Masalah Mun’im dalam Beberapa Tanggapan Baliknya

Sejujurnya saya tidak begitu puas dengan “pertempuran” tempo hari. Entah Mun’im Sirry menelan ketidakpuasan yang sama atau tidak. Berbagai kritik dan ide sudah menggelayut di atas kepala berhari-hari. Tapi karena keterbatasan waktu saya pun harus rela menyajikan uraian yang, dalam perasaan saya, cukup begitu singkat. Klaim saya yang menyebut bahwa butir-butir pemikiran Mun’im sarat dengan fallacy belum terkuak seutuhnya. Bahkan separuhnya pun tidak. Tapi, menariknya, ketika menyimak jawaban-jawaban Mun’im, saya mendapatkan daftar kecacatan berpikir yang baru lagi. 

Satu di antaranya sudah saya paparkan dalam tulisan yang lalu. Untuk yang satu ini mungkin lebih tepatnya kita sebut sebagai kekurangtepatan dalam memberikan tanggapan. Atau ketidaktelitian dalam merespon gugatan lawan. Kritik saya terarah ke bagian tertentu, tapi Mun’im tidak secara presisi mengarahkan perhatian pada bagian itu. Padahal, sebagai seorang sarjana yang baik, Mun’im perlu melatih kejelian dalam melihat pendapat lawan bicaranya, inti gugatannya, dan apa jawaban yang relevan untuk menanggapinya. 

Dan terus terang saya tidak melihat itu. Para simpatisan Mun’im kebanyakan hanya mempersoalkan gaya penyampaian saya saja, yang sejujurnya secara sengaja saya setting agak sedikit garang, agar percakapan terasa panas dan serius. Dan gaya penyampaian bukanlah poin yang subtansial untuk dikritik di dalam sebuah diskusi. Karena yang terpenting di atas semuanya tetaplah paparan argumentasi. Sekarang mari kita lihat di mana saja ketidakakuratan Mun’im dalam menjawab gugatan-gugatan saya itu. 

Kalau Anda perhatikan dengan seksama, ada banyak sekali pertanyaan-pertanyaan fundamental yang saya ajukan, dan tidak dijawab secara memuaskan oleh Mun’im. Padahal pertanyaan-pertanyaan itu sengaja saya buat untuk merontokkan satu persatu gagasan revisionismenya. Sayang, simpatisan Mun’im sendiri tak begitu jeli dalam membaca ke mana arah pertanyaan itu akan berlari. Apa yang ingin dia hajar. Dan apa yang ingin dia tumbangkan. Dan Mun’im memang tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mendasar itu. Lagi-lagi dia berupaya untuk memposisikan lawan bicaranya sebagai sosok yang kurang teliti saja dalam membaca pandangan-pandangannya. Tapi apakah benar demikian? Mari kita simak satu persatu, teman-teman.

Tentang Kesejajaran Islam dengan Agama Lain

Dalam pemaparan awalnya Mun’im menuduh saya telah melakukan lompatan kesimpulan yang terlalu jauh. Memang di awal pemaparan saya sempat menyampaikan bahwa gagasan revisionis Mun’im ini berniat untuk merevisi, menggugat dan mempersoalkan ulang doktrin-doktrin yang sudah mapan dalam agama (baca: Islam). Lalu saya katakan juga di sana bahwa Mun’im itu ingin memperlakukan Islam secara sejajar dengan agama-agama yang lain. Sejajar dalam hal apa? Ingat ini baik-baik. Sejajar dalam kelayakannya sebagai agama yang sejarah dan doktrin-doktrinnya bisa digugat, dikritik disalahkan, dan dipertanyakan ulang. Yang ini bisa salah, itu bisa salah. Yang ini bisa dipersoalkan, Islam juga bukan pengecualian. Itulah “kesejajaran” yang saya maksud. Dan memang itulah upaya yang dilakukan Mun’im selama ini. 

Tapi tampak terlihat dari tanggapannya bahwa Mun’im ingin menampilkan kesejajaran yang saya maksud itu dalam bayangan berbeda. Dia kira saya telah menuduhnya sebagai orang yang ingin menyejajarkan Islam dengan agama lain dari sudut ajaran-ajarannya. Mungkin begitulah bayangan liarnya bermain. Tentu saja itu adalah bayangan bodoh yang sudah saya hindari sejak awal. Kalau saya mengatakan Mun’im ingin menyejajarkan Islam dengan agama lain—dengan pemaknaan seperti yang tadi saya sebut itu—memang itu terinspirasi dari perkataan Mun’im sendiri. Mun’im itu sering bilang, bahwa Islam is not an exception. Islam itu bukan pengecualian. Kalau tidak mengecualikan, berarti menyejajarkan. 

Dan buku-buku Mun’im memang secara tegas dan jelas ingin memposisikan Islam sebagai agama yang sejajar dengan agama lain, dalam konteks keabsahannya untuk digugat dan disikapi secara kritis, sekalipun itu menyangkut hal-hal yang fundamental. Dia telah melakukan itu. Dan saya ingin menolaknya. Karena Islam, seperti yang sudah saya paparkan, berbasis pada bangunan keilmuan yang kokoh dengan limpahan argumen yang kaya, sehingga siapapun yang berani menggugat, maka sebagai konsekuensinya mau tidak mau dia harus rela terpental ke dalam jurang. Itulah kesejajaran yang saya maksud. Lalu di mana lompatan yang Mun’im tuduhkan kepada saya itu? Saya tidak paham. Di sinilah pentingnya ketelitian dalam memberikan tanggapan. 

Menolak untuk Disebut Mengkritik Islam

Keanehan lainnya, Mun’im menolak untuk disebut sebagai orang yang telah mengkritik Islam itu sendiri. Baginya, revisionisme yang dia kembangkan itu bertujuan untuk melihat sejarah Islam secara kritis. Meskipun dia sendiri tidak punya metode yang jelas dalam mengemas sikap kritis itu. Intinya dia ingin bilang, bahwa proyek pemikiran yang diusungnya itu bertujuan untuk melihat sejarah Islam secara kritis, tapi bukan mengkritik Islam itu sendiri. Saya cukup kecewa dengan jawaban ini. Karena pada faktanya Mun’im sudah banyak mengkritik hal-hal mendasar dari ajaran Islam. Bagi umat Muslim, misalnya, al-Quran itu diyakini terjaga secara otentik. Dan keotentikan al-Quran sangat bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sayang, keterbatasan waktu tidak memberi kita peluang untuk membuktikan keilmiahan klaim itu. 

Mirisnya, di berbagai halaman bukunya, dan juga ceramah-ceramahnya, Mun’im kerap menggugat, atau paling tidak meragukan, keotentikan itu. Beberapa riwayat yang sering jadi “mainan” Mun’im sangat mudah sekali untuk kita patahkan. Karena itu cuma riwayat-riwayat ahad, yang secara epistemologis tak akan mampu merobohkan riwayat-riwayat mutawatir.  Dan saya yakin Mun’im tak paham dengan aturan main yang berlaku dalam menyeleksi riwayat-riwayat itu. Masalah terbesarnya kemudian Mun’im berani merevisi isi kitab suci itu sendiri! Itu apa namanya kalau bukan mengkritik Islam? Mun’im jangan lupa dengan klaim besarnya yang lain, bahwa syahadat yang kita lafalkan sebagai kredo ajaran Islam itu, menurutnya, bukan berasal dari nabi. Karena kita, dalam khayalan Mun’im, tidak memiliki bukti historisnya. Pertanyaan saya, kalau ada orang meragukan keabsahan kredo ajaran suatu agama, bukankah ketika itu dia sedang mengkritik agama itu sendiri? 

Hadits Nabi dipandang tidak memiliki muatan historis. Kalau kita mengikuti logika Mun’im, apa yang disampaikan oleh nabi menyangkut berita masa lampau itu bukan bagian dari sejarah. Tidak benar-benar terjadi secara faktual. Lalu apa? Konsekuensinya dia akan menyebut itu sebagai dongeng saja. Kisah-kisah al-Quran juga tidak dia pandang sebagai sebuah fakta historis. Mukjizat-mukjizat nabi dia anggap sebagai mitos. Al-Quran dibilang berpolemik, berdialog dengan kitab suci agama lain, tidak mengajarkan toleransi yang sejati, ayat-ayatnya kontradiktif, dan lain-lain. Sumber-sumber Muslim dia ragukan, dengan tiga jurun andalannya itu. Itu apa namanya kalau bukan mengkritik Islam? Harapan saya, kalau mau mengkritik, tunjukkan sikap yang tegas dan gentle sekalian. Jangan ngeles dan membela diri. Kalau nggak berani, lebih baik bersembunyilah di balik selimut. 

Soal Menafikan Sumber-sumber Muslim

Dalam sesi pemaparan saya katakan, bahwa Mun’im selama ini cenderung skeptis terhadap sumber-sumber Islam, dengan tiga jurus andalannya yang sering dia kemukakan. Salah satu jurus andalannya ialah, tidak adanya sumber yang sezaman dengan kejadian yang direkam. Sumber-sumber Muslim itu, kata Mun’im, tidak lolos kritik sejarah. Karena tidak adanya sumber yang sezaman. Dan kalau bicara sumber, Mun’im membatasi sumber sejarah itu pada sumber-sumber tertulis dan yang bersifat fisikal semata. Lalu saya bantah, loh pembatasan Anda itu nggak masuk akal, Mun’im. Sumber-sumber periwayatan lisan juga sah untuk menjadi sumber historis. Dan itu banyak yang sezaman dengan kehidupan Nabi Muhammad Saw. 

Apakah dia sudi mengakui itu? Tidak. Dia malah memposisikan saya telah menampilkan dirinya sebagai orang yang menafikan sama sekali sumber-sumber Muslim itu. Padahal bukan itu maksud saya. Maksud saya, dia itu kan selama ini nggak mengakui nilai historis dari riwayat-riwayat, sementara para sejarawan sendiri, seperti yang sudah paparkan, mengakui keabsahan riwayat itu. Karena bagaimanapun riwayat itu memuat informasi historis, yang sama-sama sah dijadikan sumber, selama ada metode keilmuan yang jelas untuk memverifikasinya. Dia mau menerima itu atau tidak? Kalau dia mau menerima, maka terpentallah sudah salah satu jurus andalannya. Karena sumber sejarah yang sezaman dengan masa kenabian itu jelas banyak. Sayangnya dia tidak menjawab. Dan itulah Mun’im. Tidak akan mau menjawab pertanyaan, yang jawabannya bisa mementalkan gagasan utamanya sendiri. 

Lalu apakah dia menolak sumber-sumber Muslim yang menurutnya tidak lolos dari kritik sejarah modern itu? Faktanya tidak. Dia anggap sumber-sumber itu tidak lolos kritik sejarah. Tapi dia sendiri suka merujuk sumber-sumber itu untuk meneguhkan beberapa klaimnya! Tanpa metode keilmuan yang jelas pula. Memang aneh. Tapi kalau nggak aneh namanya bukan Mun’im. Dalam tanggapannya Mun’im menyampaikan bahwa dia tidak bermaksud untuk menafikan sumber-sumber Muslim secara keseluruhan. Dia hanya ingin memperlakukan sumber-sumber itu secara kritis, katanya. Tidak diterima apa adanya. Masalahnya adalah, sebelum profesor Mun’im mengajukan sikap kritis terhadap sumber-sumber yang berlimpah itu, ulama-ulama kita justru sudah lebih dulu memunculkan sikap kritis itu! Informasi-infromasi palsu dan lemah itu bahkan dijejerkan dalam karangan-karangan tersendiri. Itu apa namanya kalau bukan kritis? 

Jangan bayangkan ulama kita itu sebagai sosok-sosok yang bloon, polos dan dungu. Lalu menerima riwayat apa saja yang dapat memenuhi kepentingan mazhab dan agamanya. Metode kritik sejarah itu sudah dikembangkan sejak lama. Para ahli hadits itu punya metode penyeleksian riwayat yang benar-benar ketat untuk menjaga keotentikan sabda-sabda nabi. Ilmu mushthalah hadits dan jarh wa ta’dil itu bukan bukan ilmu yang sepele dan kecil. Masalahnya Mun’im tidak tegas dalam menjawab pertanyaan yang saya ajukan itu. Mengapa selama ini dia selalu membatasi keabsahan sumber tertulis yang bersifat fisikal lalu mengabaikan keabsahan sumber lisan yang begitu kaya dalam khazanah tradisi Islam? 

Dia punya alasan apa? Mun’im memandang riwayat-riwayat itu memuat nilai historis atau tidak? Faktanya di buku Islam Revisionis dia mengatakan tidak! Dia tidak percaya bahwa riwayat itu bisa menyampaikan kita pada kebenaran historis. Padahal nalar yang sehat mengatakan bisa. Karena bagaimanapun riwayat-riwayat lisan tetap memuat informasi sejarah. Dan para ulama Muslim sudah mengembangkan satu disiplin keilmuan khusus untuk memverifikasinya. Salah satu buku bagus yang bisa Anda baca dalam persoalan ini ialah buku yang ditulis oleh Prof. Yusri Salamah, yang berjudul Mashadir as-Sirah an-Nabawiyyah. Itu buku yang benar-benar bisa merontokkan gagasan Mun’im dan kawan-kawannya terkait sejarah kehidupan nabi. Silakan Anda baca. 

Bahwa kita perlu memerlakukan sumber-sumber sejarah secara kritis, iya. Tapi pertanyaan yang harus Mun’im jawab ialah, metode keilmuan macam apa yang bisa Anda tawarkan untuk mengaktualisasikan sikap kritis itu, profesor Mun’im? Tidak ada. Yang ada dia hanya memainkan nalar liarnya saja. Apa yang menurutnya cocok dia ambil. Yang menurutnya tidak, dia tolak. Begitu saja. Sampai detik ini Mun’im dan barisan kaum revisionis tidak punya metode yang mapan, kokoh dan jelas dalam menyeleksi keabsahan sumber-sumber Muslim itu, sementara mereka nggak bisa mengabaikan sumber-sumber itu sama sekali. Padahal, kalau mereka-mereka itu tidak mengalami gangguan nalar, tinggal gunakan saja metode kritik sejarah versi ulama Muslim yang sudah mapan. Toh itu juga sama-sama kritis! 

Lihat perjuangan para ulama kita. Dengan metode keilmuan yang mereka kembangkan, mereka bisa menampilkan narasi sejarah Islam dengan lengkap. Baik itu sejarah nabinya, kitab sucinya, bahkan sejarah para tokoh-tokoh besar yang melanjutkan perjuangan misi nabinya sendiri. Lalu Mun’im bisa menawarkan metode apa? Sekali lagi saya tanya, Mun’im bisa menawarkan metode apa untuk mengaktualisasikan sikap kritis yang dia dengungkan itu? Paham ilmu hadits saja tidak. Lalu bagaimana mungkin Anda bisa bersikap kritis terhadap sumber-sumber, yang metode penyeleksiannya sendiri tidak Anda kuasai dengan baik? Absennya tawaran metodologi yang jelas itu pada akhirnya hanya menempatkan sikap kritis Mun’im dalam dunia khayalan semata. Gampang diucap. Tapi prakteknya sarat dengan kecacatan. 

Tentang Polemik al-Quran dan Tuduhan Gagal Paham

Ulasan tentang hal ini sudah saya paparkan dalam respon tulisan saya yang sebelumnya. Pertanyaan utama saya dalam konteks menggugat klaim Mun’im yang menyebut al-Quran berpolemik sebetulnya gampang saja. Saya cuma bertanya, siapa sesungguhnya sosok yang dia maksud berpolemik dengan al-Quran itu? Al-Quran tak mungkin berpolemik dengan dirinya sendiri. Pertanyaan inilah yang sejujurnya, sampai detik ini, tidak dijawab secara tegas oleh Mun’im. Bagaimana pandangan ilmiah dia tentang sumber al-Quran? Lalu bagaimana dia bisa mengkonsistensikan antara jawaban dari pertanyaan itu dengan klaim-klaimnya yang lain yang tampak ingin memposisikan al-Quran sebagai kitab sejarah biasa, dan bukti-buktinya sudah saya paparkan? Tentu saja saya paham kenapa Mun’im selalu menghindar dari pertanyaan itu. Karena itu bisa merontohkan banyak sekali dari klaim-klaimnya sendiri.

Menyebut al-Quran berpolemik, seperti yang sudah saya paparkan, itu dapat berkonsekuensi pada kecacatan teologis yang benar-benar fatal, bahkan bisa berujung dengan kekufuran. Karena ketika itu Anda akan menisbatakan kekurangan kepada dzat yang Maha Mulia, Allah Swt. Bukti-bukti yang dapat menepis klaim polemik itu sudah saya paparkan. Mun’im harusnya menjawab dan membantah bukti-bukti itu. Lalu kita uji bersama, apakah klaim al-Quran berpolemik itu masih bisa dipertahankan atau tidak? Begitulah seharusnya seorang sarjana yang jeli ketika menjawab. Mun’im tidak melakukan itu. Dia hanya membenarkan pandangannya saja. 

Ya, dia bermaksud untuk menggambarkan trinitas seperti yang dipahami oleh orang Kristen. Tapi, sayangnya dia tidak bisa membedakan antara pengakuan atas suatu keyakinan dengan fakta dari keyakinan itu sendiri. Orang Kristen mengaku percaya pada satu Tuhan. Tapi pada faktanya konsekuensi logis dari keyakinan mereka berakhir pada tiga tuhan. Dan itulah yang dikritik oleh al-Quran. Dengan demikian, al-Quran tidak salah. Karena yang dikritik ialah bangunan keyakinan aslinya, bukan pengakuannya. Dia juga lupa, bahwa al-Quran mengkritik Kristen itu dalam banyak ayat. Semuanya kena. Sekalipun orang Kristen itu mengaku beriman pada satu Tuhan, kalaupun ayat yang digambarkan mengkritik tiga tuhan itu tidak diterima, maka al-Quran bisa mengkritik keyakinan mereka melalui ayat yang lain. Dan karena itu tidak perlu diajukan teori polemik yang tidak jelas sandaran kaidahnya itu. Kenapa Mun’im selalu menghindar dari pertanyaan itu? Mungkin sekarang Anda sudah tahu jawabannya. 

Melakukan Pendekatan Teologi untuk Menggugat Penelitian Sejarah

Poin terakhir ini cukup banyak saya jumpai dari para simpatisannya. Mereka memposisikan saya sebagai orang yang sudah salah alamat dan kurang tepat dalam mengajukan kritik. Nggak bakal nyambung, kata mereka. Mun’im mengajukan kritik sejarah, sementara saya bicara teologi. Mereka nggak paham duduk persoalannya bermula dari mana. Sejak awal saya sudah tegaskan, bahwa yang akan saya gugat memang bukan klaim-klaim historis, melainkan klaim-klaim teologis Mun’im yang bermasalah di dalam bukunya. Dan memang dari situlah keberatan saya terhadap Mun’im bermula. Di bagian awal memang saya menyinggung sejenak soal sejarah. Poin penting yang ingin saya katakan di sana ialah, pendekatan Mun’im dalam melihat sejarah itu bias. Hanya membatasi sumber sejarah pada sumber tertulis saja. Tanpa ada alasan yang jelas, kuat dan masuk akal. 

Padahal, sekali lagi saya tegaskan, baik lisan maupun tulisan itu sama-sama memuat informasi yang sah untuk dijadikan rujukan. Kalau bicara potensi mengalami distorsi, keduanya sama-sama memungkinkan hal itu. Siapa yang bisa menjamin kalau sumber tertulis itu tidak ditulis oleh seorang dukun, pembohong, pencuri, penjahat, penjilat penguasa, punya kepentingan, pelupa, dan lain-lain? Apalagi kalau tidak diketahui siapa penulisnya? Pada akhirnya celah untuk meragukan itu akan selalu ada. Sama saja dengan sumber-sumber periwayatan lisan. Bahkan periwayatan lisan adakalanya bisa lebih dipercaya ketimbang tulisan. Saya beri contoh singkat. Satu sumber tertulis bilang bahwa korban peristiwa penembakan di kota Malang berjumlah 5 orang. Tapi sumber lisan dari 25 orang menyebutkan, bahwa korban itu berjumlah 6 orang. Kira-kira mana yang akan Anda percaya? Jelas, secara epistemologis, informasi orang banyak jauh lebih bisa kita percaya ketimbang tulisan semata. Apalagi kalau penulisnya belum jelas. 

Tradisi periwayatan lisan itu bisa berkembang secara kuat dalam sejarah Islam karena orang-orang Arab dulu banyak mengandalkan sisi hafalan. Itu yang perlu kita tahu. Sampai sekarang orang Arab memang dikenal kuat hafalannya. Justru, kalau suatu informasi itu berasal dari tulisan semata, tanpa jelas asal usulnya, mereka akan memandang itu sebagai aib, dan menjadikannya sebagai salah satu kelemahan informasi itu sendiri. Jadi kita perlu paham lanskap kehidupan generasi Islam di masa lampau itu seperti apa. Mengkaji sejarah itu perlu menggunakan nalar yang objektif, bukan nalar catat yang mengalami gangguan serius. Itu poin yang ingin saya tegaskan. Kalau Anda lebih mempercayai sumber tertulis ketimbang sumber lisan, apa alasan penguatnya? Dan alasan penguat itu harus benar-benar jelas. 

Para ulama Muslim punya metode yang ketat dalam menyeleksi riwayat-riwayat itu, dengan metode keilmuan yang tidak ada dalam agama manapun Tidak ada umat agama manapun di dunia ini yang mampu menarasikan sejarah agamanya melalui sanad dari nabinya, lalu berlanjut kepada para sahabatnya, diteruskan oleh generasi setelahnya, dan sampailah kepada generasi sekarang. Termasuk sanad periwayatan kitab sucinya sendiri. Kita harus jujur mengakui itu. Dan semua itu tertulis dalam buku berjilid-jilid. Metode kritiknya sudah ada. Lalu apa lagi yang kita perlukan? Tugas kita tinggal mengembangkan metode yang sudah ada saja. Bukan malah membabat dari akarnya. 

Tapi mungkin itulah yang membuat orang-orang Barat iri. Karena sanad itu, seperti kata para ulama, merupakan kekhususan yang Allah berikan hanya untuk umat Nabi Muhammad Saw. Boleh jadi Mun’im terpengaruh oleh rasa iri itu. Dan karena itu dia begitu semangat mengkritik sejarah Islam. Sekalipun kritikannya itu bias dan jauh dari kata objektif. Bias, tidak objektif, sarat dengan kecacatan berpikir, dan juga tidak punya metodologi yang jelas. Apa yang bisa kita apresiasi dari gagasan semacam itu? 

Saya tidak melakukan pendekatan teologis dalam menggugat hasil penelitian sejarah. Karena itu adalah sebuah kedunguan tak terampuni yang sudah sepatutnya saya hindari. Yang saya lakukan itu pendekatan logis. Dan logika sah memasuki ruang ujian terkait klaim-klaim Mun’im yang masih dipertanyakan kebenarannya itu. Sayangnya para simpatisan Mun’im itu memang tidak bisa bicara dengan logika. Tak jauh beda dengan idola mereka, yang kurang cermat dalam menanggapi gugatan lawan bicaranya. Saya harap Mun’im bisa belajar lebih cermat lagi. Dan begitu juga dengan para simpatisannya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda