Pola Pikir yang Cacat Di balik Ajakan Menghargai Perbedaan Pendapat

Ajakan untuk “menghargai perbedaan pendapat”, “tidak merasa paling benar”, “rendah hati terhadap perbedaan”, “menerima keragaman”, “tak ada ruang kebencian”, dan ungkapan-ungkapan sejenisnya itu merupakan ajakan positif, dan—sampai batas tertentu—penting untuk kita terapkan dalam percakapan intelektual kita. Ketika mendiskusikan masalah fikih, misalnya, tidak elok kalau Anda mengkafirkan seseorang, atau mempertanyakan keislamannya, hanya karena persoalan-persoalan partikular yang membuka keragaman ijtihad. 

Jangan sampai hanya karena perbedaan dalam menentukan penanggalan awal puasa, qunut salat subuh, hukum mengkhitan perempuan, atau gara-gara berbeda pendapat dalam soal tahlilan, Anda berani mengafirkan orang lain, sambil merasa diri Anda paling benar sendiri dengan pendapat itu. Karena bagaimana pun fikih senantiasa membuka keragaman pendapat. Dalam konteks ini relevanlah ungkapan para ulama yang menyebutkan bahwa “pandangan kita benar, tapi mungkin salah. Pandangan orang lain salah, tapi mungkin benar”. Ketika mendiskusikan persoalan-persoalan kulit, kita memang perlu memegang teguh prinsip itu. 

Tapi, di sisi yang lain kita juga perlu mengakui, bahwa percakapan dalam masalah agama tidak selamanya membuka keragaman pendapat itu. Dalam agama ada hal-hal yang bersifat fundamental dan tak bisa diganggu gugat. Harap dicacat bahwa ketidakbolehan untuk mengganggu gugat di sini bukanlah konsekuensi dari kemalasan berpikir, ketidakmauan mengkaji, ataupun tidak kritis terhadap ajaran para pendahulu kita. Kita tidak diperbolehkan untuk menggugat kembali karena apa-apa yang dinilai fundamental dan bersifat pasti itu memang sudah selesai dikaji. Kalau kita ngotot ingin memasuki itu, lalu menggugat dengan hawa nafsu kita sendiri, perumpamaan kita tidak jauh beda dengan orang yang ingin merobohkan suatu rumah, setelah rumah itu benar-benar tegak dan kokoh. 

Tentu saja, yang Anda lakukan ketika itu akan sia-sia dan membuang-buang waktu saja. Agama mengenal sisi-sisi partikular, yang membuka keragaman pendapat, tapi dia juga memuat sisi-sisi fundamental, yang melahirkan kata sepakat. Menyangkut soal-soal yang bersifat partikular, kita perlu menghargai perbedaan pendapat. Terserahlah Anda mau mengisi rumah Anda dengan barang-barang apa saja. Tapi tidak perlu membongkar fondasinya. Karena sejauh menyangkut persoalan-persoalan yang bersifat fundamental, yang dikategorikan oleh para ulama sebagai ushuluddin, atau pokok-pokok agama, para ulama sendiri tidak memperkenankan kita (umat Muslim) untuk berbeda dalam hal itu. Karena sekali saja kita berbeda, atau meragukan salah satunya, maka di situlah pertaruhan identitas keislaman kita. 

Yang cukup disayangkan ialah, ajakan-ajakan seperti di atas itu cukup sering dimainkan oleh orang-orang yang ingin secara bebas menggugat hal apa saja dalam agama, sekalipun itu menyangkut persoalan-persoalan yang fundamental. Syahadat dianggap bukan berasal dari nabi, keotentikan al-Quran dipertanyakan, hadits-hadits nabi dianggap tidak memiliki nilai sejarah, mukjizat nabi dipandang mitos, al-Quran diperlakukan seperti halnya teks buatan manusia, membenarkan agama selain Islam, dan lain-lain. Ada manusia-manusia kurang kerjaan yang mengajukan pikiran-pikiran ngelantur semacam itu. Dan agar pandangan-pandangan mereka mendapatkan tempat, maka mereka mainkanlah ajakan-ajakan seperti itu tadi. Mengajak orang untuk menghargai perbedaan pendapat. Sementara apa yang mereka gugat itu sendiri sebetulnya tidak menerima perbedaan itu.  

Tapi itulah jurus andalan mereka. Padahal, kalau telisik lebih jauh, kebenaran dari ungkapan-ungkapan itu sendiri sejujurnya tidaklah bersifat mutlak. Meminjam istilah para logikawan, ungkapan-ungkapan semacam itu hanyalah ungkapan-ungkapan retoris (‘ibarat khithabiyyah) yang berasal dari pendapat-pendapat umum, atau sumber-sumber tertentu yang dipercaya, tapi kebenarannya sendiri tidak dapat dipastikan secara mutlak dan berlaku sepanjang waktu. Kadang dia relevan dikemukakan di mimbar-mimbar pengajian, demi memberikan pencerahan kepada orang awam, misalnya. Atau ketika mendiskusikan persoalan-persoalan yang bersifat partikular. Tapi itu tidak berlaku dalam semua waktu dan keadaan. Apalagi ketika berbicara tentang hal-hal yang bersifat fundamental. 

Kalau Anda menempatkan ungkapan-ungkapan itu di luar konteksnya, maka ketika itu sikap Anda sudah tidak ilmiah. Karena ungkapan-ungkapan retoris, seperti yang ditegaskan oleh para logikawan sendiri, memang tidak berlaku secara universal. Sebagai bahan pembuktian, mari kita ambil contoh frase “menghargai perbedaan pendapat.” Kepada orang-orang yang menyuarkan ajakan semacam ini, kita berhak untuk bertanya: Apakah keharusan menghargai perbedaan pendapat itu berlaku secara mutlak? Saya yakin, mereka sendiri pada akhirnya akan berkata tidak. Karena kalau mereka memandang keharusan itu sebagai sesuatu yang mutlak, lantas bagaimana perbedaan pendapat Anda dengan kaum ekstremis, teroris, separatis, dan kelompok-kelompok serupa lainnya yang sudah terbukti merusak itu? Apakah Anda bisa menerima perbedaan pendapat dengan mereka? 

Bahkan keharusan menghargai perbedaan pendapat itu sendiri, kalau diklaim secara mutlak, maka secara sadar atau tidak itu sudah tidak menghargai perbedaan pendapat. Karena bagaimanapun di luar sana ada orang-orang yang tidak memandang adanya keharusan itu. Lalu bagaimana pendapat Anda tentang pendapat orang-orang itu? Kalau menerima, berarti keharusan itu tidak lagi bersifat mutlak, dan itu bertentangan dengan klaim utama Anda. Tapi kalau menolak, maka Anda tidak lagi menghargai perbedaan pendapat. Padahal menurut Anda kita harus menghargai perbedaan itu! Pada akhirnya terbuktilah bahwa ungkapan semacam itu tidak mungkin berlaku secara mutlak. Inilah yang kita maksud dengan ungkapan retoris itu. Ungkapan itu bisa benar dalam konteks tertentu. Tapi ketika diuji secara lebih mendalam, dia tidak bisa berlaku sepanjang waktu.

Begitu juga dengan ungkapan “tidak merasa paling benar”. Pertanyaan serupa kita ajukan kepada orang-orang yang suka memainkan frase semacam ini. Menyangkut urusan akidah, para ulama Muslim sendiri sering menjelaskan, bahwa iman itu harus disertai oleh keyakinan yang bersifat pasti (‘itiqad jazim). Kalau tidak disertai dengan keyakinan yang bersifat pasti, maka dia tidak lagi disebut sebagai iman. Silakan Anda baca buku-buku teologi Islam dari berbagai level. Dan Anda pasti akan menjumpai pernyataan itu. Bahwa iman, kalau tidak disertai dengan keyakinan yang bersifat pasti, tidak disertai dalil, dan tidak sesuai dengan kenyataan, maka dia tidak lagi disebut sebagai iman.

Dan itulah yang mengistimewakan konsep iman versi Islam dengan konsep iman menurut umat agama lain, seperti yang sudah saya singgung sebelumnya. Dan ketika ada orang-orang yang ingin meragukan sendi-sendi keimanan itu, lalu kita merasa paling benar, karena keimanan kita bersandar pada dalil-dalil yang kokoh, maka jelas, kalau merujuk pada penjelasan para ulama Muslim, itu bukan sikap yang salah. Justru merasa paling benar dalam hal-hal yang fundamental itu adalah konsekuensi logis dari keimanan Anda itu sendiri. Kalau tidak, maka Anda, menurut Islam, tidak lagi disebut sebagai mukmin. 

Kalau Anda tidak merasa keimanan Anda itu sebagai sesuatu yang benar, atau paling benar, maka apa yang Anda yakini itu belum masuk kategori iman. Di sini terlihat kembali, bahwa larangan untuk “merasa paling benar” itu tidak berlaku secara mutlak. Sekali lagi, itu relevan dikemukakan kalau kita sedang mendiskusikan persoalan-persoalan partikular dalam agama. Adapun menyangkut persoalan yang fundamental, memang agama mengharuskan kita untuk merasa paling benar. Dan, yang perlu dicatat, adanya rasa paling benar itu tidak serta merta mengharuskan kita untuk bersikap egois ketika berinteraksi dengan umat agama lain. Karena keimanan itu satu hal. Interaksi sosial itu hal yang lain lagi. Tidak perlu dicampuradukkan. 

Tapi ya itulah problem dunia persilatan kita. Di dunia persilatan Islam ini memang selalu ada orang-orang yang ingin secara bebas mempertanyakan dan menggugat segala hal dalam agama. Dan mereka memainkan ajakan-ajakan semacam itu agar pendapat-pendapat ngawur mereka itu bisa diterima oleh masyarakat. Mereka lupa, bahwa apa yang mereka gugat sendiri sejujurnya sudah selesai dibahas oleh para ulama dalam buku berjilid-jilid. Ketika menarik kata sepakat menyangkut hal-hal yang bersifat qath’i, pasti, dan tak terbantahkan itu, para ulama merumuskan “kepastian-kepastian” itu bukan dengan khayalan dan lamunan, melainkan dengan pengkajian yang mendalam dan menyajikan dalil-dalil yang berlimpah. Dan kita semua bisa membaca dalil-dalil itu dalam karya mereka.  

Lalu datanglah manusia-manusia tak tahu diri yang ingin meragukan sisi-sisi yang sudah banyak dibahas oleh para ulama itu, dengan alasan ingin memajukan pemikiran Islam. Padahal, alih-alih membawa umat maju, yang ada mereka itu cuma ngerecokin aja. Pikiran mereka itu mengganggu dan bikin orang capek. Dikatakan mengganggu, karena itu bisa membuat luntur keimanan orang-orang awam, yang tingkat keimanannya lemah. Dikatakan bikin capek karena mereka itu sebenarnya hanya meminta para ulama kita untuk mengulang-ulang saja jawaban yang sudah mereka tuliskan sejak jauh-jauh hari. Kan nggak ada gunanya. Kemajuan model apa itu? Alih-alih dikategorikan sebagai kemajuan. Yang ada justru itulah kemunduran yang sesungguhnya dalam pemikiran Islam. 

Kita layak dikatakan mundur dalam pemikiran kalau kita masih saja membahas apa-apa yang sudah selesai dikupas tuntas. Ada banyak cara sebetulnya untuk memajukan pemikiran Islam, tanpa harus mengimpor pemikiran Barat yang ingin merusak sendi-sendi keimanan kita. Para ulama dulu bisa menghasilkan karya keilmuan yang berlimpah dengan tetap berpegang teguh terhadap hal-hal yang sudah disepakati oleh orang-orang sebelum mereka. Tidak ada yang berani merevisi qur’an, membenarkan ajaran umat agama lain, meragukan keabsahan syahadat, dan pikiran-pikiran ngawur lainnya itu. Harusnya kita malu kalau kita masih saja berkutat dalam soal itu. Orang itu udah kelar dibahas. Ngapain digugat-gugat lagi? Nggak ada kerjaan. Tapi memang itulah karakter mereka. Bukan hanya cacat dalam pikiran. Tapi kecacatan itu juga mereka tampilkan ketika menyampaikan ajakan-ajakan.

Bagikan di akun sosial media anda