Penalaran yang Cacat dalam Membaca Potongan Ayat

Harapan saya kepada siapapun yang berani mengkritik Islam, apalagi sampai merevisi al-Quran, tolonglah dalami kaidah-kaidah logika dengan baik. Karena itulah sebetulnya yang dapat menentukan kokoh tidaknya kualitas argumen Anda. Berargumen itu bukan cuma soal menyajikan data dan referensi. Ataupun menampilkan nama-nama mentereng di sana sini. Sisi terpenting dari perumusan argumen itu ialah menampilkan konsistensi yang kukuh antara premis dengan konklusi. Ketika merespon, logika juga dapat menuntun Anda untuk jeli dalam membaca sebuah pernyataan, sehingga Anda tidak mudah salah paham. Mempelajari logika itu adalah keniscayaan mutlak bagi seorang sarjana. Tanpa panduan ilmu itu, pikiran Anda akan terkubur ke dalam fallacy saja.

Mun’im telah menampilkan fallacy yang cukup mengejutkan dalam diskusi tadi malam. Anda pasti tahu ayat yang mengatakan bahwa “telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwa sesungguhnya Allah itu salah satu dari yang tiga/yang ketiga dari yang tiga.” (Q. 5: 73). Ayat ini, dan ayat-ayat lainnya, saya kemukakan dalam konteks membuktikan klaim bahwa doktrin apapun yang diajukan oleh orang Kristen, baik itu trinitas maupun tritseisme, selama mereka mempertuhan Yesus—sekalipun mereka mengaku percaya pada satu Tuhan—maka al-Quran tegas menolak keyakinan itu. Dan ayat-ayatnya sudah terlampir sedemikian jelas. Selama Anda mempertuhan Yesus, keyakinan Anda ditolak oleh al-Quran. 

Jadi, klaim saya, al-Quran itu meluruskan dan ingin memberi hidayah. Dan ketika mengkritik, al-Quran itu mengkritik pandangan audiens dengan apa adanya. Tidak dilebih-lebihkan, faktual, menyeluruh, dan tepat sasaran. Tujuannya bukan memenangkan perdebatan, tapi menuntun ke jalan yang lurus. Dan kita harus membaca kritikannya secara holisitis, bukan dengan satu-dua ayat aja. Tapi, bagi Mun’im, al-Quran itu justru ingin berpolemik. Mengkritik pendapat suatu kelompok, dengan cara tidak menampilkan pandangan aslinya. Karena tujuannya hanya ingin memenangkan perdebatan saja. Padahal ungkapan itu sendiri sama saja dengan menisbatkan ketidakwajaran kepada Allah Swt. Wal’iyadzu billah. Kalau tidak percaya, coba Anda perhatikan ulang kutipan bukunya yang sudah saya tampilkan itu.

“Perlu ditambahkan, dalam kesarjanaan mutakhir, muncul pergeseran dari penjelasan yang menekankan aspek heretik sekte Kristen menuju retorika al-Quran dalam iklim polemik. Dalam kaitan itu, kritik al-Quran tidak dipahami sebagai respons terhadap sekte Kristen sempalan, melainkan sebagai pernyataan polemik al-Quran untuk memenangkan perdebatan teologis”

SAYA SENDIRI lebih cenderung pada penjelasan terakhir ini. Sebab, asumsi bahwa Arabia begitu terisolasi sehingga menjadi tempat bersemainya ajaran-ajaran (Kristen) yang sesat semakin sulit dipertahankan. Dalam kesarjanaan modern, iklim kompetisi lintas agama sebagai latar kelahiran Islam dianggap lebih fashionable. Dalam iklim semacam itu, al-Quran bukannya tidak tahu Trinitas yang dipahami kaum Kristiani, tapi tetap mengkritiknya sedemikian rupa untuk memenangkan sebuah argumentasi. Retorika polemik memang kerap melebih-lebihkan dan bahkan distortif.” (Islam Revisionis, hlm. 148)

Masih ada kutipan-kutipan lain yang bisa Anda lihat dalam pemaparan saya. Sayang, sampai detik ini dia tidak mau menjawab secara tegas gugatan-gugatan logis yang saya ajukan itu. Padahal klaim polemiknya itu benar-benar bermasalah secara serius. Bagi Mun’im, ayat itu menggunakan bahasa yang “generik”. Kata “qalu”, yang termuat dalam ayat itu, dalam khayalannya, berlaku secara umum, bukan menyebut sebagian Kristen saja (ba’dhun nashara). Artinya, melalui pembacaan ayat itu dia membayangkan bahwa al-Quran itu telah memukulrata orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang mengatakan bahwa Allah itu adalah salah satu dari yang tiga, atau yang ketiga dari yang tiga. Seolah-olah kritikan itu dialamatkan kepada semua orang Kristen. 

Dan saya heran seheran-herannya, dari mana dia mendapatkan khayalan kata “semua” itu? Dari hutan belahan mana makhluk bernama “generik” itu dia dapatkan? Atas dasar apa dia menyebut kata “qalu” itu ditujukan kepada semua orang Kristen? Dalalah-nya dari mana? Kaidah penafsiran macam apa yang sedang dia gunakan? Jelas-jelas ayat itu tidak mencantumkan kata yang menunjukkan makna “semua.” Lalu kenapa dia bisa berkhayal seliar itu? Ayat itu tidak dikemukakan dalam konteks memukulrata semua orang Kristen sebagai orang-orang yang berkeyakinan bahwa Tuhan adalah yang ketiga dari yang tiga. Tapi al-Quran mengafirkan sebagian orang-orang Kristen yang berkeyakinan seperti itu. Lalu kenapa Mun’im merasa perlu menyebutkan frase “ba’dhun nashara”, sementara ayat itu sendiri tidak memaksudkan “kullun nashara”? Penalaran yang benar-benar aneh. 

Saya ingin perjelas kecacatan berpikir itu dengan contoh yang sangat sederhana. Misalnya saya bilang, “telah culaslah para pembenci Jokowi yang berkata bahwa Jokowi adalah seorang penjahat.” Lalu ada yang bilang, “loh kamu kok memukul rata sih. Pembenci jokowi kan nggak semuanya begitu. Itu sebagian aja tau.” Pertanyaan saya, apakah dengan pernyataan itu saya ingin berkata bahwa semua pembenci jokowi itu menilai beliau sebagai penjahat, dan karena itu saya menyebut semuanya sebagai orang-orang yang culas? Loh udah jelas-jelas saya nggak bilang semua. Itu keberatan yang tidak pada tempatnya. Yang saya bilang culas itu ya para pembenci Jokowi yang menilainya sebagai penjahat, bukan semuanya. Tidak ada maksud dari ungkapan itu, bahwa saya ingin memukul rata para pembenci jokowi sebagai orang-orang yang culas. Ataupun memukulrata mereka sebagai orang-orang yang menilainya sebagai penjahat. Karena memang tidak ada kata semua di sana! 

Begitu juga dengan kritikan al-Quran. Al-Quran bilang, “telah kafirlah ornag-orang yang berkata bahwa sesungguhnya Allah adalah yang ketiga dari yang tiga/salah satu dari yang tiga”. Apakah itu artinya al-Quran ingin memukul rata semua orang Kristen sebagai orang-orang yang berkeyakinan seperti itu, lalu mengafirkan mereka semua dengan keyakinan itu? Kalau mengikuti khayalan Mun’im, jawabannya adalah iya. Makanya dia merasa perlu untuk berakrobat dengan memunculkan teori polemik itu. Padahal dari mana coba makna pemukulrataan itu dia peroleh? Kaidah penafsiran macam apa yang dia gunakan sehingga kata “qalu” yang termuat dalam ayat itu menyasar semua orang Kristen? Logika saja tidak menangkap kata “semua” itu. Yang dikafirkan dalam ayat itu adalah orang-orang Kristen yang punya keyakinan seperti itu, bukan semua orang Kristen, profesor Mun’im.  

Dan saya sudah sampaikan dalam pemaparan, bahwa kalaupun orang Kristen tidak menerima kritikan yang dikemukakan oleh ayat ini, mereka itu masih dikritik oleh ayat al-Quran yang lain, yang menolak ketuhanan Yesus. Jadi jangan dikira bahwa al-Quran tidak mengkritik trinitas yang dipahami oleh orang-orang Kristen. Boleh saja mereka mengaku percaya kepada satu Tuhan. Tapi, selama menuhankan Yesus, al-Quran tegas menolak keyakinan itu. Lalu atas dasar apa kita perlu memunculkan teori polemik segala, kalau ajaran Kristen itu sudah dikritik sebagaimana adanya? 

Bagi Mun’im, orang Kristen itu meyakini satu Tuhan. Dan karena itu, kalau ada ayat al-Quran yang menampilkan orang Kristen meyakini tiga Tuhan, seperti ayat di atas, maka ayat itu akan dia pandang sebagai ayat polemik. Maksudnya apa ayat polemik? Ayat yang mengkritik pandangan suatu kelompok, dengan cara tidak menampilkan pandangan kelompok itu apa adanya, dengan bahasa yang dilebih-lebihkan. Karena tujuannya hanya ingin memenangkan perdebatan saja. Sungguh betapa culasnya perbuatan itu. Dan itulah yang ingin ia nisbatkan kepada al-Quran. Maha suci Allah dari penisbatan-penisbatan yang tidak layak pada kesempurnaan firman-Nya.  

Mun’im saja kalau saya perlakukan demikian sudah pasti marah. Karena memang itu tindakan yang zalim, tidak jujur dan kurangajar. Kalau kita tahu bahwa orang lain berpandangan A, maka harus kita katakan A. Tidak boleh kita menampilkannya sebagai orang yang berpandangan B, padahal kita tahu bahwa dia itu berpandangan A, hanya karena ingin memenangkan perdebatan semata. Itu perbuatan yang culas, tidak terdidik, dan kurangajar. Dan itulah yang Mun’im ingin lekatkan kepada kitab suci umat Muslim itu. Dan itu juga yang menjadi titik keberatan saya. Mun’im boleh saja mengelak dari tuduhan itu. Tapi itulah konskuensi logis dari pandangan kesarjanaannya. 

Coba kita lihat bagaimana Mun’im menjawab? Kritiknya kemana, jawabannya kemana. Sudah begitu terjebak fallacy pula. Inilah yang sejujurnya kadang saya sayangkan dalam panggung dunia akademik modern. Sok kritis tapi tidak punya basis cara berpikir yang logis. Tidak masalah deh kita membisingkan dunia intelektual dengan ide-ide baru yang kritis, selama itu tidak menyangkut hal-hal yang bersifat fundamental. Tapi tolong sampaikan ide-ide kritis itu dalam bangunan argumen yang benar-benar masuk akal. Kalau tidak, maka itulah yang akan terjadi. Anda akan dipermalukan oleh pandangan-pandangan Anda sendiri. 

Mau mengkritik al-Quran, pahami kaidah penafsiran dengan baik. Mau mengkritik hadits, Anda harus paham ilmu hadits. Mau mengajukan klaim-klaim besar, bangunan argumen Anda harus benar-benar kokoh. Kalau tidak, resiko terburuknya adalah tercorengnya wajah kesarjanaan Anda sendiri. Dalam tulisan selanjutnya akan kita buktikan, bahwa Mun’im telah memberikan jawaban yang kurang teliti dalam menanggapi gugatan yang diajukan kepada dirinya itu. Saya mengkritik ke sini, jawaban dia malah nyangkut di atas pohon. Bagaimana itu bisa terjadi? Simak jawabannya dalam tulisan mendatang. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda