Akidah dan FilsafatKajian KeislamanTerkiniTerpopuler

Benarkah al-Ghazali Mengingkari Kausalitas?

Di atas meja tempat saya menulis ada sebuah remote yang biasa saya gunakan untuk menyalakan AC. Kalau remote itu saya banting kencang ke atas kaki saya, tentu saja saya akan merasa sakit. Terlemparnya remot itu merupakan sebab. Dan lahirnya rasa sakit itu adalah akibat. Di sini kita tidak akan menjumpai manusia berakal yang mengingkari hubungan antara terlemparnya remot dengan lahirnya rasa sakit itu. Tetapi apakah hubungan itu bersifat pasti, dalam arti tidak terpisahkan secara rasional? Al-Ghazali akan menjawab: tidak!

Ungkapan al-Ghazali yang mengingkari kepastian hubungan antara sesuatu yang diyakini sebagai sebab dan akibat ini seringkali menimbulkan kesalahpahaman. Padahal, yang dia ingkari itu bukan hukum sebab-akibatnya, melainkan kepastian antara apa yang diyakini sebagai sebab dan apa yang diyakini sebagai akibat. Perkataan al-Ghazali yang terkait dengan hal ini termuat dalam kitab Tahāfut al-Falāsifah. Di sana ia menulis:

  الاقتران بين ما يعتقد في العادة سبباً وما يعتقد مسبباً ليس ضرورياً عندنا بل كل شيئين ليس هذا ذاك ولا ذاك هذا، ولا إثبات أحدهما متضمن لإثبات الآخر ولا نفيه متضمن لنفي الآخر، فليس من ضرورة وجود أحدهما وجود الآخر ولا من ضرورة عدم أحدهما عدم الآخر مثل الري والشرب والشبع والأكل والاحتراق ولقاء النار والنور وطلوع الشمس والموت وجز الرقبة والشفاء وشرب الدواء …وإن اقترانها لما سبق من تقدير الله سبحانه يخلقها على التساوق لا لكونه ضرورياً في نفسه غير قابل للفرق بل في المقدور خلق الشبع دون الأكل وخلق الموت دون جز الرقبة وإدامة الحيوة مع جز الرقبة وهلم جرا إلى جميع المقترنات، وأنكر الفلاسفة إمكانه وادعوا استحالته.

“Keberiringan antara apa yang diyakini berdasarkan kebiasaan sebagai sebab dan apa yang diyakini sebagai akibat itu tidaklah pasti menurut kami. Setiap dua hal itu dapat kita nyatakan bahwa ini bukan itu, dan itu juga bukan ini. Penetapan salah satu di antara keduanya tidak memuat penetapan terhadap yang lain. Juga penafian terhadapnya tidak memuat penafian terhadap yang lain. Dengan demikian, keberadaan yang satu tidak meniscayakan keberadaan yang lain. Sebagaimana ketiadaan salah satu di antara keduanya tidak lantas berakibat pada ketiadaan sesuatu yang lain. Contohnya seperti hilangnya dahaga dan minum, kenyang dan makan, keterbakaran dan persentuhan api, cahaya dan terbitnya matahari, kematian dan terpotongnya leher, kesembuhan dan minum obat…keberiringan antara hal-hal itu berdasarkan ketetapan Allah Swt, yang telah menciptakannya secara bergandengan. Bukan karena dia niscaya pada dirinya sendiri sehingga tidak menerima keterpisahan. Bahkan sangat mungkin (bagi Tuhan) untuk menciptakan rasa kenyang tanpa makan, menciptakan kematian tanpa memotong leher, dan melangsungkan kehidupan dengan adanya keterpotongan leher dan begitu seterusnya. Para filsuf mengingkari itu dan mengklaim itu sebagai sesuatu yang mustahil.” 

Jika Anda perhatikan kutipan ini dengan cermat, maka jelas bahwa yang diingkari oleh al-Ghazali sebetulnya bukanlah hukum sebab-akibat dalam arti pengakuan akan adanya hubungan antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Al-Ghazali, sebagai manusia berakal, pasti tahu bahwa ada hubungan antara api dengan keterbakaran, makan dengan kenyang, pintar dengan belajar, minum dengan hilangnya rasa haus dan semacamnya itu. Yang dia ingkari ialah, kepastian antara apa yang diduga sebagai sebab dan akibat, bukan menafikan hubungan antara dua hal secara mutlak. Secara epistemologis, ide al-Ghazali ini justru lebih rasional ketimbang gagasan para filsuf, yang memandang hubungan tersebut bersifat pasti.

Jika sejak awal kita sudah memposisikan Tuhan sebagai pencipta alam semesta, maka kuasa-Nya harus ikut andil dalam pengaturan alam semesta itu. Menyatakan hubungan antara dua sesuatu itu bersifat pasti dapat berkonsekuensi pada penafian akan peranan kuasa Tuhan. Kita harus bisa membedakan antara menolak hubungan dalam sebab-akibat, dengan menolak kepastian antara apa yang diyakini sebagai sebab dan akibat. Itu dua hal yang jelas berbeda. Yang diingkari oleh al-Ghazali, sekali lagi, ialah kepastian hubungan. Bukan hubungan itu sendiri.

Untuk menjadi seorang ilmuwan yang baik, Anda cukup mengamini adanya hubungan antara obat dengan kesembuhan, virus dengan kematian, makan dan rasa kenyang, bakteri dan penyakit, dan begitu seterusnya. Tapi Anda tidak perlu mengimani kepastian antara dua hal yang kerapkali beriringan itu. Sebab, jika kita memposisikan alam semesta ini sebagai seusatu yang diciptakan dan diatur oleh Tuhan, maka kuasa Tuhan haruslah ada di balik setiap peristiwa yang ada di dalam semesta. Dan keyakinan bahwa Dia menciptakan segala sesuatu tidak serta merta menafikan adanya hubungan lahiriah antara sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Dengan kata lain, tidak ada pertentangan dengan keyakinan bahwa Allah yang menciptakan rasa kenyang, dan pengakuan bahwa ada hubungan antara makan dan lahirnya rasa kenyang. Karena itu menyangkut dua dimensi yang berbeda. Keyakinan terhadap kuasa Allah berkaitan dengan sesuatu yang ghaib. Sementara hubungan antara makan dan kenyang berkaitan dengan alam fisik.

Kita katakan bahwa hubungan itu ada, tapi dia tidak bersifat pasti. Dan mengingkari kepastian hubungan antara sesuatu yang diyakini sebagai sebab dan akibat tentu tidak identik dengan mengingkari hukum sebab-akibat itu sendiri. Inilah sebetulnya pandangan al-Ghazali tentang hukum sebab-akibat. Dia tidak mengingkari hukum kausalitas secara mutlak. Ataupun merumuskan kausalitas yang bertentangan dengan sains. Sayangnya, perkataan al-Ghazali dalam Tahāfut, seperti terlampir di atas, itu kerapkali dipahami secara keliru oleh sebagian kalangan. Kita bisa merujuk pada tulisan Prof. Amin Abdullah untuk membuktikan hal itu.

Amin Abdullah dan Kesalahpahamannya

Dalam buku Studi Agama, Amin Abdullah menyatakan bahwa “uraian al-Ghazali tentang hubungan sebab-akibat (causality) dirasakan oleh banyak pihak tidak memuaskan terutama dalam kaitannya dengan pembentukan etos ilmu—bukan dalam kaitannya dengan hakekat kausalitas secra metafisik.” (hlm. 271) Tentu saja, di antara kalangan yang tidak puas itu ialah Amin sendiri.  

Amin menjelaskan ketidaksetujuannya dengan memberi alasan bahwa “hukum kausalitas oleh al-Ghazali diserahkan sepenuhnya kepada kekuasaan mutlak Tuhan. Manusia tidak boleh mengatakan bahwa “banyak anak akan berakibat pada kelanjutan pendidikan anak, ekonomi dan kesejahteraan keluarga, dsb., karena hal itu jika dipegangi benar-benar dirasakan akan menegasikan kekuasaan Tuhan dalam membagi rizqi. Sedang Tuhan, dalam membagi rizqi, tidak pernah memperhitungkan perhitungan logis ekonomis manusia.” (271-272)

Apa yang Amin ungkapkan di sini sesungguhnya hanyalah dramatisasi yang didasari oleh kesalahpahaman belaka. Al-Ghazali tidaklah sedangkal yang dia gambarkan. Tak ada manusia berakal yang dapat mengingkari hubungan antara makan dan kenyang, ataupun air dan hilangnya rasa haus. A-Ghazali juga pasti tahu bahwa ada hubungan antara pekerjaan dengan penghasilan. Ketekunan dengan keberhasilan. Dan hubungan-hubungan sejenis lainnya. Semua orang berakal pasti menangkap adanya hubungan itu.

Amin membayangkan bahwa tokoh bergelar hujjatul Islām itu mengingkari hukum kausalitas secara mutlak. Seolah-olah pandangannya tentang kausalitas akan menafikan hubungan antara pekerjaan dengan pendapatan rejeki! Padahal, tak ada juga teks dari kitab al-Ghazali yang mengingkari hubungan itu. Yang diingkari oleh al-Ghazali itu, sekali lagi, bukan hubungannya, melainkan kepastiannya. Dan mengingkari hubungan tentu berbeda dengan mengingkari kepastian dalam hubungan.

Walhasil, pandangan al-Ghazali itu satu hal, yang Amin kritik itu hal yang lain. Dalam logika, kekeliruan semacam ini dikenal dengan istilah Straw Man Fallacy. Kekeliruan berpikir semacam ini biasanya ditunjukkan oleh para pengkritik yang tidak memahami pendapat lawannya dengan baik.

Di halaman bukunya yang lain, misalnya, dia juga menyebutkan bahwa “Ghazali masih bersiteguh dalam dunia metafisika spekulatif sedang orang lain sudah turun ke bumi mencari rumus-rumus hukum sebab akibat tersebut, tanpa mengurangi arti metafisika.” (hlm. 272)

Dia membayangkan bahwa kausalitas yang dirumuskan oleh al-Ghazali itu seolah-olah menghalangi para ilmuwan untuk mengembangkan temuan-temuan ilmiah. Padahal, tak ada satupun teks al-Ghazali yang dapat menggiring kita pada kesimpulan itu. Kekeliruan Amin akan lebih tampak lagi melalui ungkapan sebagai berikut.

“Ketika dalam kehidupan sehari-hari kita melihat buah kelapa selalu jatuh ke bawah, al-Ghazali akan bilang bahwa hal itu adalah ‘sunnatullah’ dan berhenti sampai di situ saja. Pernyataan teologis-metafisis seperti itu sepenuhnya benar, tapi karena hanya terhenti sampai di situ saja, maka pernyataan tadi terasa tidak menggigit.” (hlm. 272).

Saya tidak mengerti, al-Ghazali mana sebetulnya yang sedang dikritik oleh Amin itu. Menyatakan Tuhan sebagai pencipta segala akibat—seperti ditegaskan oleh al-Ghazali—itu tidak lantas menafikan adanya hubungan antara dua hal yang memang terbukti memiliki hubungan. Tak ada satupun teks al-Ghazali yang menyebutkan bahwa yakinilah Tuhan sebagai pencipta bagi segala akibat. Lalu hentikanlah seluruh penelitian ilmiah yang kalian lakukan itu. Karena Tuhan adalah pengatur segala-galanya!

Suka atau tidak, itulah al-Ghazali yang tampak di pelupuk mata Amin. Yang benar, al-Ghazali ingin mengajari kita bahwa Tuhan adalah pencipta bagi segala-galanya. Kita juga menyaksikan, sekaligus mengakui, adanya hubungan antara A dengan B, B dengan C dan begitu seterusnya. Tapi kita mengingkari kepastiannya. Kita mengingkari pernyataan bahwa di mana ada makanan masuk ke dalam perut, maka di sana pasti akan ada perasaan kenyang. Bagi al-Ghazali, ini hanyalah keberiringan yang berlandaskan pada kebiasaan saja. Hubungan itu memang ada. Tapi tidak bersifat pasti. Dan mengingkari kepastian sebuah hubungan tentu tidak identik dengan mengingkari hubungan itu sendiri. Demikian, wallāhu ‘alam bisshawāb.

Bagikan di akun sosial media anda