“Perjumpaan” Awal dengan Mun’im

Pergulatan saya dengan pemikiran Mun’im bukan hanya berlangsung dalam hitungan hari, ataupun dalam kurun waktu sekitar satu sampai dua bulan. Tapi pergulatan itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Saya mengikuti tulisan-tulisan Mun’im, dan mulai membacanya dengan serius, ketika masih duduk di bangku tahun pertama sekolah pascasarjana. Artinya sejak tahun 2017 saya sudah mulai membaca buah pemikirannya. Bukunya yang pertama kali saya baca ialah buku Kemunculan Islam Awal. Setelah itu Mun’im juga sering menulis kolom di Geotimes. Dan pembaca artikel-artikelnya cukup banyak. Bisa sampai puluhan ribu. Dan saya termasuk salah satunya. 

Apakah saya mengamini dan mengagumi isi artikel-artikel itu, atau pemaparan yang dia tuangkan ke dalam bukunya? Saya perlu akui terlebih dulu bahwa cara dia dalam mengartikulasikan ide itu memang bagus. Dan itulah barangkali sisi yang kerap membuat orang terpukau dengan pemikirannya. Apalagi rujukan referensinya banyak. Tapi tetap saja. Banyak yang tidak saya setujui dari butir-butir pemikirannya itu. Pertanyaan yang cukup sering menggelayut di kepala saya ialah, kok bisa orang ini menarik kesimpulan seperti ini? Sebelum iman berkata “tidak”, nalar saya pun tak jarang ingin memberontak. 

Saya menduga-duga bahwa cara berpikir orang ini cacat. Tapi saya tidak tahu di bagian yang mana. Dan saya juga tidak tahu bagaimana caranya mengekspresikan ketidaksetujuan saya itu. Karena barangkali belum punya alatnya. Tapi, kalau berkaca pada penjelasan para ulama, sejak saat itu saya sudah sadar, bahwa pikiran orang ini memang banyak yang bermasalah. Dan masalahnya tidaklah ringan. Karena itu berkaitan dengan sisi-sisi yang fundamental. Mirisnya lagi, pembaca artikel-artikelnya sangat banyak. Pikir saya, wah orang ini kalau dibiarin bisa berbahaya. 

Setelah itu saya pun kerap melangsungkan diskusi dengan salah seorang teman, yang cukup paham dengan dunia Kristologi. Setelah diskusi sedikit demi sedikit, perlahan-lahan saya mulai paham di mana titik masalah dari pemikiran orang itu. Tapi itu masih menyangkut tentang satu tema saja. Yaitu Kristologi dan kaitannya dengan al-Quran. Kesimpulan yang mengejutkan dari teman saya, Mun’im itu ternyata nggak begitu paham dengan dunia Kristologi juga. Kurang pikniklah bahasa gaulnya. Dan itu tercermin jelas ketika dia berakrobat dengan teori “Polemik Kitab Suci” itu. 

Dia tidak begitu paham dengan dunia Kristen. Tapi selalu mencari-cari celah untuk membenarkan ajaran Kristen. Kritikan kitab sucinya sendiri dianggap berpolemik, karena dipandang tidak menggambarkan ajaran Kristen sebagaimana adanya. Dari uraian pak Menachem Ali kemarin kita bisa tahu, bahwa sebetulnya Mun’im juga tidak begitu paham dengan ajaran yang sedang dia bela itu. Dia membela ajaran Kristen dengan cara “menodai” kitab sucinya sendiri. Dan kita sudah buktikan di mana titik kecacatan logis dari pemikiran dia itu. 

Dia bernafsu betul agar ajaran Kristen ini tidak dipandang salah, masih memeluk ajaran tauhid, dan tidak dipandang kafir oleh orang-orang Muslim yang mengimani kebenaran al-Quran. Padahal, seperti yang sudah kita paparkan dalam diskusi sebelumnya, kitab sucinya sendiri jelas-jelas menolak itu. Sayangnya dia kerap menyorot beberapa ayat untuk dijadikan pijakan argumennya, tapi sering mengabaikan ayat-ayat lain yang bisa meruntuhkan klaim utamanya itu. Dia sudah terjebak dalam confirmation bias, kalau dalam istilah para logikawan. Dan sarjana yang teliti sudah sepatutnya menghindari kekeliruan berpikir semacam itu. 

Walhasil, Mun’im ini paham Kristen secara mendalam tidak. Tapi dia juga menafsikan al-Quran seenaknya saja. Bahkan sampai berani merevisi isinya. Kan kurangajar! Setelah saya mulai sadar dengan titik-titik kecacatan berpikirnya, sejak tahun 2019 itu saya pun mulai memberanikan diri untuk menuliskan butir-butir kritikan saya, yang juga pernah dimuat di website yang sama. Beberapa artikel itu kemudian saya masukkan ke dalam buku Logical Fallacy, sebagai uraian tambahan ketika saya, dalam buku itu, menjelaskan tentang bagaimana caranya membangun kritik yang baik. Intinya waktu itu saya sudah bisa mengkritik sedikit demi sedikit.

Seolah tak puas dengan satu buku, Mun’im pun kembali menerbitkan buku-buku yang lain lagi. Yaitu buku Islam Revisionis, dan yang terakhir ialah buku Rekonstruksi Islam Historis. Sebelum ketiga buku itu, Mun’im juga pernah menuangkan buah penelitian disertasinya dalam buku “Polemik Kitab Suci”, yang gagasan utamanya telah kita diskusikan dengan pak Menachem Ali kemarin. Selain keempat buku ini, dia juga punya buku-buku yang lain. Tapi, gagasan yang tertuang di sana saya kira tidak seserius pemikiran-pemikiran yang tertuang di dalam keempat buku ini. 

Di samping melahap semua buku-bukunya, sejak saat itu saya pun sering menyimak ceramah-ceramah Mun’im, yang bisa diakses melalui berbagai kanal Youtube. Kalau Mun’im diundang ke dalam sebuah acara diskusi, dan saya tidak sempat hadir, saya simak rekaman ulangnya. Dan, sejauh yang bisa dipantau, apa yang dia sampaikan dalam ceramah hampir tidak jauh berbeda pokok-pokok pemikirannya yang dia tuangkan di dalam buku-bukunya. Bahkan Mun’im seringkali mengulang-ulang pemikiran itu. Sayang, sekarang akun saya di-unfried, sehingga tidak bisa mengikuti lawakan pemikirannya lebih lanjut. 

Lalu, pertanyaan penting yang ingin kita ajukan sekarang ialah, bagaimana kesimpulan akhir saya setelah bergulat sedemikian lama dengan buku-buku dan ceramah Mun’im itu? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada saya 5 tahun yang lalu, ketika masa-masa awal membaca pemikirannya, kemungkinan besar saya akan diam. Paling jauh saya hanya bisa bilang, pemikiran Mun’im berbeda dengan pandangan para ulama. Dia sudah menyalahi banyak pendapat-pendapat keagamaan yang sudah mapan. Pikiran dia bermasalah, dan bertentangan dengan akidah umat Muslim. Dan pastilah saya, ketika itu, belum bisa memaparkan secara detail di mana letak kecacatan berpikirnya. 

Tapi, kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya sekarang, saya bisa menjawab dengan penuh kepercayaan diri, bahwa pikiran Mun’im itu memang benar-benar bermasalah secara serius. Baik secara logis maupun secara teologis. Orang awam tidak layak mengonsumsi buku-buku semacam itu. Buku-buku dia itu benar-benar merusak. Bukan hanya merusak keimanan, tapi juga merusak akal sehat, mengingat bahwa uraiannya sarat dengan gaya berpikir yang cacat. Di mata saya, Mun’im bukanlah tipe sarjana yang objektif, yang siap mengoreksi pendapatnya, kalau pendapatnya benar-benar terbukti salah. 

Dia hanya menggugat, tapi tidak bisa mendasarkan gugatannya pada penelitian yang benar-benar serius dan menyeluruh. Dia juga tidak fair dalam memperlakukan sumber-sumber Muslim. Bisanya cuma mengkritik. Tapi tidak punya metode kritik yang jelas. Dia tidak paham ilmu hadits, tapi ingin mengkritik buah jerih payah para muhadditsun. Tidak paham ilmu qira’at, tapi berani merevisi isi kitab suci umat Muslim, sambil mempertanyakan keotentikan isinya. Ingin tampil kritis dalam membaca sejarah. Tapi pembacaannya sendiri bias dan tidak ilmiah. 

Nanti akan kita kupas satu persatu kecacatan berpikir Mun’im itu. Kacacatan berpikir Mun’im semakin terkuak dengan terang benderang setelah saya mempelajari satu disiplin ilmu, yang hasil pembelajarannya kemudian saya tuangkan ke dalam buku, yaitu Ilmu Debat. Ini ilmu luar biasa yang betul-betul memberikan perubahan yang begitu mendasar dalam kehidupan saya. Butir-butir pemikiran Mun’im yang dulunya sulit untuk saya bantah, kini bisa dirobohkan dengan sangat mudah. Saya belajar banyak dari kekayaan khazanah ilmu-ilmu rasional Islam yang diajarkan oleh para ulama besar al-Azhar itu. 

Setelah merampungkan penulisan buku Ilmu Mantik, Logical Fallacy, dan Ilmu Debat, saya merasakan sesuatu yang berbeda. Saya baca kembali buku-buku Mun’im. Dan ternyata membantahnya itu tidak sesulit yang saya bayangkan dulu. Sangat-sangat mudah. Kalau saya bilang bahwa pikiran Mun’im itu sarat dengan kecacatan berpikir, terus terang, sekali lagi, saya tidak mengada-ngada dengan pengakuan itu. Memang Mun’im adalah salah satu profesor dengan fallacy terparah dan terbanyak yang pernah saya jumpai. Mudah-mudahan saya diberikan kemudahan untuk menyingkap satu persatu dari fallacy yang kerap dipertontonkannya itu. 

Saya sendiri sering tersenyum kecut, sambil menggeleng-gelengkan kepala, dan memandam perasaan gemas, ketika melihat cara berpikir orang itu. Kenapa ada orang berpendidikan tinggi, bergelar profesor, tapi cara berpikirnya bisa sehancur itu? Saya tidak mengemukakan ini hanya karena melihat kesimpulan-kesimpulan Mun’im bertentangan dengan keimanan umat Muslim saja. Tapi karena saya melihat, bahwa butir-butir pemikiran sarjana asal Amerika itu memang cacat secara logika. Bangunan argumennya hancur. Kesimpulan-kesimpulan yang ditarikanya bahkan sering meloncat jauh dari premis-premis yang dia bangun itu sendiri. 

Narasi pendek ini sengaja saya kemukakan untuk menepis keraguan para pembaca, bahwa kalau saya menarik kesimpulan tertentu tentang pemikiran Mun’im, itu bukanlah kesimpulan yang dilahirkan dari satu artikel-artikel, atau beberapa halaman dari bukunya saja. Tapi itu dihasilkan melalui pembacaan yang serius atas buku-buku dan ceramahnya. Dan itu berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama. Kalau saya bilang Mun’im sudah kurangajar terhadap kitab suci, Anda sudah menyimak beberapa pemaparannya, baik dalam artikel maupun diskusi yang kita langsungkan kemarin. 

Kalau saya bilang Mun’im sudah kurangajar kepada nabi, meragukan hal-hal mendasar dari ajaran Islam, bahkan sampai berani merevisi al-Quran, dan saya tahu betul apa landasan-landasan dia dalam menggelindingkan pemikiran yang ngawur itu, Anda perlu tahu, bahwa kesimpulan-kesimpulan itu dihasilkan, sekali lagi, melalui pembacaan yang menyeluruh atas karya-karya dan ceramahnya. Dan kemirisan saya semakin bertambah ketika saya melihat banyak kalangan akademisi dan mahasiswa yang mengapresiasi pemikiran itu, dan memberinya tempat untuk menyampaikan pendapat-pendapatnya.

Pikir saya, sekarang sudah saatnya orang itu menerima hasil dari upayanya sendiri. Pikiran Mun’im sudah meracuni nalar dan keimanan banyak orang. Dia sudah mempormosikan pemikirannya itu kepada khalayak luas tanpa mengenal batas. Dan sebagai konsekuensinya dia juga harus menerima kritik atas pemikirannya ditampilkan di hadapan orang banyak. Pasti sekarang Anda sudah penasaran, di mana sesungguhnya letak kecacatan berpikir orang itu? Ayo buktikan! Saya harap Anda simak ulang artikel-artikel yang sudah saya tulis terlebih dulu dari awal. Karena itu sudah menyingkap beberapa di antaranya. Dan, untuk selebihnya, mari kita buktikan di episode-episode yang akan datang. Harap bersabar. Demikian. Wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda