Perumpamaan Orang Culun tentang Kitab Suci yang Agung (Bag. 2)

Pertama-tama kita harus akui terlebih dulu, bahwa kepercayaan yang berbasis pada argumentasi tentu lebih layak diutamakan ketimbang kepercayaan yang hanya sebatas dogma yang hanya diwariskan secara turun temurun. Kalau argumen-argumen rasional menggiring kita pada kesimpulan bahwa al-Quran bukan karangan manusia, melainkan firman Allah Swt—dan para sarjana Muslim telah berhasil membuktikan klaim tersebut, seperti yang akan kita paparkan nanti—maka sebagai konsekuensi logisnya tidak layak bagi kita untuk memperlakukannya sebagai kitab suci biasa. Keniscayaan ilmiah mengharuskan kita untuk bersikap seperti itu. 

Jadi, sebelum berbicara tentang al-Quran, dan mengajukan klaim-klaim serius tentangnya, selayaknya kita dudukkan terlebih dulu posisi epistemik kita terhadap sumber kitab suci itu. Kita memposisikannya sebagai wahyu Tuhan atau bukan? Begitulah sikap ilmiah yang harus kita tampilkan. Kalau bukan wahyu Tuhan, dan dia terbukti sebagai karangan seorang manusia, maka yang bersangkutan juga perlu untuk menentukan, siapa sesungguhnya pengarang al-Quran yang sesungguhnya itu? Tanpa mendudukkan jawaban atas pertanyaan ini, maka klaim apapun tentang al-Quran tidak akan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. 

Dan inilah salah satu jantung masalah dari kajian-kajian Mun’im tentang al-Quran. Tampak terlihat jelas bahwa Mun’im ingin mengkaji kitab suci itu dengan melepaskannya dari sumber aslinya. Al-Quran hanya dibaca sebagai teks sejarah biasa. Padahal berbagai keistimewaan yang dimilikinya hanya mungkin terlahir kalau dia berasal dari Allah Swt. Bahkan ada kesan kuat bahwa Mun’im ingin memperlakukan kitab suci itu layaknya karangan seorang manusia saja. Beberapa alasan terkait hal itu sudah penulis paparkan dalam tulisan-tulisan sebelumnya. Sekarang mari kita lihat bukti penguat atas hal itu melalui pernyataan Mun’im yang lain yang akan kita paparkan di dalam tulisan ini. 

Apakah Anda percaya bahwa al-Quran diturunkan di Mekah dan Madinah? Informasi sejarah mengabarkan bahwa Rasulullah Saw, sebagai sosok yang menerima al-Quran, memang hanya menetap di dua kota besar itu. Karena itu, sangat logis kalau umat Muslim berpandangan bahwa al-Quran itu memang diturunkan di dua kota suci tersebut. Yakni Mekkah dan Madinah. Kenapa? Ya karena penerimanya sendiri hanya hidup di dua kota itu. Informasi sejarah yang begitu berlimpah tak memberi kita celah untuk ragu, bahwa al-Quran, sebagai wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad Saw, memang diturunkan di dua kota itu. 

Tapi Anda bisa lihat sendiri, fakta yang jelas seperti ini masih bisa dipertanyakan oleh manusia-manusia kurang kerjaan seperti Mun’im. Dalam menjawab pertanyaan di atas, Mun’im berupaya mengetengahkan pandangan salah seorang tokoh revisionis bernama Wansbrough. Menurutnya, al-Quran itu diturunkan di Mesopotamia (Irak sekarang), bukan di Mekkah dan Madinah. Mun’im cukup sering mengulang-ngulang pendapat Wonsbrough ini dalam ceramah-ceramahnya. Menurut Mun’im, “kita boleh tidak setuju dengan pendapat Wansbrough itu. Tapi yang jelas dia sudah mengajukan pertanyaan yang benar.”

Tapi tentu saja, ketika menyimak kesimpulan tersebut, kita berhak untuk bertanya, lantas siapa nabi yang menerima al-Quran itu, kalau benar ia diturunkan di kota Mesopotamia? Ketika Anda mengklaim bahwa al-Quran itu turun di suatu tempat, penjelasan Anda itu akan terlihat masuk akal, kalau Anda tentukan terlebih dulu siapa penerima wahyu yang kemudian menjadi kitab suci umat Muslim itu? 

Kalaulah itu karangan seorang manusia, sebutkan siapa nama pengarangnya? Karena tidak mungkin ada kitab yang bisa muncul dengan dirinya sendiri. Tampaknya, dengan menggelindingkan tesis tersebut, orientalis yang namanya sering dieluk-elukkan Mun’im ini ingin mengatakan bahwa al-Quran itu tidak diturunkan kepada nabi Muhammad, yang menurut catatan sejarah hanya menetap di kota Mekkah dan Madinah.

 Salah satu alasan kenapa Wansbrough berkesimpulan demikian, kata Mun’im, ialah karena kitab suci umat Muslim itu banyak merekam perdebatan dengan orang Yahudi dan Kristen. Dan yang memungkinkan adanya perdebatan canggih itu memang hanya kota Irak, menurut pengarang buku Quranic Studies itu. Seolah melupakan fakta bahwa di Madinah sendiri dua kelompok besar itu memang ada, sehingga Anda tidak perlu berkhayal jauh-jauh sampai ke Irak, hanya dengan alasan receh seperti itu! 

Tapi Anda bisa lihat sendiri. Memang begitulah cacat pikir para Orientalis. Berakrobat dengan sejumlah klaim serius tentang al-Quran. Tanpa mau menjawab terlebih dulu dari mana sesungguhnya al-Quran itu berasal? Fakta bahwa al-Quran memuat banyak keistimewaan yang tak tertandingi oleh umat manusia harusnya menggiring mereka untuk menjawab pertanyaan itu terlebih dulu. Baru setelah itu mengkaji isinya secara ilmiah. Selama pertanyaan itu belum terjawab, maka sebagai konsekuensinya hanyalah kecacatan berpikir lah yang akan tampak. Dan Mun’im telah mewarisi kecacatan berpikir itu dari para leluhurnya sendiri. 

Menarik dicatat bahwa di awal sesi pemaparannya, Mun’im telah mengajukan satu pertanyaan yang lucu kepada para audiensnya. Dia bertanya, “seberapa yakin kita kalau al-Quran itu benar-benar turun di Mekkah dan Madinah?” Anda perhatikan, dengan pertanyaan ini saja sebetulnya Mun’im sudah menunjukkan sikap yang tidak akademis. Saya katakan tidak akademis, karena dia mengajak para audiensnya untuk mempertanyakan sesuatu yang sudah dikabarkan oleh manusia dengan jumlah yang sangat banyak, sehingga celah untuk meragukannya benar-benar kecil, kalaulah enggan berkata mustahil. 

Dalam istilah para ulama Muslim, kabar semacam itu sering disebut dengan istilah mutawatir. Kabar bahwa ada orang bernama Muhammad Saw, hidup di kota Mekkah dan Madinah, lalu mengaku sebagai nabi, dan mengaku menerima wahyu al-Quran, itu adalah kabar yang mutawatir. Dalam bangunan epistemologi Islam, informasi yang mutawatir itu tidak layak untuk dipertanyakan kesahihannya. Kenapa bisa begitu? Karena pengetahuan yang dihasilkan dari informasi semacam itu dapat melahirkan pengetahuan yang bersifat meyakinkan. Kita akan uraian jawaban ini dalam tulisan lain secara terpisah. 

Untuk sementara saya ingin berikan permisalan yang cukup sederhana saja. Bagaimana kalau suatu ketika Anda melihat orang yang meragukan keberadaan kota Tokyo, misalnya? Apakah Anda memandang pertanyaan itu sebagai pertanyaan yang layak dan ilmiah? Misalnya yang bersangkutan bertanya, seberapa yakin kita akan keberadaan kota Tokyo, yang berada di kota Jepang itu? Ya, sekarang Anda bisa sangat yakin karena sudah bisa mengaksesnya lewat internet. Tapi anggap sekarang kita tidak pernah pergi ke Tokyo. Tidak ada internet. Dan tidak ada akses informasi apapun tentang kota itu. Tapi manusia dari generasi ke generasi, dengan jumlah ribuan, mengabarkan informasi bahwa ada kota yang bernama Tokyo. 

