Agama dan KehidupanRefleksiTerkini

Salah Sesaat, Sesal Bertahun-tahun

Sepulang mengantar isteri belanja, mata saya tertuju pada sebuah mobil. Di bagian belakang mobil itu tertulis ungkapan yang cukup membuat saya tertegun. “Ghalthah lahzhah, nadam sinin.” Begitulah kira-kira bunyi ungkapan yang tertulis itu. Artinya, “kesalahan sesaat, sesal bertahun-tahun.” Pengalaman ini terjadi bagi sebagian orang. Bahkan mungkin dialami oleh banyak orang. Baik itu menyangkut urusan asmara, rumah tangga, pekerjaan, dunia perkuliahan, atau apa saja. 

Jatuh cinta sama seorang perempuan. Awalnya cuma pengen deket doang. Berawal dari chatingan lewat hape. Chatingan tiap hari. Tapi lama kelamaan bosen juga. Nafsu memang seringkali tidak merasa puas. Lalu jalanlah berdua. Awalnya cuma jalan-jalan biasa aja. Pas dirasa-rasa, ternyata jalan berdua itu enak. Yaudah. Akhirnya keterusan. Bosen pegangan tangan, akhirnya mulai memegang bagian-bagian yang lain. Pas udah dipegang, ternyata enak juga! 

Rasa penasaran tidak kunjung habis. Akhirnya diputuskanlah untuk bertemu di suatu tempat. Tiba-tiba muncullah kesempatan untuk berdua-duaan. Nafsu berbisik. Setan pun datang. Maka terjadilah apa yang tadinya tidak diinginkan itu. Beberapa minggu kemudian, sang perempuan memberi kabar. “Mas, aku hamil!” Seketika itu juga penyesalan datang. Badan terasa remuk. Masa depan tiba-tiba terasa gelap. Dan penyesalan itu pun menggelayut selama bertahun-tahun. Barangkali itulah contoh real dari ungkapan tadi. Kesalahan sesaat, tapi nyesalnya bisa bertahun-tahun. 

Dalam dunia pekerjaan, ini juga bisa terjadi. Anda, misalnya, dipercaya di suatu perusahaan dengan memegang jabatan tertentu. Tiba-tiba ada rekan kerja yang mengajak Anda berbuat culas. Dia mengiming-imingi Anda dengan keuntungan yang besar. Diaminilah ajakan itu. Eh, atasan Anda kemudian tahu. Lalu hilanglah kepercayaan itu. Dan akhirnya Anda pun dipecat. Lalu setelah itu mengalami kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan yang baru. Apa hasilnya? Hanya penyesalan yang tersisa. Dan itu pun bisa berlangsung lama. 

Kesalahan yang dilakukan memang hanya berlangsung sesaat. Tapi penyesalannya bisa sampai bertahun-tahun. Pertanyaannya, kenapa sih manusia bisa terjatuh dalam kesalahan yang merugikan dirinya itu? Kalau sudah tahu bahwa perbuatannya itu bisa melahirkan penyesalan, lalu kenapa dia tidak menghindari perbuatan itu? Jawabannya karena manusia punya hawa nafsu yang kadang tidak bisa dikendalikan. 

Kadang kala orang tahu bahwa suatu perbuatan itu buruk, dan berpotensi merugikan dirinya. Tapi, dia tetap melakukan itu. Demi memenuhi dorongan hawa nafsunya semata. Demi mendapatkan kenikmatan sesaat. Pas udah kelar, dia nyesel sendiri. Bukankah itu sering terjadi? Mirisnya lagi, penyesalan itu tidak akan merubah apa-apa dari kejadian pahit yang menimpa dirinya. Kalau udah nyesel, yaudah nyesel aja. Nggak bisa kaset kehidupan diputar ulang kembali. 

Lagi-lagi di sini agama memainkan peranan pentingnya dalam mengatur kehidupan umat manusia. Terbukti bahwa hawa nafsu itu, jika tidak dikendalikan dengan baik, dapat merugikan kehidupan kita sendiri. Nafsu itu bisa menjadi sebab kesenangan. Tapi dalam saat yang sama dia juga bisa menjadi pemicu kesengsaraan. Karena itu, kita tidak bisa hidup hanya bersandar pada akal semata.  Karena nafsu kita seringkali mengalahkan pertimbangan akal itu. 

Sebagai upaya untuk meminimalisir kemungkinan sengsara itu, maka nafsu manusia perlu untuk dididik. Nggak bisa dilepaskan begitu aja. Kalau itu terjadi, maka kehidupan kita bisa kacau sekali. Lalu apa ajaran yang bisa mengatur dan mendidik hawa nafsu itu? Mungkin akan ada yang menjawab, bahwa kita bisa mendidik dengan cara kita sendiri. Masalahnya, untuk menjelaskan hakikat nafsu aja kadang kita masih kebingungan. Belum lagi mengenali karakter dan tingkatan-tingkatannya. Belum lagi dengan cara untuk mengendalikannya. 

Lalu siapa yang seharusnya memberi panduan tentang pengenalan dan pengendalian hawa nafsu itu? Nalar sehat kita akan berkata, bahwa yang lebih tahu tentang sesuatu itu ya pastinya pencipta dan pembuat sesuatu itu sendiri. Bukan yang lain. Karena nafsu kita ini diciptakan oleh Tuhan, maka yang lebih tahu tentang bagaimana cara mendidik, mengatur dan mengendalikannya, ya hanya Tuhan sendiri. Dan lagi-lagi di sinilah agama memainkan peranan pentingnya. 

Coba Anda lihat para kehidupan para koruptor yang perbuatannya merusak negara itu. Kenapa mereka bisa berbuat seperti itu, sementara mereka adalah orang-orang pintar bahkan menampuk banyak gelar? Lagi-lagi, jawabannya adalah nafsu yang tak terkendali. Nafsu yang tidak terdidik. Nafsu yang tidak kunjung puas. Juga cara pandang yang salah dalam melihat kenikmatan duniawi. Ketika cara pandang itu salah, dan ketika dorongan nafsu yang bejat itu dituruti, yang menelan kerugiannya pada akhirnya bukan hanya satu-dua orang. Tapi justru orang banyak. 

Lalu salahkah jika Tuhan menurunkan tuntunan yang bisa mengatur hawa nafsu manusia itu? Tidak salah. Justru itu yang kita perlukan. Mungkin ada yang bertanya, “loh itu buktinya yang terjatuh dalam perbuatan semacam itu kan orang-orang beragama juga?” Memang iya. Dengan adanya agama saja orang masih bisa berbuat seperti itu. Lalu apa jadinya kalau agama benar-benar lenyap dari kehidupan kita? Orang beragama yang berbuat jahat memang ada. Tapi jangan tutup mata Anda dari orang-orang yang kehidupannya menjadi lebih baik dengan mentaati tuntunan agama. 

Kenapa sih orang beragama sendiri tidak bisa menjadi cerminan dari agama yang dianutnya? Lagi-lagi karena manusia punya kebebasan dalam mengamalkan atau tidak mengamalkan tuntunan itu. Dan, di samping memiliki akal, manusia juga memiliki hawa nafsu. Hawa nafsu itu juga lah yang kadang mendorong mereka untuk tidak peduli dengan tuntunan agama itu, sehingga pada akhirnya mereka berbuat semaunya aja. Tanpa memikirkan resikonya. Dorongan nafsu itulah yang kadang membuat kita menyesal dengan penyesalan yang berlarut-larut, meskipun kesalahan yang kita lakukan hanyalah kesalahan sesaat. 

Akui saja secara jujur. Bahkan kita memang butuh tuntunan yang mendidik dan mengendalikan hawa nafsu kita itu. Akal kita tidak selamanya bisa menjadi pemandu yang dapat dipercaya. Mungkin di dunia ini ada orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya dengan akalnya. Tapi, kenyataannya menunjukkan bahwa yang sering dikalahkan oleh nafsu itu justru tidak kalah banyak. Agama datang untuk menawarkan bimbingan itu. Agar kita tidak mudah terjatuh dalam penyesalan, juga agar kita tahu tentang bagaimana caranya mendapatkan kebahagiaan. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda