Haruskah Keimanan Dipisahkan dari Kajian Ilmiah?

Gugatan-gugatan yang saya ajukan dalam tulisan yang lalu itu murni sepenuhnya bertitik-titik tolak dari sejumlah pertanyaan yang logis. Saya katakan logis karena pertanyaan itu sangatlah masuk akal dan tidak ada yang bertentangan dengan hukum-hukumnya. Dengan demikian, sebagai sebuah pertanyaan yang logis, pertanyaan yang kita ajukan itu merupakan pertanyaan yang bersifat ilmiah. Karena suatu pertanyaan, atau pernyataan, bisa Anda katakan ilmiah kalau memang dia berpijak pada metode keilmuan tertentu. Sayang, di era sekarang, makna dari kata “ilmiah” sudah tereduksi sedemikian rupa sehingga sebutan itu hanya berlaku bagi ilmu-ilmu yang bersifat empiris semata. Penalaran yang objektif tak akan mudah untuk menerima kesimpulan naif semacam itu. 

Kata “ilmiah” terambil dari kata ilmu. Dan dari pengambilan kata itu saja kita bisa tahu, bahwa selama pertanyaan, atau pernyataan yang kita ajukan itu berbasis pada metode keilmuan yang sahih secara keilmuan, maka sebagai konsekuensi logisnya kita perlu menyebutnya sebagai pertanyaan atau pernyataan yang ilmiah. Mempertanyakan sikap keilmuan seseorang dalam melihat sumber al-Quran adalah pertanyaan yang ilmiah. Sebab, seperti yang sudah saya kemukakan di awal, tidak mungkin Anda mengajukan klaim-klaim serius tentang suatu kitab, seperti menyebutnya berdialog, berpolemik, dst, kecuali setelah Anda menentukan posisi keilmuan Anda terlebih dulu tentang asal muasal kitab itu.  

Kesimpulan-kesimpulan Mun’im memang agak terlihat lucu. Sudah jelas-jelas al-Quran itu bukan makhluk hidup yang bisa berdialog, berbicara, dan berpolemik dengan siapapun seperti halnya sosok yang bernyawa. Karena al-Quran hanyalah teks yang memuat kumpulan lafaz dengan muatan makna-maknanya. Apa jadinya kalau sekarang saya, misalnya, menyebut buku “Polemik Kitab Suci” itu berpolemik dengan buku-buku yang lain, lalu saya sendiri tidak menentukan siapa sesungguhnya yang mengarang buku “Polemik Kitab Suci” itu? Anda akan mengerenyitkan dahi. Karena faktanya di dunia ini tidak ada buku yang bisa berdialog dengan dirinya sendiri. 

Karena itu, ketika Anda menyebut al-Quran berpolemik, atau berdialog dengan kitab suci umat agama lain, maka tentu saja Anda harus tentukan siapa sesungguhnya yang berdialog melalui al-Quran itu? Dan itu pertanyaan logis, yang dalam dugaan saya, tidak akan bisa dijawab secara tegas oleh Mun’im Sirry. Karena pilihan jawabannya hanya ada dua. Dan, dua jawaban itu, seperti yang sudah saya kemukakan, akan membuat dia terperangkap dalam dilema. Karena itulah dia tidak pernah menjawab pertanyaan itu secara tegas di dalam buku-bukunya. 

Lalu bagaimana jawaban yang akan dia kemukakan sekiranya saja dia berani menjawab pertanyaan itu? Saya menduga—dan dugaan ini tentu saja tidak sepenuhnya meyakinkan—Mun’im akan memainkan jurus andalan barisan kaum primitif yang pikirannya sudah tercangkok dengan pikiran orang-orang Barat. Dia mungkin akan mengatakan, “loh yang saya lakukan ini adalah kajian ilmiah. Sementara tertanyaan Anda itu adalah pertanyaan seputar iman. Jangan bawa-bawa iman kedalam kajian ilmiah.” Pernyataan semacam ini cukup sering saya simak dari makhluk-makhluk belahan sana. 

Padahal, kalau kita timbang dengan nalar yang sehat, pertanyaan itu sendiri sejujurnya adalah pertanyaan yang sangat ilmiah. Sayangnya, orang-orang yang isi kepalanya sudah terlumuri oleh pikiran orang Barat itu seringkali tidak bisa membedakan, antara menggugat klaim seseorang dengan iman, dengan menggugat atau mempertanyakan kesahihan klaim seseorang melalui argumen-argumen rasional, yang kemudian menjadi landasan keimanan. Padahal keduanya jelas berbeda. 

Dengan pertanyaan itu saya tidak bermaksud menggugat Mun’im dengan klaim keimanan saya. Tapi gugatan itu, sekali lagi, berbasis pada pertanyaan yang sangat logis dan sangat ilmiah. Dan kalaupun saya menolak, penolakan saya juga harus berbasis pada argumen ilmiah. Bukan semata-mata karena berbeda dengan isi hati saya, lantas kemudian saya harus menolak begitu saja. Argumen penolakan kita atas suatu pendapat memang harus berpijak pada argumen ilmiah. Soal apakah kesimpulan yang dihasilkan oleh argumen itu dijadikan landasan keimanan saya atau tidak, itu tidak menjadi persoalan. Karena yang kita kedepakan adalah argumennya, bukan hasil dari argumen itu sendiri.  

Baiklah, tanpa berpanjang-panjang kalam, sekarang mari kita jawab pertanyaan di atas dengan jawaban yang ilmiah. Apa benar kita harus memisahkan iman dari kajian ilmiah? Dan apa benar keimanan itu bisa mengurangi objektivitas dalam melakukan suatu pengkajian? Ini yang akan kita jawab. Keniscayaaan untuk memisahkan iman dari kajian ilmiah itu sebetulnya berasal dari orang-orang Barat, bukan berasal dari tradisi keilmuan Islam itu sendiri. Kenapa mereka merasa perlu untuk mengajukan tuntutan semacam itu? Karena orang-orang Barat, dan barisan kaum primitif yang kerap terpengaruh oleh gaya berpikir mereka, umumnya punya pandangan bahwa iman itu tidak memerlukan bukti.

Artinya, ketika Anda mengimani sesuatu, maka tugas Anda itu cukup percaya saja. Kendatipun argumen-argumen rasional menolak kesimpulan yang Anda imani itu, maka Anda harus tetap percaya. Dan itulah iman versi mereka. Percayai apa yang disampaikan oleh agama Anda. Lalu setelah itu tutup mata Anda rapat-rapat. Tidak perlu bertanya apa argumennya dan bagaimana penjelasannya. Dan itulah konsep iman menurut mereka. Iman versi mereka sebetulnya sama saja dengan dogma. Karena itu, kalau ada tuntutan bahwa kajian ilmiah harus dipisahkan dengan iman, sedangkan konsep keimanan itu sendiri dirumuskan dengan cara seperti itu, tentu saja sepenuhnya kita setuju. 

Karena tidak mungkin Anda mempersoalkan hasil kajian ilmiah, yang berbasis pada metode keilmuan tertentu, dengan iman semacam itu, yang jelas-jelas tidak memiliki bukti apapun di balik kebenarannya. Kalau iman itu dikatakan benar, maka itu semata-mata karena diyakini benar saja. Padahal, apa yang diyakini benar itu sendiri belum tentu sepenuhnya benar. Coba sesekali Anda tanya kepada orang Kristen, apa bukti rasional kalau Yesus itu adalah Tuhan? Atau apa bukti rasional kalau Alkitab itu benar-benar sepenuhnya berasal dari Tuhan? Itu akan sulit sekali untuk mereka jawab. Tapi mereka membenarkan semua itu. 

Jadi, kita bisa bersepakat dengan mereka yang ingin memisahkan iman dari kajian ilmiah, dengan syarat bahwa iman yang mereka maksud adalah iman yang buta akan bukti, seperti yang mengendap dalam pikiran orang-orang non-muslim itu. Dan tuntutan itu sangat rasional. Tidak ada perselisihan dalam hal itu. 

Iman Versi Islam

Tetapi kenyataan akan sepenuhnya berbalik ketika Anda menelaah konsep keimanan dalam Islam. Para ulama Muslim, dalam berbagai karya mereka, seringkali menegaskan bahwa iman itu bukan hanya sebatas percaya. Tapi iman itu haruslah berupa keyakinan yang bersifat pasti, yang sesuai dengan kenyataan, dan terlahir dari adanya dalil (‘itiqad jazim muthabiq lil waqi’ nasyi ‘an dalil). Definisi semacam ini hampir akan Anda jumpai dalam berbagai buku teolog Islam. Harap Anda perhatikan definisi ini dengan baik. Ini bukan definisi yang saya karang-karang sendiri. Tapi inilah definisi yang disepakati oleh para teolog Muslim. 

Bahwa iman itu tidaklah disebut iman, kecuali kalau dia bersifat pasti, dalam arti bukan hanya sebatas sangkaan apalagi keraguan, juga harus sesuai dengan kenyataan. Dan, yang tidak kalah penting, kepastian itu harus bersandar pada dalil. Dan iman semacam ini tentu saja bersifat ilmiah, bukan hanya sebatas dogma yang diwariskan secara turun temurun. Karena dalam penarikan kesimpulannya sudah pasti berbasis pada metode keilmuan tertentu. Masalah orang-orang seperti Mun’im itu ialah, mereka ingin mempersamakan konsep iman versi kita dengan iman versi orang-orang non-muslim, padahal faktanya sendiri menunjukkan berbeda. Dan tentu saja kesimpulan yang mengingkari fakta itu sendiri adalah kesimpulan yang tidak ilmiah! 

Pertanyaan yang harus sekarang kita jawab ialah, apakah benar semua butir-butir keimanan umat Muslim itu memang memenuhi syarat-syarat di atas, sehingga keimanan mereka bisa kita katakan sebagai keimanan yang bersifat ilmiah? Saya bisa pastikan, jawabannya adalah iya. Khazanah keilmuan Islam yang begitu kaya dan berlimpah adalah saksi terbaik yang dapat memuaskan Anda untuk menjawab pertanyaan itu. Anda mau bertanya bukti di balik keberadaan Tuhan? Limpahan karya berjilid-jilid sudah menanti Anda dengan berbagai macam jawabannya. Ketika kita mengimani Nabi Muhammad Saw sebagai nabi, kita juga berhadapan dengan setumpuk argumen rasional yang dapat memuaskan nalar kita untuk mengimani kenabian sosok yang agung itu. 

Mau menanyakan argumen rasional tentang keilahian al-Quran? Lagi-lagi para ulama Muslim sudah memaparkan bukti-bukti rasional itu di dalam kitab-kitab mereka. Semuanya berbasis pada argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya secara ilmiah. Tentu saja, kalau Anda minta dalil itu satu persatu, lembaran ini tidak akan cukup untuk memaparkan semuanya. Poin penting yang ingin saya tegaskan ialah, butir-butir keimanan umat Muslim itu—tak terkecuali keimanan akan keilahian al-Quran—itu bersandar pada dalil-dalil ilmiah. Apa maksudnya ilmiah? Sekali lagi, kata “ilmiah” kita gunakan ketika suatu kesimpulan itu terlahir dan berpijak pada metode keilmuan tertentu yang sahih secara keilmuan. Apakah para sarjana Muslim punya metode itu? Jelas, tidak diragukan lagi. 

Untuk menguji kesahihan klaim-klaim keimanan itu, para pemikir Muslim, misalnya, memperkenalkan metode burhani, sebagai salah satu jalan pembuktian. Dan penerapan metode itu sendiri tidak semudah yang orang bayangkan. Tidak hanya sebatas menyertakan premis minor, mayor, lalu terlahirlah sebuah konklusi. Tapi juga ada syarat-syarat yang ketat sehingga kesimpulan yang dihasilkan dapat benar-benar meyakinkan. Dan itu sudah selesai dibahas oleh para sarjana Muslim. Siapapun yang ingin menguji kesahihan klaim-klaim tersebut, maka kita, sebagai umat Muslim, sudah siap untuk memaparkannnya. 

Sayangnya orang-orang seperti Mun’im dan sejenisnya itu tidak mau secara terbuka mengakui itu. Mereka tetap ingin mempersamakan, meskipun persamaan itu bertentangan dengan kenyataan. Begitukah sikap kesarjanaan yang ilmiah? Dengan adanya fakta dan argumen-argumen yang berlimpah itu, jelas tidak fair kalau Anda mempersamakan keimanan umat Muslim terhadap dasar-dasar keyakinanya, dengan keimanan umat agama lain terhadap butir-butir ajaran mereka. Sekarang mari kita ajukan pertanyaan yang amat penting ini, “bisakah Anda memisahkan keimanan yang berbasis pada argumen ilmiah ini dari kajian yang Anda pandang ilmiah?” Tolong pahami pertanyaan ini dengan baik. Dan pahami bagaimana para sarjana Muslim merumuskan konsep keimanan dalam agama mereka. 

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan terkait pertanyaan di atas, Anda harus pastikan terlebih dulu, bahwa butir-butir keimanan umat Muslim memang bersandar pada dalil-dalil ilmiah. Dan jawabannya memang sudah tertuang dalam karya-karya mereka. Dan kalau Anda sudah sampai pada kesimpulan itu, lalu mengakui bahwa keimanan mereka itu bersandar pada dalil-dalil yang rasional dan ilmiah, maka sebagai sebuah keniscayaan ilmiah—sekali lagi sebagai keniscayaan ilmiah—tidak ada jalan lain bagi Anda kecuali menerima dasar-dasar keimanan itu sebagai fakta-fakta ilmiah. Manakala ia diakui sebagai kesimpulan yang bersifat ilmiah, maka sebagai konsekuensi logisnya kajian keislaman apapun yang Anda lakukan tidak boleh terlepaskan dari kesimpulan-kesimpulan itu. 

Kenapa demikian? Karena kesimpulan-kesimpulan itu sendiri dihasilkan dari sebuah metode ilmiah. Sekali Anda melepaskan kajian Anda dari pakem-pakem keimanan itu, maka kajian Anda tidak lagi dipandang ilmiah. Mengapa tidak ilmiah? Sekali lagi kita jawab, karena ketika itu Anda mengesampingkan kajian Anda dari sejumlah kesimpulan-kesimpulan besar. Padahal kesimpulan-kesimpulan itu sendiri jelas-jelas bersifat ilmiah, dan argumen-argumen yang mendasarinya benar-benar tersaji secara berlimpah. Bukankah nalar logis kita akan berkata seperti itu? Bukankah keniscayaan dari sikap ilmiah itu tidak mengabaikan fakta-fakta ilmiah yang lain? 

Jadi, kalau Anda ingin mengkaji al-Quran, misalnya, lalu Anda pisahkan dia dari sumber aslinya, dengan alasan ingin mengkaji kitab itu secara ilmiah—seperti yang dilakukan Mun’im—metode itu sendiri sejujurnya tidak bersifat ilmiah. Karena dia bertitik-tolak dari pengingkaran sebuah fakta ilmiah. Bagaimana mungkin Anda ingin menyajikan sebuah kajian yang ilmiah, tapi sejak awal Anda sendiri sudah menutup mata dari fakta-fakta yang bersifat ilmiah itu?  Melalui penelusuran keilmuan yang mereka tempuh, para ulama Muslim sudah sampai pada kesimpulan bahwa al-Quran itu adalah firman Allah. Artinya, kalau argumen mereka itu sahih secara keilmuan, maka kesimpulan tersebut adalah kesimpulan yang bersifat ilmiah. 

Ketika Anda ingin mengkaji al-Quran secara ilmiah, maka sebagai konsekuensi logisnya Anda tidak boleh mengesampingkan kesimpulan itu, lalu dengan seenaknya Anda memposisikan al-Quran sebagai teks sejarah biasa saja. Lagi-lagi ketidabolehan itu bukan karena alasan dogma, tapi karena itu diniscayakan oleh keniscayaan ilmiah itu sendiri. Karena itu, ketika saya misalnya ingin menguggugat klaim-klaim Mun’im tentang al-Quran, dengan mempertanyakan konsistensi antara klaim keilahian kitab suci itu dengan klaim-klaim dia lainnya yang ingin memposisikan al-Quran sebagai kitab sejarah biasa, pengujian itu bukanlah pengujian yang bersandar pada iman semata, tapi justru pengujian itu bersandar pada kesimpulan ilmiah. 

Kecuali kalau memang terbukti bahwa para ulama Muslim tidak punya bukti apapun tentang keialhian kitab suci itu, selain keimanan mereka saja. Ketika itu Anda boleh meminta kita untuk tidak memasukkan iman ke dalam ranah kajian ilmiah. Poin inilah sebetulnya yang sering luput dari para pengkaji Barat, atau siapapun yang mengkaji kitab suci umat Muslim dengan cara memisahkannya dari sumber utamanya, yaitu Allah Swt. Mereka mengira bahwa kalau kita memasukan klaim keilahian al-Quran itu ke dalam kajian ilmiah, maka kita dianggap telah memasukkan dogma yang tidak ada buktinya ke dalam kajian ilmiah yang berbasis pada bukti-bukti itu. 

Padahal kenyataannya tidak. Bukti-bukti yang kita miliki sangat banyak. Dan sahih tidaknya bukti-bukti itu sendiri dapat diuji secara ilmiah. Walhasil, memisahkan iman dari kajian ilmiah itu relevan ditujukan bagi butir-butir keimanan yang memang tidak punya bukti ilmiah, dan tidak berlandaskan pada argumen rasional apapun. Adapun kalau keimanan itu memiliki landasan ilmiah, berbasis pada argumen-argumen yang rasional, dan itu terbukti sahih secara keilmuan, maka sebagai keniscayaan ilmiah kita harus rela menerima itu. Kalau tidak, maka kajian yang kita lakukan tidaklah bersifat ilmiah. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda