Kisah-kisah InspiratifRefleksiTerkini

Jangan Hidup Terbalik

Di berbagai kesempatan saya sering membagikan kisah hidup saya dengan para pelajar Malaysa. Ceritanya waktu itu saya lagi punya hutang. Jumlahnya sangat banyak (untuk ukuran mahasiswa). Boleh dibilang, seumur hidup saya belum pernah punya hutang sebanyak itu. Totalnya, kalau dirupiahkan, sekitar 3 jta an lebih lah. Uangnya buat apa? Waktu itu saya pengen banget punya laptop. Supaya bisa nulis. Akhirnya saya nekat meminjam uang teman saya, yang baru pulang haji. “Udah pake aja”, kata temen saya “bayarnya nanti aja kalau udah ada duitnya.”

Yasudah. Saya langsung pergi ke sebuah mall. Dan membeli laptop yang saya mau. Uangnya ya dari hasil ngutang itu. Meski ada rasa bahagia, tapi tetep aja saya masih merasa ada beban. Karena ada hutang yang harus dibayar. Meskipun itu teman dekat. Tapi yaudahlah, kata saya, nanti juga ada kali jalannya. Tibalah masa di mana saya diberi kesempatan mengajar orang Malaysa. Jumlahnya waktu itu sekitar 8-9 orang. Saya mengajar sekitar 2 kali dalam seminggu. Seperti biasa, selesai mengajar, saya dapat tambahan “uang jajan”.

Namun, kali ini agak sedikit berbeda. Di perjalanan pulang, salah seorang di antara mereka mendekati saya. “Ustad mau nggak ngajar di tempat kami. Kebetulan ada para pelajar baru. Kami minta ustad untuk mengisi materi tentang bahasa Arab. Untuk persiapan masuk al-Azhar.” Pikir saya, yah paling tinggal mengajar nahwu level dasar, membuat kalimat dalam bahasa Arab, kosakata, dan materi2 sejenisnya. Akhirnya ya saya sanggupi aja. Abis itu dia nanya, “ustad mau dibayar berapa?”

Kata saya, “udahlah itu mah terserah antum aja. Saya nggak mau bicara masalah begitu.” Singkat cerita, datanglah saya ke tempat mereka. Saya berjumpa dengan mahasiswa/mahasiswi baru dengan wajah2 ceria seperti di bawah ini. Saya cuma mengajar 2 hari. Dari pagi jam 9 sampai sore. Ya tapi ada istirahatnya juga sih. Nggak full banget. Jadi nggak terlalu berat. Di hari kedua, sebelum pulang, saya pun pamit. Karena sudah menunaikan tugas.

Kaya biasa, sebelum pulang, saya diberi “salam tempel. Dalam hati, kok ini amplop tebel amat ya. Kaya gak biasanya. “Saya terima ya. Semoga bermanfaat.” Kata saya ke panitia. Pulang lah abis itu. Pas sampai rumah, amplop itu saya buka. Dan, saya kaget bukan main dengan isinya. Biasanya ketika mengajar 7-8 pertemuan saya dapetlah uang sekitar 800 pound (sekitar 800 ribu untuk hitungan waktu itu). Ini isinya 4000 pound! (Sekitar 4 juta). Ngajarnya cuma dua hari lagi! Ya saya wa aja penanggungjawabnya, “maaf ust. Apa ini nggak kelebihan?”

Jawaban panitianya yang masih saya ingat, “itu tambahan dari kami ustad. Karena ustad ngajarnya bagus.” Ya Allah. Itu uang kok bisa pas untuk bayar hutang laptop. Malah ada lebihnya lagi. Setelah itu saya semakin percaya, bahwa kalau kita belajar dengan niatan yang baik, sebetulnya rejeki kita itu sudah dijamin sama Allah. Mahasiswa mah nggak usah sibuk mikirin duit. Pikir gimana caranya supaya bisa belajar dengan benar. Kita akan menjumpai rejeki yang tidak disangka2 semacam itu. Kalau sejak awal kita berniat belajar demi menunaikan tugas yang diberikan oleh Allah Swt.

Itu keyakinan yang saya pegang teguh sejak dulu. Dan buahnya saya petik ketika sudah lulus. Bahkan sampai sekarang. Karena itu saya sering berpesan kepada adik-adik mahasiswa, kalau mau kuliah dengan benar, jangan sambil nyari duit. Kecuali seperlunya aja. Orang itu kalau udah punya duit cenderung merasa nyaman. Awalnya sih niatannya bagus. Pengen hidup mandiri. Nggak bergantung sama orang tua. Punya penghasilan lebih dan lain-lain. Tapi ujung2nya, kalau terlanjur keasyikan, biasanya belajarnya juga dikesampingkan. Kuliah jadi nomer dua. Karena sdh terlena dengan uang. Padahal itu ujian.

Saya tidak mengatakan bahwa bekerja dan mencari uang ketika kuliah itu buruk secara mutlak. Kerja, bisnis, nyari uang dsb itu tidak jadi masalah. Terkadang malah ada mahasiswa yg merasa terpaksa harus melakukan itu. Yang ingin saya katakan ialah, kerja itu bukan tugas Anda yang paling utama. Anda diterbangkan selama belasan jam dari Jakarta ke Kairo itu untuk belajar. Bukan mencari uang. Anda mahasiswa. Bukan karyawan. Kalaulah Anda ditakdirkan untuk mencari uang, jadikan itu sebagai sampingan. Jadikan itu sebagai penutup kebutuhan pokok aja.

Selebihnya Anda harus ingat dengan tugas utama Anda. Belajar dan membangun keahlian. Agar apa? Agar Anda tidak menyesal di kemudian hari. Saya memegang teguh prinsip ini sejak kuliah. Dikirimi orang tua di tahun pertama. Selebihnya mengandalkan rejeki pas-pasan aja. Dapet beasiswa 1 jta perbulan. Selebihnya ya paling mencari pekerjaan2 yang tidak menjauhkan saya dari ilmu. Ya salah satunya mengajar atau menerjemah buku. Kalau “kerja otot” yang menguras tenaga, saya nggak mau. Apalagi bisnis dengan penghasilan berlimpah.

Ujung2nya saya pasti jadi males belajar. Pikir saya, mending saya hidup kere sekarang yang penting bisa serius belajar. Ketimbang saya sibuk nyari uang di waktu belajar lalu menelan penyesalan mendalam di hari kemudian. Uangmu itu akan habis. Tapi ilmu yang kau dapat, ketika dia membentuk keahlian, akan mengubah kehidupanmu secara drastis. Alhamdulillah, meski tdk bekerja, dan tdk dikirimi orang tua, saya tidak mati kelaparan. Bisa kuliah meskipun harus menjalani pola hidup sederhana.

Walhasil, kalau bisa, jangan bekerja kecuali kalau udah bener2 kepepet. Sekiranya kerjaan itu mengganggu kuliah, tinggalkan. Tinggalkan dengan niatan yang baik. Dan ingat kaidah kehidupan yang satu ini:

من ترك شيئا لله عوّض الله خيرا منه

“Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Dia pasti akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

Percaya atau tidak, saya sudah mengalami kebenaran nasihat ini berkali-kali.

Kerja di waktu kuliah itu ibarat pintu darurat di pesawat. Sekiranya Anda masih bisa hidup tanpa bekerja, dan Anda masih berniat serius kuliah, saran saya, fokuslah ke dunia kuliah. Gak usah kerja dulu. Itu uang nanti juga dateng sendiri. Orang yang punya keahlian itu tidak mungkin menganggur. Pasti dibutuhkan orang. Sebaliknya, klo waktu kuliah Anda sibuk bekerja, maka Anda hanya akan menghasilkan uang. Tapi kemampuan nggak ada.

Tahu gak konsekuensinya apa? Manakala uang itu habis—dan sudah pasti dia akan habis—Anda akan bingung mencari penghasilan. Bingung mau ngapain. Ijazah ada. Tapi kok bingung harus kemana dan bagaimana. Sebabnya ya karena Anda kurang serius dalam kuliah. Kuliah itu bukan cuma sebatas mengukir prestasi dan nilai, tapi dia adalah jalan untuk memantapkan ilmu dan mengasah kemampuan. Pastikan bahwa setelah kuliah Anda bisa ini, itu dan ini. Bukan memikirkan saya harus menghasilkan uang berapa dan menabung berapa. Belum saatnya Anda mencari uang!

Seperti kata Syekh Ramadhan al-Buthi, mahasiswa yang ditakdirkan sebagai pelajar ilmu2 agama itu berada pada maqam tajrid, bukan pada maqam asbab (saya pernah memposting perkataan beliau ini dalam sebuah tulisan lama). Dan ketika gusti Allah meminta Anda untuk fokus dalam belajar, lalu Anda malah sibuk bekerja, maka itu, dalam istilah Ibn Atahillah, merupakan kemerosotan dari cita-cita yang luhur (inhithāth ‘an al-himmah al-‘āliyah). Dan biasanya penyesalan lah yang akan didapat.

Kesimpulannya, kita harus sadar dengan maqam kita masing2. Waktunya belajar, ya belajar. Dikasih kesempatan kuliah, ya kuliah. Bukan nyari uang. Kalau masa kuliah udah selesai, dan Anda dituntut untuk mencari uang, menafkahi keluarga, dan lain2, ya baru nyari uang. Jangan dibalik. Orang2 yang punya pola kehidupan terbalik ini biasanya mudah terjatuh dalam kegagalan dan penyesalan. Tidak ada kata terlambat. Sebelum Anda benar2 menyesal, tinggalkan segala hal yang dapat mengganggu kuliah. Dan percayalah bahwa Tuhan yang menghidupi orang2 durhaka tidak mungkin menelantarkan hamba-Nya yang tulus dalam menunaikan kewajiban.

Bagikan di akun sosial media anda