Lalu tiba-tiba ada orang bertanya, seberapa yakin kita dengan keberadaan kota Tokyo? Tentu saja Anda akan mengerenyitkan dahi. Dan itu ciri, kalau yang mengajukan pertanyaan semacam itu tidak pernah belajar epistemologi dengan baik. Mempertanyakan kebenaran informasi yang sudah terkabarkan secara mutawatir itu bukan cerminan dari sikap ilmiah. Bahkan, para ahli ilmu debat mengkategorikan orang yang mengingkari informasi mutawatir itu sebagai seorang mukabir. Sikapnya disebut dengan mukabarah, yang seakar dengan kata kibr. Kata kibr itu sendiri bermakna kesombongan. Dinamai demikian karena ketika itu dia telah menolak sebuah fakta yang meyakinkan. Dan itu adalah cerminan dari “kepongahan intelektual”, kalaulah kita harus menggunakan istilah itu. 

Dalam kehidupan sehari-hari pun, kabar yang disampaikan oleh orang banyak itu jauh lebih kita percayai ketimbang kabar yang disampaikan oleh satu-dua orang. Tapi, bagi orang yang bernalar cacat seperti Mun’im, dia tetap merasa perlu untuk mengajukan pertanyaan konyol semacam itu. Seolah ingin tampil kritis dan ilmiah. Tapi cara yang dia gunakan hanya mempertontonkan kebodohan dirinya sendiri.  

Anggaplah sekarang kita perbolehkan dia untuk mengajukan pertanyaan itu. Seberapa yakin kita bahwa al-Quran itu memang turun di kota Mekkah dan Madinah? Jawabannya tentu saja sangat mudah. Selama fakta sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad hanya hidup di kota Mekkah dan Madinah, dan al-Quran itu disampaikan melalui lisannya, maka jelaslah sudah, bahwa kitab suci itu memang turun di Mekkah dan Madinah. Lalu apa lagi yang perlu membuat kita ragu dengan adanya fakta historis itu? 

Cacat pikir Mun’im tidak berhenti sampai di situ. Pada tahap selanjutnya dia meragukan keabsahan sumber-sumber Muslim, dengan alasan bahwa al-Quran menampilkan percakapan yang canggih. Sementara sumber-sumber Muslim menggambarkan audiens al-Quran itu sebagai masyarakat yang primitif. Seolah-olah dia membayangkan adanya kontradiksi antara uraian al-Quran dengan pemaparan sumber-sumber Muslim itu. 

Tahukah Anda di mana sisi kecacatan berpikirnya? Di sini Mun’im sudah terjebak pada apa yang disebut dengan istilah “confirmation bias.” Satu kekeliruan berpikir yang terjadi ketika seseorang hanya memilah-milah data yang dapat mengukuhkan klaimnya sendiri, lalu dia mengabaikan fakta-fakta lain, yang bisa meruntuhkan klaimnya itu. Ini cukup sering dipertontonkan Mun’im dalam banyak kajian-kajiannya, yang sok kritis terhadap Islam itu. Dia ingin tampil kritis, tapi sikap kritisnya malah mempermalukan dirinya sendiri. Karena dia sering tidak fair dalam melampirkan data-data itu. 

Kalau Mun’im itu tipe sarjana yang jujur dan objektif, tentu saja dia tahu, bahwa sumber-sumber Muslim tidak hanya menampilkan audiens al-Quran itu sebagai kaum pagan semata, seperti yang dia paparkan di dalam ceramahnya. Mun’im harus ingat, bahwa sumber-sumber Muslim juga merekam interaksi nabi dengan kelompok Yahudi dan Kristen, yang banyak dijumpai di kota Madinah. Artinya, kalau Mun’im meragukan tempat diturunkannya al-Quran dengan alasan dia merekam perdebatan dengan kelompok Yahudi dan Kristen, kenyataan itu memang sangat logis. Karena memang dua kelompok itu jelas-jelas ada di kota Madinah, sehingga Anda tidak perlu jauh-jauh melancong ke kota Irak bersama Wansbrough! 

Tapi memang itulah Mun’im. Dia sengaja mengelabui audiensnya dengan suatu fakta. Padahal di balik itu ada fakta lain yang bisa meruntuhkan klaimnya sendiri. Sekarang mari kita anggap bahwa sumber-sumber Muslim menggambarkan audiens al-Quran itu sebagai masyarakat yang primitif. Lalu al-Quran malah menampilkan percakapan-percakapan intelektual yang canggih. Lalu di mana masalahnya? Justru kenyataan itu dapat menjadi bukti, bahwa al-Quran itu bukan buatan manusia, profesor Mun’im. Dan kalau itu terbukti benar, maka cacatlah sudah pertanyaan Anda.

Perumpamaan Donald Trumph

Mun’im bertanya kepada para audiensnya, dalam konteks menantang nalar mereka untuk memikirkan ulang asal muasal dan tempat diturunkannya al-Quran itu. Kata Mun’im, “Kalau Anda hidup di KL, maka Anda tidak mungkin menulis tentang Donald Trumph”. Ini pertanyaan yang cukup singkat, tapi cukup kuat untuk membuktikan kecacatan nalarnya sendiri. Dalam al-Quran, seperti yang Mun’im tegaskan, termuat perdebatan-perdebatan canggih, sehingga pembacaan atas kitab suci tersebut akan menggiring kita pada kesimpulan bahwa kitab suci itu tidak mungkin terlahir di tengah masyarakat yang primitif, seperti yang digambarkan oleh sumber-sumber Muslim. Dan, demi menguatkan pandangannya, dia kemukakanlah pertanyaan itu tadi.

Kalau Anda hidup di KL, dan Anda tidak tahu menahu tentang Amerika, maka tentu Anda tidak akan menulis tentang Donald Trumph. Sepintas tampak terlihat logis. Dan memang ada benarnya juga. Kalau sekarang kita hidup di suatu tempat, dan kita tidak tahu menahu tentang apa yang terjadi di tempat lain, seperti tidak tahu Donal Trumph, misalnya, maka tidak mungkin kita bisa menulis tentang sesuatu yang tidak kita ketahui itu. Sekarang saya hidup di Kairo. Dan saya tidak tahu menahu tentang kehidupan di belahan bumi Afrika. Sebagai seorang manusia yang memiliki wawasan terbatas, tentu saja saya tidak mungkin memaparkan sesuatu yang tidak saya tahu itu.

Jadi, perumpamaan yang Mun’im ajukan itu memang benar, kalau al-Quran itu ditulis oleh seorang manusia yang nalar dan wawasannya terbatas!  Orang-orang yang kurang kritis mungkin akan terbuai begitu saja dengan analogi Mun’im yang cacatnya tak terampuni itu. “Hah iya juga yah? Katanya masyarakat Arab dulu kan primitif, tapi al-Quran sendiri kok merekam perdebatan yang canggih sih? Kita aja yang hidup di KL nggak mungkin nulis tentang Donal Trumph kok. Lah kok bisa itu al-Quran merekam perdebatan dengan Yahudi dan Kristen, sementara dia sendiri hadir di tengah-tengah masyarakat pagan?” 

Apakah Anda termasuk orang-orang yang di dalam kepalanya terlintas pertanyaan receh semacam itu? Penjelasan Mun’im ini semakin mengukuhkan asumsi saya yang sebelumnya, bahwa Mun’im, dalam kajian-kajiannya tentang al-Quran, memang ingin memposisikan kitab suci umat Muslim itu layaknya karya seorang manusia. Dan itu terlihat jelas melalui pertanyaan dan pernyataan yang dia ajukan itu. 

Memang betul, kalau saja al-Quran itu berupa karangan seorang manusia, yang memiliki pengetahuan terbatas, apa yang direkam al-Quran harusnya menampilkan keadaan masyarakat tempat kehadirannya saja. Tidak perlu menampilkan perdebatan-perdebatan yang canggih, sementara masyarakatnya sendiri hidup dalam corak yang primitif. Kalau saja al-Quran itu buatan manusia, tidak mungkin dia bisa memiliki mukjizat, yang sampai sekarang tidak tertandingi oleh umat manusia manapun sepanjang masa. 

Tapi masalahnya penalaran yang rasional sudah membuktikan, bahwa kitab suci yang memiliki segudang keistimewaan itu hanya mungkin terlahir sebagai wahyu yang berasal dari Allah Swt. Ada banyak sekali bukti-bukti yang sudah dipaparkan oleh para sarjana Muslim, yang dengan adanya bukti-bukti itu mereka berakhir pada kesimpulan bahwa kitab itu bukan karangan manusia. Kita akan uraikan itu nanti dalam tulisan lain secara terpisah. Poinnya, kalau klaim keilahian al-Quran itu terbukti benar, maka Anda tidak akan punya alasan yang logis untuk menganalogikan kitab suci itu dengan karya seorang manusia biasa. 

Analogi yang Mun’im ajukan adalah analogi yang sangat culun. Dia membandingkan sesuatu dengan sesuatu yang lain secara tidak adil. Masa karya yang berisikan mukjizat diposisikan seperti karya seorang manusia?! Alih-alih mengukuhkan pandangan Mun’im, yang ingin menampilkan al-Quran sebagai karya manusia biasa, kenyataan bahwa al-Quran menampilkan perdebatan-perdebatan yang canggih itu justru bisa menjadi bukti, bahwa al-Quran memang bukan buatan manusia. Karena sekiranya dia buatan manusia, maka pastilah penjelasannya lebih banyak berkaitan dengan masyarakat setempat. 

Sekiranya al-Quran itu buatan Nabi Muhammad, pastilah isinya banyak yang merekam curhatan-curhatan pribadinya, dan perdebatannya dengan orang-orang sekitar. Tidak mungkin dia terlahir sebagai mukjizat. Tidak mungkin merekam kabar-kabar sejarah, berita-berita yang akan datang, gambaran tentang Tuhan yang begitu detail, deskripsi tentang hari akhir, dan lain sebagainya, karena Nabi Muhammad sendiri tidak pernah belajar kepada siapapun dari kalangan manusia. Lantas dari mana semua pengetahuan itu berasal kalau bukan berasal dari Allah Swt?  

Anda perhatikan di sini, bahwa apa yang dipaparkan Mun’im justru akan meruntuhkan klaimnya sendiri, yang tampak ingin menampilkan al-Quran sebagai kitab sejarah biasa itu. Pemaparan yang disampaikannya berkonsekuensi pada kesimpulan bahwa kitab itu bukanlah kitab biasa, seperti yang diklaim oleh para sarjana Muslim. Apa yang dipaparkan Mun’im ini juga mengukuhkan apa yang sudah saya tegaskan sebelumnya. Bahwa klaim-klaim seseorang tentang al-Quran itu tidak mungkin akan terlihat kokoh secara logis kecuali setelah dia menentukan sikap keilmuannya terhadap sumber al-Quran itu sendiri. Dan Mun’im tidak pernah secara tegas menyatakan posisi keilmuannya dalam hal itu. 

Menjadi jelaslah di sini, bahwa Mun’im tak punya kejelian dalam mengemukakan analogi dan permisalan. Analogi yang dikemukakannya benar-benar cacat dan tidak masuk akal. Dia sudah terjebak dalam false analogy. Yang lebih menggelikan lagi, setelah ini Mun’im memaparkan contoh-contoh yang pada akhirnya hanya mempertontonkan kebodohan dirinya sendiri. 

Walhasil, alih-alih tampil sebagai orang kritis terhadap al-Quran, dan menantang orang lain untuk menunjukkan sikap kritis itu, pada akhirnya malah dia menampilkan dirinya sebagai sosok sarjana culun yang tak mampu memberikan permisalan yang tepat, tentang firman Allah yang Maha agung itu. Lalu masih adakah cacat pikir lain yang ditampilkan Mun’im dalam ceramah Malaysa itu? Masih banyak. Dan uraiannya bisa Anda simak dalam tulisan yang akan datang. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda