Kisah-kisah InspiratifRefleksiTerkini

Pemuda yang Langka

Dari sekian banyak kisah hidup yang pernah saya alami di Mesir, mungkin ini termasuk salah satu yang paling berkesan. Kisah ini bermula ketika saya memesan buku dari salah satu penerbit. Tak lama setelah buku dipesan, ada seorang anak muda menelpon: “Di mana saya bisa mengambil barang Anda?” Tanya dia kepada saya. 

Saya tentu terheran-heran, lah kan seharusnya dia yang menelpon penerbit. Bukan menelpon saya. Akhirnya saya bilang aja, “saya ini pemesan, dan harusnya Anda menghubungi penerbit tempat saya memesan buku. Bukan minta alamat ke saya.” Sempat saya agak dibuat kesal oleh yang bersangkutan. Tapi, setelah memberikan penjelasan, akhirnya buku itupun diantar oleh yang bersangkutan ke rumah saya. 

Saya tidak tahu sebelumnya, kalau kurir ini ternyata seorang anak sekolah. Sampai di tempat, saya agak terheran-heran, “kok dia bawa sepeda?” Akhirnya saya tanya aja, “kok kamu bawa sepeda? Kenapa nggak pake motor aja?” Anak muda itupun menjawab, “usia saya masih 18 tahun. Di Mesir, usia segitu belum bisa memiliki motor.” 

Ternyata, anak muda itu masih duduk di bangku SMA. Dan dia menjalani pekerjaan sebagai kurir demi membantu kedua orang tuanya. Anda tahu berapa jam dia bekerja dalam sehari? Kata dia, “saya keluar rumah dari jam 1 pagi dan pulang jam 9 malam”. Anda bisa hitung sendiri berapa jam dia bekerja dalam sehari. Di saat anak-anak sebayanya tertidur lelap, atau begadang di pinggiran jalan, anak ini malah keluar rumah untuk mencari uang. 

Saya tanya, “ngomong-ngomong dengan waktu selama itu kamu dapat berapa dalam sehari?” Kata dia, “nggak menentu. Rejeki sudah diatur sama Allah. Paling sekitar 60-90 pound”. Dan Anda tahu berapa nominal uang itu kalau dirupiahkan? Di tengah kondisi krisis ekonomi Mesir seperti sekarang, nominal segitu hanya setara dengan 30-40 ribu rupiah. Dia bekerja sebagai kurir pengantar barang dengan menggunakan sepeda. Kerja berjam-jam. Tapi penghasilan tidak seberapa. 

Ada rasa riba dalam diri saya, tapi sekaligus ada perasaan bangga. “Kamu”, kata saya, “adalah pemuda yang jarang di era sekarang. Kamu pemuda terhormat. Kalau presiden Sisi (presiden Mesir) tahu pekerjaan kamu, dia harusnya memberi kamu penghormatan. Saya sangat kagum dengan kerja keras kamu.” Akhirnya, setelah kejadian ini, kami pun bersepakat untuk menjalin persahabatan. Setelah sebelumnya terlibat dalam cekcok kecil-kecilan. 

Sebagai bentuk apresiasi, saya sempat memberi dia uang lebih. Saya pikir dia akan menerima. Tapi, dia malah menjawab, “jangan. Ini uang terlalu besar untuk saya. Tidak usah”. Dan dia menolak uang itu secara halus. Dalam bahasa agama, sikap semacam ini dikenal dengan istilah ‘iffah. Pemuda itu termasuk orang yang ‘afīf. Tak mau mendapatkan sesuatu yang bukan menjadi bagian dari haknya. Dia dia merasa malu untuk mendapatkan itu. 

Tapi, saya memilih untuk memaksa. “Tolong terima uang ini. Ini hanya sebatas hadiah simbolis saja. Kamu seharusnya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih besar dari ini.” Setelah saya paksa, akhirnya dia pun menerima. Saya melihat senyum dan semangat dari wajahnya. Saya sempat bertanya kepada yang bersangkutan, “kenapa kamu harus kerja sekeras ini? Apakah orang tua sudah tidak bekerja lagi?”

Dia pun menjawab, “orang tua saya sebenarnya bekerja. Tapi saya ingin membantu mereka.” Sungguh perbuatan yang sangat mulia. Dia ingin membantu orang tuanya dengan cara apapun yang dia bisa. Tidak ada motor, sepeda pun jadi. Dan kemana-mana dia mengantar barang pelanggan dengan sepeda kesayangannya itu. Meskipun dengan penghasilan yang tidak seberapa. “Kamu tetap menjalankan salat, kan?” Tanya saya kembali.

Saya bertanya begitu karena banyak anak-anak muda di luar sana yang dalam usia segitu belum sadar tentang pentingnya salat. Mending kalau sibuk kerja. Ini kadang kerja nggak, salat juga nggak. Pemuda yang satu ini beda. “Ya, salat jelas tidak boleh ditinggalkan. Justru saya menjadikan salat sebagai waktu istirahat. Dan setelah itu saya bekerja lagi.” 

Saya sempat terdiam beberapa saat. “Kok bisa ada anak muda sehebat ini?” Usia boleh muda. Tapi cara berpikir dan sikapnya sangat mencerminkan kematangan dan kedewasaan. Terus terang, setelah pertemuan ini, saya pun merasa malu dengan diri saya sendiri. Jika dibandingkan dengan pemuda ini, kerja keras saya dalam belajar ternyata belum ada apa-apanya. 

Pemuda ini telah memberi inspirasi yang luar biasa. Di saat anak-anak seusianya sibuk bermain game dan nongkrong, dia memilih untuk bekerja dan mencari uang yang halal. Dia pastinya tahu, bahwa masa depan yang cerah tidak dibangun di atas kenikmatan dan kenyamanan semata. Pada akhirnya, hidup meniscayakan adanya keringat dan pengorbanan. Dan, menariknya lagi, di samping bekerja keras, anak ini juga tidak lupa dengan tugas sekolah. 

Dia bekerja ketika hari libur. Ketika masuk waktu sekolah, dia bersekolah dengan baik. Ketika hari libur datang, dia bekerja lagi. Dan begitu seterusnya. Semua itu dia lakukan demi belajar mandiri dan membantu orang tuanya. Tulisan ini hanyalah cara sederhana untuk menuangkan rasa kagum saya kepada anak muda itu. Semoga dia mendapatkan masa depan yang cerah. Dan kisahnya membuat kita lebih semangat lagi dalam berbuat baik.

Bagikan di akun sosial media anda