Ceramah Malaysa dan Beberapa Gangguan Nalarnya (Bag. 1)

Pernyataan penulis yang menyebut pikiran-pikiran Mun’im rimbun dengan kecacatan berpikir adalah sebuah klaim yang perlu untuk kita kokohkan dengan paparan bukti. Kalau tidak, pernyataan itu hanya akan menjadi omong kosong belaka. Dan akan dipandang sebagai ad hominem semata oleh para simpatisan fanatiknya. Di manakah sesungguhnya butir-butir kecacatan itu? Kita harap para pembaca bisa bersabar, karena pertanyaan ini perlu kita jawab dalam tulisan berlapis-lapis. Beberapa di antaranya sudah kita paparkan di dalam tulisan-tulisan yang lalu, dan sekarang mari kita lanjutkan pengeboman kita atas pikiran-pikiran Mun’im itu melalui uraian-uraian yang lain. 

Penting untuk kita tegaskan terlebih dulu di sini, bahwa kritik-kritik yang akan Anda simak dalam tulisan ini, dan tulisan-tulisan setelahnya, akan tertuju pada ceramah-ceramah Mun’im yang bisa Anda akses melalui beberapa kanal Youtube. Sengaja saya memilih bagian ceramah-ceramah itu, dan menunda kritik-kritik yang tertuju pada buku-bukunya—kecuali beberapa di antaranya yang saya anggap relevan—karena semuanya bisa diakses secara gratis. Apabila saya diberikan kemudahan untuk melanjutkan serial tulisan ini sampai tuntas, maka kemungkinan besar buku yang mengupas cacat pikir Mun’im akan terlahir dalam dua jilid. Satu jilid kita khususkan untuk mengulas kecacatan berpikir dalam ceramah-ceramahnya. Dan yang lain secara khusus mengkritik gagasan-gagasan Mun’im yang dia tuangkan di dalam buku-bukunya.  

Dan, kalau itu benar-benar terlahir, maka inilah saya kira sumbangsih terbesar Mun’im dalam panggung pemikiran Islam. Menghadirkan keberlimpahan fallacy kendati menampuk gelar akademik yang tinggi. Lulusan Amerika pula. Itu adalah pencapaian membanggakan, yang akan tercatat alam lembaran sejarah bangsa kita. Ada orang bergelar tinggi, tapi cara berpikirnya benar-benar hancur dan tidak teratur. Niatnya mengkritik Islam, tapi hasilnya malah mempermalukan diri sendiri. Tujuannya ingin mendorong orang untuk berpikir secara kritis, tapi ujung-ujungnya malah mempertontonkan kecacatan logis. Kalau Anda mau coba-coba mengkritik Islam, maka cukuplah kehidupan Mun’im Anda jadikan sebagai bahan pembelajaran. Kita akan buktikan itu nanti.

Dalam upaya mendedahkan kritik-kritik itu, pada tahapan awal ini kita akan lampirkan kritik-kritik yang sederhana saja. Sederhana dalam arti tidak banyak menyajikan referensi. Kritik-kritik dengan corak agak mendalam itu barangkali nanti bisa penulis sertakan di dalam buku. Anggap saja kritik-kritik ini sebagai pembuka untuk menyimak kritik-kritik setelahnya. Tulisan-tulisan yang kita sajikan akan dipaparkan sesantai mungkin. Dengan bahasa yang tidak sepenuhnya baku. Dengan harapan agar para pembaca bisa menikmati tontonan komedi yang dipertunjukkan oleh sarjana qur’an asal Amerika itu. 

Tujuan intinya hanya sebatas menunjukkan irasionalitas dari cara berpikirnya saja. Untuk uraian lebih detailnya, nanti bisa kita perkaya kembali melalui buku. Dalam berbagai ceramahnya, Mun’im seringkali menyampaikan gagasan yang sudah dia tuangkan di dalam bukunya sendiri. Beberapa di antara gagasan-gagasan itu ada yang menurut penulis perlu dikritik secara serius, dan itu akan penulis sajikan dalam tulisan tersendiri. Tapi ada juga yang bisa dipatahkan dengan paparan seadanya aja. Dan itulah yang akan Anda simak dalam rangkaian tulisan ini. Saya akan berusaha untuk memaparkan dengan bahasa yang semudah mungkin, paling tidak supaya para pembaca sadar, bahwa mematahkan argumen Mun’im itu bukanlah perkara yang sulit, seperti yang diduga oleh sebagian kalangan. 

Syaratnya Anda harus bernalar sehat saja. Dan sebisa mungkin kritikan yang kita ajukan akan berpijak pada kaidah-kaidah nalar sehat itu. Kita akan buktikan itu nanti. Agar tidak berlama-lama lagi, sekarang mari kita awali pemaparan dan kritik kita dengan salah satu satu ceramah Mun’im yang disampaikan di negeri Malaysa. Ceramah itu bertajuk, “Bagaimana Berinteraksi dengan al-Quran”. Mun’im diundang sebagai salah satu pembicara dalam seminar itu. 

Sebelum Anda membaca kritikan yang akan kita tampilkan di sini, agar lebih objektif kita persilakan Anda untuk menyimak ceramahnya terlebih dulu. Linknya bisa akses di sini. Dalam ceramah ini pula Mun’im menyampaikan pernyataan bahwa dalam pewahyuan al-Quran itu ada intervensi Nabi Muhammad Saw. Padahal al-Quran jelas-jelas menafikan adanya intervensi itu. Dia juga menyampaikan hasil revisiannya terhadap surat al-kafirun, memberikan analogi-analogi yang culun tentang kitab suci kita, dan lain-lain, seperti yang akan kita lihat nanti. Kalau sudah selesai disimak, mari kita kupas kecacatan berpikir sarjana qur’an itu satu persatu. 

Seperti yang dapat Anda simak, saudara-saudara sekalian, dalam mengawali ceramahnya ini, pertama-tama Mun’im berupaya untuk meyakinkan audiensnya terlebih dulu. Bahwa apa yang akan dikemukakannya ini merupakan bagian dari keragaman pendapat, yang perlu kita rayakan bersama. Ini adalah salah satu jurus andalan Mun’im. Dia selalu mengajak audiensnya untuk menghargai perbedaan pendapat, sekalipun pendapat itu cacat dan merusak nalar sehat. Sebagai upaya untuk melegitimasi, maka dia pun mencontohkan Imam at-Thabari, penulis kitab tafsir yang sangat terkenal itu. Kata Mun’im, kalau kita berkaca pada tradisi ulama terdahulu, maka kita akan menjumpai kenyataan bahwa mereka itu sangat menghormati perbedaan pendapat. Dan memang benar. Para ulama kita, dari dulu sampai sekarang, memang menghormati perbedaan pendapat itu. 

Imam at-Thabari itu, kata Mun’im, ketika menafsirkan al-Quran seringkali menyebutkan frase “fihi ta’wil”, yang kemudian Mun’im terjemahkan dengan “di dalamnya ada keragaman penafsiran.” (padahal terjemahannya sendiri tidak sepenuhnya tepat). Dia mengemukakan itu sebagai mukadimah perivisiannya terhadap salah satu ayat dalam al-Quran. Betapa culasnya cara berpikir semacam itu. Bahwa para ulama terdahulu terbiasa dalam menghormati perbedaan pendapat, itu adalah fakta yang tidak bisa kita tolak. Dan kita pun perlu meneladani itu. Tapi, masalahnya, ajakan semacam ini seringkali dimainkan oleh orang-orang yang ingin menggugat segala hal dalam agama, tanpa mempedulikan mana yang bersifat fundamental dan mana yang termasuk kategori partikular, seperti yang dilakukan oleh Mun’im. 

Mereka pura-pura lupa, bahwa sejauh menyangkutan hal-hal yang fundamental, seperti keotentikan al-Quran, keabsahan dua kalimat syahadat, rukun Islam, rukun Iman, semua ulama tidak ada yang berbeda pendapat. Dan mereka tidak membuka ruang perbedaan itu untuk kita. Bukan karena mereka malas berpikir dan enggan bertanya secara kritis tentang agama mereka. Tetapi karena sejak awal mereka sudah sadar, bahwa “kesepakatan-kesepakatan” itu adalah persoalan-persoalan yang sudah selesai dikaji dalam buku berjilid-jilid, sehingga kita tidak punya alasan yang cukup untuk mengulang-ulang lagi. Itu hanya akan membuang-buang waktu. 

Mereka tidak melahirkan kesepakatan-kesepakatan itu melalui lamunan semata. Melainkan melalui kajian yang mendalam dan pengerahan daya intelektual yang luar biasa. Coba saja Anda cek dalam buku-buku kesarjanaan Muslim. Ada tidak ulama yang berani mengotak-atik al-Quran yang sudah diterima sebagai kitab yang diriwayatkan secara mutawatir itu seperti yang dilakukan oleh sarjana bernama Mun’im? Tidak ada. Tapi Mun’im berani melakukan itu, seperti yang akan kita lihat nanti. Dan dia memandang itu sebagai bagian dari perbedaan pendapat. Dan repotnya lagi dia memandang itu sebagai perkara yang biasa-biasa saja! 

Tapi biasalah. Orang-orang yang ingin secara bebas bermain-main di ranah itu merasa perlu untuk meyakinkan publik tentang keabsahan pandangan mereka. Dan inilah yang dilakukan Mun’im. Menurutnya, apa yang dilakukannya itu adalah “merujuk pada sikap kesarjanaan Islam klasik.” Dan, pada intinya, kita diminta untuk menghargai perbedaan pendapat itu. Kalau kita menggugatnya, maka kita pun akan diposisikan sebagai orang yang tidak menghargai perbedaan pendapat, tidak rendah hati, dan lain-lain. Cukup sering saya menyimak ajakan semacam itu dari ceramah Mun’im. Dan untungnya saya tidak mudah terjebak oleh ajakannya yang naif dan tidak ilmiah itu. Bagaimana mau dikatakan ilmiah, wong ajakan itu sendiri dikemukakan tidak pada tempatnya?! 

Menarik untuk dicatat, bahwa dalam ceramah yang akan penulis bahas kali ini, sejak awal Mun’im sudah menegaskan bahwa apa yang dia paparkan adalah “ijtihad” dia semata. “Yang akan Anda dengarkan itu adalah ijtihad saya.” Ini perkataan Mun’im sendiri yang dapat Anda simak dengan jelas. Karena itu, apabila nanti dia berupaya untuk mengelak, dengan menisbatakan pandangan itu kepada para sarjana Barat, misalnya, maka dia harus menelan pernyataannya sendiri. Karena sudah jelas-jelas dia mengatakan bahwa apa yang akan dia paparkan ini—termasuk revisinya terhadap surat al-kafirun, yang juga dia cantumkan di dalam buku “Kemunculan Islam Awal”—itu adalah bagian dari “ijtihad”-nya. 

Dan tentu saja kita layak bertepuk tangan, dan tertawa dengan selepas-lepasnya, ketika ada sarjana qur’an berani merevisi isi qur’an itu sendiri! Memang, seperti yang akan kita lihat nanti, Mun’im menyajikan sejumlah riwayat untuk mengukuhkan “ijtihad” kosongnya itu, kalaulah itu harus disebut ijtihad. Tapi, yang jadi pertanyaan selanjutnya, apakah pemaparan dia itu sesuai dengan konklusi yang ditariknya? Itu yang akan menjadi fokus perhatian kita nanti. Kita akan buktikan bahwa apa yang dipaparkan oleh Mun’im ini bukanlah tantangan untuk memikirkan kembali al-Quran, melainkan tontotan kecacatan berpikir yang ditunjukkan oleh seorang sarjana yang konon ahli dalam bidang studi al-Quran. 

Melihat kenyataan yang memprihatinkan ini, saya mulai merasa yakin, bahwa selama dalam perjalanan karir akademiknya Mun’im itu tampaknya tidak pernah mempelajari ilmu logika secara serius. Kalaupun belajar, paling hanya selintas saja. Kalau dia belajar dengan serius, tidak mungkin terlahir kecacatan berpikir sebanyak ini. Padahal, bagi seorang sarjana—apalagi yang ingin tampil menggugat hal-hal mendasar dalam agama—mempelajari ilmu logika itu adalah hal yang niscaya. Karena ilmu logika sangat berperan besar dalam mengokohkan logis tidaknya argumen-argumen yang Anda paparkan. 

Logika itu menyajikan seperangkat kaidah yang dengannya kita bisa membedakan mana pendapat yang benar dan mana pendapat yang salah. Mana uraian yang tepat dan mana pemaparan yang cacat. Dan dari situlah ilmu logika itu menjadi keniscayaan untuk memasuki gelanggang dunia intelektual. Kecuali kalau Anda ingin dipermalukan oleh nalar sehat Anda sendiri. Kecuali kalau Anda ingin ter-mun’im-kan di kemudian hari. 

Lantas apa saja kecacatan berpikir yang dapat kita jumpai dalam ceramah Mun’im itu? Lagi-lagi saya berharap para penonton bersedia untuk bersabar. Karena dari satu ceramah ini saja, kita bisa menyajikan uraian yang lumayan panjang. Paling tidak, dari tulisan ini Anda sudah tahu salah satu jurus andalan Mun’im. Yaitu mengajak orang lain untuk menghormati perbedaan pendapat, sekalipun pendapat itu merusak dan benar-benar cacat. Lantas di mana letak kecacatannya? Simak uraiannya dalam episode tulisan selanjutnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda