Mun’im dan Saifuddin

Beberapa hari yang lalu cukup ramai diperbincangkan salah seorang mantan Muslim bernama Saifuddin. Berdasarkan kesaksian anaknya, Saifuddin adalah mantan ustad di salah satu pesantren besar di Indonesia. Tapi, di kemudian hari dia memutuskan untuk pindah agama. Dan setelah itu diapun rajin mengkritik Islam. Terus terang saya tidak begitu banyak mengikuti video orang itu. Dulu memang sempat menyimak beberapa. Tapi, kritik-kritik yang diajukannya terlalu vulgar dan jauh dari kemasan ilmiah. Bahkan lebih banyak diutarakan dengan nada mengolok-olok. Info terakhir yang saya dapat, dia meminta menteri agama untuk menghapus 300 ayat al-Quran, yang menurutnya sudah tidak cocok lagi. 

Tapi, menariknya, dengan seluruh kengawurannya itu, dia berani tegas dalam bersikap. Sadar bahwa pandangan-pandangan keagamannya sudah tidak lagi cocok dengan Islam, maka dia pun memilih untuk jadi seorang Kristen. Tentu saja itu adalah pilihan yang logis. Karena orang yang sudah tidak puas dengan doktrin suatu agama, maka pada akhirnya mau tidak mau dia pun harus meninggalkan agama itu. Karena iman seseorang haruslah paralel dengan hasil kajiannya sendiri. Meskipun sudah bersikap kurangajar terhadap Islam, Saifuddin telah menunjukkan keberanian dalam bersikap, sehingga orang Islam yang menyimak pemaparannya tidak akan mudah tertipu begitu saja. 

Lain cerita dengan Mun’im. Mun’im rajin mengkritik Islam, baik melalui buku maupun ceramah-ceramahnya. Tapi lucunya dia melakukan pembelaan diri, agar tidak dinilai telah mengkritik agama itu. Dia sudah berani merevisi al-Quran, dan menisbatkan atribut-atribut yang tidak layak bagi kitab suci umat Muslim itu. Tapi, dengan seluruh kekurangajarannya itu, dia juga menolak untuk disebut telah mengkritik al-Quran. Dan dia masih mengaku sebagai Muslim. Menurut hasil kajiannya, kredo ajaran Islam yang berupa syahadat itu bukan berasal dari nabi. Lah kalau bukan berasal dari nabi mengapa harus Anda pertahankan di dalam dada Anda sendiri? Tapi itulah Mun’im. Masih kalah mental dengan Saifuddin. Muka Saifuddin jelas satu. Sementara Mun’im ini malah menunjukkan muka ganda, yang pada akhirnya dapat membingungkan orang. 

Mana sih yang lebih berbahaya dari kedua macam manusia itu? Dua-duanya sama-sama berbahaya. Tapi, menurut saya, kalaulah harus ditimbang ulang, yang paling berbahaya dan berpotensi merusak lebih banyak itu justru “orang dalam” itu sendiri. Yang mengaku Muslim tapi suka mengkritik Islam jauh lebih berbahaya ketimbang non-muslim yang bersikap anti terhadap Islam. Kalau melihat Saifuddin mengkritik Islam—dan dia sendiri sudah menjadi orang Kristen—orang Islam tidak akan mudah tertipu. Karena mereka pasti tahu, bahwa yang sedang berbicara itu adalah orang bodoh dari luar yang sedang berbicara tentang agama mereka sendiri. Apa yang diutarakannya hanyalah olok-olokan semata, sebagai konsekuensi dari ketidakpuasan imannya selama ini. 

Lain cerita kalau Mun’im yang berbicara. Dengan gelar akademik yang ditampuknya, dan juga melihat posisinya sebagai orang Muslim, audiens Muslim akan merasa kesulitan untuk memberikan penilaian. Dan itu terjadi. Para korban yang teracuni oleh pikiran Mun’im sudah banyak. Sebagian mereka akan memandangnya sebagai sesuatu yang lumrah. Meskipun isinya sama-sama merusak. Dengan alasan bahwa ini hanya sebatas kajian ilmiah. Padahal, diam-diam boleh jadi mereka sendiri turut mengamini pandangan Mun’im itu. Apalagi yang imannya lemah. 

Atau katakan tidak mengamini. Tapi konsep keimanan yang terbayang di dalam kepala mereka bisa jadi dirusak dengan adanya hasil-hasil kajian seperti yang dipaparkan oleh Mun’im itu.  “Saya tetap beriman kepada ini, itu dan ini. Tapi fakta sejarahnya menunjukkan berbeda. Karena kajian Mun’im menunjukkan begini dan begini.” Dan dari situ mereka pun memunculkan satu bangunan keyakinan, bahwa iman itu bisa saja berbeda dengan kenyataan. Iman yang sahih itu bisa saja bertentangan dengan hasil kajian yang benar. 

Padahal, para ulama Muslim tidak ada yang mengajarkan konsep keimanan dengan pemaknaan seperti itu. Iman yang sahih itu adalah iman yang sesuai dengan kenyataan, yang dipeluk secara pasti, dan bersandar pada dalil-dalil. Begitulah konsep iman yang dikenal dalam tradisi Islam, yang tidak akan Anda temukan di dalam tradisi agama manapun. Karena itu, dalam perspektif Islam, tidak ada kata pemisahan antara iman dengan kajian ilmiah. Karena butir-butir keimanan itu sendiri sudah ditopang dengan paparan argumen yang ilmiah. Kalau Anda tidak setuju dengan keilmiahannya, buku-buku peninggalan para ulama Muslim sudah siap untuk memuaskan nalar Anda. 

Dan adanya kajian-kajian yang dilakukan Mun’im dapat mengaburkan konsep keimanan itu, kalaulah tidak menggugurkannya sama sekali. Konsep iman yang dirumuskan oleh para ulama Muslim pada akhirnya akan disejajarkan dengan iman versi orang-orang di luar Islam, yang memaknai iman hanya sebatas pada kepercayaan saja. “Nggak apa-apalah ini kan cuma kajian. Nggak usah bawa-bawa iman.” Loh iman Anda itu bersandar pada argumen-argumen yang juga dihasilkan melalui kajian ilmiah. Sementara argumen-argumen itu ingin digugat satu persatu oleh si Mun’im. Bagaimana Anda mengatakan bahwa itu adalah hal yang biasa, sementara konsekuensi dari pembenaran hasil kajian itu sendiri ialah runtuhnya landasan keimanan Anda? 

Dugaan keras saya, Mun’im sendiri memaknai iman seperti halnya orang-orang Barat itu. Bahwa iman itu hanya sebatas kepercayaan, yang tidak ada sangkut pautnya dengan hasil dari sebuah kajian. Mungkin, sebagai seorang sarjana yang bergelar akademik tinggi, selama ini dia beriman hanya karena ikut-ikutan saja. Tidak tahu menahu tentang landasan-landasan ilmiahnya sama sekali. Karena kalau saja dia memandang butir-butir keimanan yang dipeluknya itu bersandar pada argumen-argumen ilmiah, dan dia meyakini kebenaran argumen-argumen itu, maka sebagai konsekuensi logisnya niscaya dia akan meruntuhkan banyak kesimpulan dari hasil kajiannya sendiri. 

Saya sendiri kadang terheran-heran. Bagaimana mungkin ada orang yang mengaku memeluk sebuah agama, tapi dia sendiri begitu rajin mengkritik agama yang dia peluk itu? Mun’im perlu belajar keberanian dari Saifuddin. Kalau mau mengkritik, mengkritiklah secara jantan sekalian. Mau jadi Muslim, terima segala konsekuensi keimanannya. Mau jadi non-muslim, tinggal keluar. Dan dia bisa bebas mengkritik Islam dengan cara apapun dari bilik kampus Katolik kesayangannya itu. Sayang, dia bukan tipe pengkritik Islam yang jantan dan kaffah, seperti halnya Saifuddin.   

Padahal, kalau saja dia tidak mengalami gangguan nalar, sebagai Muslim yang baik dia mesti tahu, bahwa iman yang dipeluk oleh seseorang itu haruslah paralel dengan sikap keilmuannya sendiri. Itu kalau dia memeluk iman dengan merujuk pada konsep yang diperkenalkan di dalam tradisi Islam. Kalau iman berkata A, lalu hasil kajian berkata B, dan keduanya kontradiktif, maka mau tidak mau sebagai konsekuensi logisnya salah satu di antara keduanya harus dipandang benar. Yang bernalar waras tidak mungkin membenarkan dua proposisi yang kontradiktif sekaligus, ataupun menyalahkan keduanya. Saifuddin berani melakukannya. Tapi Mun’im tidak. Karena mentalnya hanya seujung kuku.   

Lepas dari itu, orang-orang seperti Mun’im dan Saifuddin itu sebetulnya nggak akan mampu menembus jantung nalar dan keimanan kita, kalau saja kita bisa memperkaya wawasan tentang khazanah keilmuan para ulama kita sendiri. Terutama dalam bidang-bidang ilmu rasional. Penting bagi kita untuk membangun kesadaran, bahwa beragama itu tidak cukup hanya dengan memupuk kesalehan. Tapi beragama juga perlu ditopang dengan kematangan intelektual. Beragama itu perlu ilmu. Dan para ulama sudah menyediakan bahan-bahan keilmuan itu secara berlimpah di hadapan kita. Tugas kita tinggal mempelajarinya saja. 

Sekarang kita hidup di zaman fitnah. Tugas kita sekarang bukan hanya sebatas melakukan ritual ibadah. Tapi kita juga perlu memperkokoh dasar-dasar keyakinan kita. Kita harus memperlajari secara serius warisan intelektual para ulama kita itu. Kalau tidak mau belajar, dan kita nyaman dengan kebodohan diri kita sendiri, bukan hal yang mustahil kalau Anda bisa ter-mun’im-kan di kemudian hari. Atau menjadi Saifuddin yang baru di masa yang akan datang. Naudzubillah. Tsumma na’udzubillah. Semoga Allah senantiasa menjaga kita. Dan mengembalikan mereka berdua ke pangkuan hidayah dan ampunan-Nya. Amin.  

Bagikan di akun sosial media anda