jumpai dalam karya-karya para ulama. Juga tak jarang kita simak dari ceramah-ceramah mereka. Bahkan kata-kata yang lebih sadis dari itu juga ada. Biasanya, kata-kata semacam itu diungkapan ketika mengulas hal-hal yang serius dan fundamental. Atau ketika mereka melihat bahwa pendapat yang dikritiknya itu benar-benar tidak masuk akal dan dapat merusak sisi-sisi mendasar dari ajaran Islam. Sebagai contoh kecil, cobalah sesekali Anda tengok bukunya al-Ghazali yang mengkritik para filsuf itu. Atau Anda pertimbangkan sejumlah sikap ulama yang sudah saya paparkan dalam tulisan yang lalu. 

Pada poin intinya kita perlu tahu, bahwa setiap orang kadang punya pertimbangan, motivasi, alasan dan sudut pandang tertentu ketika ingin mengkritik. Kalau yang dikritik itu hanya sebatas persoalan partikular, yang tidak punya dampak besar dalam agama, tentu saja sikap kita tak perlu selebay itu. Tapi ketika suatu pemikiran yang menyimpang itu sudah benar-benar meluas, lalu banyak orang yang terbuai dengan pikiran itu, dan mereka memposisikan orangnya sebagai sosok yang pintar, padahal pikiran yang diusungnya sendiri merupakan butir-butir kebodohan, boleh jadi sebagian orang merasa perlu untuk mengutarakan kata itu, demi menyadarkan publik bahwa orang itu tidak layak untuk diikuti. 

Tak jadi masalah jika Anda ingin mempersoalkan pemilihan diksi itu. Tapi yang jelas itu bukan bagian dari fallacy. Itu bukan bagian dari ad hominem, selama itu tidak dijadikan alasan untuk memastikan benar-salahnya suatu pendapat. Untuk memperjelas ini, saya ingin memberikan ilustrasi yang sederhana. Dan barangkali ilustrasi ini bisa memperjelas poin yang saya sebutkan di atas itu. Misalnya suatu ketika Anda menyebut tokoh A sebagai orang bodoh. Dan katakanlah bahwa Anda mengatakan itu dengan pertimbangan tertentu, yang menurut Anda perlu. Anda sendiri sampai pada kesimpulan tersebut setelah Anda menelaah dengan baik butir-butir pemikirannya. 

Setelah itu Anda paparkanlah butir-butir pemikiran itu, untuk membuktikan kebodohannya yang tidak sebagian orang tahu. Lalu terbuktilah melalui pemaparan tersebut, bahwa yang bersangkutan memang orang bodoh, misalnya. Dan pikirannya benar-benar merusak. Pertanyaannya kemudian, apakah itu bagian dari fallacy? Jelas bukan. Justru, pernyataan Anda yang menyebut “tokoh A bodoh” itu adalah klaim, atau da’wa/mudda’a dalam istilah ilmu debat. Dan penjelasan Anda tentang butir-butir kebodohannya adalah argumen, yang melandasi klaim itu. Dan itu bukan fallacy. Justru ketika itu Anda sudah menunaikan kewajiban Anda sendiri, yaitu membuktikan sebuah klaim dengan argumen. 

Tapi tentu saja, ketika dihadapkan dengan klaim tersebut, akan ada orang-orang yang tidak setuju. Lalu bagaimana seharusnya mereka bersikap? Kalau ingin menolak, maka setidaknya mereka bisa menempuh dua jalan. Satu, menyuguhkan argumen tandingan untuk membuktikan bahwa dia itu tidak bodoh, dan pikiran-pikiran yang diajukkannya pun tidak mencerminkan kebodohan. Dua, menjatuhkan premis-premis yang yang dia sampaikan, untuk membuktikan bahwa kesimpulan yang ditarik itu sungguh tidaklah tepat. 

Dengan penjelasan ini tentu saja saya tidak bermaksud untuk mengajak orang untuk saling bodoh membodohi ketika beradu pendapat. Apalagi menyangkut persoalan-persoalan yang sepele. Poin intinya ialah, menyebut orang bodoh dengan alasan-alasan tertentu, selama kebodohan pribadi itu tidak dijadikan alasan untuk memandang sahih tidaknya pikiran yang dia paparkan, itu bukan termasuk fallacy. Itu bukan termasuk ad hominem, yang sering disalahpahami oleh sebagian orang itu.

Lalu kapan fallacy itu terjadi? Fallacy itu terjadi ketika Anda menggantungkan benar-salahnya suatu pandangan kepada pribadi dari orang itu sendiri. Dan cara itu Anda tempuh ketika Anda tidak mampu berbicara dengan argumen lagi. Nah itu baru namanya ad hominem. Jadi Anda secara membabi buta, misalnya, menyerang pribadi seseorang dengan limpahan cacian, makian dan kata-kata yang menyudutkan. Dan “penyerangan” pribadi itu Anda jadikan alasan untuk menyalahkan pandangan yang bersangkutan. Baru itu namanya ad hominen. Dan secara logis memang itu keliru. 

Untungnya, sejak awal, ketika mengkritik Mun’im, saya tidak melakukan itu. Saya tidak menjadikan diksi-diksi pedas yang saya gunakan—yang saya kemukakan dengan tujuan tertentu, dengan porsi yang sangat-sangat terbatas—untuk membenarkan klaim saya sendiri, atau untuk menyalahkan pendapat yang dia sampaikan. Saya tidak melakukan itu. 

Untuk memperjelas, mari kita ambil satu contoh lagi. Ada orang, misalnya, mengklaim, bahwa syahadatnya umat Muslim itu bukan dari nabi. Misalnya dia mengklaim begitu. Dan, ketika dia mengajukan sebuah klaim, maka tentu saja dia harus memaparkan bukti. Dan bukti yang dia paparkan haruslah konsisten dengan kesimpulan yang dia tarik. 

Lalu, misalnya, Anda tidak setuju dengan pandangan itu. Karena Anda merasa tidak punya argumen untuk membantah, maka Anda pun berkata kepada orang itu, “wah pandangan Anda ini jelas keliru. Ya iyalah gimana nggak keliru. Orang yang bilangnya sendiri orang bodoh, didikin sarjana Barat, orangnya begini, begitu, begini dan bla bla blaaa.” Di sini terlihat, Anda mengklaim kesalahan suatu pandangan, dan menggantungkan kebenaran klaim Anda itu pada pribadi yang bersangkutan. Dengan kata lain, pribadi orang itu Anda serang semata-mata untuk membenarkan klaim Anda, dan menyalahkan klaim orang lain. Nah ini yang sebenarnya keliru secara logis itu.

Bisakah dipahami sampai di sini? Adapun menyebut orang lain bodoh, tapi Anda sendiri tidak menggantungkan kebenaran klaim Anda, atau menggantungkan kesalahan klaim orang lain pada pribadinya semata, atau hal-hal yang menjadi kekurangan dirinya, melainkan Anda datang dengan argumen demi argumen, untuk mematahkan pandangan orang itu, maka jelas itu bukan bagian dari fallacy. Anda boleh mempermasalahkan sikapnya. Tapi yang jelas itu bukan fallacy. Terlihatlah di sini, bahwa orang-orang yang beberapa kali menuduh saya terjatuh dalam fallacy itu sebenarnya nggak paham dengan apa yang dimaksud fallacy itu sendiri. 

Dan, kalau saya pernah memainkan diksi-diksi yang agak pedas, saya tidak bermaksud untuk menjadikan diksi-diksi itu sebagai landasan dalam cara saya berargumen untuk membenarkan klaim saya, ataupun menyalahkan pendapat orang lain. Diksi-diksi itu memang sengaja mainkan supaya yang bersangkutan keluar kandang dan merespon apa yang saya tulis. Dan ternyata itu berhasil (hehe). Kritik awal yang saya ajukan itu disampaikan dengan cara baik-baik. Tapi sayangnya dia memandang itu sebagai bagian dari cara berpikir primitif. Dia pun menuduh saya telah marah-marah. Padahal saya biasa-biasa saja. 

Sebagai respon baliknya, ya sudah, saya tunjukkanlah apa yang sudah dia tuduhkan kepada saya itu. Dan memang saya merasa perlu untuk mengatakan dihadapan publik, bahwa pikiran-pikiran yang digelindingkan Mun’im itu adalah bagian dari kebodohan. Bukan pencerahan apalagi kemajuan dalam pemikiran Islam. Tentu saja, itu adalah klaim yang harus kita paparkan dengan bukti. Dan beberapa di antaranya sudah saya paparkan dalam tulisan-tulisan yang lalu. Selebihnya silakan Anda simak dalam pemaparan-pemaparan yang akan datang. 

Sekarang, mengingkat para simpatisan Mun’im itu suka memframing saya sebagai orang yang tidak fair dalam mengkritik, sambil memposisikan saya sebagai orang yang sudah menyerang pribadi, dan menurut mereka itu merupakan bagian dari fallacy, padahal sejak awal saya sudah berniat untuk mengkritik pendapat, maka saya putuskan untuk menghapus postingan-postingan pedas yang suka mereka tampilkan secara parsial itu. Mereka lupa bahwa apa yang saya tampilkan itu adalah respon balik dari sikap idola mereka sendiri. Tapi ya sudahlah. Kita tenggelamkan itu semua. Dan sekarang mari kita bicara argumen demi argumen untuk membuktikan kebenaran klaim kita masing-masing. 

Penjelasan di atas semata-mata untuk meluruskan pandangan sebagian orang, bahwa apa yang mereka duga sebagai fallacy itu tidak sepenuhnya tepat. Memang Anda keliru kalau memandang salah pandangan seseorang hanya karena melihat kepribadiannya semata. Secara logis itu tidak dibenarkan. Tapi, kalau terbukti bahwa pikiran-pikiran yang bersangkutan itu memang bodoh, merusak, dan bermasalah, lalu kita paparkan itu dengan bukti-bukti yang jelas, maka itu bukan fallacy lagi, tapi itu adalah kebenaran, selama klaim tersebut bersandar pada bukti-bukti yang sahih secara keilmuan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda