Dari Sinilah Polemik dengan Mun’im Bermula

Bagi Anda yang belum tahu latar belakang lahirnya dialog terbuka yang akan berlangsung hari ini, saya tertarik untuk menuturkannya kembali melalui tulisan ini. Tulisan awal saya yang mengkritik Mun’im itu tertuju pada salah satu artikelnya—dan kemudian artikel itu juga dia masukkan ke dalam buku “Islam Revisionis”, yang berjudul “Kekerasan dalam al-Quran Bukan Problem Interpretasi”. Artikel itu di-posting oleh seseorang yang rajin mengolok-olok agama. Tanpa perlu disebutkan, pasti Anda sudah tahu namanya. Secara jelas dalam artikel itu Mun’im mengklaim bahwa masalah kekerasan yang kerap dikait-kaitkan dengan kitab suci itu bukan soal interpretasi, tapi berada pada teks kitab suci itu sendiri, yang dalam hal ini adalah al-Quran.

Jadi, Mun’im mengklaim bahwa teks al-Quran itu bermasalah. Klaim yang sangat kurangajar, menurut saya. Tentu saja, klaim semacam itu hanya mungkin terlahir dari seseorang yang posisi keilmuannya ingin memperlakukan al-Quran sebagai teks sejarah biasa, yang mungkin benar dan mungkin salah. Jika posisi epistemik Mun’im memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan, maka tidak logis kalau dia harus mempersoalkan isinya. Apalagi para sarjana Muslim sudah berhasil menyediakan penjelasan berlimpah tentang ayat-ayat yang oleh sebagian orang dipandang problematis itu. Karena itulah, dalam tulisan pertama itu saya mengajukan kritik, dan menggiring dia untuk memposisikan dirinya secara tegas dalam melihat sumber kitab suci yang isinya dia persoalkan itu. 

Bagi siapapun yang pernah mempelajari epistemologi, dia pasti tahu bahwa itu adalah pertanyaan yang sah dalam dunia keilmuan. Sayangnya, Mun’im tidak bisa menjawab dengan tegas. Alih-alih menjawab, malah dia memandang bahwa saya telah menampilkan metode berpikir yang primitif. “Biarkan saja”, kata Mun’im. “Belum apa-apa sudah mempertanyakan keislaman saya. Bagi saya itu metode berpikir yang primitif!”. Dan Mun’im lupa, bahwa jantung utama dari tulisan saya tidak sedang mempersoalkan keislamannya, tapi justru ingin mengajaknya untuk menentukan posisi epistemiknya dalam melihat sumber al-Quran secara tegas. Dan itu terkait erat dengan klaim serius yang termuat di dalam tulisannya. 

Saya cuma bilang, dalam postingan yang saya share itu, bahwa Mun’im Sirry, “sepanjang yang saya tahu, tak pernah secara terus terang mengingkari keberadaan Tuhan. Dia mengakui dirinya sebagai Muslim. Tapi, sejumlah pandangannya tentang doktrin-doktrin mendasar dalam ajaran Islam, hemat saya, banyak yang bermasalah dan sulit diterima kalau itu keluar dari seseorang yang mengimani kebenaran Islam.” Saya mengatakan sulit diterima. Tak pernah ada satu barispun dalam tulisan saya yang secara jelas mengafirkan dirinya. Bahwa sejumlah pandangan-pandangannya itu mengandung benih-benih kekufuran, itu memang saya katakan. Dan kita akan lihat pembuktiannya nanti. Tapi kalau mengafirkan, atau mempertanyakan keimanan, saya sendiri sadar, bahwa itu bukan persoalan yang penting. Dan sejak awal itu tidak menjadi sasaran utama dari kritikan saya! 

Tentu saja saya sangat menyayangkan sikap semacam itu ditunjukkan oleh seorang sarjana seperti Mun’im. Kalau dia tidak terima, harusnya dia menjawab saja secara elegan, tanpa harus menuduh orang lain primitif. Lagipula, kalaupun benar saya dituduh mempertanyakan keislamannya, pertanyaan itu tidak terlahir dari pembacaan satu-dua artikel, tapi itu terlahir setelah saya mengunyah buku-bukunya dan ceramah-ceramah yang dia sampaikan. Dan nanti akan Anda lihat, bahwa pertanyaan itu terlahir dari banyak sekali alasan. Kita punya banyak bukti yang dapat mensahkan pertanyaan itu. Meksipun, sekali lagi saya tegaskan, Mun’im beriman atau tidak itu bukan sesuatu yang penting bagi saya. Itu urusan dia dengan Tuhannya. Yang ingin kita bahas adalah buah dari pemikiran liarnya. Yang ingin kita bedah bukan soal isi hati, tapi pemaparan argumentasi. 

Setelah itu dia lama tidak membalas. Mungkin, pikirnya, tulisan kaya gitu mending dibiarin aja. Cuekin aja. Nggak usah ditanggapi. Kalau berisikan puji-pujian baru ditanggapi. Beberapa simpatisan Mun’im pun mulai bermunculan untuk merendahkan dan menjatuhkan saya. Dan sampai detik ini mereka tidak berhasil dengan upaya itu. Karena itu tidak banyak memberikan pengaruh. Akhirnya, terpintaslah satu ide, bahwa kalau begitu saya harus coba memainkan diksi-diksi yang agak provokatif, supaya orang itu keluar. Ditambah saya juga merasa perlu untuk membuka mata para pengikutnya, bahwa gagasan-gagasan Mun’im itu banyak yang bermasalah, dan mereka harus tahu, bahwa gelar akademik Mun’im itu tidak mencerminkan kualitas pemikirannya sendiri. Gelar mentereng, pikiran malah merusak. Dan itu bisa kita uji bersama nanti. Itu adalah klaim yang merindukan pemaparan bukti. 

Apakah upaya itu berhasil? Tentu dong. Akhirnya Mun’im pun keluar memberikan tanggapan. Tapi, apakah tanggapan yang dia sampaikan itu menjawab persoalan mendasar yang menjadi titik utama dari kritikan saya? Jawabannya adalah tidak. Dia hanya melakukan pembelaan diri, agar tidak disebut telah merendahkan Nabi Muhammad Saw, dalam kutipan yang saya lampirkan itu. Saya pun memberikan penjelasan, bahwa Mun’im itu tidak gentle dalam mengakui pandangannya sendiri. Saya paparkan alasan saya dalam satu tulisan utuh. Bahwa itu adalah pernyataannya, yang didukung oleh ide besar bukunya sendiri. Bukan pandangan para sarjana Barat. Katakanlah dia benar dalam pembelaannya. Tapi jangan lupa, di luar sana ada klaim-klaim kurangajar Mun’im lain yang perlu mendaptkan kritik. Dan itu tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mengaku sebagai Muslim. 

Sekaligus nanti Anda akan lihat, bahwa butir-butir pemikiran Mun’im yang lain justru malah mendukung klaim yang hendak dia tepis itu. Kita lihat itu nanti. Kita paparkan itu dengan bukti-bukti dari buku-buku ceramahnya sendiri. Setelah membela diri, Mun’im pun tidak memberikan tanggapan lanjutan. Lalu, ada salah seorang anggota LSF Nahdhiyyin yang mengikuti polemik itu sejak awal. Saya tergabung di dalam group itu. Dia pun menyarankan agar diskusi bisa berlanjut. Gus Fayyadh pun turut memberikan komentar. Dan dari situlah ide untuk mengadakan dialog terbuka itu bermula. Salah seorang anggota LSF meminta saya untuk menjadi Narasumber bersama Gus Fayyadh dan satu narasumber lainnya. Disepakatilah tanggal. Lalu muncul pula kabar bahwa Mun’im pun bersedia untuk hadir di acara itu. Dan tentu saja itu yang kita tunggu-tunggu. 

Dari para teolog Muslim saya belajar, bahwa ketika kita ingin berdebat dan mendialogkan perbedaan pendapat, sebisa mungkin kita harus menyajikan pemaparan yang ilmiah dan rasional. Itu ciri khas para teolog. Selalu mengajak orang untuk berteduh di bawah payung nalar. Karena nalar adalah perekat semua manusia yang berakal sehat. Apa yang sesuai dengannya layak kita terima. Tapi apa yang bertentangan dengan dirinya sudah sepatutnya kita tolak. Dan, dalam kesempatan nanti sebisa mungkin saya ingin membuktikan, bahwa gagasan-gagasan Mun’im itu banyak yang tidak masuk akal, fallacy di sana sini, bias Orientalis, banyak yang tidak ilmiah, dan jauh dari objektivitas. Hancur sehancur-hancurnya.  

Ingat, itu adalah klaim, yang tidak boleh Anda tolak, kecuali setelah Anda menyimak pemaparannya. Dengarkan itu nanti dengan baik. Kritik yang ingin saya sampaikan murni tertuju pada gagasan-gagasan Mun’im sendiri, yang sering dia ulang-ulang dalam berbagai ceramahnya dan juga buku-bukunya. Juga, gagasan utama dari penelitian disertasinya, yang menghantarkannya menjadi seorang doktor di negeri Amerika. Sengaja kita menggugat dan mengkritik poin-poin itu, supaya dia tidak punya alasan lagi untuk mengelak, bahwa yang dia paparkan hanyalah pandangan para sarjana Barat, bukan pandangan dirinya sendiri.

Setelah menyimak semua pemaparan, kita persilakan siapapun untuk menilai, sejauh mana tesis-tesis Mun’im itu dapat dipertahakan di tengah gempuran kritik yang dia terima? Lalu apakah apa yang saya paparkan memuat pertentangan logis atau tidak? Semua itu berada dalam ruang kemungkinan. Kalau Mun’im benar, sikap kesarjanaan yang gentle mengharuskan kita untuk menerima kebenaran itu. Tapi kalau dia salah, dan kesalahannya itu serius, apalagi menyangkut hal-hal yang bersifat fundamental, mari kita kubur kesalahan itu dalam-dalam. Karena seorang sarjana yang baik tak akan pernah nyaman untuk hidup dalam kesalahan. Demikian. Selamat menyaksikan.  

Bagikan di akun sosial media anda