Mengkritik Mun’im dalam Sinaran Retorika Polemik

Dalam tulisan sebelumnya kita sudah memaparkan apa yang dimaksud dengan istilah “polemik” dalam gagasan utama Mun’im Sirry terkait polemik kitab suci itu. Ketika menyebut al-Quran berpolemik, Mun’im ingin mengatakan bahwa al-Quran itu mengkritik keyakinan umat agama lain secara distortif dan dilebih-lebihkan. Al-Quran, misalnya, dalam pandangan Mun’im, tahu orang Kristen itu menyembah Tuhan yang satu. Tapi mereka, kata Mun’im, ditampilkan sebagai penyembah tiga Tuhan. Apa tujuannya? Tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan mereka. 

Al-Quran juga, lagi-lagi kata Mun’im, tahu bahwa orang-orang yang dituduh musyrik itu tidak benar-benar musyrik. Atau yang dituduh kafir itu belum tentu benar-benar kafir. Artinya tuduhan musyrik dan kafir itu, dalam pandangan Mun’im, belum tentu sesuai dengan fakta. Kalau mau diperjelas, itu adalah fitnah yang dialamatkan kepada mereka. Secara jelas dia menyatakan bahwa orang musyrik itu adalah penganut agama tauhid (Islam Revisionis, hlm. 15-16). Dan orang Kristen juga, menurut Mun’im, termasuk orang-orang beriman, bukan orang-orang kafir. 

Lalu, pertanyaannya, kenapa al-Quran menyebut mereka sebagai kafir? Atau mengapa kelompok tertentu itu disebut sebagai musyrik, padahal mereka sendiri diasumsikan menganut agama tauhid? Itulah yang dimaksud “retorika polemik” dalam pemaknaan Mun’im. Yakni melebih-lebihkan pendapat lawan, yang tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan mereka. Betapa culasnya perbuatan itu. Dan keculasan itulah yang sesungguhnya ingin Mun’im lekatkan kepada firman Tuhannya sendiri. 

Permisalan lain, orang Wahabi tahu kalau orang NU itu nggak menyembah kuburan. Tapi, meski begitu, mereka ditampilkan sebagai penyembah kuburan. Lalu mereka pun menyesatkan orang-orang NU dengan tuduhan yang tidak berdasar itu. Apa tujuannya? Tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan orang NU itu sendiri. Bukankah Anda akan memandang itu sebagai tindakan yang kurangajar? Ya, itulah sesungguhnya makna “polemik” yang secara kejam dan biadab Mun’im lekatkan kepada firman Allah Swt. Kita sudah jelaskan apa saja konsekuensi-konsekuensi buruk dari pandangan tersebut. 

Pertanyaan yang ingin kita ajukan sekarang ialah, apakah Mun’im sendiri dapat membenarkan kritikan semacam itu, kalau kritikan semacam itu dilayangkan kepada dirinya sendiri? Apakah kritikan semacam itu tergolong sebagai kritikan yang sehat dalam berdebat? Lawan bicaranya tahu kalau Mun’im berpandangan A. Tapi, dia sengaja melebih-lebihkan pandangan Mun’im dengan menampilkannya sebagai penganut pandangan B. Tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan Mun’im. Pertanyaannya, bisakah Mun’im membenarkan kritikan semacam itu? 

Kalau dia saja berani menilai kritikan al-Quran—yang merupakan firman Allah—dengan cara seperti itu, harusnya dia sendiri lebih berhak, dan tidak boleh keberatan, apabila kritikan dengan gaya serupa dialamatkan kepada dirinya. Kalau kita mengikuti logika Mun’im, boleh saja A mengkritik pendapat B dengan cara mendistorsi dan melebih-lebihkan pendapatnya, kalau memang tujuannya adalah memenangkan perdebatan dengan B itu sendiri. Kenapa itu boleh? Ya karena firman Allah sendiri dia pandang mengkritik dengan cara seperti itu! 

Kalau firman Allah sendiri boleh dipandang begitu, kenapa Mun’im tidak berhak untuk menerima kritikan polemis serupa? Fakta bahwa Mun’im memperlakukan firman Tuhan secara biadab, harusnya menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk mempertontonkan kekurangajaran serupa kepada dirinya. Apalagi kalau yang kita dedahkan itu adalah fakta, bukan hanya retorika polemis semata. Kalaupun kita menggunakan retorika polemis untuk menjatuhkan Mun’im, maka itu sah. Karena dia sendiri melihat kritikan al-Quran dengan cara seperti itu. Bukankah itu perlakuan yang adil? 

Dalam suatu kasus misalnya saya tahu bahwa Mun’im tidak bermaksud menghina firman Allah. Tapi, konsekuensi akhir dari pandangan Mun’im adalah penghinaan atas firman Allah. Kalau kemudian saya menulis artikel dengan judul, “Mun’im telah menghina firman Allah”, dan saya jadikan itu sebagai bagian dari retorika polemis—karena dia sendiri faktanya melayangkan tuduhan kejam itu kepada kitab suci al-Quran—harusnya dia tidak keberatan dengan kritikan semacam itu. Kenapa? Ya karena, sekali lagi, dia sendiri menilai firman Allah sebagai bagian dari retorika polemis! 

Lalu kenapa dia tidak berhak untuk mendapatkan perlakuan serupa, sementara dia sendiri berani melayangkan tuduhan biadab dan kejam itu kepada firman Allah Swt? Memang faktanya dia telah menunjukkan perbuatan biadab dalam memperlakukan firman Tuhan. Dia menilai kritikan al-Quran terhadap umat agama lain sebagai kritikan yang melebih-lebihkan, tidak sesuai dengan fakta, karena tujuannya, katanya, adalah memenangkan perdebatan dengan mereka. Dia memaklumi itu ketika bicara kitab suci. Tapi dia sendiri pasti nggak akan terima itu kalau kritikan serupa dialamatkan kepada dirinya sendiri! 

 Agar terlihat ilmiah, dia mengemasnya dengan istilah “polemik”. Padahal dia sendiri mengakui, bahwa kritikan yang bersifat polemis itu ialah kritikan yang cenderung melebih-lebihkan dan distortif (Islam Revisionis, hlm. 148). Lalu kok bisa-bisanya Anda mengalamatkan kritikan semacam itu kepada firman Tuhan? Bagi dia mungkin saja Tuhan mengkritik dengan cara seperti itu. Padahal dalam kehidupan sehari-hari saja kita bisa sepakat, bahwa mengkritik dengan cara seperti itu adalah bagian dari keculasan dan kezaliman. Dan kezaliman itulah sesungguhnya yang ingin Mun’im lekatkan kepada Tuhan. 

Tapi anehnya, seperti yang Anda lihat sendiri, jangankan dia menerima kritikan yang bersifat polemis, baru dibilang “biadab” saja, sekalipun itu menggambarkan fakta yang sesungguhnya, dia sudah keberatan. Dengan alasan bahwa itu adalah kekerasan verbal. Orang yang mengkritiknya diposisikan sebagai orang yang tidak berakhlak. Tanpa sedikitpun sadar, bahwa pandangan dia sendiri telah memperlakukan kitab suci dengan cara yang biadab dan tidak berakhlak. Kalau dia nggak mempersoalkan penilaian semacam itu terhadap kitab suci, harusnya dia pun memaklumi kritikan itu ketika dialamatkan kepada dirinya sendiri. 

Anggaplah sekarang kata itu dinilai berlebihan. Anggaplah itu bagian dari “retorika polemis”, dalam istilah Mun’im. Pertanyaannya, mengapa dia harus keberatan dengan tuduhan polemis itu, sementara dia sendiri sudah melayangkan tuduhan serupa kepada firman Allah Swt? Sejujurnya ini kebiadaban yang tidak disadari oleh beberapa simpatisan Mun’im itu. Agak heran kalau mereka keberatan ketika junjungannya dikritik dengan cara yang keras. Padahal dia sendiri sudah melayangkan tuduhan yang kejam dan biadab kepada firman Allah Swt. 

Orang yang sudah berani bersikap biadab kepada firman Tuhan harusnya siap menerima perlakuan serupa. Itu bagian dari al-mu’amalah bil mitsl, dalam istilah orang Arab. Yakni memperlakukan orang dengan perlakuan serupa yang dia berikan kepada orang lain. Apalagi ini menyangkut kitab suci. Sah-sah saja kalau Anda ingin mengkritik Mun’im dengan cara seperti itu. Apalagi kalau yang kita dedahkan tentang pikiran Mun’im itu adalah fakta. Bukan bagian dari retorika polemis. Tapi anehnya mereka keberatan dengan cara itu. Tanpa sudi memprotes kebiadaban Mun’im terhadap kitab suci mereka sendiri. 

Mungkin, dalam bayangan mereka, kehormatan Mun’im itu jauh lebih berharga ketimbang kesucian firman Allah Swt. Firman Allah boleh saja dinilai dengan cara seperti itu. Tapi kalau Mun’im tidak boleh. Itu adalah bagian dari ketidak-sopanan. Itu tidak beradab, menurut mereka. Karena Mun’im, bagi mereka, jauh lebih terhomat ketimbang firman Allah itu sendiri. Mungkin itulah logika yang mereka bangun. Kalau kita bilang dia biadab, diprotes. Tapi kalau Mun’im melayangkan tuduhan biadab kepada firman Allah, mereka anggap itu sebagai bagian dari kajian ilmiah. Begitulah cara mereka berpikir. 

Saya sengaja mengutarakan ini demi membuka mata para pembaca, bahwa kalaupun suatu saat nanti kita mengkritik Mun’im dengan atribut yang melebih-lebihkan, harusnya Mun’im terima itu. Dan harusnya Anda juga tidak mempersoalkan. Karena sosok yang ada di hadapan kita adalah manusia yang telah berani melayangkan perbuatan biadab serupa kepada firman Allah Swt. Fakta bahwa Mun’im keberatan dibilang “biadab”, “bloon”, dan semacamnya, sambil memposisikan lawan bicaranya tidak sopan, menyerang personal, melakukan kekerasan verbal, dan lain-lain, harusnya mendorong dia untuk meralat pandangannya sendiri tentang kitab suci umat Muslim itu. 

Itupun kalau memang sebutan “biadab”, “bloon”, “culun”, “pecundang”, dan sejenisnya itu tergolong sebagai ucapan yang distortif dan berlebihan. Bagaimana kalau itu menggambarkan fakta yang disertai dengan bukti-buktinya? Harusnya dia lebih terima lagi. Karena ketika itu dia tidak lagi menjadi bagian dari retorika polemis. Tapi itu adalah bagian dari penyingkapan fakta. Mengkritik yang sesuai dengan fakta saja tidak dia terima, kalau itu bisa menjatuhkan kehormatan dirinya, lalu, pertanyaannya sekali lagi, mengapa dia tega melayangkan perbuatan biadab itu kepada firman Allah Swt? Begitulah keculasan Mun’im yang sesungguhnya yang perlu Anda tahu. 

Bagi dia, boleh saja kita menilai kritikan al-Quran itu sebagai kritikan yang bersifat polemis, distortif dan melebih-lebihkan. Dengan alasan bahwa al-Quran ingin memenangkan perdebatan teologis dengan audiensnya. Tapi Anda lihat sendiri seperti apa responnya ketika dia dikritik dengan cara seperti itu? Dia marah, tidak terima, dan memposisikan pengkritiknya sebagai orang yang telah menunjukkan sikap yang kurang beradab. Padahal kekurangajaran itu adalah buah dari kebiadaban dirinya sendiri, yang sudah berani melayangkan tuduhan kejam kepada kitab suci. Tapi sayangnya dia tidak sadar dengan kebiadaban sikapnya sendiri. Itulah Mun’im.

Bagikan di akun sosial media anda