Akidah dan FilsafatKritikTerkini

Benarkah Kritik al-Quran Berbeda dengan Keyakinan Orang Kristen?

Apakah benar al-Quran mengkritik keyakinan yang berbeda dengan apa yang diimani oleh orang Kristen? Jika pertanyaan ini diajukan kepada Mun’im Sirry, maka jawabannya iya. Al-Quran, dalam pandangan Mun’im, tidak mengkritik pandangan mainstream Kristen. Yang dikritik al-Quran itu ialah keyakinan yang ditolak oleh orang Kristen itu sendiri. Pandangan ini seringkali dia ulang-ulang, baik dalam berbagai buku maupun ceramah-ceramahnya. Contohnya seperti yang terlampir dalam buku terbarunya ini.

“Sebagai orang yang aktif dalam kegiatan dialog, saya menilai penjelasan tersebut dapat mengurangi ketegangan antaragama karena yang dikritik al-Quran bukanlah keimanan Kristen secara umum. Minimal, jangan seenaknya menuduh orang Kristen itu musyrik. Sebab, yang dituduh syirik oleh al-Quran itu bukan keyakinan mereka tapi kelompok heretik yang juga mereka tolak.” (Koeksistensi Islam-Kristen, hlm. 76)  

Ingat, kata Mun’im dalam sebuah ceramah, kalau kita ingin memahami apa yang dikatakan al-Quran, maka kita harus langsung membaca al-Quran (dalam hal ini dia mirip kaum salafi). Tapi kalau Anda ingin memahami bagaimana orang Islam memahami al-Quran, maka bacalah kitab tafsir. Jadi, bagi Mun’im, kitab tafsir itu hanya refleksi pemahaman subjektif kaum Muslim terhadap al-Quran. Kalau mau paham al-Quran, ya baca al-Quran langsung! 

Baik, demi menjawab pertanyaan di atas, sekarang saya ingin mengajak Anda untuk membaca redaksi al-Quran secara langsung, sesuai dengan metode yang ditawarkan Mun’im Sirry. Apakah benar keyakinan yang dikritik oleh al-Quran itu berbeda dengan keyakinan orang Kristen? Perhatikan firman Allah sebagai berikut. Singkirkan kitab tafsir terlebih dulu. Dan tolong cermati ayat ini dengan baik. Allah Swt berfirman:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ اِنَّمَا الْمَسِيْحُ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُوْلُ اللّٰهِ وَكَلِمَتُهٗ ۚ اَلْقٰهَآ اِلٰى مَرْيَمَ وَرُوْحٌ مِّنْهُ ۖفَاٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهِ وَلَا تَقُوْلُوْا ثَلٰثَةٌ ۗاِنْتَهُوْا خَيْرًا لَّكُمْ ۗ اِنَّمَا اللّٰهُ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ ۗ سُبْحٰنَهُ اَنْ يَّكُوْنَ لَهٗ وَلَدٌ ۘ لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ وَكَفٰى بِاللّٰهِ وَكِيْلًا ࣖ

“Wahai Ahli Kitab! Janganlah kalian MELAMPAUI BATAS dalam agama kalian. Dan janganlah kalian mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sungguh, Al-Masih Isa putra Maryam itu adalah UTUSAN ALLAH dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka BERIMANLAH KEPADA ALLAH DAN RASUL-RASULNYA dan janganlah kalian mengatakan: “TIGA”. Berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Mahasuci Dia dari (anggapan) mempunyai anak. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS 4: 171).

Perhatikan potongan ayat yang menyebut bahwa “sungguh, al-Masih putra Maryam itu adalah utusan Allah.” Inilah pandangan al-Quran tentang Isa al-Masih. Menurut al-Quran, al-Masih itu bukan Tuhan, melainkan hanya utusan Tuhan (rasulullah). Lalu bagaimana dengan keyakinan orang Kristen? Jelas, orang Kristen meyakini Yesus sebagai Tuhan. Baik kaum penganut tritseisme (tiga tuhan), maupun trinitas (satu Tuhan dengan tiga pribadi), semuanya sepakat mengatakan Yesus sebagai Tuhan. Kalau tidak percaya, Anda boleh tanya orang Kristen: Apa yang Anda katakan tentang Yesus? Dia itu tuhan atau bukan? Kalau dia menjawab tuhan, maka keyakinan dia dikritik oleh al-Quran. Dan ketika itu kritikan al-Quran jelas sesuai dengan fakta.

Al-Quran bilang, Yesus bukan Tuhan. Dia itu utusan Tuhan. Sementara bangunan trinitas yang diimani oleh orang Kristen menyebutnya sebagai Tuhan. Lantas atas dasar apa Anda menyimpulkan bahwa al-Quran menolak keyakinan yang ditolak oleh orang Kristen itu sendiri? Proposisi yang mengatakan “Isa adalah utusan Tuhan” itu tidak akan pernah bisa didamaikan dengan pernyataan bahwa “Isa adalah Tuhan”. Karena itu dua proposisi yang kontradiktif. Kalau utusan Tuhan, berarti bukan Tuhan. Kalau Tuhan, ya berarti bukan utusan Tuhan. Hukum kontradiksi menyatakan, dua hal yang bertentangan tidak mungkin saling terhimpun, juga tidak mungkin saling terangkat.

Jika yang satu benar, maka yang lain pasti salah. Begitulah ketentuan dalam hukum kontradiksi. Ini pengetahuan paling dasar dalam ilmu logika. Kalau pernyataan “Yesus/Isa bukan Tuhan” itu dipandang benar, maka sebagai konsekuensi logisnya Anda harus memandang kontradiksinya, yang mengatakan “Yesus/Isa adalah Tuhan”—seperti yang diyakini oleh mayoritas orang Kristen—sebagai pernyataan yang salah. Kalau mau membenarkan keduanya, maka keluarlah dari lingkaran orang-orang berakal. Gabungkanlah antara “hidup” dengan “mati”, “ada” dan “tiada”, “manusia” dengan “bukan manusia”, dan kontradiksi-kontradiksi lainnya.

Kemudian lihat potongan ayat selanjutnya yang menyatakan, “maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya”. Cermati ayat ini dengan baik. Ayat ini secara jelas memerintahkan orang-orang Kristen untuk percaya kepada semua rasul-rasul Allah. Berhubung di antara para rasul itu ada manusia agung yang bernama Muhammad, maka, berdasarkan ayat ini, otomatis mereka diwajibkan untuk beriman kepada Nabi Muhammad. Karena dia terbukti sebagai utusan Allah. Jika ada yang masih mempertanyakan bukti kerasulan itu, mari kita jadikan itu sebagai perdebatan terpisah. Tapi kalau sudah terbukti, maka otomatis mereka harus beriman.

Ajaran Nabi Muhammad Saw justru datang untuk mengembalikan mereka pada ajaran tauhid, yang tidak pernah memberikan ruang sedikit pun untuk mempertuhan manusia itu. Allah itu Esa. Dan tidak ada satupun makhluk yang layak dipertuhan. Betapapun sucinya manusia itu. Sekarang apa yang dikatakan orang Kristen tentang Nabi Muhammad? Bukankah orang Kristen menolak kenabian nabi Muhammad Saw? Kalau iya, lantas dari mana Anda berkesimpulan bahwa al-Quran mengkritik keyakinan yang ditolak orang Kristen? Klaim bahwa “Muhammad bukan seorang nabi” itu termasuk keyakinan orang Kristen. Dan al-Quran mengkritik keyakinan itu. Lalu meminta mereka untuk beriman kepada semua utusan-Nya, termasuk nabi Muhammad Saw.

Yang tidak kalah penting untuk Anda perhatikan adalah potongan ayat yang berisikan larangan, “janganlah kalian mengatakan tiga”. Perhatikan sekali lagi. Al-Quran bilang, wahai orang Kristen, “jangan katakan tiga.” (la taqulu tsalatsah). Berhentilah dari ucapan itu. Yang disebut oleh redaksi al-Quran adalah kata TIGA. Tiga apa? Pokoknya jangan bilang tiga! Redaksinya mengatakan begitu. Orang Kristen ada yang mengaku percaya pada satu Tuhan. Tapi, kata mereka, dia memiliki tiga pribadi. Inilah keyakinan trinitas. Lalu, al-Quran mengatakan: jangan katakan tiga! 

Kelompok lain ada yang mengatakan tiga Tuhan. Kepada mereka, al-Quran juga bilang, jangan katakan tiga! Ada lagi kelompok heretik yang meyakini bunda maryam sebagai pribadi dalam trinitas. Kepada mereka, al-Quran juga tetap mengatakan: jangan katakan tiga! Selama kamu bilang tiga, keyakinan itu saya tolak. Dan faktanya keyakinan semacam ini memang tidak pernah dikenal dalam sejarah pewahyuan para nabi terdahulu. Inilah salah satu ciri bahasa al-Quran. Mampu menampilkan redaksi yang singkat, tapi makna dan cakupannya sangat luas dan padat. Kelompok Kristen mana yang bisa “lari” dari kritikan ayat itu?  

“Tapi kan orang Islam bilang Tuhan itu sifatnya ada dua puluh. Itu kan lebih dari tiga.” Itu sifat, mas boy. Bukan dzat. Yang perlu Anda catat, sifat Tuhan itu bukan hanya ada 20. Orang Islam justru meyakini bahwa sebagai Dzat yang tidak terbatas, maka sifat kesempurnaan, keagungan, dan keindahan Tuhan itu juga TIDAK TERBATAS. 20 sifat itu disebutkan sebagai sifat-sifat induk (ummahat as-shifat), bukan pembatasan atas sifat Tuhan itu sendiri. Dan, yang perlu Anda ketahui, orang Islam tak pernah menyebut jelmaan firman Tuhan itu sebagai Tuhan. Sifat Tuhan ya sifat Tuhan. Jangan dibilang Tuhan! Karena sifat dari sesuatu bukanlah sesuatu itu sendiri. 

Walhasil, mau orang Kristen bilang “tiga pribadi” maupun “tiga Tuhan”, al-Quran menolak semua keyakinan itu. Dan kritikan itu sesuai dengan keyakinan mereka. Al-Quran mengatakan, sekali lagi, jangan katakan tiga! Pertanyaannya, bukankah trinitas—yang menjadi doktrin mainstream Kristen itu—mengimani adanya tiga pribadi? Tidakkah itu menunjukkan bahwa al-Quran juga mengkritik keyakinan mereka, karena dia melarang mereka untuk berkata tiga? Yang tidak kalah penting untuk kita ingat, tiga pribadi yang dirumuskan dalam trinitas itu semuanya disebut sebagai Tuhan. Tiga pribadi/uqnum itu ialah: Bapak, Anak dan Roh Kudus. 

Mereka mengaku percaya pada satu Tuhan. Tapi bangunan keyakinan mereka menyebutkan, bahwa tiga pribadi itu adalah Tuhan. Kita bertanya kepada mereka: Apakah yang Anda sebut sebagai Bapak itu termasuk Tuhan? Ya, mereka akan berkata begitu. Anak? Ya, Tuhan juga. Karena itulah mereka sering menyebut istilah “Tuhan Yesus”. Bagaimana dengan roh kudus? Ya itu Tuhan juga, bagi mereka. Kalau begitu Tuhan Anda ada berapa? Satu. Mereka mengaku menyembah pada Tuhan yang satu. Padahal bangunan keyakinan mereka jelas berkonsekuensi pada tiga Tuhan.

Bedakan antara pengakuan atas suatu keyakinan, dengan fakta dari keyakinan itu sendiri. Orang Kristen boleh saja mengaku percaya pada satu Tuhan. Tapi, selama mereka mempertahankan ide trinitas, dan tiga pribadi dalam trinitas itu mereka sebut sebagai Tuhan, faktanya keyakinan itu memang akan berujung pada tiga Tuhan. Mereka meyakini Tuhan itu satu. Tapi selama mereka mengatakan “tiga pribadi”, dan tiga pribadi itu disebut sebagai Tuhan, maka al-Quran tegas menolak itu. Dan ketika itu al-Quran tidak mengkritik sesuatu yang berbeda dengan keyakinan mereka. 

Walhasil, apa yang dikritik oleh al-Quran adalah keyakinan yang diimani oleh orang Kristen itu sendiri. Sadar bahwa trinitas ini mengandung kontradiksi, karena menyatukan antara keesaan dan keberbilangan, dan penyatuan dua hal yang kontradiktif itu tak mungkin bisa diimani oleh nalar sehat, Imam ar-Razi berkata dalam tafsirnya:

فَلا نَرى مَذْهَبًا في الدُّنْيا أشَدَّ رَكاكَةً وبُعْدًا عَنِ العَقْلِ مِن مَذْهَبِ النَّصارى.

“Karena itu kami tidak melihat adanya mazhab di dunia ini yang paling kacau/lemah dan jauh dari nalar sehat ketimbang mazhabnya orang-orang Kristen.” (Mafatih al-Ghaib, vol. 11, hlm. 272)

Yang bilang begitu bukan lulusan S1 di al-Azhar. Tapi seorang mufassir besar dalam sejarah Islam. Jadi, kalau dikatakan al-Quran tidak mengkritik keyakinan yang diimani oleh orang Kristen, fakta yang ada justru sebaliknya. Al-Quran justru mengkritik sebagian besar—kalaulah engga berkata semua—sekte dalam Kristen. Mereka meyakini Yesus sebagai Tuhan, al-Quran tegas menolak itu. Mereka menyebut tiga pribadi, al-Quran mengatakan: “Jangan katakan tiga.” Ada yang menyebut tiga Tuhan, al-Quran juga bilang, “jangan katakan tiga!”. Mereka mengingkari kenabian nabi Muhammad, al-Quran menyuruh mereka beriman. Dan menolak keras pengingkaran itu.

So, mau lari kemana lagi Anda? Kalau mau bilang, Yesus bukan Tuhan, Allah Esa, dan Muhammad Saw adalah seorang nabi, saya ucapkan: selamat! Anda sudah resmi menjadi Muslim! Nabi yang bernama Muhammad itu memang datang untuk meluruskan keyakinan Anda. Dia datang dengan ajaran tauhid seperti yang dibawa oleh Isa Al-masih As, yang tidak pernah mempertuhan apapun selain Dia. Kalau Anda mengaku beriman kepada Tuhan secara tulus, konsekuensi logisnya memang Anda harus mengimani semua utusan Tuhan. Tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain.

Cukup disayangkan, dalam berbagai tulisannya Mun’im Sirry seringkali berupaya untuk membenarkan ajaran Kristen itu. Bahkan dia memandang kritikan al-Quran terhadap orang Kristen itu hanya sebatas retorika polemik, yang melebih-lebihkan pandangan lawan, supaya memenangkan perdebatan dengan mereka! Sebagai Muslim harusnya dia malu berpandangan begitu. Dia melayangkan sikap culas hatta kepada firman Tuhannya sendiri. Ya, mengkritik dengan cara seperti itu hanya mungkin dilakukan oleh orang-orang yang culas. Kritik yang benar itu harus sesuai dengan kenyataan. Bukan mendistorsi pandangan lawan hanya karena ingin menang dalam perdebatan!  

Jujurlah dengan kitab suci Anda sendiri. Tak pantas seorang Muslim mengorbankan keyakinannya hanya demi membenarkan agama lain. Toleransi dibangun di atas penerimaan terhadap perbedaan sebagai kenyataan sosial, bukan pembenaran secara teologis. Jika Mun’im tidak setuju dengan kesimpulan di atas, saya tunggu yang bersangkutan untuk memberikan jawaban. Dari paparan di atas terbuktilah sudah, bahwa apa yang dikritik oleh al-Quran adalah keyakinan yang diimani oleh orang-orang Kristen itu sendiri. Tidak seperti yang disimpulkan oleh Mun’im Sirry, yang kerap membenarkan agama orang lain dengan khayalan dan nalar liarnya itu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.

Bagikan di akun sosial media anda