Mun’im Tidak Paham Kaidah Berdebat

Orang yang memandang Mun’im sebagai seorang intelektual handal, bagi saya, tidak jauh beda dengan orang yang tertipu oleh botol sirup marjan padahal isinya sendiri hanyalah racun yang mematikan. Mun’im punya keahlian dalam mengemas gagasan-gagasan sampahnya kedalam bahasa ilmiah. Dan banyak orang sudah tertipu dengan kemasan itu. Padahal, kalau saja dikuak wajah aslinya, apa yang terlihat ilmiah itu sesungguhnya hanyalah pikiran-pikiran sampah. Dan itu fakta yang sudah kita buktikan beberapa di antaranya. 

Dalam tanggapannya yang menuduh saya telah melakukan kekerasan verbal—dan saya pun sudah menjawab itu dalam satu tulisan utuh, yang bisa Anda baca melalui link ini—Mun’im juga merespon pemaparan saya yang mengkritik pendapatnya, dalam diskusi yang dilangsungkan dengan salah satu pembaca bukunya. Anda perhatikan uraian saya di sana dengan seksama. Dan, sekarang saya ingin buktikan, bahwa cara Mun’im dalam merespon pandangan lawannya, itu sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang sarjana. 

Cara dia dalam merespon itu mencerminkan bahwa dia tidak paham kaidah-kaidah penting dalam berdebat. Dalam presentasi itu saya berupaya untuk membuktikan bahwa klaim al-Quran berpolemik yang menjadi gagasan utama Mun’im, kata saya, dapat berkonsekuensi pada penisbatan hal-hal yang tidak wajar kepada Allah Swt. Saya ingin tegaskan sekali lagi alasan itu dalam tulisan ini. Al-Quran itu berpolemik, kata Mun’im. Sekarang coba Anda ganti kata al-Quran itu dengan kata Allah. Karena al-Quran, seperti yang diakui oleh Mun’im sendiri, merupakan firman Allah. 

Jadi, proposisi itu, kalau saja harus diperjelas, maka redaksinya bisa berubah menjadi “Allah itu berpolemik.” (Maha suci Allah dari perbuatan semacam itu). Lalu apa maksudnya berpolemik? Seperti yang saya paparkan buktinya dari buku Mun’im sendiri. Berpolemik itu artinya mengkritik pendapat lawan bicara secara distortif dan dilebih-lebihkan. Allah tahu, kata Mun’im, orang Kristen itu menyembah satu Tuhan. Tapi, menurut Mun’im, al-Quran menampilkan mereka sebagai para penyembah tiga Tuhan. 

Otomatis, kalau asumsinya seperti itu, maka cara Allah dalam mengkritik orang Kristen itu menjadi tidak adil. Karena kritik yang adil itu nggak boleh melebih-lebihkan dan mendistorsi pandangan lawan. Itu sama saja dengan berbuat fitnah. Kenapa? Karena kritik yang ditampilkannya, ketika itu, tidak memotret pandangan lawan sebagaimana adanya. Dan, saya juga katakan di sana, bahwa pandangan itu dapat berkonsekuensi akan adanya pertentangan antara pengetahuan Tuhan dengan firman-Nya. Dan itu jelas mustahil.   

Memang Mun’im mengatakan bahwa al-Quran mengkritik trinitas. Tapi, harap Anda ingat— sebagaimana sudah saya singgung dalam tulisan yang lalu—bahwa trinitas menurut Allah itu, dalam pemahaman Mun’im, berbeda dengan trinitas versi Kristen. Trinitas versi Kristen tidak memasukkan Maryam sebagai pribadi. Sementara trinitas versi Allah memasukkan Maryam. Allah tahu orang Kristen itu tidak menuhankan Maryam, kata Mun’im. Tapi Allah sengaja melebih-lebihkan pandangan orang Kristen itu, dengan cara menuduh mereka menuhankan Maryam, supaya memenangkan perdebatan dengan mereka!  

Coba Anda bayangkan, betapa kurangajar dan biadabnya pandangan semacam ini. Saya benar-benar meminta perlindungan kepada Allah dari tindakan biadab semacam ini. Saya terpaksa menulis redaksi itu semata-mata demi membuka mata para pembaca saja. Tapi, memang begitulah kedok terdalam dari gagasan orang itu. Saya sudah buktikan, baik dalam presentasi maupun tulisan, bahwa gagasan Mun’im itu berkonsekuensi pada penisbatan adanya fitnah, kebohongan, ketidakadilan, dan kezaliman kepada Dzat yang Maha mulia Allah Swt. Dan saya sudah paparkan alasan-alasannya. Apa seharusnya respon Mun’im ketika mendapatkan kritikan semacam itu? 

Dalam ilmu debat, apa yang saya tempuh itu adalah bagian dari metode naqdh. Yakni suatu upaya untuk membuktikan kebatilan pendapat lawan, dengan membuktikan bahwa pandangan yang bersangkutan itu berkonsekuensi pada kemustahilan, seperti pemberlakuan hal-hal yang tidak wajar kepada Tuhan itu tadi. Memang itu mustahil secara akal. Sekarang bagaimana seharusnya Anda menjawab? Harusnya, kalau Mun’im ini tipe sarjana yang baik, dan dia tahu bahwa gagasan yang dikemukakannya itu berkonskeuensi pada hal-hal yang tidak masuk akal, apalagi kurangajar terhadap Tuhannya sendiri, harusnya dia meralat pandangan itu. 

Kalau dia ingin mempertahankan pandangannya, yang harusnya dia lakukan itu ialah memutus konsekuensi logis yang saya sebutkan tadi. Mun’im buat satu tulisan secara utuh untuk membuktikan bahwa klaim al-Quran berpolemik itu sama sekali tidak berkonskeuensi pada apa-apa yang saya sebutkan tadi. Itu yang seharusnya dia lakukan. Dan pastinya dia akan kesulitan sekali melakukan itu. Tapi kalau saja dia berhasil melakukan itu, maka otomatis argumen saya pun bisa terpatahkan. Tentu saja, sebagai tanggapan alternatifnya, saya pun sudah menyiapkan argumen yang lain. Dan kalau saya paparkan argumen yang lain ini, maka Mun’im harus melihat. Kemana arah dari argumen yang saya paparkan itu? Dan bagaimana cara memutusnya? 

Sayang, kalau Anda menyimak jawabannya, tampak terlihat bahwa dia memang tidak paham dengan kaidah debat semacam itu. Maunya asal nyerocos aja. Demi melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri, sambil memframing orang lain sebagai sosok yang tidak berakhlak. Padahal dia sendiri sudah bersikap biadab dan kurangajar kepada firman Tuhannya. Saya kutipkan kembali tanggapan Mun’im itu di bawah ini. 

“Dia menyebarkan kesan bahwa saya telah berbuat biadab terhadap al-Qur’an, kemudian dijadikan justifikasi untuk menyerang saya. Padahal, kebiadaban yang dituduhkan kepada saya itu hanya pikirannya sendiri. Misalnya, karena saya beragumen al-Qur’an mengembangkan “retorika polemik” dalam kritiknya terhadap doktrin Kristen, kemudian dia berkesimpulan saya menganggap al-Qur’an atau Allah berbohong.

Saya tidak senaif itu untuk sampai kepada apa yang disimpulkannya. Dia sengaja mem-frame bahwa implikasi dari pandangan tentang retorika polemik al-Qur’an ialah tak bisa lain kecuali al-Qur’an berbohong karena kritiknya tak sesuai dengan realitas. Padahal, berulang-ulang kali saya katakan dan juga tulis, bahwa dengan retorika polemik berarti yang dikritik al-Qur’an ialah doktrin Kristen, baik yang mainstream maupun yang heretik.”

Coba Anda perhatikan kutipan di atas. Apakah Mun’im datang dengan argumen yang memutus konsekuensi yang saya sebutkan itu? Tidak ada sama sekali. Dia hanya mengatakan, bahwa dia tidak senaif itu. Lah, masalahnya apa buktinya kalau Anda tidak senaif itu? Kalau cuma berkilah dan tidak mengaku, anak keluaran Paud juga bisa. Dia itu seorang sarjana. Harusnya paham bagaimana caranya menjawab kritik yang ditujukan kepada dirinya. Kenyataan dia mengatakan bahwa al-Quran mengkritik doktrin Kristen, baik yang heretik maupun mainstream, tidak serta merta memutus konsekuensi yang saya sebutkan tadi.

Karena toh pada faktanya konsekuensi itu sendiri masih berlaku. Kenapa? Karena, menurutnya, trinitas versi al-Quran itu berbeda dengan trinitas versi Kristen. Dan al-Quran, dalam pandangan Mun’im, sengaja menampilkan kritikan yang berbeda itu, supaya bisa memenangkan perdebatan dengan mereka itu. Pada akhirnya sama saja. Kritikan al-Quran, dalam pandangan Mun’im, berbeda dengan fakta. Kalau berbeda dengan fakta, dan ada unsur melebih-lebihkan, bukankah itu bagian dari fitnah dan dusta? Coba Anda amati kembali tulisan saya yang membuktikan kebohongan dirinya itu, lengkap dengan kutipan-kutipan yang saya sadur dari buku yang dia tulis sendiri. 

Apakah yang dia kemukakan ini mampu memutus konsekuensi-konsekuensi logis yang saya alamatkan kepada gagasan utamanya? Mun’im tidak melakukan itu. Karena memang dia tidak paham kaidah dalam berdebat. Dari Mun’im kita bisa belajar. Bahwa sebelum menjadi sarjana yang sok kritis terhadap Islam, harusnya kita bekali terlebih dulu diri kita dengan wawasan yang benar-benar mendalam. Wabilkhusus dalam bidang ilmu-ilmu rasional. Kalau tidak, maka begitulah resikonya. Kita akan dipermalukan oleh gagasan dan pemikiran kita sendiri. Meskipun orang-orang bodoh tetap saja tidak sadar dengan masalah-masalah serius yang terpendam di balik gagasan itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda