Agama yang Benar Hanya Ada Satu, Tapi Bagaimana Menentukan Kebenaran Agama Itu?

Jika Tuhan yang menciptakan alam semesta ini hanya ada satu, maka sebagai konsekuensi logisnya agama yang benar-benar berasal dari Tuhan juga pasti hanya ada satu. Kenapa harus begitu? Mari kita mulia penjelasan tentang ini dengan mendefinisikan makna agama itu sendiri. Apa itu agama? Para pakar mengemukakan jawaban yang beragam. Untuk mempersingkat uraian, saya ingin kemukakan satu saja definisi yang kerap kita jumpai di buku-buku para ulama Muslim. Definisi yang saya kemukakan ini tentu tidak sepenuhnya persis sama dengan definisi mereka. Tapi, saya mencoba untuk mempersingkat dan menyerap poin-poin intinya saja. 

Agama itu ialah aturan yang diklaim berasal dari Tuhan, yang diperuntukkan bagi makhluk-makhluk yang berakal sehat. Kira-kira itulah inti dari agama. Dengan mengacu pada definisi ini, maka suatu sistem keyakinan tidaklah disebut agama kecuali memenuhi tiga unsur. Pertama, Tuhan. Kedua, aturan, dan yang ketiga adalah hamba. Mari kita fokuskan perhatian kita pada apa yang kita sebut sebagai aturan itu. Aturan yang kita maksud di sini ialah aturan dalam arti yang luas, baik itu menyangkut akidah, syariat maupun akhlak. Agama memuat tiga unsur aturan itu. 

Akidah dirumuskan agar manusia bisa mengenal sosok yang disembahnya. Syariat berperan untuk mengatur amal perbuatan mereka, sementara akhlak berkaitan dengan dimensi batiniahnya. Sekarang, dari ketiga aturan ini, mari kita fokuskan perhatian kita pada sisi akidahnya saja. Kalau Tuhan yang satu itu menurukan syariat yang berbeda-beda, akal kita masih bisa mencerna itu. Karena syariat itu terkait erat dengan dinamika kehidupan dan perkembangan zaman. Apa yang dulu sesuai, boleh jadi sekarang tidak. Karena itu sangat wajar kalau setiap nabi diutus dengan syariat yang kadang berbeda-beda. 

Tapi, jika menyangkut urusan akidah, Tuhan yang satu itu tidak mungkin menurunkan penjelasan yang saling bertentangan tentang diri-Nya, lalu semuanya dikatakan benar. Saya ingin pertegas poin ini dengan permisalan sederhana sebagai berikut.

Jantung utama dari ajaran akidah ialah keyakinan tentang Tuhan. Tuhan itu seperti apa sih? Kalau kita bertanya pada ajaran Islam, maka jawabannya tegas, Tuhan itu adalah wujud yang esa, tidak berbilang, tidak terdiri dari bagian-bagian, kepada-Nyalah bergantung segala sesuatu. Dia menyandang seluruh sifat kesempurnaan, keindahan dan keagungan. Dan dia terbebas dari berbagai macam kekurangan. Dan Dzat Tuhan itu hanya ada satu. Itulah penjelasan tentang Tuhan yang bisa Anda dapat dalam agama Islam, dengan segala perinciannya. Tapi bagaimana misalnya dengan agama Kristen? Tentu saja, orang Kristen akan berkata bahwa Tuhan mereka juga satu. 

Tapi, sayangnya, Tuhan yang satu itu, menurut mereka, memiliki tiga pribadi, dan kesemuanya disebut sebagai Tuhan. Yesus itu, bagi orang Kristen, adalah Tuhan. Bapak adalah Tuhan, dan roh kudus juga diklaim sebagai Tuhan. Dan tiga pribadi itu diyakini satu. Jelas itu menyimpan kontradiksi. Karena bagaimana mungkin satu menjadi tiga, dan tiga menjadi satu? Apalagi ketiga pribadi itu adalah tiga dzat, bukan tiga sifat. Sementara dalam Islam, tak ada sama sekali ajaran yang mempertuhan manusia itu. Tak ada pembagian gelar ketuhanan pada individu-individu itu. 

Pertanyaannya sekarang, mana yang benar dari dua keyakinan itu? Kalau Anda memandang semuanya benar, maka sebagai konsekuensi logisnya berarti Anda memungkinkan terjadinya perubahan dalam dzat Tuhan itu sendiri. Tuhan yang tadinya satu, kemudian menjadi tiga. Lagipula, kalau benar ajaran trinitas itu berasal dari Tuhan, kenapa ajaran semacam itu tidak kita kenal dalam ajaran para nabi terdahulu? Fakta bahwa trinitas tidak pernah diajarkan oleh para nabi terdahulu adalah bukti, bahwa ajaran itu bukan berasal dari Tuhan, melainkan penyimpangan dari ajaran tauhid. 

Jadi, selama kita berkesimpulan bahwa Tuhan pencipta alam semesta itu sebagai Tuhan yang satu, maka sebagai konsekuensi logisnya agama yang diridai oleh Tuhan, atau satu-satunya akidah yang berasal dari Tuhan, itu pasti hanya ada satu. Dan agama itu harus benar-benar terbukti berasal dari-Nya. Bukan buatan manusia semata. Akidah para nabi tidak mungkin berbeda. Kalau berbeda, dan semuanya diklaim benar, maka secara otomatis kita memungkinkan terjadinya perubahan pada Dzat Tuhan itu sendiri. Dan itu jelas mustahil. Ini argumen paling sederhana untuk menegaskan bahwa agama yang benar itu hanya ada satu. 

Menentukan Kebenaran Agama

Pertanyaan selanjutnya yang menarik untuk kita jawab ialah, lantas apa cara yang bisa kita gunakan untuk mengukur kebenaran sebuah agama? Kapan sebuah agama itu dikatakan benar? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab, setelah kita menenuntukan makna kebenaran itu sendiri. Jawaban yang paling banyak diamini oleh para filsuf menyebutkan, bahwa sesuatu itu dikatakan benar kalau dia sesuai dengan kenyataan, atau realitas. Kalau ajaran suatu agama itu terbukti sesuai dengan kenyataan, butir-butir ajarannya ditopang oleh argumen yang rasional dan memuaskan, maka dapat kita pastikan bahwa agama itu memang benar. 

Tapi, kalau tidak, mungkin dia bisa diyakini benar. Tapi, Anda harus tahu, bahwa apa yang diyakini benar belum tentu sepenuhnya benar. Untuk menentukan apakah sebuah agama benar atau tidak, maka yang berhak untuk berbicara adalah dalil dan argumentasi pendukungnya. Pertanyaannya sekarang, mana agama yang butir-butir ajarannya berbasis pada argumentasi itu? Anda cari saja. Berdasarkan hasil penelusuran kita, memang harus kita akui, bahwa agama yang layak dikatakan benar itu memang hanya Islam. Buktinya, pertanyaan apapun yang Anda ajukan untuk melihat dalil-dalil dari ajaran Islam, semua jawabannya sudah tersedia. 

Anda mau bertanya bukti keberadaan Tuhan? Jawabannya ada. Ingin tahu apa bukti kenabian Nabi Muhammad Saw? Jawabannya juga tersedia. Kurang yakin bahwa al-Quran itu adalah firman Tuhan? Para ulama Muslim sudah menyajikan jawaban-jawabannya rasionalnya. Apa saja yang ingin Anda tanyakan terkait bukti-bukti kebenaran ajaran Islam, jawabannya ada dan bisa Anda baca. Lalu al-Quran, yang sudah terbukti berasal dari Tuhan itu, menyatakan, bahwa agama yang diridai oleh Allah itu hanyalah Islam. Apa itu Islam? Agama yang dibawa oleh semua nabi. Dan Nabi Muhammad Saw hanyalah salah satu, sekaligus yang terakhir, dari rangkaian nabi-nabi itu. 

Tidaklah seseorang disebut sebagai Muslim, kecuali setelah ia beriman kepada semua utusan-Nya, kitab-kitab suci-Nya, malaikatnya, hari akhir, dan lain-lain. Agama ini diturunkan secara sempurna. Butir-butir ajarannya disandarkan pada dalil-dalil yang jelas dan masuk akal. Agama yang dulu diterima oleh Nabi Adam As itulah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Mereka semua terekat dalam satu ikatan tauhid, yaitu kesaksikan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan mereka semua adalah utusan Allah. Tauhid yang sejati bukan hanya sebatas mengakui ketuhanan Tuhan, tapi juga mengakui semua utusan Tuhan, dengan segala ajaran yang mereka bawa. Dan itulah inti dari ajaran Islam. 

Hanya saja, dalam bentangan sejarahnya, selalu ada manusia-manusia yang membuat hal-hal baru dalam beragama. Mereka memunculkan ajaran-ajaran yang sebetulnya bukan berasal dari Tuhan, tapi diklaim berasal dari Tuhan. Tentu saja dengan tujuan yang bermacam-macam. Bisa jadi karena tujuan politik, kepentingan pribadi, kelompok, dan lain sebagainya. Agama-agama itu bisa muncul dari sebab yang beranekaragam. Menjamurnya jumlah agama di dunia adalah hal yang lumrah. Karena sebagian dari agama-agama itu adalah buah pikiran manusia, yang tabiatnya memang menerima keanekaragaman. Tetapi, agama sejati yang benar-benar berasal dari Tuhan pasti hanya ada satu. Karena Tuhan yang menciptakan alam semesta juga hanya ada satu. Dan itulah Islam. 

Dalam konteks ini, al-Quran menyatakan, “sesungguhnya agama yang diridai oleh Allah itu adalah Islam.” (Q. 3: 19). Dan “barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka dia tidak akan diterima, dan di akhirat nanti dia termasuk orang-orang yang merugi.” (Q. 3: 85). Kenapa bisa begitu? Ya karena agama yang diwahyukan Tuhan memang hanya agama itu. Wajar kalau Dia menjadikannya sebagai satu-satunya agama yang Dia ridai. Dan bukti-bukti kebenaran Islam sudah terpapar secara berlimpah dalam karya kesarjanaan para ulama Muslim. Tinggal kita pelajari saja. Dan kalau terbukti bahwa agama itu benar, lalu dia menafikan kebenaran agama lain, maka otomatis agama-agama lain itu menjadi salah. Sekalipun pemeluknya meyakini benar. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda