Ilmu KalamKajian KeislamanKritikTerkini

Mun’im, Donner dan Iman Ahli Kitab

Apakah orang-orang Yahudi dan Kristen yang eksis setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw dapat dikatakan sebagai orang beriman? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu merumuskan kata “iman” terlebih dulu. Dalam Syarh al-‘Aqā’id an-Nasafiyyah, Imam Sa’duddin at-Taftazani menjelaskan bahwa iman itu ialah pembenaran terhadap apa yang disampaikan oleh Nabi Saw dari Allah Swt (Syarh al-‘Aqaid an-Nasafiyyah, hlm. 273).

Atas dasar itu, jika Anda ditakdirkan sebagai umat dari seorang nabi, lalu Anda membenarkan semua yang dibawa oleh Nabi itu, maka Anda adalah orang beriman. Tapi kalau Anda mendustakannya, dan tidak memercayai ajaran pokok yang dibawanya, maka Anda tidak dapat disebut sebagai orang beriman. Karena keimanan yang sejati mengaruskan Anda untuk percaya pada semua yang disampaikan nabi.

Penting untuk diingat bahwa semua nabi pada dasarnya hanya datang dengan satu agama. Agama yang satu itu mengajarkan pemeluknya untuk percaya pada Tuhan yang Maha Esa, dan juga memercayai semua utusan-Nya. Tanpa membedakan antara yang satu dengan yang lain. Itulah inti dari ajaran Islam. Karena itu, tidak heran jika dalam banyak ayat al-Quran para nabi itu menyebut diri mereka sebagai Muslim.

Atas dasar itu, pengakuan seseorang sebagai Muslim tidak akan pernah sah kecuali jika dia memercayai semua utusan Allah Swt dan seluruh ajaran yang mereka sampaikan. Berislam tidak cukup hanya dengan mengaku pasrah. Tapi kepasrahan itu harus diwujudkan dalam bentuk keimanan yang menyeluruh. Jika Anda masih mengingkari salah satu dari prinsip keimanan, baik itu Tuhan, nabi, kitab suci, malaikat, dll, maka secara otomatis Anda keluar dari lingkaran orang-orang beriman.

Setelah merumuskan makna dari kata “iman”, sekarang mari kita kembali pada pertanyaan di atas tadi. Apakah orang-orang Yahudi dan Kristen yang hidup setelah diutusnya Nabi Muhammad Saw bisa disebut sebagai orang beriman? Al-Quran sendiri menyatakan: tidak! Selama mereka tidak percaya akan kenabian Nabi Muhammad Saw, maka mereka tidak sah disebut sebagai orang beriman, sekalipun mereka percaya pada Tuhan. Bahkan kalaupun mereka percaya kepada Tuhan, lalu mereka percaya pada sebagian nabi, tapi mengingkari sebagian yang lain, maka al-Quran tegas menyebut mereka sebagai orang-orang kafir.

Dalam al-Quran dinyatakan:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيُرِيْدُوْنَ اَنْ يُّفَرِّقُوْا بَيْنَ اللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَيَقُوْلُوْنَ نُؤْمِنُ بِبَعْضٍ وَّنَكْفُرُ بِبَعْضٍۙ وَّيُرِيْدُوْنَ اَنْ يَّتَّخِذُوْا بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًاۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكٰفِرُوْنَ حَقًّا ۚوَاَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ عَذَابًا مُّهِيْنًا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِاللّٰهِ وَرُسُلِهٖ وَلَمْ يُفَرِّقُوْا بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْهُمْ اُولٰۤىِٕكَ سَوْفَ يُؤْتِيْهِمْ اُجُوْرَهُمْ ۗوَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا ࣖ

“Sesungguhnya orang-orang yang kufur kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan bermaksud membeda-bedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya dengan mengatakan, “Kami beriman kepada sebagian dan kami mengingkari sebagian (yang lain),” serta bermaksud mengambil jalan tengah antara itu (keimanan atau kekufuran), merekalah orang-orang kafir yang sebenarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir azab yang menghinakan. (QS. An-Nisa [4]: 150-151).

Ayat ini sejujurnya bisa mematahkan pandangan para pengusung ide pluralisme agama, yang kerap tidak mempersoalkan ketakberimanan orang Yahudi dan Kristen terhadap Nabi Muhammad Saw. Bagi para pengusung ide ini, iman yang sahih itu ialah iman kepada Allah, hari akhir dan beramal saleh, seperti yang tercantum pada QS. Al-Baqarah [2]: 62, yang mereka tafsirkan secara manipulatif. Padahal, penyebutan iman kepada Allah dan hari akhir dalam ayat tersebut bukan dalam konteks membatasi. Tapi itulah gaya bahasa al-Quran yang dalam Ilmu Balaghah disebut dengan istilah ījāz (meringkas).

Sebab, di ayat lain, seperti terlihat di atas, al-Quran juga mengharuskan keimanan pada semua nabi. Di ayat lain dia juga mewajibkan kita untuk percaya pada malaikat, kitab suci dan lain-lain. Bahkan orang yang mengaku percaya pada sebagian nabi, tapi mengingkari sebagian yang lain, itu disebut sebagai orang kafir dengan kekufuran yang hakiki (al-kāfirūna haqqā). Berhubung orang Yahudi dan Kristen itu tidak percaya pada semua nabi, maka otomatis mereka tercakup dalam kecaman ayat ini.

Penghukuman semacam ini sebetulnnya tidak mengherankan. Karena iman yang sejati adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Jika Anda mengaku beriman kepada Allah, maka Anda harus beriman pada semua utusan Allah. Mengingkari sebagian utusan Allah sama saja dengan mengingkari semuanya. Dan karena Nabi Muhammad Saw itu adalah utusan Allah, maka orang yang mengingkari kenabiannya—seperti Yahudi dan Kristen—tak layak menyandang gelar sebagai orang-orang beriman.

Tetapi ada satu ayat dalam al-Quran yang juga menyebutkan bahwa Ahli Kitab itu tidak semuanya sama. Dalam al-Quran disebutkan:

۞ لَيْسُوْا سَوَاۤءً ۗ مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ اُمَّةٌ قَاۤىِٕمَةٌ يَّتْلُوْنَ اٰيٰتِ اللّٰهِ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ وَهُمْ يَسْجُدُوْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُسَارِعُوْنَ فِى الْخَيْرٰتِۗ وَاُولٰۤىِٕكَ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Mereka tidak sama. Di antara Ahlulkitab ada golongan yang lurus. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dalam keadaan bersujud (salat). Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebajikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh.” (QS. Al Imran [3]: 113).

Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa ayat ini adalah penjelasan bagi salah satu ayat sebelumnya. Ayat sebelumnya, tepatnya pada Q. 3: 110, disebutkan bahwa “di antara mereka (yakni Ahli Kitab) itu ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah fasik.” Sebagai penegasan atas ayat tersebut, maka ayat ini menegaskan bahwa Ahli Kitab itu tidak semuanya sama. Di antara mereka juga ada yang beriman, dan mengerjakan amal kebajikan seperti yang disebutkan dalam ayat itu.

Lebih lanjut ar-Razi menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat terkait siapa sebetulnya yang dimaksud dengan Ahli Kitab dalam ayat itu. Pendapat pertama, dan ini yang dianut oleh mayoritas, seperti diakui oleh ar-Razi sendiri, ialah orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa dan Isa As. Ar-Razi kemudian menyebutkan beberapa riwayat. Salah satunya dari ‘Atha, yang menyebutkan bahwa ayat tersebut turun terkait 40 orang Nasrani Najran, 32 dari Habsyah, dan 3 orang lagi dari Romawi. Dikisahkan bahwa mereka, berdasarkan riwayat tersebut, beriman kepada Nabi Isa dan juga membenarkan ajaran Nabi Muhammad Saw. (Ar-Razi, Mafātīh al-Ghaib, vol. 8, hlm. 331).

Jamaluddin al-Qasimi menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan pujian bagi kelompok Ahli Kitab yang menerima kebenaran, dan tidak mempedulikan sikap para Ahli Kitab yang lain, baik dari generasi terdahulu maupun setelahnya. Ayat sebelumnya menyebutkan: “di antara mereka ada orang-orang yang beriman”. Maksudnya, kata al-Qasimi, ialah penegasan bahwa Ahli Kitab itu tidak sama dalam soal keburukan.

Perlu penulis tambahkan bahwa dengan menyatakan bahwa ada sebagian dari kalangan Ahli Kitab yang beriman dan menerima kebenaran tentu tidak berarti bahwa pengingkaran mereka terhadap Nabi Muhammad Saw itu dapat dibenarkan. Karena itu, Fred Donner keliru ketika menjadikan Q. 3: 113 ini sebagai ayat yang mengafirmasi keimanan Ahli Kitab. Dalam buku Muhammad and the Believers, Donner menyatakan:

“These passages and other like them suggest that some peoples of the book—Christians and Jews—were considered Believers. The line separating Believers from unbelievers did not, then, coincide simply with the boundaries of the peoples of the book. Rather, it cut across those communities, depending on their commitment to God and to observance of His Law, so that some of them were to be considered Believers, while others were not.” (Muhammad and the Believers, hlm. 70).

(Ayat-ayat ini dan ayat-ayat serupa lainnya menunjukkan bahwa banyak Ahli kitab—Kristiani dan Yahudi—yang dipandang sebagai Umat Beriman. Jadi, garis pemisah antara Umar Beriman dengan yang tidak beriman, tidak sama dengan garis pemisah dengan ahli kitab, tetapi tergantung kepada komitmen mereka terhadap Tuhan dan pada ketaatan melaksanakan hukum Tuhan. Dengan demikian, sebagian di antara mereka harus dipandang sebagai Umat Beriman, sementara yang lain tidak)

Di tempat lain dari bukunya Donner menyatakan bahwa istilah “muslim” dalam al-Quran itu merujuk pada kaum monoteis. Dan, julukan itu, bagi Donner, berlaku juga bahwa kelompok Yahudi dan Kristen (Donner: 2010). Seolah-olah dia ingin menyatakan bahwa orang Yahudi dan Kristen itu tidak harus beriman kepada Nabi Muhammad Saw. Cukup dengan mereka menjalankan keimanan dalam agama yang mereka anut, maka mereka tetap disebut sebagai penganut ajaran tauhid.

