Imam Bukhari dan Mun’im Sirry

Kata Mun’im Sirry, sekali lagi kata Mun’im Sirry, yang dalam dunia perkononan bergelar profesor itu, Imam Bukhari yang kitabnya dijadikan rujukan di berbagai belahan dunia Muslim itu, di zamannya bukan siapa-siapa. Ingat, bukan siapa-siapa. Bukan orang besarlah intinya. Orang biasa-biasa saja. Jangan Anda bayangkan Mun’im menyebut ulama kebanggaan umat Muslim itu dengan sebutan Imam, seperti yang saya lampirkan tadi. Nggak. Dia bilang Bukhari. “Bukhari itu bukan siapa-siapa.” Kata Mun’im.

Saya kutipkan pernyataan Mun’im itu di sini, biar Anda tahu sisi lain dari kekurangajaran dan kehancuran cara berpikir orang itu. Kutipan ini bisa Anda simak secara lengkap dalam diskusi tertutupnya bersama ICRP sekitar 5 tahun yang lalu. Linknya ada di sini. Kalau tidak bisa, cari di Youtube dengan kata kunci “Sekolah Agama Mun’im Sirry”. Diskusi terdiri dari dua sesi. Bagi Anda yang tidak mau repot-repot menyimak, khawatir membuang-buang waktu, inilah perkataan Mun’im. 

“Di zamannya, kata Mun’im, “Bukhari itu bukan siapa-siapa.” Pembawa acara kemudian nanya, “lantas siapa orang yang lebih besar dari Bukhari? Mun’im menjawab, “oh banyak orang yang lebih terkenal dari Bukhari. Hanya Bukhari itu pinter. Pinternya adalah dia mengumpulkan hadits, kemudian ditulis ke dalam bab-bab. Jadi ketika orang belakangan malas baca buku-buku lain, cukup merujuk ke Bukhari.” Supaya saya tidak dianggap memotong-motong, pernyataan lebih lengkapnya bisa Anda simak langsung di sana. 

Dia kemukakan pernyataan itu setelah menyinggung penelitian seorang sarjana Barat bernama Jonathan Brown. Dia gambarkan secara dramatis betapa kerasnya upaya sarjana itu dalam meneliti hadits. Dan kerja-kerja intelektual para Orientalis secara umum. Memang itu kerjaannya si Mun’im. Mengagungagungkan kerja para Orientalis. Lalu mengabaikan kerja keras yang luar biasa dari para ulamanya sendiri. Dia kira Imam Bukhari itu mensahihkan hadits hanya dalam hitungan menit, sambil garuk-garuk di dalam kamar.

Agak miris saya, ulama sebesar itu dipandang rendah sedemikian rupa. Tapi ya mau gimana lagi. Namanya juga orang bloon. Kalau Mun’im sudah bicara hadits, itu persis kaya anak Paud bicara pelajaran anak kuliahan. Coba aja Anda baca buku dia yang berjudul Kemunculan Islam, dan Islam Revisionis. Dan Anda lihat bagaimana cara dia dalam mengkritik sanad, dan tradisi periwayatan dalam Islam. Menggelikan. Dan konon dengan kehancuran nalar seperti itu dia ingin menyikapi hadits-hadits Nabi secara kritis. 

Yang lebih lucu lagi, dia pernah ditanya oleh seseorang dalam sebuah diskusi. Pertanyaannya itu kira-kira intinya begini. Kita ini kan dihadapkan pada sumber-sumber yang begitu kaya dan berlimpah yang menarasikan sejarah Islam. Termasuk dalam bidang hadits. Lalu bagaimana kita menyeleksi dan memilah-memilah sumber-sumber itu. Untuk membedakan mana yang historis dan mana yang bukan? Mana yang sahih dan mana yang tidak? Kira-kira inti pertanyaannya begitulah. Dan memang itu pertanyaan yang cukup menohok. Apa coba jawaban si Mun’im? 

Bayangan kita, dia harusnya punya metodologi yang lebih canggih dong. Jangan cuma sok kritis doang. Ya iyalah. Sikap kritis seorang sarjana itu harus berbasis pada metodologi keilmuan yang jelas. Dan para ulama Muslim sudah berhasil menampilkan sikap kritis itu, melalu metode keilmuan yang mereka kembangkan. Lalu apa jawaban si Mun’im? Dia lampirkan riwayat-riwayat yang bertentangan dengan doktrin mainstream umat Muslim, seperti doktrin kemaksuman Nabi, misalnya. Dan, bagi dia, kalau ada riwayat yang tampak bertentangan dengan doktrin mainstream, dan riwayat itu bersanad, dia anggaplah itu sebagai riwayat yang sahih. Atau paling tidak kemungkinan sahihnya lebih besar. 

Pandangan yang kurang lebih sama juga dapat Anda lihat di buku “Kemunculan Islam,” salah satu buku dengan logika terhancur yang pernah saya saksikan di alam semesta ini. Percaya atau tidak. Itulah jawaban dia. Kenapa kesimpulannya bisa gitu im? Kata Mun’im, “karena orang-orang Muslim tidak mungkin membuat-buat cerita yang mendiskreditkan nabinya sendiri.” Pastinya kita ketawa dong. Kalau begitu ceritanya, orang bisa dengan mudahnya merekayasa cerita-cerita bohong tentang nabi. Tinggal ambil pulpen. Buatlah rangkaian sanad palsu. Sebutkan perawinya A, B, C. Lalu dibuatlah cerita, bahwa Nabi melakukan ini, itu dan ini. Susupkan itu ke dalam buku-buku orang Muslim. Maka otomatis, kalau cerita itu bertentangan dengan doktrin mainstream umat Muslim, dan Anda mengikuti logika Mun’im, maka cerita itu bisa jadi sahih.

Sekarang Anda sudah bisa bayangkan, sehancur apa cara berpikir orang itu. Dan semiskin apa wawasan dia tentang sesuatu yang dia kritik itu. Padahal yang belum terkuak dari kehancuran berpikirnya itu masih banyak. Dari kemarin saya nulis artikel berlapis-lapis, itu belum mampu mendedahkan walau separuh dari semua kehancuran cara berpikirnya itu. Banyaak sekali. Kayanya kita bisa berbulan-bulan mengulas satu persatu kehancuran cara berpikir orang itu. Anda belum percaya juga kalau itu cara berpikir seorang profesor? Nanti kita buat tulisan secara terpisah deh tentang itu. Insya Allah.

Selain bicara kurangajar tentang hadits–dan sisi kekurangajaran itu banyak, seperti yang akan kita paparkan satu persatu nanti–dalam diskusi ini juga dia memaparkan cara pembacaan yang lucu tentang al-Quran. Menurut Mun’im, kalau kita ingin paham al-Quran, kita itu harus baca al-Qurannya langsung. Jangan baca tafsir. Seriusan lu im? Iya, kata dia, kalau pengen paham qur’an, kita itu harus baca qur’an langsung tau. Jangan baca tafsir. Pantes aja selama dia ngawur nggak karu-karuan kalau lagi membahas al-Quran. Metode dia ternyata seperti itu. Apakah dia konsisten dengan metode itu? Nggak juga. 

Saya kutipkan pernyataannya di sini:

“Secara metodologi ini penting loh ya. Kalau Anda ingin memahami al-Quran, baca Qur’an. Kalau Anda ingin memahami bagaimana al-Quran dipahami oleh orang-orang Muslim, baca tafsir. Jangan salah loh ya. Kadang kan kita membaca tafsir untuk memahami qur’an. Itu salah!” Perkataan Mun’im tuh. Jadi, kalau Anda mengikuti metode pembacaan Mun’im, dan Anda ingin paham al-Quran, harus langsung baca Qur’an. Nggak perlu belajar kaidah-kaidah penafsiran seperti yang dicontohkan oleh para ulama Muslim itu.

Singkirkan kaidah itu jauh-jauh. Anehnya, ketika ingin mengukuhkan pandangan yang sesuai dengan hawa nafsunya, dia pun tidak jarang merujuk pada kitab-kitab tafsir, yang menurutnya tidak mencerminkan pembacaan yang sejati terhadap al-Quran itu! Heran? Ya itulah Mun’im. Dia comot pernyataan yang sesuai dengan pandangan dia. Lalu dia lipat pernyataan lain yang bisa meruntuhkan pandangannya. Konon begitulah cara pengkajian yang ilmiah terhadap al-Quran itu. Itu kajian ilmiah tau. Jangan salah. Itu kajian ilmiah. 

Dia kemukakan pernyataan di atas itu dalam konteks melegitimasi pembacaan tokoh Orientalis yang namanya sering dia eluk-elukan. John Wansbrough. Sering betul Mun’im mengutip nama Orientalis yang satu itu. Meskipun kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya, yang sering dia lampirkan di dalam buku dan ceramah-cermahanya, itu tidak kalah cacat dengan kesimpulan dia sendiri. Secuil di antaranya pernah saya bahas dalam sebuah artikel. Anda mau paham qur’an, dan mau mengikuti metode pembacaan Mun’im Sirry? Singkirkan kitab-kitab tafsir. 

Karena kitab-kitab tafsir itu hanya merefleksikan pemahaman orang-orang Muslim tentang al-Quran. Bukan merefleksikan pemahaman yang benar tentang al-Quran itu sendiri. Mau paham ilmu hadits, dan mau tau mana hadits yang sahih mana yang bukan? Cari hadits-hadits yang bertentangan dengan doktrin maisntream umat Muslim. Cari hadits-hadits yang menunjukkan ketidak-maksuman nabi. Itulah hadits yang sahih. Atau, paling tidak, itulah hadits yang kemungkinan sahihnya lebih besar. Begitulah metode keilmuan yang dia tawarkan untuk membingkai sikap kritis itu. 

Perlu diteliti nggak nama perawi-perawinya? Nggak perlu. Asal bertentangan, berarti itu sahih. Perlu diteliti nggak kandungan matannya? Eh nggak perlu. Pokoknya kalau bertentangan dengan keyakinan umat Muslim itu kemungkinan besar sahih. Wajar saja orang seperti ini menilai Imam Bukhari dengan serendah itu. Yang gampang merendahkan orang-orang besar seringkali tidak dasar, bahwa sebetulnya dia sedang merendahkan dirinya sendiri. Sayangnya, di era sekarang, gelar keilmuan tidak hanya ditampuk oleh orang-orang pintar. Tapi juga menempel di pundak orang-orang bloon. Dan itulah dilema kita.

Bagikan di akun sosial media anda