PendidikanRefleksiTerkiniTerpopuler

Anak Kita Butuh Main, Bukan Belajar

“Saya setuju kita perlu menata kurikulum dengan sangat serius, tapi jangan bebani anak SD terlalu berat. Anak-anak itu tugasnya main… saya pernah datang ke sekolah, dan saya protes keras karena anak kelas 1 SD itu dikasih PR. Sampai kelas 3 itu nggak boleh dapat PR. Harus main. Pulang sekolah lempar tasnya. Main di luar. Anak sekarang kan nggak begitu. PR-nya banyak.”

Ungkapan ini saya simak dari Dr. Karlina Supeli, seorang ahli filsafat dari STF Driyarkara. Saya sangat setuju dengan pernyataan beliau ini. Dan ini bisa menjadi masukan penting, khususnya bagi para guru di tingkat sekolah dasar. Anak-anak di usia SD itu memang tugasnya bermain, bukan belajar. Belajar hanya sebagai sampingan saja. Tugas utama mereka adalah bermain sepuas mungkin.

Dengan kesempatan bermain yang cukup, kelak, ketika sudah dewasa, mereka akan terpantik untuk belajar secara lebih serius. Karlina sendiri bercerita tentang anaknya yang ketika masa kecil jarang belajar. Dan dia, sebagai ibu, tidak pernah memarahi anaknya yang malas belajar itu. Sekarang, kata Karlina, ketika sudah dewasa, dia malah jadi rajin sekolah!

Tentu itu tetap melibatkan arahan dari orang tua. Tapi, yang jelas, anak kecil tidak cocok untuk menerima paksaan dan tekanan dalam belajar. Kalau anak disuruh belajar terus, dan waktu bermainnya kurang, maka jangan heran ketika dewasa kelak malah dia akan lebih banyak bermain ketimbang belajar. Inilah pentingnya mendidik secara proporsional.  

Saya teringat dengan kisah serupa dari guru saya, Syekh Yusri, yang kurang lebih menerapkan pola pendidikan yang sama. Beliau tidak mendidik anaknya dengan cara yang ketat dalam urusan sekolah. Pernah di suatu malam, kata beliau, anak-anaknya mengeluhkan banyaknya PR dari sekolah mereka. Mereka pun bilang ke ibunya, “Mamah, aku sudah capek. Aku ingin tidur.”

Ibunya, kata Syekh Yusri, hanya menjawab: “Ya sudah kamu tidur saja. Biar ibu yang kerjakan ya!” Akhirnya mereka pun tertidur. Dan PR sekolah itu dikerjakan oleh ibunya sendiri. Kadang beliau mendapati anaknya tidak masuk sekolah. Dan beliau tahu. Tapi beliau memutuskan untuk tidak menegur.

Sebab, katanya, Nabi sendiri mendidik para sahabatnya dengan apa yang beliau sebut dengan istilah “taghāful” (pura-pura tidak tahu). Nabi tidak menegur orang yang berbuat salah persis ketika dia berbuat salah. Tapi nabi pura-pura tidak tahu dengan cara memalingkan wajah. Manakala ada kesempatan untuk memberikan nasihat secara umum, dan orang itu hadir, barulah nabi menyampaikan nasihat secara tidak langsung.

Cara semacam ini penting agar tidak membuat mental seseorang terpojok. Ketika kita mengingatkan orang dengan cara yang salah, kadang-kadang orang yang kita berikan nasihat itu malah memberontak dan melakukan hal sebaliknya. Dan ini terjadi. Banyak orang tua di luar sana yang menegur anaknya dengan cara-cara yang kasar. Akhirnya, sang anak pun tumbuh dengan mentalitas yang rusak. Niat orang tuanya baik. Tapi, gara-gara menempuh cara yang salah, nasihat yang baik itu malah berdampak buruk bagi anaknya sendiri.

Dalam dunia sekolah saya kira nasihat ini juga relevan. Adakalanya anak itu ditegur. Tapi adakalanya juga mereka perlu dibiarkan. Mereka perlu diajak belajar. Tapi tidak dengan cara menyita waktu bermain. Apalagi anak-anak di tingkat sekolah dasar. Anak-anak kita harus dijauhkan dari kesan negatif bahwa sekolah itu memberatkan, sekolah itu hanya menjadi penjara, belajar itu menyebalkan, dan lain-lain.

Bagi saya, hal paling penting dalam proses belajar itu bukan hanya mendapatkan ilmu, tapi juga mencintai ilmu. Dan anak tidak mungkin bisa mencintai ilmu kalau sejak awal mereka sudah mendapatkan kesan-kesan negatif semacam itu. Anak bolos sekali-dua kali bukan masalah serius. Dia tidak mau mengerjakan PR tidak jadi masalah. Yang jadi masalah ialah justru kalau anak itu punya kesan negatif tentang dunia sekolah.

Dengan memberikan kesempatan anak bermain di masa kecil, maka kita telah memberikan ruang bagi dirinya untuk giat belajar di masa remaja. Anda bisa bayangkan. Agama saja mewajibkan tuntunannya kepada umatnya ketika mereka sudah berusia akil baligh. Artinya, ketika masa kecil, mereka tidak diwajibkan untuk menunaikan tuntunan agama.

Kalau anak diberikan beban sejak masa kecil, maka otomatis dia akan memberontak di saat dewasa. Agama tidak menginginkan itu. Biarkan anak bermain sampai puas di masa kecil. Agar kelak ia bisa belajar dengan nyaman di masa remaja. Yang penting, orang tua selalu berupaya untuk mengarahkan, bukan memaksakan.

Mereka tetap diajak untuk belajar. Tapi jangan sampai ada penekanan. Katakanlah belajar itu menjadi agenda nomer dua bagi mereka. Nomer satunya adalah bermain. Agar mereka bisa menikmati masa kecilnya dengan penuh kebebasan. Tidak perlu mengeluh dengan sikap anak yang tidak mau belajar. Mereka tidak mau belajar sekarang. Kalau kita bisa mengarahkan dengan baik, maka mereka bisa menjadi orang yang tekun di masa mendatang. Anak itu pasti ada bosannya. Tidak mungkin kerjaannya main terus!

Saya berharap, agar para orang tua bisa mempertimbangkan masukan yang sangat penting ini. Anak Anda akan mengalami proses yang panjang dalam hidupnya. Di waktu kecil, tugas mereka itu bukan belajar. Jangan beri mereka tugas yang banyak. Ajaklah mereka belajar dengan cara-cara yang menyenangkan. Karena menanamkan rasa cinta ilmu kepada anak itu jauh lebih penting ketimbang mendorong mereka untuk terus mendapatkan ilmu. Demikian, wallahu ‘alam bisshawab.  

Bagikan di akun sosial media anda