Pandangan ini jelas keliru sebab konsep keimanan dalam al-Quran tidak memisahkan antara satu nabi dengan nabi yang lain. Donner lupa bahwa orang Yahudi dan Nasrani tidak mengakui Nabi Muhammad Saw sebagai nabi. Dan al-Quran tegas mengafirkan orang-orang yang tidak percaya pada semua nabi itu. Lalu bagaimana mungkin Ahli Kitab dikatakan beriman di satu tempat, sementara mereka dikafirkan di tempat yang lain?

Yang benar, ayat ini hanya berbicara tentang segolongan Ahli Kitab yang beriman dengan keimanan yang benar dan mengakui kenabian Nabi Muhammad Saw. Singkat kata, Ahli Kitab yang dibicarakan dalam ayat ini ialah golongan Ahli Kitab yang hatinya sudah menerima kebenaran ajaran Islam. Sebab, bagian ayat ini menyebutkan bahwa “mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir”.

Mengomentari bagian ini, al-Qasimi menyatakan:

وظاهر أن الإيمان بالله يستلزم الإيمان بجميع أنبيائه ورسله. والإيمان باليوم الآخر يستلزم الحذر من المعاصي، وهؤلاء اليهود ينكرون أنبياء الله، ولا يحترزون عن معاصي الله

“Dan jelas bahwa iman kepada Allah itu melahirkan konsekuensi beriman kepada semua nabi dan rasul-Nya. Dan beriman kepada hari akhir meniscayakan keterhindaran dari perbuatan maksiat. Sementara orang-orang Yahudi itu mengingkari para nabi Allah. Dan mereka juga tidak menghidar dari maksiat kepada Allah.” (Al-Qasimi, Mahāsin at-Ta’wīl, vol. 2, hlm. 390).

Sebagai orang yang mengaku pernah berguru kepada Donner, dan terinspirasi oleh ide-idenya, Mun’im juga mengamini pendapat gurunya. Bagi Mun’im, orang Kristen itu adalah orang beriman, bukan orang kafir. Dalam buku Logical Fallacy, penulis sudah mengajukan bantahan atas pandangan Mun’im yang satu itu. Tapi dari ayat di atas saja sudah terlihat jelas, bahwa pandangan yang memandang Ahli Kitab sebagai kelompok beriman itu jelas bermasalah.

Penafian atas imannya Ahli Kitab pada gilirannya juga dapat mematahkan tesis Mun’im yang lain, yang menyebutkan bahwa Islam awal itu adalah Islam yang ekumenis. Dalam khayalannya, islam awal (early islam) itu belum menjadi agama yang distingtif. Karena itu, menurutnya, islam awal tidak mengafirkan pemeluk agama lain, dan memandang komunitas Yahudi dan Kristen sebagai bagian dari golongan kaum beriman. Pandangan yang sangat naif. Karena faktanya al-Quran sendiri tak mengakui keimanan mereka.

Baik Mun’im maupun Donner sudah sama-sama keliru. Dia mengira bahwa iman itu cukup hanya dengan pengakuan. Atau cukup dengan meyakini keberadaan Tuhan dan hari akhir saja. Dan lupa bahwa al-Quran juga mewajibkan umat manusia untuk percaya kepada semua utusan-Nya. Karena Muhammad Saw adalah salah seorang dari utusan itu, maka secara otomatis mereka juga diwajibkan untuk beriman.

Dengan menolak keimanan Ahli Kitab tidak berarti bahwa al-Quran mengajari kita untuk bermusuhan dengan mereka. Menolak dari sisi teologis itu satu hal. Berinteraksi dalam hubungan sosial itu hal yang lain lagi. Tak perlu alergi dengan istilah kafir. Karena setiap agama pasti memiliki batasannya masing-masing. Menyatakan suatu kelompok “kafir” itu sama dengan menyatakan bahwa kalian bukan bagian dari kami. Agama kami tak merestui agama kalian.

Kendati demikian, hal itu tak perlu menghalangi kita untuk tetap menjalin persaudaraan. Tugas kami hanya menyampaikan, bahwa iman Anda tak akan pernah sempurna kecuali setelah Anda mengimani Nabi Muhammad Saw, sebagai nabi yang melanjutkan ajaran Musa dan Isa As. Jika mereka semua datang dengan agama yang satu, lalu pantaskah kita, sebagai orang beriman, mendustakan salah satu dari ketiga manusia agung itu?

Bagikan di akun sosial media anda