Tuhan Satu, Tapi Kenapa Gambarannya Bisa Banyak?

Dalam percakapan sehari-hari seringkali kita menjumpai perbedaan pandangan tentang sesuatu. Anggaplah sekarang kita bicara tentang seorang perempuan. Sebutkan namanya Faizah. Di hadapan kita ada satu orang manusia bernama Faizah. Faizahnya memang satu. Tapi gambaran tentang Faizah tentu saja bisa beragam. Kenapa bisa beragam? Karena tabiat manusia memang biasa memunculkan perbedaan sudut pandang. Dan keragaman sudut pandang itu tentu saja dipengaruhi oleh banyak hal. Tapi, kendatipun gambaran tentang Faizah itu beragam, pertanyaan yang perlu kita jawab adalah, apakah keragaman pandangan tentang Faizah itu menjadikan wujud Faizah itu berbilang? 

Saya rubah redaksi pertanyaannya agar lebih mudah. Apakah karena gambaran tentang Faizah itu banyak, otomatis wujud manusia yang bernama Faizah itu juga menjadi banyak? Ya tentu saja tidak. Karena gambaran tentang sesuatu itu satu hal. Wujud dari sesuatu yang digambarkan itu hal yang lain lagi. Bukankah begitu? Betapapun beragamnya penjelasan orang tentang Faizah, sosok Faizah itu tetaplah sosok yang satu. Tidak terpengaruh oleh keragaman gambaran yang terkait dengan dirinya itu. Adakah yang sulit bagi Anda untuk menyetujui pernyataan ini? Saya rasa tidak ada. Yang bernalar sehat pasti akan sepakat dengan hal itu. 

Dengan logika yang sama, saya ingin mengatakan, bahwa gambaran manusia tentang Tuhan bukanlah wujud Tuhan itu sendiri. Dengan kata lain, apa yang manusia gambarkan tentang Tuhan itu bukanlah wujud Tuhan dalam arti yang sesungguhnya. Karena wujud Tuhan yang sesungguhnya itu berada di luar jangkauan manusia. Siapa itu orang Ateis? Orang Ateis adalah orang yang tidak percaya akan wujud Tuhan, bukan orang yang tidak percaya dengan gambaran tertentu tentang Tuhan. Saya, sebagai Muslim, misalnya, tidak percaya dengan gambaran Tuhan versi agama Kristen. Pertanyaannya, apakah dengan begitu saya bisa disebut telah mengingkari Tuhan, dan demikian saya menjadi Ateis, hanya karena saya tidak percaya dengan konsep ketuhanan versi mereka? 

Tentu saja tidak. Karena mengingkari gambaran tertentu tentang Tuhan tidak sama dengan mengingkari wujud Tuhan itu sendiri. Poin ini saya kira penting untuk diperjelas, karena selama ini kerapkali muncul kebingungan sebagian orang terkait hal itu. Mereka, misalnya, kadang bertanya-tanya, “di dunia ini ada banyak Tuhan, lantas Tuhan yang asli Tuhan yang mana kalau begitu?” Jawaban untuk pertanyaan ini pernah saya sertakan dalam buku “Seputar Ketuhanan.” Tetapi, poin yang ingin saya tegaskan di sini ialah, pertanyaan ini bertitik-tolak dari satu asumsi yang keliru. Yaitu memandang gambaran tentang Tuhan sebagai wujud Tuhan itu sendiri. 

Tuhan adalah Sang pencipta. Sebagai sang pencipta, maka tentu saja dia berbeda dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Dalam kehidupan sehari-hari saja kita tidak akan menjumpai ada pembuat sesuatu yang persis sama dengan apa yang dia buat itu. Kalau penalaran rasional menggiring kita pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, maka pastilah wujud Tuhan itu berbeda dengan wujud makhluk-makhluk-Nya. Kalau wujud Tuhan diyakini tidak ada, tentu saja nalar sehat kita bertanya-tanya, lantas siapa yang mengadakan alam semesta ini? Karena pada faktnya, dalam kehidupan sehari-hari pun, tidak ada sesuatu yang bisa menciptakan dirinya sendiri. Coba Anda tatap segala sesuatu yang ada di dalam semesta ini. Adakah di antara mereka yang bisa mengadakan dirinya sendiri? Tidak ada. Semuanya bergantung kepada sesuatu yang lain. 

Dan kalau kebergantungan itu tidak berakhir pada satu wujud, maka itu sama saja dengan kita memungkinkan adanya regresi yang tidak berujung, atau tasalsul. Dan itu mustahil. Saya sudah paparkan sisi kemustahilan tasalsul itu dalam tiga video yang bisa Anda akses melalui link ini. Kalau penjelasan tentang kemustahilan tasalsul itu diterima oleh nalar sehat, maka keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang diniscayakan oleh akal sehat kita sendiri. Dan wujud Tuhan itu sudah pasti satu. Kenapa harus satu? Penalaran yang logis memang akan berakhir pada kesimpulan itu. Anda bisa baca uraiannya di buku Seputar Ketuhanan, yang tadi sempat saya sebutkan itu. Atau bisa juga melalui artikel ini.

Satu Tuhan, Banyak Gambaran

Lagi-lagi orang akan punya celah untuk bertanya, kalau wujud Tuhan itu hanya ada satu, lantas gambaran tentang-Nya kenapa bisa jadi banyak? Lalu gambaran Tuhan yang asli itu yang mana? Sebetulnya ini pertanyaan yang sangat mudah sekali untuk dijawab, kalau Anda sepakat dengan apa yang sudah saya sampaikan di muka. Manusia itu punya keterbatasan dalam nalar dan wawasannya. Juga, gambaran mereka tentang sesuatu itu tidak jarang dipengaruhi oleh karakternya, kecerdasannya, penghayatan batinnya, latar belakang hidupnya, pendidikannya, budaya yang mengitarinya, tempat belajarnya, dan lain-lain. Saya tadi katakan bahwa menyangkut urusan pribadi manusia saja, kita kadang berbeda sudut pandang. Apalagi menyangkut Tuhan, yang hakikat dan keberadaan-Nya di luar jangkauan kita. 

Jadi, adanya banyak gambaran tentang Tuhan itu adalah sesuatu yang wajar. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, gambaran yang sahih tentang Tuhan itu adanya di mana? Tentu saja, jawaban yang masuk akal akan berkata, bahwa gambaran yang sahih tentang suatu sosok itu hanya bisa kita dapatkan dari sosok itu sendiri. Kalau Anda mau tahu tentang Faizah, misalnya, yang lebih tahu tentang Faizah itu ya tentu dirinya sendiri. Orang lain boleh punya gambaran tentang Faizah. Tapi, Faizah pasti lebih tahu tentang dirinya. Dan dia pasti mengetahui sisi-sisi tertentu dari kepribadiannya yang tidak diketahui sepenuhnya oleh sosok yang lain. Ini logika sederhana yang sengaja saya ketengahkan untuk mengatakan, bahwa kalau kita ingin tahu Tuhan itu seperti apa, maka jawabannya adalah informasi yang datang dari Tuhan itu sendiri. 

Dan itulah yang dalam bahasa agama disebut dengan istilah wahyu. “Loh memang Tuhan mungkin berkomunikasi dengan hamba-hamba pilihan-Nya?” Mungkin ada yang bertanya begitu. Kita tanya balik, “loh memang apa yang membuat itu mustahil?” Karena akal kita sendiri faktanya memungkinkan terjadinya hal itu. Dan memang itu terjadi. Dalam sejarah kita mengenal sosok agung bernama Muhammad Saw, yang datang dengan ajaran tauhid, dan melanjutkan ajaran para nabi terdahulu. Kemudian beliau mengaku sebagai nabi, orangnya dikenal jujur dan berakhlak mulia. Dan di samping itu beliau juga memaparkan bukti-bukti kenabiannya, yang di antaranya adalah al-Quran. 

Bukti akan kenabiannya bisa diuji secara rasional pula. Dan pemaparannya sudah ada. Kita bisa yakin bahwa al-Quran itu berasal dari Tuhan, antara lain karena ia adalah mukjizat yang tak tertandingi sampai sekarang. Faktanya menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang mampu membuat karya yang setara dengan kitab suci itu. Di dalamnya ada kabar-kabar masa lampau, prediksi-prediksi yang akan datang, informasi tentang para nabi terdahulu, gambaran tentang hari akhir yang begitu detail, di samping juga ada penjelasan tentang Tuhan. Padahal, dalam sejarah hidupnya, Nabi Muhammad Saw sendiri tidak pernah belajar kepada siapapun. Lantas dari mana semua pengetahuan dan keajaiban itu berasal kalau bukan dari Tuhan? 

Akal sehat kita akan bilang, sesuatu yang luar biasa pastilah berasal dari sosok yang luar biasa pula. Tidak mungkin berasal dari manusia. Dan siapa lagi sosok yang luar biasa itu kalau bukan Tuhan kita, Allah Swt. Jadi, kalau Anda mau tahu Tuhan itu seperti apa, maka bacalah informasi wahyu yang diterima oleh manusia agung itu. Bacalah hadits-hadits nabi. Bacalah lembaran al-Quran. Lalu simak penjelasan para ulama yang paham dengan seluk beluk dua sumber ajaran Islam itu. Niscaya kita bisa mengenal Tuhan kita, sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia.  

Kendati demikian, apa yang dipaparkan dalam al-Quran dan Sunnah itu pun tidaklah menjelaskan hakikat Tuhan sebagaimana adanya. Karena kalau hakikat Tuhan itu dijelaskan dan disingkap apa adanya, maka otomatis Dia menjadi sosok yang terbatas. Dan kalau sudah terbatas, maka gugurlah sudah ketuhanannya. Lalu untuk apa dijelaskan kalau penjelasan itu tidak mencerminkan Tuhan dalam hakikat yang sesungguhnya? Kita harus tahu, bahwa apa yang tersaji dalam wahyu itu hanyalah “jendela” yang Allah buka agar kita bisa mengenal-Nya sesuai dengan kapasitas kita sebagai manusia. 

Sekali lagi, pengenalan yang kita maksud adalah pengenalan dalam kapasitas kita sebagai manusia biasa, yang diliputi oleh berbagai keterbatasan. Adapun hakikat Allah yang sesungguhnya itu sendiri tidak akan bisa dijangkau. Dan memang tidak akan pernah bisa dijelaskan. Tapi bukan berarti Dia tidak bisa diketahui. Dia bisa diketahui dan dikenal, sesuai dengan kemampuan dan kapasitas kita itu. Melalui apa? Melalui wahyu yang disampaikan-Nya. Dan juga akal kita sebagai alat untuk memahami wahyu itu. Dan ketika itulah kita akan yakin, bahwa Tuhan kita itu satu. Meskipun manusia berbeda-beda dalam menggambarkan sosok yang satu itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda