KhotbahTerkini

Khotbah Idul Fitri 1445 H: Apa yang Harus Kita Lakukan Setelah Lebaran?

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا ، وَالحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا ، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ ، صَدَقَ وَعْدَهُ ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ ، وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ. لاَ إِلهَ إلاَّ اللهُ ، وَلَا نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ ، وَلَوْ كَرِهَ الُمشْرِكُوْنَ ، وَلَوْ كَرِهَ الُمنَافِقُوْنَ. لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ.

الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَاركاً فِيهِ ، مِلْءَ السَّمَواتِ ومِلْءَ الأَرْضِ ومِلْءَ مَا بَيْنَهُمَا ومِلْءَ مَا شِئْتَ من شَيْئٍ بَعْدُ. أهلَ الثَّنَاءِ والَمجْدِ ، أَحَقُّ مَا قَالَهُ العَبْدُ وكُلُّنَا لَكَ عَبْدٌ ، اللّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ ، ولاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ ، ولاَ رَادَّ لِمَا قَضَيْتَ ، ولَا يَنْفَعُ ذَا الجَدِّ مِنْكَ الجَدُّ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ ورَسُوْلُه, بَلَّغَ الرِّسَالَةَ ، وَأَدَّى الأَمَانَةَ ، وَنَصَحَ الأُمَّةَ ، وَكَشَفَ اللهُ بِهِ الغُمَّةَ ، وَجَاهَدَ فىَ سَبِيْلِ اللهِ حَقَّ جِهَادِهِ. فَاللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنا إِبْرَاهِيمَ، ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا ِإِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

أَمَّا بَعْدُ ؛

فَيَا آيُّهَا النَّاسُ ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ ، فَقَدْ فَازَ الُمتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فىِ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ ، وَهُوَ أَصْدَقُ القَائِلِيْنَ ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، بسم الله الرحمن الرحيم : يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ :  يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا. صَدَقَ اللهُ العَظِيْمُ.

Hadirin, jama’ah salat idul fitri yang dirahmati Allah

Di pagi hari yang cerah ini, mari kita sama-sama memanjatkan puji dan syukur kita kepada Allah Swt, yang telah memberi kita nikmat iman dan kesehatan. Dengan nikmat iman, kita bisa menjalankan puasa selama sebulan penuh lamanya. Dan dengan adanya kesehatan kita bisa berkumpul bersama di tempat ini untuk menyambut hari raya. Semua yang kita dapat adalah nikmat yang patut kita syukuri. Semua ketaatan yang telah kita tunaikan adalah kemudahan yang telah Allah limpahkan. Tanpa nikmat, karunia dan kemudahan yang Allah berikan, tak ada ketaatan apapun yang bisa kita lakukan. Kita semua diciptakan sebagai hamba Allah. Dan orang beriman harus tahu dan sadar, bahwa kemuliaan dirinya hanya ada pada penghambaan kepada Allah.

Salawat beriring salam semoga senantiasa terlimpah untuk nabi kita dan teladan hidup kita. Nabi Muhammad Saw. Seorang manusia yang telah mencurahkan seluruh hidupnya untuk membawa umat manusia menuju jalan yang terang benderang. Kehadiran Nabi Muhammad Saw adalah sebaik-baiknya nikmat yang pernah Allah limpahkan kepada umat manusia. Tanpa kehadirannya, kita hanya hidup di lorong-lorong yang gelap. Dan tanpa tuntunannya, kita tidak akan memiliki panduan tentang bagaimana seharusnya mendekatkan diri kepada sang penguasa jagad raya. Nabi Muhammad Saw adalah sebaik-baiknya Nabi. Dan umat yang dinisbatkan kepada sebaik-baiknya nabi Allah takdirkan sebagai sebaik-baiknya umat.

Hadirin, jama’ah salat idul fitri yang dirahmati Allah

Bulan puasa sudah berlalu. Dan hari raya kini sudah tiba. Dengan penuh harap, kita memohon kepada Allah Swt, semoga pada hari ini kita benar-benar dikembalikan kepada fitrah kita sebagai makhluk-makhluk yang tersucikan dari semua dosa. Kita semua tentu sangat menyadari bahwa ibadah kita masih diliputi oleh banyak kekurangan. Tapi kita harus yakin, bahwa rahmat, ampunan dan ganjaran yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya itu jauh melampaui apa yang kita bayangkan. Orang beriman harus selalu berbaik sangka kepada Tuhannya. Karena Allah Swt sendiri, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, sesuai dengan sangkaan para hamba kepada-Nya.

Allahu akbar 9x

Hadirin, jama’ah salat idul fitri yang dirahmati Allah

Setelah menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh, kini tiba saatnya kita bertanya pada diri kita masing-masing. Setelah kewajiban puasa kita tunaikan, lantas di tahap selanjutnya apa yang harus kita kerjakan? Bagaimana agenda kehidupan kita selanjutnya? Seperti apa keteladanan yang diberikan oleh Nabi Saw kepada umatnya? Dan bagaimana seharusnya kita, sebagai umatnya, berupaya untuk mencontoh keteladanan itu? Inilah yang akan menjadi renungan kita bersama pada kesempatan kali ini.

Hadirin, jama’ah salat idul fitri yang dirahmati Allah

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَبِيَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَفْعَلْ

“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas (bibit pohon korma), maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.(HR. Ahmad).

Hadits ini menyiratkan pesan yang begitu mendalam kepada kita semua sebagai orang-orang beriman. Nabi berpesan, kalau hari kiamat itu benar-benar sudah datang, sementara di tangan kita masih ada bibit pohon yang masih bisa kita tanam, maka, kata nabi, tanamlah bibit pohon itu. Bayangkan, hadirin sekalian, di saat-saat yang genting dan menakutkan sekalipun, kita semua diperintahkan untuk beramal dan berbuat kebajikan. Perintah semacam itu sebetulnya ingin memberi pesan kepada kita, bahwa selama kita masih diberikan nafas, kesempatan dan kemampuan untuk beramal, sekecil dan seremeh apapun pekerjaan itu, maka Nabi Saw meminta kita untuk menggunakan kesempatan sebaik mungkin. Tidak berhenti dari berbuat baik walau hari kiamat sudah datang sekalipun!

Artinya, hadirin sekalian, dengan pesan itu kita dapat menarik kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang tidak menghendaki pengangguran bagi para pemeluknya. Apabila kita sudah selesai dari suatu kewajiban, kewajiban yang lain sudah menanti kita lagi. Apabila kewajiban yang lain itu selesai, maka kewajiban yang lain sudah menanti lagi. Dan begitu seterusnya. Selama nyawa masih ada di dalam raga, tak ada istilah menganggur dan lepas dari pekerjaan. Itulah yang dipesankan oleh agama kepada kita. Kita sudah berlelah-lelah selama satu bulan penuh dengan menahan rasa haus dan lapar. Tapi, episode kehidupan kita belum selesai. Dan karena itu agama menganjurkan kita untuk terus menerus beramal.

Setiap kita sudah diberikan tugas dan kewajiban yang berbeda-beda. Dan masing-masing dari kita diminta untuk beribadah kepada Allah sesuai dengan tugas dan kewajiban yang berbeda-beda itu. Para pelajar beribadah dengan belajar. Para petani beribadah dengan bertani. Para pedagang beribadah dengan berdagang. Semua orang beribadah sesuai dengan profesi masing-masing. Dan menekuni pekerjaan itu sejujurnya memiliki pahala yang sangat besar, yang sayangnya tidak disadari oleh semua orang.

Dalam sebuah hadits disebutkan:

إنَّ اللهَ عزَّ وجلَّ يُحِبُّ إذا عمِل أحَدُكم عمَلًا أنْ يُتقِنَه

“Sesungguhnya Allah Swt mencintai apabila salah seorang di antara kalian beramal dia memantapkan amalan itu.” (HR. Thabrani)

Walhasil, baik ketika puasa maupun setelah selesai puasa, kita semua tetap diwajibkan untuk beribadah. Dan ingat bahwa ibadah tidak selamanya harus berlangsung di masjid. Bahkan menahan penderitaan hidup pun bisa tergolong sebagai ibadah, yang pahalanya bernilai besar di sisi Allah Swt.

Dalam al-Quran, Allah Swt berfirman:

قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan.” (QS. Az-Zumar [39]: 10).

Perhatikanlah bagaimana Allah Swt melukiskan orang-orang yang bersabar itu dengan ganjaran yang tanpa perhitungan. Sebagai bukti cara kita dalam menerima pahitnya kenyataan hidup pun bisa dijadikan jalan untuk meraih ganjaran yang besar dari Allah Swt. Dengan demikian, apapun profesi yang kita miliki, di mana pun kaki kita berpijak, bagaimana takdir kehidupan yang kita miliki, agama menuntut kita untuk beramal dan tidak merelakan diri dengan pengangguran.

Tangan yang merasa lelah dengan bekerja itu jauh lebih mulia dalam pandangan agama ketimbang tangan para pengangguran yang tidak mau berusaha. Rasulullah Saw bersabda:

ما أكَلَ أحَدٌ طَعامًا قَطُّ، خَيْرًا مِن أنْ يَأْكُلَ مِن عَمَلِ يَدِهِ، وإنَّ نَبِيَّ اللَّهِ داوُدَ عليه السَّلامُ، كانَ يَأْكُلُ مِن عَمَلِ يَدِهِ.

“Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik ketimbang makan dari hasil jerih payah tangannya. Sesungguhnya Nabi Dawud As makan dari hasil jerih payahnya tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)

لأَنْ يَحْتَطِبَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةً عَلَى ظَهْرِهِ خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ أَحَدًا فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ

“Salah seorang di antara kalian memikul bungkusan di pundaknya, itu lebih baik daripada meminta-meminta, kemudian orang yang dimintai itu memberi ataupun memberikan penolakan.” (HR. Bukhari)

Semua sabda-sabda ini kiranya penting untuk tanamkan sebagai pemantik kesadaran kita bersama, bahwa kita ditakdirkan hidup di dunia ini untuk beramal dan bekerja dengan profesi kita masing-masing. Allah Swt telah meminta kita beribadah satu bulan. Tapi, dengan selesainya ibadah puasa bukan berarti kita lepas dari tanggungjawab dan kewajiban. Puasa adalah titik awal bagi kita untuk membentuk kehidupan yang jauh lebih baik, lebih bermakna, dan lebih dekat kepada Allah Swt.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فىِ القُرْآنِ العَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِى وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ ، أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

KHOTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ ، اللهُ أَكْبَرُ. اللهُ أَكْبَرُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَاناَ لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللهُ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ النَّبيِّ الأُمِّيِّ الحَبِيْبِ العَالِي القَدْرِ العَظِيْمِ الجَاهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. فَيَا أَيُّهَا الحَاضِرُوْنَ ، اِتّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ ، وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Hadirin, jama’ah salat idul fitri yang dirahmati Allah

Mari kita tundukkan hati kita untuk berdoa kepada Allah Swt. Semoga ibadah puasa yang telah kita tunaikan mampu membentuk pribadi kita yang baru. Pribadi yang lebih bersemangat. Pribadi yang lebih gigih. Pribadi dengan spirit keimanan yang lebih kokoh dan mantap. Kita berharap semoga Allah Swt mengampuni semua dosa-dosa kita, menerima amal ibadah kita, dan membukakan lembaran hidup yang baru untuk kita semua. Lembaran hidup yang bersih dari dosa-dosa. Mari kita bulatkan tekad untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena kita semua dasarnya diciptakan untuk berbuat baik. Dan berusaha sebisa mungkin untuk berada dalam jalan yang baik.

الدعاء


اللَّهُمَّ يَا سَمِيعَ الدَّعَوَاتِ ، يَا مُقِيلَ العَثَرَاتِ ، يَاقَاضِيَ الحَاجَاتِ ، يَا كَاشِفَ الكَرُبَاتِ ، يَا رَفِيعَ الدَّرَجَاتِ ، وَيَا غَافِرَ الزَّلاَّتِ ، اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ، الأحْيَاءِ مِنْهُم وَالأمْوَاتِ ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَينَا الإِيمَانَ ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا ، وَكَرِّه إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوقَ وَالعِصْيانَ ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ. اللَّهُمَّ تَوَفَّنَا مُسْـلِمِينَ ، وَأَحْيِنَا مُسْلِمِينَ ، وَأَلْحِقْنَا بِالصَّالِحِينَ غَيرَ خَزَايَا وَلاَ مَفْتُونِينَ. اللَّهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حقَّاً وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللَّهُمَّ أَحْسِنْ عَاقِبَتَنَا فِي الأُمُورِ كُلِّهَا ، وَأَجِرْنَا مِنْ خِزْيِ الدُّنْيَا وَعَذَابِ الآخِرَةِ. اللَّهُمَّ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَينَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ، رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ، وَاعْفُ عَنَّا وّاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى القَوْمِ الكَافِرِينَ. رَّبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا ، رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ ، رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدتَّنَا عَلَىٰ رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Bagikan di akun sosial media anda