Tuduhan Generalisasi yang Tidak Berdasar

Dalam logika kita mengenal dua macam proposisi, yaitu proposisi universal (qadhiyyah kulliyyah) dan proposisi partikular (qadhiyyah juziyyah). Proposisi pertama biasanya dibubuhi kuantor yang menunjukkan keseluruhan, seperti kata “semua”, “seluruh”, atau “tidak ada satu pun.” Sedangkan proposisi yang kedua biasanya menggunakan kuantor yang hanya menunjukkan sebagian, seperti kata “sebagian”, “beberapa”, dan kata-kata yang merujuk pada makna serupa lainnya. 

Namun, selain dua proposisi di atas, ada juga proposisi yang tidak disertai kuantor (atau sur dalam istilah ilmu mantik). Para logikawan Arab menyebutnya dengan istilah qadhiyyah muhmalah (indefinite proposition). Dalam proposisi ini, kita tidak akan menjumpai kata “semua” ataupun “sebagian”. Yang kita jumpai hanyalah subjek dan predikat. Tanpa dijelaskan keseluruhan atau sebagian individu dari subjek itu sendiri. 

Pertanyaan mulai mengemuka, bagaimana lantas hukum proposisi semacam ini? Jawab para logikawan, “al-qadhiyyah al-muhmalah fi quwwatil juz’iyyah.” Intinya, proposisi yang tidak disertai kuantor ini hukumnya sama seperti proposisi partikular. Artinya, meskipun dia tidak disertai keterangan “sebagian”, tapi proposisi semacam itu dihukumi sebagai proposisi partikular. Kalau dia menyebutkan subjek tertentu, dan subjek dari proposisi itu mencakup banyak individu, maka yang dimaksud hanyalah SEBAGIAN saja. 

Bagi yang mempelajari ilmu logika, ini sebetulnya pengetahuan yang sangat mendasar sekali. Sayang, netijen +62 biasanya tak memedulikan kaidah semacam ini. Orang nggak melakukan generalisasi, mereka tuduh telah melakukan generalisasi. Apa landasannya? Nggak ada. Cuma perasaan mereka aja. Padahal, kalau orang tidak menyebutkan kata “semua”, atau “seluruh”, maka tentu saja orang itu tidak bisa dituduh telah melakukan generalisasi. Banyak sekali kasus kekeliruan gara-gara absennya pemahaman terhadap kaidah yang satu ini.  

Kita ambil contoh sekarang. Misalnya suatu ketika saya bilang, “orang-orang DPR itu melakukan korupsi.” Perhatikan proposisi ini dengan baik. Pertanyaannya, apakah dengan pernyataan ini Anda bisa menilai saya telah melakukan generalisasi terhadap orang-orang DPR, dan menilai mereka SEMUA melakukan tindakan korupsi? Ya jelas nggak, jen. Karena dalam proposisi itu sendiri tidak ada kuantor yang menunjukkan generalisasi. Di sana tidak ada kata “semua” ataupun “seluruh” DPR. 

Bagaimana lantas logika memperlakukan proposisi semacam itu? Ya itulah tadi jawabannya. Proposisi semacam itu dihukumi sama dengan proposisi partikular. Artinya, kalau mau diperjelas, ungkapan itu ingin menyebutkan bahwa “SEBAGIAN orang-orang DPR itu melakukan korupsi.” Apakah pernyataan itu benar? Tentu saja. Karena memang ada sebagian individu DPR yang melakukan tindakan korupsi. Tapi apakah kalimat itu sendiri mengandung unsur generalisasi? Ya jelas nggak. Kenapa? Jawabannya kaidah itu tadi. Paham jen sampai di sini?

Sekarang Anda perhatikan baris per baris dari tulisan saya sebelumnya. Adakah unsur generalisasi dalam tulisan saya itu? Apakah saya bilang SEMUA dosen UIN itu halu, misalnya. Adakah ungkapan itu? Adakah penilaian saya yang negatif dan menjelek-jelekkan UIN, sebagai sebuah instansi, dan itu dikemas dalam semangat mengeneralisasi? Ide dari tulisan saya sebenarnya sangat sederhana. Memberi saran kepada para pengurus UIN agar tidak mengirim orang-orang yang belum matang wawasan keislamannya untuk belajar agama ke Barat.

Kenapa? Alasannya sudah saya paparkan di situ. Belajar agama yang baik itu perlu dilakukan dengan metode pembelajaran yang baik. Agama itu perlu dipelajari dari ahlinya, bukan asal sembarang orang. Dan semua ilmu memang harus dipelajari dari ahlinya, kok. Apa yang salah dengan saran itu? Terus boleh nggak sih belajar ke Barat? Saya tanya balik, adakah tulisan saya yang mengatakan tidak boleh? Ya boleh aja. Asal landasan keislamannya benar-benar diperkokoh terlebih dulu. Apalagi kalau tujuannya memperkaya wawasan demi meluruskan pemahaman orang-orang Barat. Dan contohnya pun saya sertakan di situ. 

Apakah hanya dengan saran itu saya dinilai menjelek-jelekkan UIN? Tuduhan yang berlebihan sekali itu. Emang beda sih antara orang yang membaca pake nalar dengan merespon pake emosi.  Apakah saya juga menjelek-jelekkan SEMUA alumni UIN, sementara kita tahu bahwa dosen dan alumni UIN yang berbobot itu sendiri juga banyak, karena mereka sudah mendalami ilmu-ilmu keislaman di Pesantren dengan sangat matang? Apakah ada kata-kata saya yang mengandung unsur generalisasi itu? 

Sungguh itu penilaian tidak berguna yang sejak awal sudah pasti saya hindari sendiri. Kalau pake perasaan emang beda cerita. Jelas-jelas yang menjadi sasaran kritikan dan saran itu ialah orang yang belajar Islam ke Barat, dengan landasan keilmuan yang masih rapuh. Memang itu salah. Saya memberi saran, kalau bisa orang kaya gitu jangan disuruh belajar agama ke Barat. Belajar ilmu yang lain aja. Alih-alih memajukan pemikiran Islam, orang-orang semacam itu justru bisa menjadi biang kerecokan dan kemunduran. Bikin ribetlah intinya. Dengan alasan yang sudah saya jelaskan. 

Terus kalau begitu belajar agama harus ke Timur Tengah gitu? Mutlak harus ke Timur Tengah? Saya tanya balik, adakah baris tulisan saya yang mengharuskan itu? Ada tulisan saya yang menyebutkan bahwa siapapun yang ingin belajar Islam maka wajib bagi dirinya untuk pergi ke Timur Tengah? Nggak ada lagi. Jelas-jelas saya bilang, kalau mau belajar agama yang baik, belajarlah sama ahlinya. Belajarlah ilmu-ilmu agama secara bertahap. Di mana belajarnya? Ya terserah. Belajar mah bisa di mana aja. Tapi harus sama ahlinya. Dan harus dilakukan secara bertahap. Dengan merujuk pada cara pembelajaran para ulama terdahulu. Itu kalau kita mau maju. 

Kiai-kiai di Indonesia yang keilmuannya mumpuni juga banyak. Dosen UIN yang sanad keilmuannya jelas dan kapasitas keilmuan Islamnya mumpuni juga pasti ada. Ambillah agama Anda dari orang semacam itu. Jangan Anda ambil agama Anda dari orang yang rekam jejak pembelajaran agamanya tidak jelas. Dasar ilmu-ilmu keislaman masih rapuh. Tapi udah belajar agama dari orang Barat. Udah gitu pandangannya aneh-aneh pula. Itu saran saya. Terus boleh nggak menerima informasi agama dari orang semacam itu? Ya boleh aja. Tapi jangan ditelan. Kecuali kalau Anda mau ikut aliran halu.  

Selama Anda punya alat filter yang baik, sebetulnya belajar dari siapa saja dan di mana saja tidak jadi masalah. Dan yang saya persoalkan dalam tulisan itu jelas orang-orang yang tidak punya alat filter itu. Lalu apa yang salah? Sekarang coba Anda perhatikan lagi baris per baris dari tulisan saya. Adakah yang bermasalah dari saran semacam itu? Diterima ya silakan. Nggak diterima, ya nggak jadi masalah. Setiap kali mau menulis, biasanya saya mempertimbangkan terlebih dulu setiap paragraf tulisan yang potensial dipersoalkan orang. Bukan asal ngomong, lalu di-posting begitu aja. Semoga ini bisa memperjelas. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda

Leave a Reply

Your email address will not be published.