Mengapa Kita Yakin dengan Keotentikan al-Quran?

Kabar tentang kekalahan Arsenal adalah salah satu kabar terpahit yang saya simak pada bulan ini. Praktis, dengan kekalahan ini, kemungkinan besar harapan untuk bisa bermain di Liga Champions musim depan akan segera pupus. Kecuali kalau klub London Utara itu memenangkan pertandingan terakhirnya bersama Everton. Dan Spurs kalah telak di hadapan Norwich. Anggaplah kemarin Anda, misalnya, tidak menyaksikan secara langsung pertandingan yang begitu menyedihkan itu. 

Tapi, kabar tentang skor akhir kekalahan Arsenal ini disampaikan oleh teman Anda. Katakanlah orang itu berinisial A. A mengabarkan kepada Anda, bahwa Arsenal telah kalah ketika berhadapan dengan Newcastle. Kira-kira bagaimana respon Anda ketika itu? Apakah Anda akan langsung membenarkan? Atau Anda masih menyimpan keraguan? Kalau yang mengabarkan ini kebetulan fans Tottenham, apalagi kalau dia dikenal sebagai pendusta, kemungkinan besar Anda tidak akan percaya. 

Kabar yang disampaikan oleh satu orang memang masih bisa menimbulkan keraguan. Dan karena itu boleh jadi Anda pun belum bisa percaya seratus persen. Lalu bagaimana kalau kabar serupa disampaikan oleh orang kedua, ketiga dan keempat? Empat orang mengabarkan kepada Anda, “eh, Arsenal itu kalah. Skornya 2-0”. Bukankah ketika itu keyakinan Anda tentang kesahihan kabar itu semakin bertambah? Selama Anda bernalar sehat, pasti Anda akan mengiyakan pertanyaan ini. 

Jangankah kabar empat orang. Kabar satu orang saja, kalau itu berasal dari seorang yang benar-benar terbukti jujur, ahli dan terpercaya, apalagi kalau hafalannya dikenal kuat, biasanya kita langsung percaya aja. Bukankah begitu kenyataannya?

Perhatikan bagaimana respon diri Anda ketika membaca sebuah berita di koran. Koran yang satu dikenal jujur dan terpercaya. Lalu koran lainnya dikenal bias dan suka mendistorsi fakta. Kira-kira mana yang lebih Anda percaya? Jelas, nalar sehat pasti akan mempertimbangkan sumber yang sudah terpercaya itu. Kalau sumber itu sudah mengabarkan, kemungkinan besar Anda pun akan langsung membenarkannya. 

Kita kembali lagi ke berita Arsenal. Sekarang bagaimana jadinya kalau 50 koran, misalnya, mengabarkan bahwa Arsenal itu kalah. Dengan skor 2-0. Tapi ada 3 sumber lain mengabarkan bahwa Arsenal itu kalah, tapi skornya 1-0. Terjadilah perbedaan informasi. Tapi mana di antara keduanya yang akan Anda percaya? Bukankah ketika itu Anda akan lebih mempercayai kabar orang banyak ketimbang kabar yang disampaikan oleh segelintir orang saja? 

Banyak sekali contoh yang bisa kita kemukakan untuk menegaskan poin penting yang ingin kita tegaskan dalam tulisan ini. Melalui ilustrasi di atas, kita ingin menegaskan bahwa secara epistemologis, kabar yang disampaikan oleh banyak orang—atau yang dikenal dengan istilah kabar mutawatir—itu memang bisa menimbulkan keyakinan di dalam diri kita. Dan, kalau ada kabar segelintir orang yang berbeda dengan kabar orang banyak itu, niscaya kita tidak akan mempedulikannya. Dan secara epistemologis pun keliru kalau Anda menolak kabar orang banyak hanya karena adanya kabar berbeda yang datang dari segelintir orang itu. 

Inilah sebetulnya cara termudah untuk memberikan alasan kenapa kita (umat Muslim) sangat percaya dengan keotentikan kitab suci al-Quran. Kita percaya dengan keotentikan kitab itu karena fakta sejarahnya membuktikan bahwa semua isinya diriwayatkan oleh manusia yang jumlahnya sangat berlimpah. Bukan hanya sebatas diriwayatkan oleh orang banyak, tapi periwayatan itu juga disampaikan melalui sanad. Dan sanad itu bersambung sampai kepada penerimanya yang pertama, yaitu Rasulullah Saw. Jika disebutkan kriteria kabar mutawatir, maka al-Quran sudah memenuhi kriteria itu.

Dan kalau kita menerima keotentikannya, bukankah penerimaan kita ketika itu sangat masuk akal, karena didukung oleh fakta sejarah yang jelas? Dalam kehidupan sehari-hari pun, kabar orang banyak senantiasa lebih kita percaya ketimbang kabar segelintir orang. Coba Anda telusuri para penghafal qur’an yang memiliki sanad itu. Al-Quran yang ada di hadapan kita sekarang itu memiliki sepuluh ragam bacaan, yang dikenal dengan qira’at ‘asyrah. Semua riwayat itu disampaikan secara mutawatir. Artinya, beragam bacaan yang sekarang diakui kesahihannya oleh umat Muslim itu diriwayatkan oleh orang banyak, dengan sanad yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad Saw. 

Tanya sama mereka, dari mana Anda mendapatkan bacaan ini? Mereka akan menjawab, saya mendapatkan bacaan ini dari guru saya yang bernama fulan. Lalu guru saya menerimanya dari fulan. Fulan menerima dari fulan. Dan pada akhirnya sampailah mata rantai sanad itu kepada penerimanya yang pertama, yaitu Rasulullah Saw. Tidak mungkin orang sebanyak itu bisa sepakat dalam kebohongan terkiat kitab sucinya sendiri. 

Sekarang Anda jawab pertanyaan ini secara jujur, adakah di dunia ini kitab suci yang dijaga dengan cara seperti itu? Sebutkan satu saja kitab suci yang keotentikannya dijaga oleh ribuan—kalaulah enggan berkata jutaan—umat manusia, dari generasi ke generasi, dengan sanad yang bersambung sampai kepada penerimanya yang pertama. Adakah kitab suci itu selain al-Quran? Pintu pembuktian akan selalu terbuka. Jika ada, tunjukkan saja. Para Orientalis dan anak didiknya seringkali menutup-nutupi fakta sejarah yang amat terang benderang ini. 

Mereka ingin kitab suci umat Muslim itu dikaji seperti halnya kitab suci mereka sendiri, yang memang tidak ada sanad dan periwayatan lisannya. Kitab suci umat Muslim sudah terbukti otentik. Kitab yang lain belum. Menyamakan keduanya jelas keliru secara metodologis. Mungkin ada yang bertanya, lalu bagaimana dengan riwayat-riwayat yang suka mereka jadikan sandaran dalam mempertanyakan keotentikan kitab suci itu? Itu sudah banyak dibahas dalam buku-buku ‘ulumul qur’an. 

Riwayat-riwayat yang sering jadi mainan mereka itu hanyalah riwayat-riwayat ahad. Artinya itu hanyalah riwayat yang disampaikan oleh segelintir orang. Sementara al-Quran yang kita terima sekarang itu diriwayatkan oleh manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Dari saksi pertamanya sampai kepada generasi kita sekarang. Pertanyaannya, akal sehat mana yang bisa menerima kabar segelintir orang sementara di hadapannya ada kabar yang disampaikan oleh banyak orang? 

Kendatipun ada kajian yang membuktikan adanya perbedaan dalam penulisan huruf-huruf al-Quran, misalnya, itu semua tidak bisa dijadikan alasan untuk meragukan keotentikan al-Quran itu sendiri. Kenapa? Karena yang menjadi sandaran utama dalam menguji keotentikan al-Quran itu ialah tradisi periwayatan lisan itu. Bukan tulisannya.

Tulisan itu hanya berfungsi sebagai penguat saja. Sementara sandaran utamanya sendiri adalah hafalan dan periwayatan lisan yang bersanad. Karena itu, sekalipun tulisannya mengalami perbedaan—dan memang perbedaan itu ada—al-Quran yang dibaca oleh umat Muslim sekarang itu tidak berbeda dengan al-Quran yang ada di zaman nabi dulu. Tidak akan ada penambahan dan pengurangan. Bacaan yang berbeda-beda itu semua ada sanadnya. Dan semuanya berasal dari Rasululllah Saw.  

Mirisnya, ada para pengkaji Muslim yang terjebak dalam cara berpikir para Orientalis itu. Mereka kutiplah riwayat-riwayat ahad, yang menunjukkan bahwa ada bagian-bagian dari al-Quran yang telah hilang, misalnya. Atau ada bacaan-bacaan tertentu yang berbeda dengan bacaan yang dibaca oleh umat Muslim sekarang. Setelah itu ditariklah kesimpulan. “Ini nih al-Quran juga nggak otentik. Buktinya ada riwayat ini, itu dan ini.” 

Setelah menyimak ilustrasi di atas, sekarang saya kira Anda bisa tahu bagaimana caranya menjawab ocehan semacam itu. Al-Quran yang kita warisi sekarang itu, sekali lagi, diriwayatkan oleh manusia dengan jumlah yang sangat banyak. Belum lagi kita di hadapkan pada fakta sejarah bahwa orang Arab itu dikenal kuat hafalan-hafalannya! Sementara riwayat-riwayat yang sering dijadikan mainan orientalis itu hanyalah riwayat-riwayat ahad. Itupun belum tentu sahih. Atau katakanlah itu sahih dari sisi sanadnya. Tapi masalahnya riwayat ahad itu tetap saja ahad. Tidak bisa menggugat kesahihan riwayat mutawatir. 

Kalau mereka ngotot mengajukan gugatan, kita perlu tahu, basis epistemologi macam apa yang mereka gunakan untuk menjustifikasi klaim aneh semacam itu? Pasti mereka nggak akan punya jawabannya. Ingat. Al-Quran itu tidaklah dinamai al-Quran, kecuali kalau dia diriwayatkan secara mutawatir. Konsekuensinya, kalau ada sesuatu yang diklaim sebagai bagian dari al-Quran, sementara dia sendiri diriwayatkan oleh segelintir orang—dan karena itu dia masuk kategori ahad—maka otomatis dia bukan al-Quran. Sesederhana itu sebenarnya. 

Kalau ada pengkaji al-Quran yang hanya mengkaji al-Quran dari sejarah penulisan teksnya saja, tanpa memerhatikan fakta historis yang satu ini, berarti dia tidak paham dengan kekhasan kitab sucinya sendiri. Dan itu jelas bukan sikap yang ilmiah. Sikap ilmiah itu mengharuskan kita untuk mengakui fakta. Bukan malah menutup-nutupinya. Klaim kemutawatiran al-Quran itu bisa dibuktikan. Para penghafalnya banyak. Sanad mereka pun bisa dijabarkan secara detail. Lalu apa lagi yang bisa membuat kita ragu akan keaslian kitab suci ini? Tidak ada. Kecuali bagi manusia yang mengalami gangguan dengan kesehatan nalarnya. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda