Merevisi Nalar Mun’im Sirry dalam Memahami Polemik Kitab Suci

Risalah disertasi Mun’im yang dituangkan ke dalam buku Polemik Kitab Suci sampai pada kesimpulan yang cukup serius. Bahwa kritik al-Quran terhadap keyakinan umat Kristen itu adalah kritik yang bersifat polemis. Mengapa dia berakhir pada kesimpulan itu? Pertama, di dalam kubangan nalarnya terendap satu asumsi yang sudah keliru. Bahwa apa yang dikritik al-Quran itu berbeda dengan apa yang diyakini oleh orang-orang Kristen. Kedua, dia juga sudah punya asumsi yang keliru tentang bagaimana al-Quran memahami trinitas. Menurutnya, trinitas versi al-Quran itu terdiri dari Allah, Yesus (Isa), dan bunda Maryam. Sementara mayoritas orang Kristen merumuskan trinitas dengan tiga hipostasis yang terdiri dari Bapak, Anak dan Roh kudus.

Ayat favorit yang sering dia jadikan sebagai rujukan dalam hal ini ialah Q. 5: 116. Ini ayat yang cukup sering dia ulang-ulang untuk meneguhkan pandangannya itu. Dalam satu kesempatan lain, saya pernah menyimak salah seorang profesor studi Islam di salah satu kampus Islam terkemuka di Indonesia, yang dengan begitu tegasnya mengatakan bahwa trinitas yang dirumuskan oleh al-Quran itu berbeda dengan trinitas orang Kristen! Sambil mengangkat jari telunjuknya dia bilang, “ingat, orang Kristen itu tuhannya satu. Bukan tiga. Trinitas qur’an itu bla bla bla.” Satu fakta yang barangkali cukup untuk dijadikan bukti, bahwa kekeliruan dalam memahami ayat itu tampaknya sudah mulai meluas di kalangan para pengkaji tanah air. 

Beberapa sarjana modern, seperti dicatat oleh Mun’im sendiri dalam buku Islam Revisionis, memang ada yang berkesimpulan bahwa al-Quran telah salah dalam memahami teologi Kristen. Lalu, Mun’im pun merasa perlu untuk meluruskan pandangan yang kurangajar itu. Tapi, mirisnya, dia terjatuh pada kesimpulan yang tidak kalah berengsek. Yaitu menyebut kritik al-Quran sebagai kritik yang bersifat polemis. Polemik dalam pemaknaan Mun’im ialah mengkritik pendapat lawan bicara, dengan tidak menampilkan pendapat itu sebagaimana mestinya, dengan tujuan hanya ingin memenangkan perdebatan saja. 

Anda bisa baca keterangan itu dalam berbagai halaman buku dan ceramahnya. Jadi, kata Mun’im, al-Quran itu tahu bahwa Kristen mengimani satu Tuhan. Tapi, mereka digambarkan menyembah tiga Tuhan, dengan tujuan ingin berpolemik dan memenangkan perdebatan dengan mereka. Astaghfirullah. Maha suci Allah dari sifat semacam ini. Sudah berkali-kali saya mengatakan, dalam berbagai artikel yang saya tulis, bahwa polemik dengan pemaknaan seperti itu adalah tindakan yang tidak terpuji. Itu adalah tindakan culas dan kurangajar, yang tidak layak kita nisbatkan pada kesempurnaan firman Allah Swt. 

Mun’im bisa berakhir pada kesimpulan itu, karena sejak awal dia sudah memposisikan al-Quran tidak sebagai firman Tuhan. Dan ingin mengkaji al-Quran dengan melepaskan kitab suci itu dari sumber aslinya. Kalau dia memposisikan al-Quran sebagai firman Tuhan—dan klaim keilahian al-Quran itu sendiri berbasis pada limpahan argumen yang rasional—tidak mungkin dia berakhir pada kesimpulan yang kurang beradab itu. Secara epistemologis, kajian semacam itu bukanlah kajian ilmiah. Karena kajian yang ilmiah mengharuskan seorang pengkaji untuk mengaitkan suatu teks dengan sumber aslinya. Apalagi kalau bukti-buktinya ada.  

Dan kalau saja dia mau bersikap objektif, niscaya dia akan menyimak pemaparan para sarjana Muslim yang sudah berhasil dalam membuktikan keilahian al-Quran itu. Lalu mengakui kebenarannya, kalaulah kesimpulan mereka itu memang terbukti benar. Dalam dunia keseharian kita saja, tidak dibenarkan kita mengkritik seseorang dengan cara mendistorsi pandangan aslinya. Anda, misalnya, berpandangan A. Dan saya tahu bahwa Anda berpandangan A. Tapi, agar saya bisa mengalahkan Anda dalam berdebat, saya tampilkan Anda sebagai orang yang punya pandangan B. Padahal saya tahu bahwa Anda itu berpandangan A. 

Ini hanya akan dilakukan oleh orang-orang yang bernalar culas dan tidak punya niatan yang jujur dalam berdebat. Dan sungguh maha suci Allah dari penisbatan sifat yang kurang layak semacam itu. Kata “polemik” dalam pemaknaan Mun’im itu mengandung unsur distorsi dan upaya melebih-lebihkan, karena tujuannya hanya ingin memenangkan perdebatan saja. Tak ada Muslim yang berhati lurus, dan berkeimanan secara mantap, yang bisa menerima kesimpulan keji semacam itu. Tuhan yang Maha sempurna tak layak menyandang sifat itu, kecuali di mata orang-orang yang iman dan nalarnya sudah mengalami gangguan fatal. 

Lalu bagaimana kita mengatasi ayat-ayat yang sering dimainkan oleh Mun’im dan manusia-manusia yang satu baris dengannya itu? Apakah benar kritik yang ditampilkan oleh al-Quran berbeda dengan apa yang diimani oleh umat Kristen? Apakah benar trinitas versi al-Quran itu hanya terbatas pada uraian Q. 5: 116 saja, sehingga dengan begitu dia tidak menyasar ajaran mainstream Kristen, yang mengkonsepsikan trinitas secara berbeda? Dan apakah klaim al-Quran berpolemik itu masih bisa kita pertahankan? 

Jika Anda tertarik untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, Anda bisa bergabung di dalam acara ini. Insya Allah saya akan mengupas secara tuntas di mana saja titik error dari cara berpikir Mun’im dan orang-orang yang satu aliran dengannya itu, melalui perspektif keilmuan yang saya tekuni. Pak Ali, sebagai seorang Kristolog Indonesia yang cukup disegani saat ini, akan memperkaya ulasan dari perspektif berbeda, berdasar bidang keilmuan yang beliau tekuni juga. Jam tayang yang terlampir adalah jam tayang waktu Indonesia. Silakan disesuaikan dengan waktu negara masing-masing. 

Klaim utama yang ingin saya ajukan di sini ialah, kritik al-Quran itu sudah benar, tepat, akurat, faktual dan menyeluruh. Kritik yang disampaikan oleh al-Quran mampu menyasar ajaran Kristen dalam berbagai spektrumnya yang luas, bukan hanya sekte sempalan saja. Kita akan buktikan itu nanti di sini. Dan kalau itu terbukti benar, maka terjungkallah sudah klaim Mun’im yang menyebut kritik al-Quran bersifat polemis itu. Juga, kita akan buktikan di dalam forum ini, bahwa Q. 5: 116 itu tidak dikemukakan dalam konteks membatasi konsepsi trinitas dalam pandangan al-Quran.

Dan kalau klaim itu terbukti benar juga, dan penjelasannya bisa diterima secara logis, maka hancurlah sudah klaim Mun’im, dan sarjana-sarjana yang satu aliran dengannya, yang sering menyebut bahwa trinitas versi al-Quran itu berbeda dengan trinitas yang diyakini oleh umat Kristen. Mungkin pak Ali akan mengulas dari perspektif yang berbeda. Titik tekan dari uraian saya akan terfokus pada pembuktian dua klaim itu tadi, seraya meyakinkan para audiens bahwa penjelasan yang akan kita tawarkan ini jauh lebih masuk akal ketimbang penjelasan Mun’im yang tidak jelas sandaran kaidahnya itu. 

Nalar Mun’im sudah saatnya mendapatkan revisi. Gelar kesarjanan yang ditampuknya sudah meracuni banyak orang. Buku-bukunya sudah tersebar luas. Tapi mirisnya masih ada saja orang yang mau mengamini pemaparannya. Sebenarnya ini bukan hanya tentang Mun’im. Tapi perevisian nalar ini juga kita tujukan kepada para sarjana yang beraliran serupa. Mereka ingin memahami al-Quran dengan hawa nafsu mereka sendiri, sekalipun itu bertentangan dengan akal sehat. Bukan dengan kaidah-kaidah penafsiran yang sudah dirumuskan oleh para ulama kita. Sikap kesarjanaan yang baik adalah mengakui kebenaran, dari arah manapun kebenaran itu datang. Tapi seorang sarjana yang picik hanya akan membenarkan dirinya sendiri. 

Lantas, apakah mereka mau mengakui kebenaran itu, kalau apa yang bertentangan dengan pandangan mereka itu terbukti benar? Apakah yang akan kita paparkan itu sendiri bisa dibuktikan kebenarannya? Kalau iya, apa saja landasan-landasannya? Bisa diterima atau tidak? Masuk akal atau tidak? Sesuai dengan kaidah penafsiran atau tidak? Para ahli dan siapapun kita persilakan untuk bergabung di acara ini. Mari kita diskusikan dengan kepala dingin. Tentu saja, berhubung kali ini saya bicara dengan orang terhormat, maka saya tidak akan bicara dengan nada suara tinggi seperti kemarin. Satu kehormatan bagi saya ketika diundang oleh pak Ali. Saksikan uraian lebih detailnya di dalam acara ini, teman-teman. Sampai jumpa besok malam. Sekian. Salam.   

Bagikan di akun sosial media anda