Kisah Tentang Sahih Bukhari dan Kecengengan Para Simpatisan Mun’im Sirry

Dulu, di Mesir pernah ada perbincangan cukup ramai seputar kitab Sahih Bukhari. Kekisruhan itu mula-mula dipicu oleh tingkah laku salah seorang jurnalis bernama Islam Buhairi, yang mengkritik banyak hadits dari kitab itu. Dan dia mengemukakan kritikan itu secara berepisode di layar televisi. Kalaulah kritikan itu disampaikan oleh orang yang benar-benar paham ilmu hadits, dan menghormati betul kaidah keilmuan mereka, niscaya responnya tak akan seheboh itu. Lah ini orang bodoh. Paham hadits nggak. Pernah belajar agama sama ahlinya nggak. Kok tiba-tiba seenaknya mengkritik sana-sini. Di televisi pula. Tindakan kurangajar memang tak layak untuk mendapatkan pembiaran. 

Salah satu kebiasaan ulama-ulama al-Azhar, kalau ada satu pemikiran menyimpang meluas, biasanya mereka turun tangan dan berkomentar, sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Yang bisa menulis, menulis di koran, majalan, ataupun artikel-artikel di internet. Yang bisa ceramah, ceramah di atas mimbar-mimbar. Dibuat agenda-agenda keilmuan yang bertujuan untuk membantah pikiran-pikiran itu. Didatangkan para ahli. Sehingga kebodohan orang itu pun pada akhirnya benar-benar tersingkap secara jelas dan terang benderang. Hasilnya, sampai sekarang orang itu tidak meningggalkan jejak. Pikiran ngawurnya tenggelam begitu saja ke dasar liang lahat. 

Saya masih ingat, waktu itu Islam Buhairi berdebat langsung dengan dua ulama besar. Yaitu Syekh Usamah, seorang ahli hadits terkemuka di negeri kinanah ini, yang ditemani oleh Habib Ali al-Jifri. Debatnya di televisi pula. Setelah perdebatan selesai, di keesokan paginya saya masuk kuliah. Prof. Samahi, yang mengampu mata kuliah Ilmu Kalam, bertanya kepada para mahasiswanya. Saya kebetulan masuk kelas waktu itu. “Eh kamu pada nonton debat Islami Buhairi nggak tadi malam?” Tanya beliau. “Iya, yang mulia” Kata kita. Respon singkat beliau, “itu anak terlaknat dari orang terlaknat.” al-Lai’in ibn al-La’in. 

Mendengar itu, kita cuma bisa tertawa lebar. Saya anggap beliau sedang melaknat perbuatannya aja, yang memang sudah kurangajar dan keterlaluan. Saya membayangkan kalau kata-kata itu disimak oleh fans Mun’im, yang sering bersembunyi di balik mentalitas cengeng itu. Paling mereka bilang, “ya nggak usah berlebihan gitu juga pak. Itu ad hominem namanya. Kan kita harus menghormati perbedaan pendapat.” Membodohkan orang otomatis dibilang ad hominem. Paham istilah itu juga nggak padahal. Eeeeeh, udah tahu merusak, malah meminta untuk dihormati, sebagai bagian dari merayakan perbedaan pendapat. Memang begitulah pintu pertahanan terakhir kalau orang sudah terpojok dan hampir terpental ke dalam jurang. 

Manakala satu pemikiran menyimpang meluas, apalagi yang menyebarluaskannya dipandang sebagai seorang ahli dan pintar, mau tidak mau orang itu memang harus dibuktikan kebodohannya. Dan publik perlu disadarkan tentang kebodohan orang itu. Kalau saja mereka sering membaca kitab-kitab klasik, sebenarnya diksi-diksi pedas semacam itu juga sering ditunjukkan oleh para ulama. Baik dalam ceramah maupun tulisan-tulisan mereka. Kata-kata seperti “jahl”, “jahil”, “ghabi”, “ghabawah”, atau ungkapan-ungkapan seperti, “ab’adahumullah”, “qabbahahumullah”, dan redaksi-redaksi serupa lainnya, itu biasa saja kita jumpai dalam tulisan-tulisan mereka. Umumnya ungkapan-ungkapan itu kita jumpai ketika mereka mengulas pikiran ahlu bid’ah, yang dampak negatifnya tidak kecil bagi masyarakat Muslim.

Sayang, yang paling rajin berkomentar adalah orang-orang yang tampaknya kurang piknik dalam menelaah literatur itu. Padahal itu biasa-biasa saja. Tidak perlu didramatisasi sebagai ungkapan-ungkapan yang tidak beradab. Apalagi kalau itu dikemukakan untuk menolak pikiran-pikiran yang memang terbukti biadab. Mungkin mereka bertanya, loh emang itu buat apa? Ya itu bagian dari upaya menggugah kesadaran publik, supaya fitnah yang ditimbulkan tidak melebar dan meluas. Apalagi untuk orang-orang awam. Itu bagian dari cara memutus mata rantai kehancuran dan kesesatan. Kalaulah pendapat-pendapat yang merusak itu masih bertahan, kelak mereka akan sadar, oh ternyata ini pendapat orang bodoh. Dan mereka pasti berpikir panjang untuk mengamini pendapat itu.

Tapi, yang bermental cengeng memang akan selalu memiliki celah untuk mempersoalkan cara itu. Tidak masalah.  Boleh saja Anda mempersoalkan itu. Tapi jangan mengatasnamakan logika, dengan alasan ad hominem segala. Ad hominem itu baru terbilang sebagai fallacy kalau ada penarikan kesimpulan dengan premis yang tidak relevan. Seperti Anda, misalnya, mengklaim pendapat orang salah, hanya semata-mata dengan alasan menyingung kepribadiannya semata. A berpendapat begini. Lalu, Anda bantah, “eh, pendapat itu salah.” Kemudian orang bertanya kepada Anda. “Apa bukti kalau pendapat itu salah”. Anda jawab, “karena dia itu lulusan Barat. Ngajinya nggak bener. Culun. Bloon. Belajarnya sama Orientalis, dan bla bla bla.” 

Dan penyerangan itu Anda jadikan sebagai satu-satunya alasan untuk menyalahkan pendapatnya. Memang secara logis itu keliru. Karena untuk membuktikan benar salahnya sebuah pendapat, jalan pembuktiannya adalah argumen, bukan hanya menyinggung kepribadian dan hal-hal yang kurang relevan. Itu baru namanya ad hominem. Adapun membuktikan kebodohan seseorang dengan paparan bukti yang masuk akal. Kemudian dia punya pendapat, dan kita bantah pendapat itu dengan argumen-argumen tandingan. Lalu sesekali kita buktikan kebodohan orang itu dengan tujuan supaya tidak menjadi fitnah bagi umat Muslim yang lain, dan supaya mereka tidak terpedaya lagi dengan kebodohan yang bersangkutan, hanya orang oon yang menilai itu sebagai fallacy. 

Di mana letak fallacy-nya? Mereka pasti kebingungan untuk menjawab pertanyaan itu. Justru pernyataan bahwa “A bodoh” itu adalah klaim yang membutuhkan pembuktikan. Kalau Anda tidak memaparkan buktinya, maka klaim Anda hanya akan menjadi omong kosong belaka. Anda harus paparkan bukti-bukti itu. Kalau bukti-bukti itu terpapar dengan jelas, alih-alih menjadi fallacy, justru itu bisa menjadi penyingkapan akan kebenaran. Paham ora son? Bukan berarti setiap kali ada pertengkaran akademik kita harus saling membodohkan satu sama lain, hanya karena ada perselisihan di antara kita. Bukan itu maksudnya. 

Retorika pedas semacam itu kadang bergantung pada tingkat keseriusan tema yang dibahas, juga dampak-dampak negatif yang dapat dihasilkan dari pikiran-pikiran itu. Kalau dampak negatifnya cukup serius, dan kesadaran publik perlu dibangun dalam hal itu, ya buktikan aja kebodohannya. Itu adalah tindakan yang sah. Kecuali di mata orang-orang yang mentalitasnya tidak sebesar rongga mulutnya. Kalau bertengkar dalam masalah khilafiah, mungkin terlalu berlebihan kalau kita menggunakan narasi-narasi semacam itu. Dalam persoalan-persoalan partikular, perbedaan pendapat itu merupakan sesuatu yang wajar. Tidak ada perselisihan dalam hal itu. 

Tapi ketika bicara persoalan-persoalan yang serius dan fundamental, apalagi kalau kerusakannya benar-benar parah, dan memberikan dampak negatif yang tidak kecil, lalu pelan-pelan kerusakan itu pun diamini oleh sebagian kalangan, kemudian terbukti bahwa pikiran-pikiran itu digelindingkan oleh orang bodoh, tapi dipandang ahli oleh mereka, ya mau tidak mau memang harus dibuktikan kebodohannya. Sayangnya, selalu ada manusia-manusia bermental cengeng yang tidak tahan dengan diksi-diksi semacam itu. Padahal itu adalah buah dari upayanya sendiri. 

Kekurangajaran akan membuahkan kekurangajaran serupa. Kalau saja orang itu mengkaji agama kita dengan penuh rasa hormat, berbasis pada metode keilmuan yang sah, sudi meralat pendapat kalau terbukti salah, tidak menyepelakan metode keilmuan yang sudah mapan, dan benar-benar patuh dengan aturan main yang berlaku dalam setiap ilmu, niscaya diksi-diksi semacam itu tak perlu keluar. Tapi kalau kenyataannya berbalik dari semua itu, memang adakalanya membuktikan kebodohan orang itu perlu. Supaya orang-orang tidak lama terlarut dalam kegelapan yang dia pertontonkan itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda