Kajian KeislamanKritikRespon AktualTerkiniTerpopuler

Tuduhan Kekerasan, Kebohongan, dan Keculasan Mun’im dalam Tanggapannya

Untuk kesekian kalinya Mun’im menunjukkan sikap culas kepada pengkritiknya. Dia berani bersikap kurangajar terhadap kitab suci umat Muslim—dan saya terpaksa untuk menunda tulisan ini dulu, karena harus merespon tanggapannya yang satu ini—lalu dengan seenaknya mempersoalkan pilihan kata lawan bicaranya, sambil memframing itu sebagai bentuk kekerasan verbal. Padahal, kalau saja netijen yang rongga mulutnya lebih besar dari isi kepalanya itu sering membaca kitab-kitab klasik, dan tidak berkomentar kecuali setelah membaca tulisan orang dengan utuh, apa yang saya lakukan itu sama sekali bukan hal yang baru dalam tradisi keilmuan Islam.

Coba Anda lihat bagaimana cara para ulama Muslim ketika meng-counter pikiran-pikiran yang merusak, yang sering dikenal dengan istilah “syubuhat” itu. Dalam tulisan-tulisan yang bergenre “rudud ‘ala syubuhat” (bantahan atas pikiran-pikiran menyimpang), itu seringkali kita jumpai diksi-diksi yang pedas. Anda baca. Dan tolong akui fakta itu. Hatta sebagian ulama-ulama besar al-Azhar sendiri kadang menggunakan diksi-diksi semacam itu. Kalau mereka sudah dihadapkan pada pemikiran menyimpang yang dampaknya benar-benar serius bagi masyarakat Muslim. Lihat, misalnya, ulasan saya dalam tulisan ini (link-nya ada di sini). 

Kata “bloon” yang saya alamatkan pada butir-butir pemikiran Mun’im, dalam bahasa Arab, itu adalah terjemahan dari kata “jahl”. Apa yang aneh dengan kata itu? Orang bloon itu bahasa Arabnya “jahil”. Dan itu sering sekali kita jumpai dalam bantahan para ulama. Kadang digunakan juga kata “ghabi”. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, kata itu bisa bermakna “bego”. Belum lagi dengan ungkapan-ungkapan lain seperti ab’adahumullah (semoga Tuhan menjauhkan mereka dari rahmatnya), qabbahahumullah (semoga Allah memperburuk wajah mereka), (semoga tercurah laknat kepada mereka), “qatalahumullah” (semoga Tuhan menghancurkan mereka), dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan sejenisnya. 

Jangan Anda kira bahwa yang mengutarakan kata-kata semacam itu hanya orang-orang  kampungan. Itu ulama-ulama besar. Tahu nggak apa sesungguhnya yang mereka serang dengan semua ungkapan itu? Orangnya? Atau pemikirannya? Nggak usah lebay dan cengeng ya. Malu sama usia. Ungkapan-ungkapan pedas itu seringkali digunakan oleh para ulama ketika mereka ingin meredam fitnah yang ditimbulkan oleh pemikiran-pemikiran yang menyimpang. Apalagi kalau penyimpangannya itu serius dan melahirkan dampak yang tidak kecil. Itu bagian dari upaya “tahdzir”. Kadang diksi-diksi semacam itu perlu digunakan, supaya orang tidak terpedaya dengan pemikiran yang menyimpang itu. Apalagi kalau itu pikiran yang merusak itu sudah mulai meluas. Saya sudah jelaskan alasan ini dalam tulisan sebelumnya.  

Makanya, selain main internet dan ngoceh di media sosial, kalau bisa telaahlah tradisi kitab kuning itu dengan baik. Jangan cuma baca buku-bukunya Orientalis, yang kadang terlihat sok bijak padahal isinya ingin mengacak-acak Islam. Perdebatan para teolog-filsuf itu tak jarang diwarnai oleh kata-kata semacam itu. Untungnya mereka bukan orang-orang cengeng. Dan tidak menampilkan keberatan seperti si Mun’im. Manakala meruak pemikiran-pemikiran yang merusak, lihat bagaimana cara para ulama besar meruntuhkan pemikiran-pemikiran itu? Mereka datang dengan pemaparan argumen. Betul. Dan saya sendiri, sebagai anak didik yang berupaya meneladani mereka, juga memaparkan argumen-argumen itu. 

Tapi, di samping itu, di samping melampirkan pemaparan argumen, demi menggugah kesadaran publik, dan demi mewaspadai orang awam agar tidak terpedaya dengan pikiran ybs, mereka pun tak jarang menggunakan kata-kata yang membodohkan itu. Apa tujuannya? Ya itu tadi. Untuk mewaspadai publik dari pemikiran orang itu. Agar kerusakan yang ditimbulkannya tidak meluas. Kenapa Anda harus mempersoalkan cara saya, sementara para ulama sendiri banyak yang melakukan itu? Anehnya lagi, ada saja orang Muslim yang mau tertipu dengan sikap Mun’im yang seolah-olah bijak itu. Mereka nggak tahu, sebiadab apa Mun’im dalam memperlakukan kitab suci mereka. Karena mungkin nggak membaca. Dan mereka nggak mempersoalkan itu. Dengan alasan itu kajian ilmiah. Apanya yang ilmiah? Kajian Mun’im itu jauuuuuh sekali dari kata ilmiah. Bahasanya doang yang ilmiah. Isinya banyak memuat sampah. 

Bagi yang sering membaca kitab para ulama, terutama dalam genre yang saya sebutkan tadi, sebetulnya tak ada yang aneh dengan diksi yang saya gunakan itu. Itu lumrah sekali kita jumpai. Apakah Anda berani menyebut para ulama itu telah menggunakan kekerasan verbal, seperti yang Mun’im tuduhkan kepada saya? Saya belum pernah menyebutkan doa-doa seperti di atas. Apalagi melaknat. Paling saya cuma bilang bloon (jahil), culun (sadzaj), pecundang (khain), dan biadab (su’ul adab). Itupun ada bukti-buktinya. Bukan ungkapan polemik yang dilebih-lebihkan, seperti istilah yang Mun’im alamatkan kepada al-Quran. Kalaupun itu dianggap berlebihan, bagi seorang Mun’im sebenarnya itu sah-sah saja. Karena toh dia sendiri memungkinkan firman Allah mengkritik dengan cara seperti itu! Kalau kritikan al-Quran saja dia posisikan demikian, bukankah dia lebih berhak untuk diperlakukan dengan cara seperti itu? 

Apa yang aneh dengan ungkapan-ungkapan itu? Hello, Anda lihat dulu kepada siapa kata-kata itu dialamatkan. Kepada seorang ulama? Orang yang jujur dalam mengkaji Islam? Atau orang yang memang berhak menyandang semua itu, dengan semua kekurangajaran yang telah dia tunjukkan selama ini? Kalau kata-kata semacam ini saya alamatkan kepada seorang sarjana yang benar-benar mengkaji Islam secara objektif, tidak mengacak-acak keimanan umat Muslim, mampu menghargai metode keilmuan para ulama, mengindahkan kaidah-kaidah bahasa Arab, tidak memaksakan pendapatnya sendiri, dan tidak menimbulkan syubuhat yang benar-benar merusak, Anda boleh mempersoalkan diksi-diksi itu.  

Sekarang, sekali lagi saya tanya, kepada siapa kata-kata itu saya alamatkan? Kepada orang yang sudah kurangajar kepada kitab suci, nabi dan dasar-dasar ajaran kita sendiri. Dan buktinya banyak. Sebagian di antaranya sudah kita buktikan, dan sisanya akan kita paparkan nanti. Anda gugat saja argumennya kalau tidak setuju. Untuk apa mempersoalkan cara, sementara cara itu sendiri ada presedennya dalam tulisan para ulama? Mun’im mengira bahwa saya melakukan itu untuk memuaskan hasrat para followers saya saja. Eh, asal Anda tahu ya, kalau saya menulis demi memuaskan hasrat followers, dan mendulang banyak pujian, saya sudah pasti melakukan apa yang sudah Anda lakukan. Yaitu memblokir orang-orang yang menghujat saya, lalu membiarkan kolom komentar tulisan saya diisi oleh banyak pujian. Kalau saya mau, saya bisa melakukan itu. 

Tapi coba Anda lihat, ada di antara para penghujat itu yang saya blokir? Lihat kolom komentar saya. Apa semua isinya berupa pujian? Lihat komentar-komentar yang kurangajar dan ingin menjatuhkan itu. Apa komentar-komentar itu saya hapus? Apa saya blokir akunnya, seperti yang suka Mun’im lakukan terhadap pembenci tulisan-tulisannya? Sorry, saya tidak dididik dengan mentalitas hipokrit semacam itu. Berani berbuat, berani menelan resiko. Dan saya tidak begitu peduli dengan semua komentar itu. Mun’im berani nggak menelan resiko perbuatannya? Atau dia mau terus menerus menampilkan sikap cengeng semacam itu? Saya dididik untuk tidak membiarkan pikiran-pikiran merusak menyebar luas, selama kita bisa mengkritik dan membantah. Karena itu bagian dari amanat keilmuan. Paham Mun’im sampai di sini?  

Sekali lagi saya bilang, kalau buah pemikiran yang Mun’im paparkan itu berbasis pada metode keilmuan yang sahih dan adil. Dia menghormati kaidah penafsiran para ulama Muslim. Mengindahkan kaidah-kaidah bahasa Arab. Tidak mengacak-acak ajaran yang sudah mapan, tidak memaksakan pendapatnya sendiri, logis premisnya, matang kesimpulannya, dan tidak menimbulkan kerusakan dan dampak-dampak negatif, sudah pasti respon kita tak akan sekeras itu. Lah ini ceritanya berbeda. Mun’im itu mengkaji al-Quran dengan bermodalkan nalar liar. Dia ingin bermain-main dengan kitab suci itu. Kesimpulannya banyak yang merusak. Dia berani melabrak kaidah-kaidah penafsiran yang sudah mapan, yang telah dirumuskan oleh para ulama Muslim. Premis-premis yang dibangunnya banyak yang cacat. Kesimpulan-kesimpulannya merusak akidah, bahkan berkonsekuensi pada kekufuran. 

Pertanyaan saya, kepada orang-orang yang selama ini keberatan, kenapa Anda tidak mempersolakan cara si Mun’im yang jelas-jelas biadab itu? Anda mendorong saya untuk membuang diksi-diksi pedas. Jangan harap itu bisa terjadi. Tapi saya bisa dengan mudah saja melakukan itu, kalau Mun’im sudi memperbaiki caranya dalam mengkaji al-Quran, dan membuang jauh kesimpulan-kesimpulan biadab itu. Kalau pandangan biadab Mun’im itu Anda tampilkan di hadapan para ulama, persis sebagaimana adanya, saya kira respon mereka akan jauh lebih keras ketimbang saya. Bisa-bisa orang itu digampar berkali-kali. Karena dia sudah kurangajar dalam memperlakukan firman Allah. Mau berkomentar apa lagi Anda? Apa perlu saya tampilkan teks-teks dari para ulama besar yang menggunakan diksi-diksi semacam itu, ketika mereka berupaya untuk meruntuhkan pikiran-pikiran yang merusak, seperti yang Mun’im promosikan selama ini?   

Bukti Kebohongan Mun’im

Di samping secara culas menuduh saya telah melakukan kekerasan verbal, dalam upaya mempertahankan pandangannya Mun’im juga sudah berbohong. Miris sekali saya melihat kenyataan ini. Ini agak mirip dengan cara bertahan yang pernah dia tunjukkan ketika saya menampilkan teks tulisannya yang merendahkan Nabi Muhammad Saw. Padahal itu jelas-jelas pernyataan dia sendiri. Tapi dia menyebut itu sebagai pandangan orang-orang Barat. Sekarang kasusnya agak berbeda. Tapi intinya sama. Berkelit dan ngeles. Mun’im, orang-orang yang kurang teliti membaca karya-karya Anda bisa saja Anda kelabui dengan pernyataan itu. Saya tidak termasuk. Dan sekarang saya akan buktikan di mana letak kebohongan Anda. 

Kepada para pembaca, saya persilakan Anda untuk membaca tanggapan Mun’im secara utuh. Saya mau kutip sebagian di antaranya saja, yang saya rasa perlu untuk dikomentari. Karena di situlah titik kebohongan dia. Dalam tanggapannya, Mun’im menulis:

“Dia menyebarkan kesan bahwa saya telah berbuat biadab terhadap al-Qur’an, kemudian dijadikan justifikasi untuk menyerang saya. Padahal, kebiadaban yang dituduhkan kepada saya itu hanya pikirannya sendiri. Misalnya, karena saya beragumen al-Qur’an mengembangkan “retorika polemik” dalam kritiknya terhadap doktrin Kristen, kemudian dia berkesimpulan saya menganggap al-Qur’an atau Allah berbohong. Saya tidak senaif itu untuk sampai kepada apa yang disimpulkannya. Dia sengaja mem-frame bahwa implikasi dari pandangan tentang retorika polemik al-Qur’an ialah tak bisa lain kecuali al-Qur’an berbohong karena kritiknya tak sesuai dengan realitas. Padahal, berulang-ulang kali saya katakan dan juga tulis, bahwa dengan retorika polemik berarti yang dikritik al-Qur’an ialah doktrin Kristen, baik yang mainstream maupun yang heretik.”

Setelah dia pun memframing saya seolah tidak mau menyimak penjelasannya. Seolah saya ini anak kecil yang bengal yang tidak mau menyimak penjelasan orang dewasa. Padahal, sebelum dia mengutarakan pernyataan itu, saya sudah terlebih dulu melahap buku-buku dan ceramah-ceramahnya. Dan karena itu saya tidak bisa ditipu oleh pembelaan culas semacam itu. Dan saya sudah bilang, bahwa kalau Mun’im itu benar, niscaya saya akan akui kebenaran itu. Tapi kalau dia salah, dan kesalahannya serius, maka sepatutnya kesalahan itu dia koreksi. Dia berkali-kali mempersoalkan cara orang dalam mengkritik. Tapi tidak menyinggung substansi dari kritik itu sendiri! 

Anehnya lagi, saudara-saudara sekalian, Mun’im itu memberi tanggapan sebelum saya memposting tulisan asli saya sendiri, yang ingin membuktikan kebiadaban pandangannya itu. Harusnya dia tunggu dulu. Baru ditanggapi. Lah ini tulisannya saja belum disebar. Kok sudah ditanggapi, dengan alasan bahwa itu hanya pikiran saya saja, dan tidak mencerminkan pandangan dia sebagaimana adanya? Begitukah cara seorang sarjana merespon dan menjatuhkan lawannya? Yang dia tampilkan itu cuma screenshot dari status “iseng” saya. Tulisannya sendiri belum saya posting. Lah kok bisa dia berkomentar sebelum membaca?   

Saya akan ulas kebohongan dan kebiadaban Mun’im ini dalam tulisan selanjutnya, yang sudah saya bocorkan judulnya itu. Sekarang saya ingin merespon tanggapannya terlebih dulu. Betulkah Mun’im berkata seperti itu dalam bukunya, saudara-saudara? Untuk membuktikan kebohongannya, saya sarankan Anda untuk menyimak satu saja ceramah dia yang ada di link ini. Ini salah satu ceramah kurangajar Mun’im yang pernah saya simak. Dan apa yang dia katakan di sana jauh berbeda dengan apa yang dia tulis dalam tanggapannya. Silakan Anda simak. Jangan benarkan pernyataannya sebelum Anda lahap buku-buku dan ceramahnya. 

Sekarang mari kita paparkan isi bukunya. Dia menuduh al-Quran telah berpolemik. Kritikan al-Quran itu, kata Mun’im, adalah kritikan yang bersifat polemis. Dan itulah gagasan utama dari disertasinya. Pertanyaan kita sekarang, apakah retorika polemik itu menggambarkan pandangan lawan bicara secara adil dan tepat, dan sesuai dengan fakta? Kata Mun’im, “ al-Quran bukannya tidak tahu Trinitas yang dipahami kaum Kristiani, tapi tetap mengkritiknya sedemikian rupa untuk memenangkan sebuah argumentasi. Retorika polemik memang KERAP MELEBIH-LEBIHKAN DAN BAHKAN DISTORTIF.” (Islam Revisionis, hlm. 148)

Jelas terlihat di sini, bahwa retorika polemik yang dimaksud Mun’im adalah mengkritik pendapat lawan bicara dengan cara melebih-lebihkannya, atau mendistorsi pandangan itu. Karena tujuannya adalah memenangkan perdebatan. Dan, asal Anda tahu, ini cukup sering dia sampaikan dalam ceramah-ceramahnya. Pertanyaan saya, bisakah Anda mengalamatkan kritikan semacam itu kepada firman Allah Swt, yang sudah pasti sesuai fakta, dan Dia tidak mungkin berbuat zalim dengan cara menuduh, mendistorsi, melebih-lebihkan pandangan hamba-hamba-Nya yang menyimpang? 

Kalau Allah mengkritik keyakinan orang Kristen secara distortif dan dilebih-lebihkan, jelas itu sama saja dengan Anda menyebut kritikan Tuhan tidak sesuai dengan fakta. Itu adalah perbuatan yang culas, yang dalam kehidupan sehari-hari saja akan kita kutuk bersama-sama. Mun’im sendiri tidak akan rela dengan kritikan semacam itu. Lalu kok bisa-bisanya dia menisbatkan keculasan itu kepada firman Allah Swt? Bagaimana mungkin Anda menyebut kitab suci al-Quran mengkritik dengan cara culas seperti itu, hanya demi memenangkan perdebatan semata? Ternyata, kesimpulan ini juga didukung oleh pernyataan Mun’im yang lain. Perhatikan kutipan ini dengan seksama. 

“Al-Quran menggunakan retorika tertentu untuk mendeskripsikan absurditas doktrin Kristen dari perspektif Islam. Dengan kata lain, al-Quran sebenarnya mengetahui bahwa umat Kristen tidak meyakini tiga Tuhan atau mengatakan Maryam sebagai uqnum Trinitas. TUDUHAN itu lebih merefleksikan iklim polemik di mana al-Quran lahir. Demikian juga ketika al-Quran MENUDUH (lihat, Mun’im menyebut al-Quran telah menuduh, dan ini cukup sering saya jumpai di buku-bukunya!) para penganut agama lain telah menyekutukan Tuhan. Itu bagian dari retorika polemik al-Quran. Sebab, mereka bukan saja tidak menyebutkan diri musyrik, tapi juga menolak dikatakan menyekutukan Tuhan. Mereka adalah pengikut agama tauhid.” (Islam Revisionis, hlm. 15). 

Mun’im juga mengatakan, bahwa “KALANGAN YANG DITUDUH AL-QURAN SEBAGAI KAFIR ATAU MUSYRIK TIDAK BERARTI BETUL-BETUL KAFIR DAN MUSYRIK.” (Islam Revisionis, hlm. 16).

Kita bertanya, kalau mereka itu tidak betul-betul kafir dan musyrik, bukankah sebagai konsekuensi logisnya Anda akan mengatakan bahwa al-Quran telah berbohong dan melakukan fitnah, karena penyebutan al-Quran atas suatu kelompok sebagai kafir dan musyrik itu tidak benar-benar berlaku sesuai fakta? Lihat. Inilah yang dia tulis di dalam bukunya. Dan sekarang silakan Anda bandingkan dengan pembelaan dia itu. Apa lagi yang samar dari kebiadaban Mun’im itu? Saya akan ulas secara lebih detial kutipan ini dalam tulisan selanjutnya. Anda tunggu itu.  

Sekarang coba Anda perhatikan dengan seksama kutipan di atas. Coba Anda ganti kata al-Quran itu dengan Allah. Karena al-Quran adalah firman Allah. Dan Mun’im sendiri mengakui itu. Allah tahu, kata Mun’im, bahwa umat Kristen tidak meyakini tiga Tuhan, atau mengatakan Maryam sebagai uqnum trinitas. Dengan kata lain, kalau mengikuti logika Mun’im, Allah itu tahu orang Kristen itu menyembah satu Tuhan (dan dia berkali-kali ngotot menegaskan hal ini), dan tidak menuhankan Maryam. Tapi, mereka “dituduh” (ingat, ini diksi yang digunakan oleh Mun’im sendiri) menyembah tiga Tuhan dan menuhankan Maryam. Apa tujuannya? Tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan mereka! 

Astaghfirullah. Saya mau tanya, kepada Muslim bernalar sehat manapun di dunia ini, kalau Tuhan tahu tentang sesuatu, apakah mungkin firman-Nya itu bertentangan dengan pengetahuan-Nya sendiri? Mau tidak mau, kalau Anda setuju dengan pandangan Mun’im, Anda akan mengiyakan pertanyaan itu. Bahwa pengetahuan Allah berbeda dengan firman-Nya. Pengetahuan-Nya bilang orang Kristen itu menyembah satu Tuhan. Tapi firman-Nya mengatakan bahwa mereka menyembah tiga Tuhan. Bisakah Anda membenarkan pandangan ini? Lalu ditariklah kesimpulan bahwa itu dilakukan dalam konteks retorika polemik untuk memenangkan perdebatan. 

Saya tanya sekali lagi, sebagai Muslim bisakah Anda menisbatkan perbuatan culas semacam ini kepada Allah Swt?  Kalaupun dia mengklaim al-Quran itu mengkritik trinitas, Anda lihat sendiri, bahwa Mun’im melihat trinitas versi al-Quran itu berbeda dengan trinitas versi Kristen. Kata Mun’im, “Yang dikritik al-Quran ialah paham Trinitas yang juga ditolak oleh umat Kristen sendiri.” (Islam Revisionis, hlm. 15)

Dan karena itu pada akhirnya sama saja. Kalau kita mengikuti penjelasan Mun’im, maka kritikan yang ditampilkan oleh al-Quran itu bertentangan dengan fakta yang ada. Atau itu akan dianggap sebagai retorika polemik yang melebih-lebihkan pendapat lawan. Tujuannya supaya menang debat doang. Saya ingin tanya, kalau suatu kritikan dianggap tidak sesuai dengan fakta, dan melebih-lebihkan pendapat lawannya, bukankah itu yang namanya dusta? Bukankah itu bagian dari fitnah? Bukankah itu cerminan dari cara mengkritik yang tidak jujur? Jelas, mengutarakan pernyataan yang bertentangan dengan fakta, atau melebih-lebihkan pendapat lawan bicara, itu adalah pernyataan dusta, fitnah, ketidakjujuran, bahkan itu adalah bagian dari kezaliman. Karena ketika itu Anda sudah menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya.  

Dan itulah yang ingin Mun’im lekatkan kepada al-Quran. Itulah kedok terdalam dari gagasan dia, yang kadang tidak disadari oleh para pembaca bukunya itu. Kalau Anda mempersolkan diksi saya untuk menyerang Mun’im—kalaulah itu harus disebut sebagai bagian dari “penyerangan”—lantas kenapa Anda tidak mempersoalkan cara pembacaan biadab Mun’im dalam memperlakukan firman Tuhan? Menurut Anda, apakah kesimpulan dia yang menyebut al-Quran berpolemik, dengan pemaknaan seperti tadi itu, termasuk kesimpulan yang beradab, dan dengan begitu kita perlu menyikapinya secara ilmiah? Jelas itu pikiran sampah. Kalau Anda amini pandangan itu dengan sepenuh hati, bisa-bisa Anda terjatuh dalam kekufuran. 

Ingat, yang saya tampilkan di atas itu baru sebagian saja dari kutipan-kutipan bukunya yang lain. Belum lagi dengan ceramah-ceramahnya. Saya akan tunjukkan kepada Anda sisi-sisi lain dari kebiadan orang itu. Yang jelas, dalam tanggapan singkatnya Mun’im sudah membohongi para pembacanya. Di samping dia juga menunjukkan sikap culas, dengan memframing lawannya sebagai pelaku kekerasan verbal. Memang begitulah sikap seorang penakut dan pecundang. Berani bicara macam-macam tentang agama. Tapi ketika kebiadabannya ingin disingkap, dia gunakan cara-cara culas untuk bertahan. Di manakah sisi kebiadaban Mun’im yang lain itu? Kita akan lihat itu dalam tulisan yang akan datang. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda