Ilmu KalamIlmu-Ilmu RasionalKajian KeislamanKritikTerkiniTerpopuler

Teologi Bukan Bagian dari Agama?

Dalam buku berjudul Studi Agama: Normativitas atau Historisitas karya Prof. Amin Abdullah (selanjutnya disebut Amin), saya menemukan ungkapan yang menarik untuk dikritik. Dalam buku tersebut, Amin menjelaskan bahwa teologi itu bukan bagian dari agama. Padahal, seperti yang kita ketahui, teologi itu bukan hanya bagian dari agama, tapi dia adalah fondasi dari agama itu sendiri. Amin menulis dalam bukunya:

“Perlu dicatat, teologi bukanlah agama. Teologi adalah hasil rumusan akal pikiran manusia sesuai dengan waktu dan situasi sosial yang ada. Itulah yang melatarbelakangi munculnya teologi Muktazilah, Asy’ariyah, Karl Barth, Paul Tillich, Martin Buber dan lainnya. Rumusan teologi terkait dengan ruang dan waktu, tingkat pengetahuan manusia dan situasi politik saat itu. Meski sumbernya kitab suci, namun teologi adalah karya manusia yang fallible (bisa salah). Karena itu, ia dapat berubah-ubah rumusannya sesuai tantangan zaman.” (Studi Agama, hlm. 48).

Agar ungkapan ini tidak disalahpahami, penulis ingin menegaskan tiga poin sebagai berikut:

Pertama, dalam tradisi Islam, teologi—yang juga dikenal dengan Ilmu Kalam—itu seringkali disebut dengan istilah ushūluddīn (pokok-pokok agama). Dari penamaannya saja sudah jelas, bahwa isu-isu yang dibahas dalam teologi itu menyangkut ajaran-ajaran pokok agama. Jika diibaratkan dengan sebuah bangunan, teologi itu ibarat fondasi. Tanpa adanya fondasi, tentu tidak akan ada bangunan. Dengan demikian, tanpa teologi, agama tidak dapat lagi disebut sebagai agama. Karena teologi adalah fondasinya yang paling utama.

Karena itu, dalam hemat penulis, ungkapan Amin ini cukup problematis. Bagaimana mungkin teologi tidak disebut sebagai agama, sementara cakupan pembahasannya berkaitan dengan dasar-dasar agama itu sendiri?! Para teolog Muslim mendasarkan kesimpulan-kesimpulannya pada wahyu dan argumen-argumen rasional. Apa yang mereka ungkapkan memang tidak selamanya menyentuh hal-hal fundamental. Karena dalam teologi juga ada pembahasan-pembahasan yang terkait dengan rincian. Tapi, secara umum, apa yang menjadi fokus perhatian mereka adalah dasar-dasar agama.

Dalam teologi Islam, misalnya, kita mengenal tiga pembahasan utama. Pertama, hal-hal yang berkaitan dengan ketuhanan (ilāhiyyāt). Kedua, hal-hal yang berkaitan dengan kenabian (nubuwwāt). Dan yang ketiga ialah hal-hal ghaib (sam’iyyāt). Kalau teologi tidak disebut sebagai bagian dari agama, lantas apakah Amin mengira bahwa ketiga hal ini merupakan produk pemikran umat manusia? Justru, tanpa ketiga hal ini, agama tidak lagi disebut sebagai agama! Karena agama itu sendiri ialah aturan yang diklaim berasal dari Tuhan. Dan teologi adalah disiplin keilmuan yang membahas tentang Tuhan itu.  

Penting untuk diingat bahwa tidak semua pembahasan yang berkaitan dengan Tuhan berpijak pada nalar manusia. Contohnya seperti sifat-sifat Tuhan. Melalui serangkaian argumen rasional, para teolog bisa mengantarkan kita pada kesimpulan bahwa Tuhan itu benar-benar ada. Karena Dialah yang menjadi sebab utama di balik keterlahiran alam semesta. Tapi bagaimana sifat Tuhan itu? Apa perbuatan yang bisa membuat Dia murka? Bagaimana jalan untuk menggapai keridaan-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak dapat dijawab hanya dengan bersandar pada akal. Karena dia berkaitan dengan hal ghaib, maka sandaran utamanya adalah wahyu, yang harus terbukti berasal dari Tuhan itu. Uraian mengenai alam akhirat, sorga, neraka, hisab, sirath, dan semacamnya, juga tidak berpijak pada nalar manusia. Sementara pembahasan-pembahasan semacam ini kita jumpai dalam teologi. Dengan begitu, maka kesimpulan yang menyebut teologi sebagai produk pemikiran manusia tidak sepenuhnya tepat.  

Kedua, kita tidak memungkiri bahwa ada bagian-bagian tertentu dari khazanah teologi (Islam) yang merupakan hasil ijtihad manusia. Tapi umumnya itu berkaitan dengan metode dan persoalan rincian. Bukan terkait dengan jantung utama dari pembahasan teologi itu sendiri. Misalnya, terkait klaim keberadaan Tuhan. Tak ada yang bisa menolak bahwa penerimaan akan keberadaan Tuhan, sebagai pencipta alam semesta, adalah bagian dari agama Islam. Dan itu juga termasuk salah satu pembahasan dalam teologi. Tapi, untuk sampai pada kesimpulan bahwa Tuhan itu benar-benar ada, para teolog menempuh metodologi yang beranekaragam. Di antara mereka, misalnya, ada yang mengadopsi istilah-istilah teknis dalam filsafat Yunani, seperti substansi, aksiden dan segala turunannya.

Uraian mengenai substansi dan aksiden juga banyak kita jumpai dalam buku-buku filsafat perpatetik. Hal-hal semacam ini tidak dijelaskan secara detail oleh wahyu. Untuk merumuskannya, perlu ada keterlibatan nalar manusia. Dan di sini kita bisa sepakat dengan Amin bahwa ada bagian tertentu dari teologi yang merupakan produk dari pemikiran manusia. Tapi, pertanyaan lanjutannya adalah, apakah teologi hanya berisikan hal-hal semacam itu saja? Jika jawabannya tidak, maka pandangan Amin jelas keliru. Bahwa dalam teologi ada hal-hal yang bersifat ijtihadi, itu memang benar. Tapi itu hanya persoalan sampingan. Inti dari teologi ialah dasar-dasar ajaran yang berasal dari Allah Swt. Dan para teolog tampil untuk menjelaskan dasar-dasar itu.

Ketiga, Amin menyebutkan bahwa rumusan teologi terkait dengan ruang dan waktu, dan juga tingkat pengetahuan manusia dan situasi politik pada saat pikiran itu terlahir. Ungkapan ini tidak sepenuhnya tepat. Sebab ada kaidah-kaidah rasional dalam teologi yang bersifat universal. Dia tidak dipengaruhi oleh konteks sosial-politik yang mengitari seorang teolog. Tapi itu terlahir dari pengamatan yang cermat atas watak nalar manusia itu sendiri.

Misalnya uraian mengenai hukum akal. Banyak buku teologi yang memuat penjelasan seputar hukum akal ini. Dikatakan di sana bahwa hukum akal itu terbelah ke dalam tiga bagian. Yaitu wajib, mungkin dan mustahil. Rumusan semacam ini murni terlahir dari pengamatan para teologi atas watak nalar manusia. Bukan disebabkan karena kondisi politik tertentuu. Karena itu, sampai kapanpun dan di manapun kita berpijak, kaidah ini akan senantiasa relevan untuk dijadikan sebagai pijakan.

Apa yang kita bayangkan dalam nalar, ketika ia dinisbatkan pada keadaan dan ketiadaan, itu tidak akan keluar dari tiga kemungkinan. Pertama, ada sesuatu yang tidak menerima ketiadaan. Dan karena itu keberadaannya bersifat niscaya. Inilah yang mereka sebut sebagai wajib. Kedua, ada sesuatu yang mungkin ada, mungkin juga tiada. Dan inilah yang disebut sebagai mumkin. Terakhir, ada sesuatu yang tidak menerima keadaan. Dan inilah yang dimaksud dengan mustahil.  

Ini hanya sebagai contoh, bahwa ada anasis-anasir dalam teologi yang bersifat universal. Dan kemunculannya tidak dilatari oleh sebab-sebab historis tertentu. Karena itu, menyatakan bahwa teologi terikat dengan waktu dan tingkat pengetahuan manusia pada masanya tidak sepenuhnya tepat. Sebagaimana memandang teologi bukan bagian dari agama adalah kesimpulan yang sulit sekali diterima. Kecuali kalau yang dimaksud dengan teologi itu ialah percikan-percikan pemikiran para teolog yang terkait dengan persoalan-persaoalan partikular.

Masalahnya, teologi tidak hanya membahas tentang hal itu. Kenyataan bahwa ada perdebatan-perdebatan serius di antara sekte-sekte besar Islam, seperti Asya’irah, Maturidiyyah, Muktazilah, Syi’ah, dan lain sebagainya, dan perdebatan itu melibatkan ijtihad manusia, tidak bisa dijadikan premis bahwa teologi sepenuhnya berisikan pikiran manusia. Sebab, dasar-dasar keyakinan yang dirumuskan dalam teologi tidak semuanya terlahir dari perdebatan sektarian.

Para teolog bisa berbeda pendapat terkait rincian dalil keberadaan Tuhan. Tapi mereka semua sepakat bahwa Tuhan itu ada. Mereka juga berbeda pendapat apakah keterjagaan nabi dari dosa itu berlaku setelah ia menjadi nabi atau juga mencakup masa ketika mereka belum menjadi nabi. Tapi mereka semua sepakat bahwa nabi itu ada. Dan mereka adalah utusan Allah Swt. Ketika bicara tentang hari kebangkitan, kita juga menjumpai perbedaan pendapat di kalangan mereka. Tapi mereka semua sepakat, bahwa hari akhir itu ada.

Dan, terlepas dari semua perdebatan itu, ajaran terkait Tuhan, nabi dan hari akhir itu bukan produk pemikiran manusia. Karena itu kelirulah kalau teologi dikatakan sebagai produk pemikiran manusia. Yang benar, kita harus mengakui bahwa dalam teologi itu ada anasir-anasir yang bukan produk pikiran manusia. Dan kenyataan itu tidak menafikan fakta bahwa dalam teologi juga ada hal-hal yang terlahir dari ijtihad mereka. Yang benar adalah bagian dari agama. Dan yang keliru jelas tidak. Demikian, wallāhu ‘alam bisshawāb.   

Bagikan di akun sosial media anda