PendidikanRefleksiTerkini

Konflik Pesantren dan Lenyapnya Keberkahan

Jika Anda ditakdirkan hidup sebagai pengurus pesantren, maka sebisa mungkin hindarilah konflik internal di lembaga tempat Anda hidup. Apalagi kalau Anda termasuk “orang pendatang”. Orang pendatang harusnya mampu menjadi penengah, dan bukan menjadi bagian dari masalah. Pesantren itu, bagi saya, bukan sekolah biasa. Orang yang ingin berhasil mengurus pesantren harus mampu menciptakan harmoni bukan hanya dengan penduduk bumi, tapi juga dengan “penduduk langit”.

Orang Pesantren percaya betul dengan yang namanya keberkahan. Dan keberkahan itu bisa hilang ketika Anda mengotori pesantren dengan konflik internal. Entah itu dalam bentuk memperebutkan harta, jabatan, perbedaan sudut pandang, dan lain-lain. Dengan memunculkan konflik keluarga, maka secara tidak sadar Anda telah berupaya untuk menghancurkan lembaga Anda sendiri. Selama ada keluarga yang tersakiti, maka selama itu pula Anda akan berjalan secara tertatih-tatih.

Pesantren Anda tidak akan maju. Hanya akan berjalan di tempat. Langit tak akan mencurahkan keberkahannya untuk Anda. Ketika Anda tak mampu menciptakan keharmonisan di muka bumi. Adanya perbedaan pendapat di antara para penghuni pesantren adalah hal yang normal. Terjadinya percekcokan bukanlah perkara yang serius. Masalah muncul ketika perselisihan itu diselesaikan dengan cara menzalimi pihak lain. Apalagi jika pihak lain itu termasuk keluarga.

Saya ingin berpesan, kepada siapapun yang tengah berada dalam kubangan masalah semacam itu, berhati-hatilah dengan sikap yang Anda pilih. Di mana-mana, hidupnya para pelaku kezaliman itu akan berakhir dengan penyesalan. Rintihan hati orang-orang yang terzalimi akan didengar oleh para malaikat. Nabi Saw bersabda, “berhati-hatilah dengan doanya orang yang terzalimi. Karena doanya akan naik ke langit layaknya percikan api.”

Uang bukanlah segala-halanya. Jabatan adalah sesuatu yang sudah pasti akan sirna. Tapi kezaliman yang Anda berikan kepada orang lain kelak akan Anda tuai dengan penyesalan yang mendalam. Kalau bukan di dunia, maka itu akan terjadi di alam akhirat. Tujuan utama dari membangun pesantren ialah berdakwah, mengajarkan agama Allah, mendidik generasi muda, dan mengamalkan ilmu yang sudah kita dapat.

Jika ada celah bagi kita untuk menghindar dari sebuah konflik, harusnya celah itulah yang kita tempuh. Bukan menjadi bagian dari masalah. Dan memelihara konflik itu sampai menyakiti hati keluarga lain. Saya tidak membayangkan ada pesantren yang berhasil memberikan pendidikan terbaik, sementara pengelolanya sendiri hidup dalam sengketa sehingga tidak bisa memberikan keteladanan yang baik.

Air kotor adalah air kotor. Tidak akan pernah bisa menciptakan kebersihan. Sekalipun dia ditempatkan di wadah yang sangat bersih. Keluarga pesantren yang melibatkan dirinya ke dalam konflik persis seperti air kotor itu. Santri-santrinya tidak akan memperoleh kesucian ilmu. Keberkahannya akan hilang. Dia sudah gagal memelihara kebersihan keluarganya. Lalu bagaimana mungkin dia bisa membersihkan kehidupan orang lain?  

Orang Pesantren mestinya belajar untuk menanamkan sikap asketik. Tidak cinta berlebih terhadap dunia; tidak memandang dunia sebagai sesuatu yang benar-benar berharga. Kecuali kalau dia dijadikan jalan untuk meraih ridha Allah Swt. Jika Anda berpandangan sebaliknya, maka Anda sebetulnya tidak layak mengelola pesantren. Anda lebih cocok mengelola perusahaan. Bukan pesantren yang mengimani nilai-nilai keberkahan.

Bagikan di akun sosial media anda