Akidah dan FilsafatKajian KeislamanKritikTerkini

Trinitas Bukan Ajaran Tauhid

Belum lama sebelum tulisan ini dimuat, saya menyimak cuplikan ceramah salah seorang penulis terkenal di tanah air (bukan Mun’im Sirry) yang menyebut trinitas sebagai ajaran tauhid. Dalam mengukuhkan pandangannya, dia menyinggung kutipan dari al-Ghazali. Konon, melalui penuturannya, dalam kitab Fadhail al-Anam, al-Ghazali menyebut trinitas sebagai bagian dari ajaran tauhid. Ini kutipan aneh, yang perlu diverifikasi kesahihannya. Dalam kitab al-Iqtishad fi al-Itiqad, al-Ghazali secara jelas memandang kafir kelompok Yahudi dan Kristen. Dengan alasan2 yang sudah terpapar di sana. Lalu bagaimana mungkin dia menyebut trinitas, yang menjadi jantung dari akidah Kristen, sebagai ajaran tauhid? Tentu kita berharap agar yang bersangkutan—dan org2 yang barangkali pernah membaca data serupa—untuk melampirkan secara tegas kutipan al-Ghazali itu. Sayang, kita tidak menemukannya.

Sebagai seorang teolog yang cemerlang, al-Ghazali tak mungkin jatuh dalam kebodohan semacam itu. Para pembelajar ilmu kalam level bawah pun sudah tahu, bahwa ajaran yang mempertuhan manusia itu tdk bisa disebut sbg ajaran tauhid. Betapapun para penganut doktrin trinitas mengaku percaya pada satu Tuhan, tapi konsekuensi logis dari pandangan mereka sejujurnya akan berakhir pada tiga Tuhan. Kita sudah terangkan itu sedikit dalam tulisan sebelumnya. Baiklah. Anggap sekarang trinitas itu merupakan bagian dari ajaran tauhid. Dan apa yang dikritik oleh al-Quran itu—sprt kata ybs— hanyalah paham tritseisme, yang secara sarih mengakui adanya tiga Tuhan. Tapi, satu kenyataan yang sulit untuk kita tolak ialah, baik penganut trinitas maupun tritseisme, itu semuanya sama-sama mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Anda boleh bertanya kepada orang Kristen di mana saja. Kalau dia menganut paham trinitas, ajukanlah pertanyaan, “apa yang Anda katakan tentang Yesus/Isa Almasih? Dia itu Tuhan, atau bukan Tuhan?” Asas hukum kontradiksi hanya menyediakan dua pilihan itu. Kalau dia mengatakan bukan Tuhan, maka batallah sudah statusnya sebagai seorang Kristen. Tapi kalau dia menyebutnya sebagai Tuhan, maka batallah sudah pengakuannya sbg penganut ajaran tauhid. Karena ajaran tauhid tak pernah mengenal penuhanan manusia. Termasuk Nabi Muhammad Saw sekalipun. Orang Kristiani jelas mengakui Yesus sebagai Tuhan. Apakah keyakinan semacam ini masih Anda sebut sebagai ajaran tauhid? Ajaran tauhid itu, dalam bentangan sejarahnya, tidak pernah mempertuhan manusia, sesuci apapun manusia itu. Kalau Anda menyebut ajaran semacam itu sebagai ajaran tauhid, lantas kenapa ajaran itu tidak pernah dikenal dalam sejarah para nabi terdahulu?

Kenapa hanya Yesus yang diyakini sebagai Tuhan, sementara utusan-utusan yang lainnya tidak? Apa sebab penguatnya? Apa bukti-bukti rasionalnya? Meyakinkan atau tidak? Kalau Anda merujuk pada teks yang diyakini sebagai wahyu—untuk membuktikan kebenaran trinitas itu—bisa nggak Anda membuktikan secara rasional dan meyakinkan bahwa wahyu yang Anda kutip itu benar-benar berasal dari Tuhan? Premis apa yang Anda bangun untuk sampai pada kesimpulan itu? Apakah keyakinan itu benar-benar berasal dari Yesus sendiri? Kalau iya, adakah transmisi periwayatannya? Orang Kristen tak akan mampu menjawab pertanyaan ini. Karena sejak awal keotentikan kitab sucinya saja sdh diragukan. Mereka tidak kenal dengan tradisi sanad, apalagi satu disiplin ilmu khusus yang mengkaji tentang hal itu. Belum lagi bangunan keyakinannya bertentangan dengan hukum akal.

Baik, Anda katakan trinitas—yang secara jelas menuhankan seorang manusia—sebagai ajaran tauhid. Tahukah Anda apa konsekuensi dri pandangan ini? Kalau suatu waktu ada sekte Islam yang menuhankan nabi Muhammad Saw—meskipun kemungkinan itu sangat sulit terjadi—dan dia mengakui keesaan Tuhan, maka sebagai konsekuensi logisnya—kalau mengikuti logika Anda—ajaran semacam ini juga akan disebut sebagai ajaran tauhid. Tapi bisakah Anda menerima konsekuensi itu? Anggaplah sekarang, misalnya, ada orang Islam yang mengggap Tuhan itu satu, tapi terdiri dari tiga pribadi. Yaitu Bapak, Muhammad dan Jibril. Tentu ini hanya pengandaian saja. Orang Islam tidak pernah punya ajaran yang mempertuhan manusia dan makhluk2 selain Allah Swt. Kalau kita ikuti logika orang tadi, harusnya sekte semacam ini juga akan disebut sbg penganut tauhid.

Mungkin dia mengira bahwa untuk mengatakan seseorang bertauhid atau tidak itu cukup dengan melihat pengakuannya saja, tanpa harus menguji pengakuannya itu sendiri. Asalkan dia mengaku percaya pada satu Tuhan, maka otomatis dia menjadi penganut ajaran tauhid. Sedangkal itukah Anda berpikir? Yang dinilai dari keyakinan seseorang itu ialah fakta dari keyakinannya, bukan pengakuannya. Pengakuan itu satu hal. Kesesuaian antara fakta dengan pengakuan itu hal yang lain lagi. Al-Quran benar ketika menyebutkan bahwa “telah kafirlah orang-orang yang berkata bahwa ssungguhnya Tuhan itu tsalitsu tsalatsah (salah satu dari yang tiga)” [Q 5: 73]. Mau sekte Kristen yang bilang tiga Tuhan, atau satu Tuhan dg tiga pribadi/uqnum, semuanya masuk dalam kritikan ayat ini. Karena yang menganut trinitas pun pada faktanya mengakui bahwa salah satu dari tiga pribadi itu adalah Tuhan.

Yesus Tuhan atau bukan? Tuhan. Bapak? Tuhan juga. Roh kudus? Tuhan. Bisakah Anda mengelak dari kritikan al-Quran itu, sementara salah satu dari yang tiga itu Anda sebut sebagai Tuhan? Walhasil, tidak cukup hanya dengan mengaku percaya pada satu Tuhan, lantas otomatis Anda menjadi pengikut ajaran tauhid. Pengakuan Anda pada akhirnya akan diuji. Kalau ajaran Anda masih mempertuhan manusia, ya jelas itu bukan ajaran tauhid. Orang Kristen bukan penganut ajaran tauhid. Mereka meyakini bapak, anak dan roh kudus itu sebagai Tuhan. Coba tunjukkan, mana nabi pembawa ajaran tauhid yang pernah mengajarkan keyakinan semacam itu? Nggak ada. Katakan fakta itu secara jujur. Baru setelah itu kita bicara toleransi. Saya suka geli dengan orang-orang yang gemar membenarkan agama orang lain melalui teks-teks agamanya sendiri. Atau memelintir perkataan para ulamanya. Seolah-olah toleransi itu hanya bisa terwujud kalau kita membenarkan keyakinan agama lain terlebih dulu.

Saya, misalnya, berkeyakinan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Dan agama yang lain salah. Karena bukti-bukti yang ada memang mengiring saya pada kesimpulan itu. Lalu masalahnya apa? Agama saya memerintahkan umatnya untuk berlaku baik kepada non-muslim. Kalau mereka butuh bantuan, dan saya bisa membantu, agama tak melarang saya untuk berbuat baik kepada mereka. Mereka berdamai, kita juga berdamai. Apa masalahnya dengan perbedaan keyakinan? Yang suka bikin masalah itu justru orang-orang yang kurang kerjaan ini. Berusaha mencari celah untuk membenarkan agama lain. Padahal teks-teks yang sarih dari agamanya sendiri jelas-jelas menolak agama itu. Dan berupaya untuk meluruskannya.

Al-Quran menyebut Nabi Isa sebagai utusan Tuhan. Isa Almasih, dalam pandangan al-Quran, adalah seorang manusia. Beliau adalah nabi, sama halnya seperti nabi-nabi yang lain. Lalu orang Kristen memandangnya sebagai Tuhan. Karena dia diyakini sebagai jelmaan dari firman Tuhan. Padahal firman itu adalah sifat Tuhan. Lalu kok bisa sifat dari sesuatu dikatakan sebagai sesuatu itu sendiri? Tidak masuk akal. Sampai dua kutub langit terbelah pun, pandangan al-Quran tentang Isa Almasih ini tidak akan pernah bisa didamaikan dengan keyakinan orang-orang Kristen. Ajaran tauhid itu tidak menghendaki adanya penuhanan manusia. Tauhid itu meniscayakan adanya pengakuan pada Tuhan yang Esa. Bukan Tuhan yang satu, lalu diyakini memiliki pribadi, dan ketiga-tiganya disebut sbg Tuhan!

Itu jelas penyimpangan dari ajaran tauhid. Al-Quran datang untuk meluruskan itu. Anda terima, silakan. Ingin menolak, tidak jadi masalah. Selesai. Dan kita masih bisa hidup berdamai. Apa masalahnya kalau kitab suci dari suatu agama meluruskan keyakinan dari penganut agama yang lain, sambil menyuruh umatnya untuk tetap berbuat baik, sekalipun mereka berbeda keyakinan dengan kita? Kalau Anda ingin bertauhid secara jujur, singkirkan ajaran yang mempertuhan manusia, atau apapun selain Allah itu. Katakan Tuhan itu Esa. Dan Isa adalah utusannya. Lalu Anda imani semua utusan Allah itu, tanpa dibeda-bedakan. Termasuk Nabi Muhammad Saw. Termasuk Nabi Musa, Ibrahim dan Nabi-nabi yang lain. Karena keimanan pada utusan Tuhan adalah konsekuensi dari keimanan Anda kepada yang mengutusnya.

Keimanan yang jujur kepada Allah mengharuskan Anda untuk beriman kepada semua utusan Allah. Dan itulah inti dari ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Tidak sudi mengakui itu, tidak masalah. Islam tak memaksa. Tapi yang jelas, menurut Islam, pandangan Anda itu sudah menyimpang dari ajaran tauhid. Selesai. Sebenarnya tidak ada masalah kalau orang Kristen tetap mengaku sebagai penganut agama tauhid. Itu hak mereka. Yang kita persoalkan ialah sikap sebagian kecil dari kalangan Muslim, yang suka menyebarkan kebodohan dengan cara membenarkan keyakinan agama lain, padahal kitab sucinya sendiri jelas menolak itu. Tanpa mereka sadari, sikap semacam ini justru bisa menodai keharmonisan umat beragama itu sendiri. Ujung-ujungnya kita jadi terpaksa mengumbar kesesatan agama lain. Kenapa? Ya karena ada orang-orang yang berupaya untuk membenarkannya. Andaikan mereka diam, mungkin singgungan tentang persoalan ini hanya akan berlangsung di ruang-ruang akademik

Bagikan di akun sosial media anda