Mengapa Kita Yakin Bahwa al-Quran Benar-benar Berasal dari Tuhan?

Dalam tulisan yang lalu kita sudah memaparkan alasan rasional di balik klaim keotentikan al-Quran. Kita katakan di sana bahwa al-Quran itu terjamin otentik karena semua isinya diriwayatkan oleh manusia dengan jumlah yang sangat banyak, sanadnya jelas, dan bersambung sampai kepada penerimanya yang pertama. Yaitu Nabi Muhammad Saw. Dan secara epistemologis kita harus mengakui, bahwa kabar orang banyak, jika memenuhi syarat-syaratnya, itu dapat melahirkan keyakinan. Dan karena itu tidak bisa kita ragukan. 

Karena itu, meragukan keotentikan al-Quran sama saja dengan meragukan keabsahan salah satu sumber pengetahuan manusia itu sendiri. Lain halnya dengan riwayat ahad yang hanya disampaikan oleh segelintir orang. Kalau saja al-Quran ini tidak dijaga melalui periwayatan lisan orang banyak itu. Atau diriwayatkan, tapi yang meriwayatkannya hanya segelintir orang, maka sah bagi Anda untuk meragukan keotentikannya. Karena riwayat ahad memang masih bisa menimbulkan keraguan. Beda halnya dengan riwayat mutawatir. Poin yang satu ini sudah kita jelaskan dalam tulisan yang lalu. 

Sekarang kita akan menjawab pertanyaan lanjutan yang tidak kalah sering ditanyakan oleh banyak orang. “Apa sih buktinya kalau al-Quran itu benar-benar berasal dari Tuhan?” Mengapa kita (umat Muslim) sangat yakin bahwa al-Quran itu benar-benar berasal dari Tuhan? Apakah itu hanya sebatas keyakinan? Atau itu adalah fakta yang harus kita terima sebagai sebuah kebenaran? Pertanyaan itulah yang akan kita jawab dalam tulisan ini. 

Pertama-tama, untuk membuktikan keilahian kitab suci ini (dalam arti bahwa dia benar-benar berasal dari Tuhan), harus kita lihat terlebih dulu seperti apa kepribadian orang yang melalui lisannya al-Quran itu disampaikan. Ini ketentuan yang sangat logis. Karena sebelum membenarkan sebuah informasi memang kita perlu menelisik terlebih dulu sosok yang menyampaikan informasi itu. 

Siapa nabi yang menerima al-Quran itu? Seperti apa rekam jejak kehidupannya? Bagaimana akhlak dan perangainya? Adakah data-data historis yang kita miliki untuk menjawab pertanyaan itu? Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas, mau tidak mau kita harus merujuk pada kitab-kitab sirah. Tentu saja kita semua sadar, bahwa kitab-kitab sirah tidak semuanya berisikan informasi yang sahih tentang Nabi Muhammad Saw. 

Sejak dulu para ulama sendiri sudah memperlakukan informasi-informasi sirah nabi itu secara kritis. Bahkan Ibn al-Jauzi (w. 597 H), dalam kitab al-Maudhu’at, membuat satu klasifikasi khusus tentang hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan Nabi! Sampai sekarang hasil penyeleksian riwayat itu masih bisa kita jumpai dalam kitab-kitab para ulama Muslim. 

Penyeleksikan itu dilakukan berdasarkan metode ilmu riwayat yang benar-benar ketat, seperti yang dapat kita baca dalam ilmu musthalahul hadits dan ilmu jarh wa ta’dil. Satu disiplin ilmu yang tidak dikenal dalam tradisi umat agama manapun. Hanya umat Islam yang mengenal tradisi keilmuan semacam itu. Dan hanya Nabi Muhammad pula yang sejarah hidupnya tersampaikan melalui sanad. Dengan data-data yang benar-benar berlimpah. 

Semua sumber-sumber sirah yang sahih bersepakat bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang berbudi pekerti luhur, dan tidak pernah berbohong. Ingat, tidak pernah berbohong. Dan dia mengklaim dirinya sebagai utusan Tuhan. Bayangkan kalau sekarang Anda mendapatkan sebuah informasi besar, dari manusia yang dalam hidupnya tidak pernah sekalipun berbohong. Bagaimana Anda bisa meragukan pengakuan orang itu? 

Sekarang kita juga dihadapkan pada satu pengakuan lain dari sosok yang tidak pernah berbohong itu. Pengakuan bahwa al-Quran yang diterimanya bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan wahyu yang diterima dari Allah Swt. Padahal, untuk kepentingan apa dia menisbatkan kitab suci itu kepada pencipta alam semesta? Kalau itu terbukti sebagai kitab yang hebat, kenapa tidak dinisbatkan kepada dirinya saja?

Lagi-lagi kita tidak mendapatkan celah untuk mendustakan pengakuan itu. Bohong terhadap sesama manusia saja belum pernah. Lalu bagaimana mungkin dia bisa berbohong dengan mengatasnamakan Tuhan pencipta alam semesta? Itu mustahil sekali. Jika Anda tidak setuju dengan fakta sejarah yang satu ini, maka Anda harus menyodorkan data sebaliknya, yang menunjukkan bahwa sosok yang telah menerima al-Quran itu pernah melakukan kebohongan. 

Atau memiliki budi pekerti yang tidak terpuji, sehingga dengan begitu kita bisa menyangsikan pula klaim keilahian kitab suci yang disampaikannya. Tetapi, kalau fakta sejarah berbicara tentang kejujurannya, maka sulit bagi Anda untuk mendustakan pengakuan sosok yang satu itu. Ini alasan sederhana yang saya kira sangat masuk akal, untuk menerima kenyataan bahwa al-Quran bukanlah karangan Nabi Muhammad, melainkan firman Allah Swt.  

Alasan lain yang tidak kalah kuat tentang kenapa kita percaya dengan keilahian al-Quran ialah kenyataan bahwa al-Quran itu merupakan mukjizat, yang sampai detik ini tidak bisa ditandingi oleh manusia manapun. Perlu Anda catat, bahwa ini bukan perkara iman. Tapi ini adalah fakta yang justru dijadikan sebagai basis keimanan. Anda harus bedakan dua hal itu. Islam tidak mengenal konsep keimanan yang nihil akan pembuktian. Semua dasar-dasar keimanan dalam Islam harus bersandar pada bukti dan dalil. Tak terkecuali klaim kemukjizatan kitab suci itu. 

Sebagai bukti bahwa ini adalah fakta, silakan Anda kaji kitab suci ini secara objektif. Lalu tanya kesaksian para pakar bahasa Arab tentang keistimewaan kitab suci ini. Terlepas apakah dia mengimani kesucian al-Quran ataupun tidak. Faktanya menunjukkan bahwa arang-orang kafir di masa nabi sendiri tidak ada yang bisa menandingi kitab suci itu. Padahal mereka sangat dikenal dengan kefasihannya, dan mereka pun tidak percaya dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad itu! 

Itu artinya, klaim kemukjizatan al-Quran adalah fakta, yang sampai sekarang masih dapat kita buktikan kesahihannya. Kalau saja benar gaya bahasa al-Quran ini bisa tertandingi, niscaya orang-orang yang pertama kali memenuhi tantangan itu ialah orang-orang Arab di masa nabi itu sendiri. Karena mereka dikenal dengan keahliannya dalam bidang itu. Tapi adakah satu saja karya di masa jahiliyyah yang terbukti bisa menandingi kitab suci umat Muslim itu? Tidak ada. Dan sampai sekarang pun tidak ada. 

Tentu, ketika dihadapkan pada sesuatu yang luar biasa seperti itu, akal sehat kita berhak untuk bertanya, lantas dari mana sesuatu yang luar biasa ini berasal kalau bukan dari Allah Swt? Apa mungkin Nabi Muhammad sendiri yang mengarang kitab suci itu? Masalahnya kita dihadapkan pada fakta sejarah yang lain lagi, bahwa Nabi Muhammad Saw itu dikenal tidak melakukan kegiataan menulis dan membaca. Beliau dikenal sebagai nabi yang ummi. Tidak pernah belajar kepada siapapun. 

Tapi, anehnya, al-Quran yang disampaikan melalui lisannya ini berisikan kabar-kabar masa lampau yang begitu berlimpah. Baik itu kisah tentang Nabi Adam, Nuh, Yusuf, Ibrahim, Ashabul Kahfi, kisah tentang Keluarga Imran, Ibunda Maryam, Luqman, Dzulqarnain dan masih banyak lagi kisah-kisah lainnya. Nalar sehat kita berhak untuk bertanya, dari mana semua pengetahuan itu berasal, sementara yang menyampaikannya itu sendiri tidak pernah belajar kepada siapapun? 

Belum lagi dengan kabar-kabar yang terkait dengan masa yang akan datang. Belum lagi dengan isyarat-isyarat ilmiahnya. Yang tidak kalah penting juga, kitab suci ini memaparkan penjelasan tentang Tuhan dan nama-namanya dengan sangat detail. Juga memberikan gambaran yang jelas tentang alam akhirat. Dahsyatnya lagi, semua itu dikemas dengan gaya bahasa yang sampai detik ini tidak ada satu manusia pun yang bisa menandinginya. 

Sulit sekali bagi nalar sehat kita untuk berkesimpulan bahwa kitab semacam itu berasal dari seorang manusia. Sesuatu yang luar biasa pastilah berasal dari sosok yang luar biasa pula. Dan dialah Allah Swt. Bukankah ini jawaban yang masuk akal? Boleh saja Anda menolak jawaban ini. Tapi, selama Anda memiliki nalar yang sehat, Anda akan selalu dihadapkan pada pertanyaan, “dari mana sesuatu yang benar-benar luar biasa itu berasal?” 

Karena tidak mungkin sesuatu yang luar biasa semacam itu terlahir dengan dirinya sendiri, apalagi ditulis oleh seseorang yang ummi. Apalagi kita dihadapkan pada fakta lain, bahwa kitab suci yang memiliki keistimewaan semacam itu memang hanya al-Quran. Kitab suci yang lain tidak ada yang mengandung unsur mukjizat. Kalau ada, sebutkan nama kitab suci itu. Buktikan kalau dia benar-benar otentik. Dan buktikan kalau dia benar-benar berisikan mukjizat, sehingga kita bisa yakin bahwa semua isinya berasal dari Allah Swt.  

Kalau tidak ada, dan memang faktanya demikian, saya harap siapapun yang mengkaji al-Quran sudi untuk menerima fakta ini. Dan karena itu tidak boleh Anda mengkaji al-Quran seperti halnya mengkaji kitab suci umat agama lain. Karena sejak awal kitab suci umat Muslim memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh kitab suci yang lain! Dan itu fakta yang bisa diuji bersama. Bukan hanya sebatas dogma yang diwariskan secara turun termurun saja. 

Jika Anda menolak keilahian kitab suci ini, dan bersikukuh untuk mengklaimnya sebagai karya seorang manusia, maka Anda harus mengajukan argumennya. Para ulama Muslim sudah membuktikan dalam ribuan karya mereka tentang sisi kemukjizatan kitab suci ini. Dan kalau fakta itu diterima, maka konsekuensinya juga harus Anda terima. Bahwa kitab suci ini bukan kitab suci biasa, melainkan firman suci yang berasal dari Allah Swt. 

Dan jika kesimpulan ini diterima, maka Anda harus memandang kesimpulan ini sebagai kesimpulan yang ilmiah, yang tidak boleh Anda nafikan dalam kajian Anda tentang al-Quran. Kenapa harus dikatakan ilmiah? Karena dia sesuai dengan fakta. Bukti-bukti kemukjizatannya jelas. Cara pembuktiannya pun merujuk pada metode keilmuan yang sahih. 

Kecuali kalau klaim kemukjizatan ini hanya sebatas dongeng yang tidak ada buktinya sama sekali. Ketika bukti sudah terpapar, maka sikap kesarjanaan yang baik mengharuskan kita untuk menerimanya. Seluruh kajian tentang al-Quran yang berupaya untuk menafikan, atau bertentangan, dengan kesimpulan ini tidak layak disebut sebagai kajian ilmiah. Semua itu hanyalah spekulasi. Karena ia bertitik-tolak dari pengingkaran atas sebuah fakta. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda

Leave a Reply

Your email address will not be published.