Agama Buatan Manusia? Ya, Tapi…

Apa benar agama itu buatan manusia? Belum lama ini Luthfi Assyaukanie dan Hasanuddin Abdurrakhman melampirkan postingan yang menjawab pertanyaan itu secara afirmatif. Bagi yang mengikut akun media sosial keduanya sejak lama, tentu sudah bukan rahasia lagi, bahwa baik Luthfi dan Hasan keduanya cukup sering mengolok-ngolok tuhan dan agama. Sayang, satu di antara keduanya rajin menghapus postingan-postingan itu, sehingga kita sulit melacak jejak-jejak tulisannya. Dan kesucian bulan puasa ternyata tidak membuat mereka berhenti melakukan perbuatan itu.  Baiklah. Dalam tulisan ini kita akan berusaha untuk menjawab pertanyaan itu, dengan penalaran yang benar-benar logis melalui uraian di bawah ini. 

Pertanyaan dasarnya, apa benar agama itu buatan manusia? Pertama-tama, sebagai keniscayaan objektivitas, untuk menjawab pertanyaan di atas kita perlu dudukkan terlebih dulu agama apa yang kita maksud? Sebab, jika Anda memaksudkan semua agama, tanpa terkecuali, dan jumlah agama itu sendiri banyak, maka beban pembuktian Anda akan semakin besar. Karena ketika itu Anda harus melakukan penelitian terhadap semua agama yang ada di muka bumi ini. Lalu Anda teliti satu persatu ajarannya. Kemudian Anda lahirkan satu kesimpulan, bahwa ajaran-ajaran itu semuanya buatan manusia. Tidak ada yang berasal dari Tuhan pencipta alam semesta. 

Dan tentu saja itu akan menjadi tugas yang amat sulit. Dan, saya kira, kedua orang ini bukanlah tipe pengkaji objektif yang sudi melakukan penelitian semacam itu. Tetapi, apabila yang mereka maksud dengan agama itu hanya sebagian saja, tentu saja saya sangat setuju dengan itu. Sebagian agama yang ada di muka bumi ini memang ada yang buatan manusia. Dan nalar kita sendiri tidak memustahilkan adanya fakta itu. Bisa saja manusia-manusia membuat-buat sebuah ajaran, lalu diajarkanlah kepada orang-orang, kemudian disampaikanlah satu klaim, bahwa ajaran itu berasal dari Tuhan. Mereka pun mengamini itu. Lalu jadilah agama. Itu mudah saja terjadi. 

Tapi, apakah kenyataan itu berlaku bagi semua agama? Saya mengklaim tidak. Lalu agama apa yang bukan buatan manusia itu? Ya tentu saja agama Islam. Kenapa harus Islam? “Wah, Anda egois nih. Pengennya merasa benar sendiri.” Anda boleh menilai saya egois, kalau fakta-fakta yang ada menunjukkan bahwa dasar-dasar ajaran agama ini memang buatan manusia. Dan Anda harus buktikan itu. Tapi, kalau fakta yang ada menunjukkan bahwa dia berasal dari suatu sumber. Dan sumbernya ini, menurut nalar sehat, bukan berasal dari manusia, melainkan dari pencipta alam semesta, maka kita perlu mengakui itu. Karena kengototan dalam mengingkari sebuah fakta adalah bagian dari “keculasan intelektual.”

Saya tidak bicara Islam dalam arti yang luas, yang mencakup semua detail ajaran-ajarannya, baik yang lurus maupun yang menyimpang. Karena kita sendiri tahu, bahwa dalam agama itu ada sisi-sisi fundamental, tapi juga ada sisi-sisi partikular. Sejuah menyangkut sisi-sisi yang bersifat partikular, peranan nalar para ulama Muslim tidak bisa kita nafikan dalam hal itu. Katakanlah bahwa sebagian dari ajaran itu ada yang memang buatan manusia. Dalam arti terlahir dari hasil ijtihad mereka. Tapi, semua ijtihad itu pada akhirnya bermuara pada sumber-sumber asasi, yang diklaim berasal dari Tuhan. Yaitu al-Quran dan Sunnah. Dan yang kita bicarakan sekarang adalah sumber-sumber asasi dan sisi-sisi yang bersifat fundamental itu. Kita menglaim bahwa itu semua berasal dari Tuhan.   

Jalan Pembuktian Termudah

Lalu apa bukti kalau inti-inti ajaran Islam itu bukan buatan manusia, dan berasal dari Tuhan pencipta alam semesta? Perlu kita tegaskan bahwa agama Islam itu pada dasarnya merujuk pada satu agama yang dibawa oleh semua nabi. Semua nabi itu pada dasarnya hanya membawa satu agama. Yaitu Islam. Wong Tuhannya juga satu. Masa iya agamanya bisa banyak? Agama yang Tuhan turunkan itu hanya ada satu. Inti dari agama itu ialah tauhid. Tauhid itu artinya beriman pada keesaan Tuhan, juga beriman kepada semua utusan-Nya. Dan Nabi Muhammad Saw hanyalah salah satu, sekaligus yang terakhir, dari nabi-nabi yang membawa agama Islam itu. 

Karena itu, pertanyaan apakah Islam benar-benar berasal dari Tuhan, mau tidak mau akan menggiring kita pada pertanyaan lain seputar apakah Nabi Muhammad Saw itu benar-benar utusan Tuhan atau bukan? Kalau klaim terakhir itu terbukti kesahihannya, maka secara otomatis klaim pertama juga bisa diafirmasi kebenarannya. Karena rasul terakhir yang membawa Islam itu ialah manusia agung bernama Muhammad Saw. Lantas apa bukti yang kita miliki untuk menegaskan bahwa beliau itu benar-benar utusan Tuhan? 

Sebetulnya jawaban ini bisa panjang. Tapi, dalam tulisan singkat ini, kita akan kemukakan jawaban yang semudah mungkin. Sebagai keniscayaan ilmiah, kita harus tahu bahwa setiap klaim yang kita ajukan itu harus bersandar pada bukti-bukti yang sahih. Karena itu, bagi orang yang mengklaim agama itu buatan manusia, mereka harus memaparkan bukti-buktinya. Apa bukti-bukti yang Anda miliki untuk sampai pada kesimpulan itu? Kalau tidak ada buktinya, maka klaim itu hanya akan menjadi omong kosong belaka. 

Nabi Muhammad Saw mengklaim dirinya sebagai nabi. Lantas, apakah Nabi Muhammad Saw sudah memaparkan bukti-bukti akan kenabiannya? Bagi yang sudah akrab dengan tradisi keislaman klasik, khususnya dalam ilmu kalam, bukti-bukti itu jelas banyak sekali. Dan semuanya tidak ada yang bertentangan dengan akal. Sekarang kita sebut satu saja. Yaitu al-Quran. Ini adalah kitab suci yang diklaim sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw, yang menjadi bukti akan kenabiannya. Apakah benar bahwa al-Quran itu benar-benar mukjizat? Atau itu cuma sebatas klaim kosong umat Muslim semata? 

Anda boleh tanya para pakar bahasa Arab manapun di belahan muka bumi ini. Para pakar yang benar-benar pakar, yang kepakarannya disaksikan oleh para pakar yang lain. Tanya sama mereka, sudah adakah manusia yang berhasil membuat karya, atau surat saja, yang semisal dalam keindahan, kedalaman, keluasan, kefasihan, dan susunannya seperti halnya al-Quran? Kalau ada, para ahli bahasa di lingkungan masyarakat Arab dulu sudah pasti melakukan itu. Dan, kalau ada di zaman sekarang, niscaya orang itu sudah menjadi perbincangan masyarakat dunia. 

Faktanya menunjukkan bahwa sampai detik ini tidak ada manusia yang bisa menandingi kitab suci itu. Artinya, klaim bahwa al-Quran berupa mukjizat itu adalah fakta, bukan khayalan maupun dogma. Tetapi, apakah mukjizat itu buatan nabi Muhammad? Faktanya nabi Muhammad sendiri menafikan itu. Beliau mengaku, bahwa al-Quran itu bukan berasal dari dirinya, melainkan dari Allah Swt. Banyak sekali ayat-ayat al-Quran yang menegaskan hal itu. Kalau beliau tahu bahwa al-Quran itu kitab yang luar biasa, untuk kepentingan apa coba nabi Muhammad Saw menisbatkan itu kepada selainnya? Kenapa tidak beliau akui saja sebagai buah karyanya?

Oh mungkin saja Nabi Muhammad melakukan itu dengan tujuan agar dirinya dihormati oleh orang banyak. Dan mendapatkan pengikut yang banyak. Tapi, masalahnya, kita dihadapkan pada fakta sejarah yang lain, yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad itu, dalam sepanjang karir hidupnya, tidak pernah ditemukan satu pun kejadian yang mengisahkan bahwa beliau pernah berbohong. Sosoknya dikenal dengan budi pekerti yang luhur. Dia dipercayai oleh musuh-musuhnya, sebelum dicintai oleh para pengikutnya. Tidak mungkin dia melakukan perbuatan culas semacam itu. 

Sejarah hidupnya terpampang dengan lengkap dan jelas dalam kitab-kitab sirah. Beliau tidak pernah berbohong, berakhlak mulia, dan beliau mengaku sebagai utusan Allah Swt. Bukan hanya mengaku, tapi beliau juga memaparkan bukti atas pengakuannya itu. Dan bukti itu sampai detik ini tidak bisa ditandingi oleh manusia manapun. Pertanyaanya, dari mana itu semua berasal kalau bukan dari Tuhan? Pastilah penentuan sumber dan muasal itu harus ada. Dan pilihan yang logis akan berakhir pada satu kesimpulan, bahwa sesuatu yang luar biasa pastilah berasal dari sosok yang luar biasa pula. Dan sosok luar biasa itulah yang dalam bahasa Agama disebut sebagai Tuhan. 

Bukankah itu kesimpulan yang sangat masuk akal? Fakta lainnya lagi, al-Quran ini memuat kabar masa lampau yang begitu banyak, prediksi-prediksi di masa mendatang, gambaran yang begitu detail tentang alam akhirat, dan begitu juga penjelasan tentang Tuhan yang begitu terperinci. Khayalan manusia manapun tak akan mampu memaparkan hal-hal semacam ini. Apalagi itu dikemukakan dengan bahasa yang benar-benar tak tertandingi. Apalagi kita juga dihadapkan pada fakta sejarah lain, bahwa Nabi Muhammad itu tidak pernah belajar kepada siapapun dari kalangan manusia. 

Bahkan beliau disebut sebagai nabi yang ummi. Yang tidak melakukan kegiatan membaca dan menulis. Tentu saja nalar sehat kita akan bertanya-tanya, lantas dari mana semua keajaiban dan pengetahuan itu berasal, kalau bukan berasal dari Tuhan? Tidak mungkin dia muncul dengan dirinya sendiri. Pastilah ada sumbernya. Dan jawaban paling masuk akal ialah Tuhan. Kalau Anda tidak percaya Tuhan, perdebatan terpaksa harus kita geser kedalam soal keberadaan Tuhan itu sendiri. Apakah Tuhan itu benar-benar ada? Bisa saja kita berdebat dalam soal itu dulu. Dan kita juga punya banyak bukti rasional untuk menegaskan keberadaan wujud yang Maha agung itu. 

Kalau Anda sudah sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu ada, maka adanya sebuah aturan yang berasal dari Tuhan, yang kita sebut sebagai agama, itu tidak akan begitu sulit untuk diterima oleh akal sehat kita. Tuhan pasti sayang sama ciptaan-Nya, kok. Masa mereka ditinggalkan begitu saja? Dari situlah Tuhan mengutus para nabi. Dan merekalah yang membawa agama bernama Islam itu. Itu adalah sesuatu yang mungkin menurut akal. Dan itu sudah terjadi dalam sejarah. Bukti-buktinya ada. Semua butir-butir keimanan umat Muslim itu bersandar pada bukti-bukti yang jelas. 

Lantas, mereka yang bilang bahwa agama buatan manusia itu punya bukti apa? Setiap klaim yang terlahir tanpa bukti. Atau ada bukti tapi buktinya cacat, maka perlu kita tenggelamkan kedalam sungai. Kita sepakat bahwa sebagian agama itu ada yang buatan manusia. Tapi itu tidak berlaku bagi Islam, yang bukti-bukti akan kebenarannya begitu berlimpah. Dan semua bukti-bukti itu sangat senafas dengan akal sehat. Kecuali di mata orang-orang yang bangunan nalarnya sudah mulai berkarat. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab. 

Bagikan di akun sosial media anda